[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 56

02.03. BAB SYARAT-SYARAT SHALAT 07

0211

211 – وَعَنْ «عَلِيٍّ قَالَ: كَانَ لِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَدْخَلَانِ، فَكُنْت إذَا أَتَيْته وَهُوَ يُصَلِّي تَنَحْنَحَ لِي» . رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ.

211. Dari Ali RA, ia berkata, ‘Saya mempunyai dua kesempatan untuk menemui Rasulullah SAW, maka jika saya mendatanginya sedangkan beliau sedang shalat, beliau berdehem kepadaku.” (HR. An Nasa’i dan Ibnu Majah)

[Sanadnya Dhaif: Ibnu Majah 3775]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

“Saya mempunyai dua kesempatan untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (yaitu dua waktu untuk bertamu kepadanya) maka jika saya mendatanginya sedangkan beliau sedang shalat, beliau berdebem kepadaku.” Dan hadits ini juga diriwayatkan dengan lafazh ‘bertasbih’ sebagai ganti lafazh ‘berdehem’ dari jalur lain akan tetapi dhaif.

Hadits ini menunjukkan bahwa berdehem tidak membatalkan shalat, kemudian An-Nashir dan Syafi’i mengamalkan hadits ini.

Namun menurut Al-Hadawiyah, berdehem membatalkan shalat jika deheman tersebut lebih dari dua huruf, hal itu dikaitkan dengan kaidah bahwa berbicara membatalkan shalat, kemudian mereka berkata, “Hadits ini adalah hadits mudhtahrib”

Seandainya kedua hadits tersebut kuat, maka untuk menjama’ atau mengkompromikan antara kedua hadits tersebut, diambil kesimpulan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kadang membaca tasbih dan kadang berdehem, namun telah kita ketahui riwayat yang mengatakan bahwa beliau berdehem dishahihkan oleh Ibnus Sakan, sedangkan riwayat yang menyebutkan bahwa beliau bertasbih, adalah dhaif.

Dengan demikian, orang yang mengatakan bahwa hadits ini mudhtahrib tidak benar, karena istilah mudhtahrib hanya terjadi di antara hadits-hadits shahih. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu Musthalah Hadits.

0212

212 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «قُلْت لِبِلَالٍ: كَيْفَ رَأَيْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ، وَهُوَ يُصَلِّي؟ قَالَ: يَقُولُ هَكَذَا، وَبَسَطَ كَفَّهُ» . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.

212. Dari Ibnu Umar RA, ia berkata, ‘Saya berkata kepada Bilal, “Bagaimana cara Rasulullah SAW yang engkau lihat saat beliau menjawab salam para shahabat yang diucapkannya kepadanya, sedangkan ia sedang mengerjakan shalat?”, Ibnu Umar berkata, “Ia berkata, ‘Seperti ini, sambil membuka telapak tangannya.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi dan ia menshahihkannya)

[Shahih: At Tirmidzi 927]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Bagaimana cara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang engkau lihat, saat beliau menjawab salam para shahabat (yakni orang-orang Anshar, berdasarkan kondisi saat itu) yang diucapkan kepadanya, sedangkan ia sedang mengerjakan shalat?” Ibnu Umar berkata, ‘Ia berkata, “Seperti ini, sambil membuka telapak tangannya.”

Tafsif Hadits

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Asli hadits ini adalah sebagai berikut ini,

«أَنَّهُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إلَى قُبَاءَ يُصَلِّي فِيهِ، فَجَاءَتْ الْأَنْصَارُ وَسَلَّمُوا عَلَيْهِ، فَقُلْت لِبِلَالٍ: كَيْفَ رَأَيْت؟» الْحَدِيثَ،

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar ke Quba’ dan menunaikan shalat di sana, kemudian datanglah orang-orang Anshar mengucapkan salam kepadanya, maka saya berkata kepada Bilal, “Apa yang kamu lihat?” hingga akhir hadits.

Begitu pula, Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan hadits serupa dari Ibnu Umar, akan tetapi yang ditanya oleh Ibnu Umar adalah Shuhaib bukan Bilal, kemudian At-Tirmidzi menjelaskan bahwa kedua hadits tersebut sama-sama shahih.

Hadits ini mengajarkan bahwa jika seseorang mengucapkan salam kepada orang lain yang sedang shalat, maka menjawabnya adalah dengan isyarat bukan dengan ucapan.

Muslim meriwayatkan dari Jabir,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعَثَهُ لِحَاجَةِ، قَالَ: ثُمَّ أَدْرَكْته وَهُوَ يُصَلِّي فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَأَشَارَ إلَيَّ، فَلَمَّا فَرَغَ دَعَانِي وَقَالَ: إنَّك سَلَّمْتَ عَلَيَّ فَاعْتَذَرَ إلَيْهِ بَعْدَ الرَّدِّ بِالْإِشَارَةِ

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk satu keperluan, ia berkata, ‘Kemudian saya mendapatinya sedang shalat, kemudian saya mengucapkan salam kepadanya, dan beliau pun memberikan isyarat kepadaku, setelah beliau menyelesaikan shalatnya beliau memanggilku, dan bersabda, “Sesungguhnya engkau telah mengucapkan salam kepadaku.’ Kemudian beliau meminta maaf kepadanya setelah beliau menjawabnya dengan isyarat.”

Sedangkan hadits Ibnu Mas’ud menyebutkan,

أَنَّهُ سَلَّمَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَا ذَكَرَ الْإِشَارَةَ بَلْ قَالَ لَهُ بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْ الصَّلَاةِ إنَّ فِي الصَّلَاةِ شَغْلًا

“Bahwasanya ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu Alathi wa Sallam saat beliau sedang mengerjakan shalat, akan tetapi, beliau tidak menjawabnya dan tidak juga memberikan isyarat, namun setelah menyelesaikan shalatnya beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di dalam shalat itu ada kesibukan.’ [Al Bukhari 1141, Muslim 538]

Namun Al-Baihaqi telah menyebutkan dalam hadits yang ia riwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab salam tersebut dengan isyarat kepala, kemudian beliau meminta maaf karena tidak menjawabnya dengan ucapan, karena sebelumnya beliau menjawab salam kepada mereka dengan ucapan walaupun di dalam shalat, lalu setelah diharamkannya berkata-kata di dalam shalat beliau menjawabnya dengan isyarat, seraya memberitahu mereka, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan perintah baru bahwasanya tidak diperbolehkan berkata-kata di dalam shalat.”

Maka sungguh aneh sekali orang yang mengatakan bahwa menjawab salam di dalam shalat dengan ucapan, padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan perintah baru bahwasanya tidak diperbolehkan berkata-kata di dalam shalat.” Saat beliau meminta maaf kepada Ibnu Mas’ud karena tidak menjawab salamnya dengan ucapan, yang jawaban salam tersebut ia anggap bagian dari berkata-kata dalam shalat, yang telah dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Pendapat yang mengatakan bahwa orang yang mengucapkan salam kepada orang yang sedang menunaikan shalat tidak berhak mendapatkan jawaban, baik dengan ucapan maupun dengan isyarat, dibantah oleh riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab salam orang-orang Anshar juga menjawab salam Jabir dengan isyarat, seandainya mereka tidak berhak mendapatkan jawaban tentulah beliau memberitahu mereka dan tidak menjawabnya.

Tata cara menjawab dengan isyarat diterangkan di dalam Al-Musnad dalam hadits Shuhaib, ia berkata,

«مَرَرْت بِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ يُصَلِّي فَسَلَّمْت فَرَدَّ عَلَيَّ إشَارَةً» قَالَ الرَّاوِي: لَا أَعْلَمُهُ إلَّا قَالَ ” إشَارَةً بِأُصْبُعِهِ ”

“Saya melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sedang menunaikan shalat, lalu saya mengucapkan salam kepadanya, maka beliau menjawab salamku dengan isyarat.” Perawi hadits berkata, “Saya tidak mengetahui kecuali bahwa ia berkata, “Isyarat dengan jari jemarinya.”

Sedangkan dalam hadits Ibnu Umar yang menceritakan tata cara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab salam orang-orang Anshar disebutkan, “Bahwasanya beliau melakukan hal ini.” Ja’far bin Aun -perawi dari Ibnu Umar- membuka telapak tangannya dengan meletakkan punggung telapak tangannya di sebelah atas.

Dengan begitu, bisa disimpulkan bahwa seseorang yang sedang menunaikan shalat boleh menjawab salam dengan isyarat kepala, isyarat kedua tangan atau isyarat jari jemarinya. Dan zhahirnya menjawab salam tersebut adalah wajib sebagaimana menjawabnya dengan ucapan adalah wajib. Karena hal tersebut tidak bisa dilakukan di dalam shalat maka ia diganti dengan sesuatu yang lain yang mungkin dilakukan di dalam shalat, yaitu isyarat, kemudian hal tersebut dalam syariat disebut sebagai jawaban salam, begitu pula para shahabat menganggapnya sebagai jawaban salam, dan termasuk di dalam firman Allah, “Atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisaa’: 86)

Sedangkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang menyebutkan,

«مَنْ أَشَارَ فِي الصَّلَاةِ إشَارَةً تُفْهَمُ عَنْهُ فَلْيُعِدْ صَلَاتَهُ»

“Barangsiapa memberikan isyarat yang bisa dipahami di dalam shalat maka hendaklah orang tersebut mengulangi shalatnya.” HR. Ad-Daraquthni, adalah hadits bathil, karena ia dari riwayat Abu Ghathafan dari Abu Hurairah, sedangkan Abu Ghathafan adalah orang majhul.

0213

213 – وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ – فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا. وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ: وَهُوَ يَؤُمَّ النَّاسَ فِي الْمَسْجِدِ

213. Dari Abu Qatadah RA, bahwasanya Rasulullah SAW menunaikan shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab, jika bersujud beliau meletakkannya dan jika berdiri beliau menggendongnya. (Muttafaq alaih) dalam hadits Muslim disebutkan, “Saat itu beliau sedang mengimami orang-orang di dalam masjid.”

[Al Bukhari 516, Muslim 543]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Binti Zainab yang dimaksud dalam hadits ini adalah Zainab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan ia adalah ibu Umamah, sedangkan ayahnya bernama Abul Ash bin Ar-Rabi’.

Ungkapan hadits “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunaikan shalat” tidak menunjukkan bahwa hal tersebut beliau lakukan berulang-ulang, karena kejadian tersebut hanya terjadi sekali saja.

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang sedang mengerjakan shalat boleh menggendong makhluk hidup, baik manusia maupun yang lainnya, bolehnya menggendong manusia telah disebutkan dalam hadits tersebut sedangkan makhuk hidup yang lain diqiyaskan kepada manusia, hal itu ia lakukan karena terpaksa atau tidak, dalam shalat wajib maupun yang lainnya, dalam keadaan shalat sendirian atau sedang menjadi imam.

Hadits Muslim menyebutkan dengan jelas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan hal tersebut saat menjadi imam, dengan begitu jika hal tersebut diperbolehkan saat menjadi imam maka ia diperbolehkan lagi saat seseorang mendirikan shalat sendirian, dan jika hal itu diperbolehkan dalam shalat wajib maka ia lebih diperbolehkan dalam shalat sunnah.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa pakaian dan badan seorang anak kecil hukumnya suci, selama tidak ditemukan najis, juga menunjukkan bahwa perbuatan serupa itu di dalam shalat tidak membatalkan shalat, karena beliau saat itu menggendong dan meletakkannya.

Pendapat di atas adalah pendapat As-Syafi’i, sedangkan ulama-ulama yang lainnya melarang perbuatan tersebut dengan cara mentakwil hadits di atas dengan berbagai cara yang jauh dari makna aslinya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa hal tersebut khusus untuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam saja, atau bahwa hal itu terjadi karena Umamah merangkul atas kehendaknya sendiri tanpa kehendak dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, atau bahwa hal itu terjadi dalam keadaan darurat, atau bahwa hal itu telah dimansukh -dihapus hukumnya-, yang semua perkataan di atas adalah klaim tidak berdasarkan kepada dalil yang jelas.

Ibnu Daqiq Al-‘Id telah menjelaskan hal ini lebih luas lagi di dalam Syarh Al-‘Umdah, kemudian kami perjelas lagi pada catatan pinggirnya.

0214

214 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «اُقْتُلُوا الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ: الْحَيَّةَ، وَالْعَقْرَبَ» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

214. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Bunuhlah dua hewan hitam walaupun engkau dalam keadaan mendirikan shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Imam Empat, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Abu Daud 921]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Kata-kata ‘Al-Aswadan’ — dua hewan hitam- bermakna ular dan kalajengking. Apapun warna kedua hewan tersebut tidak khusus untuk ular dan kalajengking yang berwarna hitam saja, begitulah yang disampaikan oleh para ulama bahasa.

Hadits ini merupakan dalil atas wajibnya membunuh ular dan kalajengking pada saat seseorang menunaikan shalat, karena itulah makna dasar satu perintah, dan ada yang mengatakan bahwa hal itu hukumnya sunnah.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa semua usaha untuk membunuh keduanya tidak membatalkan shalat, baik usaha tersebut memerlukan sedikit maupun banyak gerakan, inilah pendapat kebanyakan ulama.

Sedangkan Al-Hadawiyah mengatakan bahwa hal tersebut membatalkan shalat, mereka mentakwil hadits ini bahwa orang tersebut harus keluar dari shalatnya terlebih dahulu, dan mengqiyaskan usaha tersebut dengan gerakan-gerakan yang lainnya yang mengharuskan seseorang keluar dari shalatnya, seperti menolong orang yang sedang tenggelam dan yang sejenisnya.

Sedangkan ulama yang lainnya memerinci masalah ini dengan lebih terperinci, akan tetapi semua itu tidak berdasarkan kepada dalil yang shahih.

Dan hadits di atas adalah dalil yang jelas untuk pendapat pertama. Hadits-hadits serupa dengan hadits ini ada duapuluh dua hadits, sedangkan di dalam As-Syarh disebutkan ada dua puluh enam hadits serupa.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *