[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 52

02.03. BAB SYARAT-SYARAT SHALAT 03

0199

199 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَوَّاهُ الْبُخَارِيُّ.

199. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Arah timur dan barat adalah kiblat.” (HR. At Tirmidzi dan dikuatkan oleh Al Bukhari)

[Shahih: At Tirmidzi 342, 343, 344]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Di dalam At-Talkhish dijelaskan, hadits, ‘Antara timur dan barat adalah kiblat’ diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah secara marfu’ kemudian dijelaskan bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan shahih. Menurut kami seharusnya penulis menyebutkan bahwa At-Tirmidzi menshahihkannya juga berdasarkan kepada kaidah yang ia pakai, dan kami telah melihat hal tersebut dalam Sunan At-Tirmidzi, setelah menyebutkan sanadnya, beliau meriwayatkannya dari dua jalur, salah satunya beliau hasankan dan yang lainnya beliau shahihkan, kemudian beliau berkata, “Hadits ini telah diriwayatkan dari banyak shahabat, di antaranya Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas.”

Ibnu Umar berkata, “Jika engkau jadikan arah barat di sisi kananmu dan arah timur pada sisi kirimu maka antara keduanya adalah kiblat jika menghadap padanya.” Ibnul Mubarak berkata, “Antara barat dan timur adalah kiblat bagi orang-orang Masyriq.”

Hadits ini menjelaskan, bahwa yang harus dilakukan seseorang yang ingin mengerjakan shalat ialah menghadap ke arah kiblat, jika ia tidak bisa menghadap tepat ke kiblat. Inilah yang disampaikan oleh sebagian besar ulama berdasarkan hadits ini.

Untuk lebih jelasnya, maksud ungkapan, Antara timur dan barat adalah kiblat untuk orang yang tidak bisa melihatnya secara langsung, karena orang yang bisa melihatnya, maka kiblatnya tidak terbatas antara barat dan timur, akan tetapi dari arah manapun ia bisa menghadap ke kiblat, maka hadits ini menjadi dalil bahwa antara barat dan timur adalah kiblat, dan menghadap ke arahnya sudah cukup.

Hadits tersebut tidak menjelaskan bahwa orang yang bisa melihatnya harus tepat menghadap kepadanya, karena untuk mengatakan hal itu diperlukan satu dalil.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

{فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ}

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144) ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam saat beliau berada di Madinah, dan untuk menghadap tepat ke kiblat adalah sulit dan tidak mungkin dilakukan, kecuali apa yang dikatakan mengenai shalat di dalam mihrab beliau, akan tetapi perintah untuk memalingkan wajah ke tengah Masjidil Haram bersifat umum baik shalat di dalam maupun di luar mihrab.

Kemudian firman Allah Ta’ala,

{وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ}

“Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144) -separuh kedua-, menunjukkan bahwa menghadap ke arah kiblat sudah cukup, karena untuk menghadap tepat ke kiblat adalah hal yang sulit untuk setiap orang yang ingin mendirikan shalat.

Sedangkan pendapat yang mengatakan, “Hendaklah arah tersebut dibagi menjadi beberapa bagian sehingga ia bisa menghadap tepat ke kiblat adalah pendapat yang berlebihan dan tidak didukung oleh dalil, dan tidak pernah dilakukan oleh para shahabat, padahal mereka adalah orang-orang terbaik. Maka yang benar ialah menghadap ke arah kiblat sudah cukup, bahkan untuk orang-orang yang berada di Makkah maupun sekitarnya.

0200

200 – وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ زَادَ الْبُخَارِيُّ: يُومِئُ بِرَأْسِهِ – وَلَمْ يَكُنْ يَصْنَعُهُ فِي الْمَكْتُوبَةِ

200. Dari Amr bin Rabi’ah RA ia berkata, saya melihat Nabi SAW mengerjakan shalat di atas hewan kendaraannya ke arah manapun hewan tersebut menghadap. (Muttafaq alaih) Al Bukhari menambahkan, “Beliau memberikan isyarat dengan kepalanya, dan hal itu tidak pernah beliau lakukan pada shalat wajib.”

[Al Bukhari 1093, Muslim 701]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Saya melihat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat di atas hewan kendaraannya ke arah manapun hewan tersebut menghadap (Di dalam Shahih Al-Bukhari dari Amir bin Rabi’ah dengan lafazh, “Beliau mengerjakan shalat sunnah di atas hewan kendaraan.” Beliau juga meriwayatkan dari Ibnu Umar dengan lafazh, “Beliau mengerjakan shalat sunnah di atas punggung hewan kendaraannya.”[Al Bukhari 1105] Imam Syafi’i meriwayatkan dari Jabir dengan lafazh, “Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat sunnah di atas hewan kendaraan.” [Musnad Asy-Syafi’i hal. 23]) Al-Bukhari menambahkan, “Beliau memberikan isyarat dengan kepalanya (waktu sujud dan ruku’. Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Beliau lebih merendah saat sujud dari pada saat ruku’.”) dan hal itu tidak pernah beliau lakukan (yakni shalat di atas hewan kendaraan) pada shalat wajib (yakni shalat fardhu).

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat sunnah di atas hewan kendaraan hukumnya sah atau boleh, walaupun orang tersebut tidak bisa menghadap ke arah kiblat.

Zhahir hadits menunjukkan bahwa hal itu boleh dilakukan, baik ia berada di atas pelana atau tidak, baik dalam perjalanan jauh maupun dekat. Hanya saja dalam hadits riwayat Razin dari Jabir ditambahkan bahwa perjalanan tersebut adalah perjalanan yang mencapai jarak diperbolehkannya mengqashar shalat, sehingga sebagian dari ulama mensyaratkan jarak qashar, sedangkan yang lainnya tidak mensyaratkan hal tersebut bahkan mereka membolehkannya saat tidak dalam perjalanan, dan pendapat ini diriwayatkan dari Anas berdasarkan ucapan dan perbuatan beliau. Dan yang dimaksud dengan hewan tunggangan di sini ialah unta.

Hadits ini dengan jelas membolehkan hal tersebut untuk orang yang berkendaraan, sedangkan untuk orang yang berjalan kaki maka tidak ada yang mengomentarinya.

Sebagian ulama memperbolehkannya untuk orang yang berjalan kaki, hal ini diqiyaskan kepada orang yang berkendaraan, karena adanya persamaan antara keduanya bahwa untuk melaksanakan shalat sunnah harus dipermudah. Hanya saja mereka memberikan banyak batasan, di antaranya, ia harus selalu menghadap ke arah kiblat, saat ruku’, saat sujud dan saat menyempurnakan keduanya. Ia tidak boleh berjalan kecuali saat berdiri dan saat membaca tasyahhud. Sedangkan berjalan pada saat bangun dari ruku’ -i’tidal- maka ada dua pendapat, sedangkan saat bangun di antara dua sujud maka tidak boleh berjalan, karena dasarnya tidak diperbolehkan berjalan kecuali saat berdiri dan saat itu ia seharusnya duduk.

Ungkapan beliau, “..ke arah manapun hewan tersebut menghadap”, menunjukkan bahwa ia tidak menoleh untuk menghadap kiblat, tidak juga menghadap ke kiblat pada permulaan shalat. Akan tetapi hadits berikut ini menjelaskan hal lain.

0201

201 – وَلِأَبِي دَاوُد مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «وَكَانَ إذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ الْقِبْلَةَ، فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَجْهُ رِكَابِهِ» . وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ.

201. Dalam hadits Abu Daud dari Anas disebutkan, “bahwasanya jika Rasulullah SAW berada dalam satu perjalanan lalu hendak mengerjakan shalat sunnah, beliau menghadap ke arah kiblat bersama untanya, lalu beliau mengucapkan takbir kemudian mengerjakan shalatnya ke manapun hewan kendaraanya menghadap.” (sanad hadits ini hasan)

[Shahih: Abu Daud 1225]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa saat beliau ingin mengucapkan takbiratul ihram beliau menghadap ke arah kiblat. Ini adalah tambahan yang seyogyanya diterima dan diamalkan karena haditsnya hasan.

Kata نَاقَتَهُ dan رَاحِلَتَهُ, mempunyai makna yang sama, dan saat ingin melakukan hal ini tidak disyaratkan agar kendaraannya adalah unta, bahkan di dalam Shahih Muslim disebutkan,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى عَلَى حِمَارِهِ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengerjakan shalat di atas keledai.” [Muslim 700]

Dari ungkapan “dalam satu perjalanan”, disimpulkan oleh sebagian ulama bahwa safar atau perjalanan merupakan syarat dibolehkannya mengerjakan shalat di atas kendaraan, namun ungkapan itu tidak secara tegas mensyaratkannya.

Dalam hadits ini maupun hadits sebelumnya dijelaskan bahwa hal ini diperbolehkan untuk shalat sunnah saja dan bukan untuk shalat wajib, bahkan secara jelas Al-Bukhari menjelaskan bahwa beliau tidak pernah melakukannya pada shalat wajib.

Hanya saja At-Tirmidzi dan An-Nasa’i meriwayatkan,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَتَى إلَى مَضِيقٍ هُوَ وَأَصْحَابُهُ وَالسَّمَاءُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَالْبَلَّةُ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأَمَرَ الْمُؤَذِّنَ فَأَذَّنَ وَأَقَامَ، ثُمَّ تَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى رَاحِلَتِهِ فَصَلَّى بِهِمْ، يُومِئُ إيمَاءً فَيَجْعَلُ السُّجُودَ أَخْفَضَ مِنْ الرُّكُوعِ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Aiaihi wa Sallam tiba pada sebuah selat bersama shahabat-shahabatnya, saat itu matahari berada di atas mereka dan daerah basah di bawah mereka, lalu tibalah saat untuk menunaikan shalat. Maka beliau memerintahkan seorang muadzin untuk mengumandangkan adzan lalu iqamah, kemudian Rasulullah Shallallahu Aiaihi wa Sallam maju bersama hewan kendaraannya dan mengerjakan shalat bersama mereka, beliau membuat isyarat, isyarat sujud lebih rendah dari pada isyarat ruku’.” At-Tirmizi berkata, “Hadits ini gharib.” [Dhaif: At Tirmidzi 411, saya tidak mendapatkannya dalam Sunan An Nasa’i]

Cara tersebut juga telah ditemui baik dalam ucapan maupun perbuatan Anas yang kemudian dishahihkan oleh Abdul Haqq. Sedangkan An-Nawawi menghasankannya. Namun Al-Baihaqi mendhaifkannya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat wajib boleh dikerjakan di atas hewan kendaraan asalkan selalu menghadap ke arah kiblat dan ia berada di atas sekedup, walaupun ia berjalan. Hal itu seperti kapal, maka sesungguhnya secara ijma’ boleh menunaikan shalat wajib padanya.

Menurut saya, hal itu tidak bisa disamakan karena saat kapal berada di lautan tidak ada daratan, sehingga hal itu dimaklumi, hal ini berbeda dengan orang yang sedang mengendarai hewan di dalam sekedup.

Sedangkan apabila hewan tersebut dalam keadaan berhenti, maka menurut As-Syafi’iyah diperbolehkan shalat wajib padanya, sebagaimana diperbolehkan menunaikan shalat wajib di atas ayunan yang diikat dengan tali atau di atas tandu yang dipanggul oleh orang jika mereka berhenti.

Yang dimaksud shalat wajib ialah shalat yang diwajibkan atas semua orang mukallaf, maka ketika Rasulullah Shallallahu Aiaihi wa Sallam menunaikan shalat witir di atas hewan kendaraan yang hal itu adalah wajib atas beliau, maka tidak bisa digunakan sebagai dalil dalam masalah ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *