[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 54

02.03. BAB SYARAT-SYARAT SHALAT 05

0205

205 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ، فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ أَذًى أَوْ قَذَرًا فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد. وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

205. Dari Abu Sa’id Al Khudri RA, “Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, maka hendaklah ia memeriksa kedua sandalnya. Jika ia mendapati kotoran atau sesuatu sejenisnya pada keduanya maka hendaklah ia mengusapnya kemudian shalat dengan keduanya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Shahih: Abu Daud 650]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Kedudukan hadits ini diperdebatkan antara hadits maushul atau hadits mursal, namun Abu Hatim mengatakan bahwa hadits ini maushul. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Anas dan Ibnu Mas’ud. Ad-Daraquthni meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dari Abdullah bin Syakhir, akan tetapi sanad keduanya dhaif.

Hadits merupakan dalil atas disyariatkannya shalat dengan menggunakan sandal, dan bahwa mengusap sandal dari najis merupakan cara untuk membersihkannya dari kotoran dan yang sejenisnya, yang dari zhahirnya dipahami, baik najis tersebut kering maupun basah. Hal ini diperjelas oleh sebab munculnya hadits ini, yaitu Malaikat Jibril memberitahu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa pada sandalnya terdapat kotoran, maka beliau melepaskannya dan melanjutkan shalatnya. Kemudian bisa dipahami bahwa jika seseorang yang sedang mengerjakan shalat terkena najis namun ia tidak mengetahuinya, atau telah melupakannya kemudian ia mengetahuinya di tengah shalatnya, maka hendaklah ia menghilangkannya lalu melanjutkan shalatnya tanpa mengulanginya dari awal.

Tentunya dalam semua masalah di atas ada perbedaan pendapat, namun begitu tidak ada dalil lain yang bisa membantah hadits ini, sehingga tidak perlu kami meneruskan pembicaraan dalam masalah ini. Hadits berikut memperkuat pendapat bahwa sandal bisa disucikan dengan mengusapkannya pada debu.

0206

206 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ الْأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُورُهُمَا التُّرَابُ» . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

206. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menginjak kotoran dengan kedua khufnya, maka yang bisa membersihkannya adalah debu.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Abu Daud 386]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika salah seorang dari kalian menginjak kotoran dengan kedua khufnya (yakni sandalnya atau apa pun yang beliau pakai pada telapak kakinya) maka yang bisa membersihkannya adalah debu.”

Tafsir Hadits

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnus Sakan, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dari Abu Hurairah, dengan sanad dhaif. Begitu pula Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dalam masalah ini masih terdapat hadits-hadits lain namun semuanya tidak lepas dari unsur kedhaifan, akan tetapi pada sisi lain hadits-hadits tersebut saling menguatkan.

Al-Auza’i mengamalkan hadits ini, begitu pula An-Nakha’i dan mereka berkata, “Dibolehkan mengusap sandal yang terkena najis dengan debu kemudian mengerjakan shalat dengannya.”

Hal ini didukung riwayat dari Ummu Salamah,

«أُمَّ سَلَمَةَ سَأَلَتْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَتْ: إنِّي امْرَأَةٌ أُطِيلُ ذَيْلِي، وَأَمْشِي فِي الْمَكَانِ الْقَذِرِ، فَقَالَ: يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ»

bahwasanya beliau bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya saya adalah wanita yang suka memanjangkan pakaianku dan saya kadang berjalan di tempat kotor?” Beliau bersabda, “Tanah setelah yang kotor itu akan membersihkannya” (HR. Abu Dawud, At-Tirmizi dan Ibnu Majah) [shahih: Abu Daud 383, At Tirmidzi 143]

Hadits yang serupa dengan di atas,

«أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي عَبْدِ الْأَشْهَلِ: قَالَتْ: قُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ: إنَّ لَنَا طَرِيقًا إلَى الْمَسْجِدِ مُنْتِنَةً فَكَيْفَ نَفْعَلُ إذَا مُطِرْنَا؟ فَقَالَ: أَلَيْسَ مِنْ بَعْدِهَا طَرِيقٌ هِيَ أَطْيَبُ مِنْهَا؟ قُلْت: بَلَى، قَالَ: فَهَذِهِ بِهَذِهِ»

“Bahwasanya ada seorang wanita dari Bani Abdul Asyhal berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai satu jalan menuju ke masjid akan tetapi tanahnya jelek, apa yang kami lakukan di saat hujan?” Maka beliau bersabda, “Bukankah setelah jalan itu ada jalan yang lebih baik?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Maka yang ini dibersihkan oleh yang itu.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) [Shahih; Abu Daud 384] Al-Khathabi berkata, “Sanad kedua hadits di atas dipermasalahkan.”

Syafi’i menta’wilinya, bahwa hukum ini berlaku pada tempat yang kering yang tidak ada apa pun yang menempel pada pakaian.

Tentu saja menurut saya hal ini tidak sesuai dengan ungkapan penanya, “Apa yang kami lakukan di saat hujan?”

Malik berkata, “Yang dimaksud bahwa tanah saling membersihkan ialah, jika seseorang melewati jalanan yang kotor kemudian ia melewati jalanan yang bersih, maka ia akan membersihkan kotoran sebelumnya, namun apabila ada najis yang mengenai pakaian atau badan, maka tidak ada yang bisa membersihkanya kecuali air, dan ini adalah ijma’ ulama.”

Hadits lain yang menguatkan pemahaman bahwa hadits bab ini dipahami apa adanya tanpa takwil ialah apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abul Mu’alla dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata,

أَقْبَلْت مَعَ ” عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ” – عَلَيْهِ السَّلَامُ – إلَى الْجُمُعَةِ وَهُوَ مَاشٍ، فَحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ حَوْضٌ مِنْ مَاءٍ وَطِينٍ، فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ وَسَرَاوِيلَهُ، قَالَ: قُلْت: هَاتِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَحْمِلُهُ عَنْك، قَالَ: لَا، فَخَاضَ، فَلَمَّا جَاوَزَهُ لَبِسَ نَعْلَيْهِ وَسَرَاوِيلَهُ، ثُمَّ صَلَّى بِالنَّاسِ، وَلَمْ يَغْسِلْ رِجْلَيْهِ.

“Saya menghadiri shalat Jumat bersama Ali, dan ia datang sambil berjalan kaki, kemudian ia terhalangi oleh satu genangan air dan tanah, maka ia melepaskan sandal dan celananya. Kemudian saya katakan kepadanya, ‘Berikan kepadaku wahai Amirul mukminin, biarlah saya yang membawakan.’ Maka ia berkata, ‘Tidak’, kemudian ia menyeberangi genangan tersebut setelah itu ia memakai kembali kedua sandal dan celananya, kemudian ia mengimami orang-orang tanpa mencuci kedua kakinya terlebih dahulu.”

Sebagaimana kita ketahui, bahwa genangan air di perkampungan tidak lepas adanya najis padanya.

0207

207 – وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ، وَالتَّكْبِيرُ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

207. Dari Muawiyah bin Al Hakam RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak membenarkan di dalamnya apa pun dari perkataan manusia, ia adalah tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.” (HR. Muslim)

[Muslim: 537]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Muawiyah bin Al-Hakam Radhiyallahu Anhu, yakni Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami. Ia tinggal di Madinah dan termasuk orang Hijaz.

Tafsif Hadits

Sebab munculnya hadits ini ialah bahwasanya ada seseorang yang bersin, kemudian Muawiyah menjawabnya padahal ia sedang shalat, maka para shahabat memperingatkannya dengan isyarat yang ia pahami, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan hadits di atas, yang sebenarnya ada beberapa model lafazh yang diriwayatkan.

Maksud tidak benar ialah tidak sah shalatnya. Dan termasuk dari perkataan manusia ialah berbicara kepada manusia atau menyahuti mereka, sebagaimana yang ada di dalam kisah di atas. Dengan begitu jelas berbicara di saat sedang shalat akan membatalkan shalat itu sendiri, baik ucapan tersebut dalam rangka membenahi shalat itu sendiri atau yang lainnya, akan tetapi jika ia perlu untuk bicara memperingatkan orang lain yang sedang memasuki masjid, maka akan kami bahas hukum dan caranya.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa jika yang berbicara tersebut tidak tahu bahwa hal itu membatalkan shalat maka shalatnya sah, ia dimaafkan karena tidak tahu, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya.

Ungkapan beliau, إنَّمَا هُوَ artinya, ‘ia adalah’ menunjukkan bahwa ucapan yang diperbolehkan di dalam shalat ialah tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an, karena itulah yang disyariatkan, ditambah dengan doa-doa yang disertakan padanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *