[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 53

02.03. BAB SYARAT-SYARAT SHALAT 04

0202

202 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ. وَلَهُ عِلَّةٌ

202. Dari Abu Sa’id Al Khudri RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Seluruh bumi adalah masjid kecuali pemakaman dan kamar mandi.” (HR. At Tirmidzi dan hadits ini mempunyai cacat)

[shahih: At Tirmidzi 317]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan hadits ini mempunyai cacat, yaitu apakah hadits ini maushul atau mursal. Dalam hal ini Hammad meriwayatkan dari Amr bin Yahya dari ayahnya dan Abu Said secara maushul. Sedangkan Ats-Tsauri meriwayatkan secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan riwayat ini lebh shahih dan lebih kuat.

Ad-Daraquthni berkata, “Yang saya tahu hadits ini mursal.” Dan pendapat ini didukung oleh Al-Baihaqi.

Hadits ini menunjukkan bahwa seluruh bumi bisa digunakan sebagai tempat mendirikan shalat, kecuali pemakaman yaitu tempat menguburkan jenazah, maka tidak diperbolehkan mengerjakan shalat padanya baik di atasnya maupun di antara makam-makam, baik makam seorang mukmin maupun makam seorang kafir. Tujuan dari larangan tersebut ialah, jika makam itu adalah makam seorang mukmin maka hal itu untuk menghormatinya, sedangkan jika makam itu makam seorang kafir maka untuk menjauhi keburukannya. Hadits ini membatasi hadits, “Semua bumi dijadikan masjid untukku.” Al-hadits.

Begitu pula tidak diperbolehkan mendirikan shalat di dalam kamar mandi, ada yang mengatakan karena ia bernajis, maka larangan ini berkenaan khusus pada bagian yang bernajis saja.

Ada juga yang mengatakan, “Shalat di kamar mandi hukumnya hanya makruh saja.” Sedangkan Ahmad bin Hambal berkata, “Tidak sah shalat di kamar mandi, bahkan jika ia shalat di atapnya”, berdasarkan hadits ini. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa shalatnya tetap sah akan tetapi makruh.

Larangan ini berdasarkan kenyataan bahwa kamar mandi adalah tempat setan. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat Ahmad.

Kemudian batasan untuk hadits “Semua bumi dijadikan masjid dan alat bersuci untukku”, tidak hanya di dalam hadits ini saja tetapi juga terdapat dalam hadits berikut ini.

0203

203 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «نَهَى أَنْ يُصَلَّى فِي سَبْعِ مَوَاطِنَ: الْمَزْبَلَةِ، وَالْمَجْزَرَةِ، وَالْمَقْبَرَةِ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَالْحَمَّامِ، وَمَعَاطِنِ الْإِبِلِ، وَفَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ اللَّهِ تَعَالَى» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

203. Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW melarang shalat di tujuh tempat, yaitu: tempat sampah, tempat penyembelihan, tempat pemakaman, tengah jalan, kamar mandi, tempat duduknya unta dan di atas Ka’bah.” (HR. At Tirmidzi dan ia mendha’ifkannya)

[Dhaif: At Tirmidzi 346]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang shalat di tujuh tempat, yaitu; tempat sampah (yakni tempat orang-orang membuang sampah) tempat penyembelihan (hewan ternak) tempat pemakaman, tengah jalan (yaitu tempat menapaknya kaki orang-orang yang lewat) kamar mandi, tempat duduknya unta (yakni tempat mendekamnya unta di sekitar air) dan di atas Ka’bah.

Tafsir Hadits

Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia mendhaifkannya, setelah menyebutkan hadits ini beliau berkata, “Hadits Ibnu Umar ini tidaklah kuat.” Sedangkan Zaid bin Jabirah diperbincangkan oleh para ulama tentang hafalannya, kemudian Al-Bukhari berbicara tentang Jabirah, “Ia matruk.”

Kemudian para ulama memaksakan untuk menemukan sebab dilarangnya shalat pada tempat-tempat ini. Maka dikatakan bahwa dilarang shalat di tempat sampah dan tempat penyembelihan hewan karena adanya najis, begitu pula di tengah jalan. Akan tetapi, ada yang mengatakan bahwa dilarang mendirikan shalat di tengah jalan karena ia adalah hak orang lain, baik jalan itu luas maupun sempit berdasarkan keumuman larangan.

Sedangkan mengenai tempat duduk unta, maka ada alasan yang disebutkan di dalam satu hadits, “Bahwa tempat itu adalah tempat setan.” HR. Abu Dawud [Shahih: Abu Daud 184], yang lafazhnya, ‘Mabaarikul ibil’ atau ‘mayaabilul ibil’ atau ‘munaakhul ibil’ yang mana lafazh-lafazh ini lebih luas maknanya dari pada ‘ma’aathinul ibil’.

Kemudian mereka menjelaskan larangan shalat di atas Ka’bah, mereka mengatakan jika ia mengerjakan shalat di ujung yang arahnya keluat dari angkasanya -ruang kosong di atas Ka’bah- maka shalatnya tidak sah dan selain itu dianggap sah.

Namun, alasan ini membatalkan makna hadits di atas, karena jika orang tersebut tidak menghadap ke kiblat maka shalatnya batal karena syaratnya tidak lengkap, bukan karena ia shalat di atas Ka’bah.

Seandainya hadits ini shahih, maka larangan tersebut harus diindahkan sebagaimana adanya, dan ia membatasi hadits, “Semua bumi dijadikan masjid untukku”

Namun Anda telah mengetahui apa yang terjadi pada hadits di atas, hanya larangan yang berkenaan dengan pemakaman dikuatkan oleh hadits berikut ini.

0204

204 – وَعَنْ أَبِي مَرْثَدٍ الْغَنَوِيِّ قَالَ: سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «لَا تُصَلُّوا إلَى الْقُبُورِ، وَلَا تَجْلِسُوا عَلَيْهَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

204. Dari Abu Martsad Al Ghanawi ia berkata, saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian shalat ke arah kuburan dan janganlah kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim)

[Muslim 972]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Martsad Al-Ghanawi adalah Martsad bin Abu Martsad, ia masuk Islam bersama ayahnya, ikut serta pada perang Badar, terbunuh pada perang Ar-Rajii’ sebagai syahid pada saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup.

Tafsir Hadits

Ia berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian shalat ke arah kuburan dan janganlah kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan dalil atas dilarangnya shalat ke arah kuburan sebagaimana dilarangnya shalat di atas kuburan, yang hukum aslinya adalah haram, kemudian tidak dijelaskan apakah batasan menghadap ke arah kuburan itu? Yang jelas apa yang biasa dipahami oleh orang sebagai menghadap, itulah batasannya.

Begitu pula hadits ini adalah dalil atas dilarangnya duduk di atas kuburan, yang hal ini telah disebutkan oleh beberapa hadits, seperti hadits Jabir yang menjelaskan hukum menginjak kuburan, juga hadits Abu Hurairah,

«لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ»

“Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga terbakar pakaiannya sampai ke kulitnya lebih baik daripada ia duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hal ini, sekelompok ulama mengatakan bahwa duduk di atas kuburan hukumnya haram, sedangkan Malik mengatakan bahwa duduk di atas kuburan atau sejenisnya tidak makruh, sebenarnya yang dilarang ialah duduk untuk buang hajat di atasnya.

Di dalam Al-Muwaththa’ diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu bahwasanya beliau menggunakan kuburan sebagai bantal dan juga berbaring di atasnya. Seperti itu juga yang disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Umar, dan juga dari yang lainnya.

Hukum asal sebuah larangan adalah haram, perbuatan para shahabat tidak bertentangan dengan hadits marfu di atas, kecuali jika dikatakan bahwa perbuatan para shahabat adalah dalil untuk membawa hukum larangan ke hukum makruh, yang hal itu tentulah jauh dari kemungkinan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *