[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 55

02.03. BAB SYARAT-SYARAT SHALAT 06

0208

208 – وَعَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ أَنَّهُ قَالَ: إنْ «كُنَّا لَنَتَكَلَّمُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، يُكَلِّمُ أَحَدُنَا صَاحِبَهُ بِحَاجَتِهِ، حَتَّى نَزَلَتْ {حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ} [البقرة: 238] فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ، وَنُهِينَا عَنْ الْكَلَامِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.

208. Dari Zaid bin Arqam ia berkata, “Dahulu kami bercakap-cakap di saat kami sedang shalat, pada masa Rasulullah SAW, salah seorang dari kami berbicara kepada sahabatnya tentang keperluannya, hingga turun ayat, “Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’, maka kami diperintahkan untuk diam dan tidak berbicara.” (Muttafaq alaih, sedang lafazh ini milik Muslim)

[Al Bukhari 1200, Muslim 539]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dahulu kami bercakap-cakap di saat kami sedang shalat, pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (yakni ucapan-ucapan yang mereka perlukan saja, tidak seperti saat mereka berbincang di dalam satu majelis, hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam ungkapan berikut ini) salah seorang dari kami berbicara kepada sahabatnya tentang keperluannya, hingga turun ayat, ‘Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (kalimat al-Wustha di dalam ayat tersebut bermakna shalat Ashar sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ulama, bahkan ada yang mengatakan bahwa itu adalah ijma’ ulama) maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara.”

Dalam Syarah Muslim, An-Nawawi berkata, “Hadits ini dalil atas haramnya semua jenis perkataan manusia, dan seluruh ulama berijma’ bahwa seseorang yang berbicara dengan sengaja padahal ia tahu bahwa hal itu hukumnya haram, kemudian pembicaraan tersebut bukan untuk kemaslahatan dan bukan untuk menolong orang yang celaka atau sejenisnya, maka shalatnya batal.”

Kemudian beliau menyebutkan perbedaan pendapat jika perkataan tersebut untuk kemaslahatan, dan akan kami bahas dalam pembahasan hadits Dzil Yadain dalam bab Sahwi (lupa).

Para shahabat memahami perintah untuk diam dari ungkapan, ”dengan khusyu”, karena ia adalah salah satu dari arti Al-Qunut, yang sebenarnya kata tersebut memiliki sebelas arti, seakan-akan mereka memilih arti ini berdasarkan kondisi saat itu, atau bisa jadi dari tafsir yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mereka.

Hadits ini telah kami bahas dengan luas dalam Syarh Al-‘Umdah. Seandainya seseorang yang sedang shalat terpaksa harus memperingatkan temannya, maka syariat Islam mengajarkan ucapan tertentu, yaitu yang disebutkan di dalam hadits berikut ini.

0209

209 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «التَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ، وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، زَادَ مُسْلِمٌ ” فِي الصَّلَاةِ ”

209. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tasbih untuk laki-laki dan tepukan tangan untuk wanita.” (Muttafaq alaih), Muslim menambahkan: ‘di dalam shalat’.

[Al Bukhari 1203, Muslim 422]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Tasbih untuk laki-laki (dalam riwayat lain disebutkan, “Jika kalian mendapatkan satu perkara, tasbih untuk laki-laki) dan tepukan tangan untuk wanita. kemudian Muslim menambahkan, “Di dalam shalat (ini adalah kesimpulan dari riwayat muslim walaupun lafazhnya tidak demikian).”

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil bahwa jika seseorang sedang shalat kemudian ia mendapati satu perkara, sebagai contoh ia ingin mengingatkan imam yang lupa, atau memperingatkan orang yang akan melewatinya atau memberitahu orang yang ingin menemuinya, sedangkan orang tersebut tidak tahu bahwa ia sedang shalat, maka jika orang yang sedang mengerjakan shalat tersebut adalah laki-laki ia mengucapkan Subhanallah. Lafazh ini telah disebutkan di dalam riwayat Al-Bukhari, sedangkan riwayat perawi yang lainnya tidak menyebutkannya.

Dan jika orang yang sedang mengerjakan shalat tersebut adalah wanita maka ia memperingatkan dengan tepukan, adapun caranya sebagaimana dijelaskan oleh Isa bin Ayyub, “Hendaklah ia memukulkan dua jari tangan kanannya ke telapak tangan kirinya.”

Jumhur ulama menggunakan hadits ini, sedangkan beberapa ulama yang lainnya memilahnya dengan dasar hukum yang lemah, mereka berkata, “Jika hal itu dilakukan untuk memberitahu bahwa ia sedang shalat maka hal itu dibolehkan, namun jika dimaksudkan untuk yang lainnya akan membatalkan shalat, walaupun hal itu untuk mengingatkan bacaan imam, hal ini berdasarkan hadits Abu Dawud dari sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

يَا عَلِيُّ «لَا تَفْتَحْ عَلَى الْإِمَامِ فِي الصَّلَاةِ»

“Wahai Ali, janganlah engkau mengingatkan bacaan imam di dalam shalat.” [Dhaif: Abu Daud 908]

Pendapat ini dibantah dengan jawaban bahwa Abu Dawud mendhaifkan hadits itu setelah beliau menyebutkannya, dengan begitu hadits nomor ini tetap mutlak tidak dibatasi oleh apa pun, kecuali jika ada dalil yang kuat.

Hadits di atas tidak menunjukkan wajibnya membaca tasbih untuk laki-laki atau menepuk jari untuk wanita, karena susunan kalimatnya bukan kalimat perintah, kecuali satu riwayat yang menyebutkannya dengan bentuk perintah,

«إذَا نَابَكُمْ أَمْرٌ فَلْيُسَبِّحْ الرِّجَالُ وَلْيُصَفِّقْ النِّسَاءُ»

“Jika ada satu perkara mendatangimu maka hendaklah para laki-laki bertasbih dan para wanita menepuk.” [Al Bukhari 684, 7190, Muslim 421]

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, di antara pendapat tersebut ialah yang disampaikan oleh pensyarah At-Taqrib seperti Ar-Rafi’i dan An-Nawawi, bahwa hukumnya adalah sunnah, begitu pula yang disampaikan oleh beberapa rekan. Namun kemudian ada yang berkata, “Sebenarnya memberi peringatan di dalam shalat hukumnya bermacam-macam, ada yang wajib, ada yang sunnah, ada yang mubah, hal itu tergantung kepada kondisi masing-masing.”

0210

210 – وَعَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: «رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي، وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ، مِنْ الْبُكَاءِ» . أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ إلَّا ابْنَ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

210. Dari Mutharif bin Abdullah bin As Syakhir dari ayahnya, ia berkata, ‘saya melihat Rasulullah SAW sedang shalat dan di dalam dadanya gemuruh bagaikan gemuruhnya kuali, dikarenakan beliau sedang menangis.’ (HR. Imam Lima, kecuali Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Abu Daud 904]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Mutharrif bin Abdullah adalah seorang tabiin yang mulia, sedangkan ayahnya, Abdullah bin As-Syakhir adalah salah satu dari beberapa orang yang mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama Bani ‘Amir, ia termasuk orang Bashrah.

Penjelasan Kalimat

“Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang shalat dan di dalam dadanya gemuruh bagaikan gemuruhnya kuali (saat mendidih) dikarenakan beliau sedang menangis.”

Tafsir Hadits

Semakna dengan hadits di atas, ada riwayat yang berbunyi,

أَنَّ عُمَرَ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ، وَقَرَأَ سُورَةَ يُوسُفَ حَتَّى بَلَغَ إلَى قَوْلِهِ: {قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ} [يوسف: 86] فَسُمِعَ نَشِيجَهُ

“Bahwasanya Umar sedang mengerjakan shalat Subuh, ia membaca surat Yusuf, dan saat sampai pada ayat, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86), terdengarlah suara tangisannya yang keras.” HR. Al-Bukhari sebagai hadits maqthu’, akan tetapi Said bin Manshur menganggapnya sebagai hadits maushul, dan hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *