[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 51

02.03. BAB SYARAT-SYARAT SHALAT 02

0195

195 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لَهُ: «إذَا كَانَ الثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ فِي الصَّلَاةِ» . وَلِمُسْلِمٍ: ” فَخَالِفْ بَيْنَ طَرْفَيْهِ، وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاِتَّزِرْ بِهِ ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

195. Dari Jabir RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Jika pakaiannya lebar maka lilitkanlah.” Maksudnya di dalam shalat. Dan dalam riwayat Muslim, “Maka silangkanlah antara kedua ujungnya, dan jika sempit maka kenakanlah sebagai sarung.” (Muttafaq alaih)

[Al Bukhari 361, Muslim 766]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika pakaiannya lebar maka lilitkanlah (di dalam shalat) dan dalam riwayat Muslim, “Maka silangkanlah antara kedua ujungnya (dengan meletakkan sebagian darinya di atas pundak) dan jika sempit maka kenakanlah sebagai sarung. (Maksud melilitkan ialah memakai salah satu ujungnya sebagai sarung dan mengenakan ujung yang lainnya di atas pundak.)

Zhahir ungkapan Maksudnya di dalam shalat’ adalah ucapan perawi, penjelasan ini ia simpulkan dari kisah yang mengawali hadits tersebut,

«قَالَ جَابِرٌ: جِئْت إلَيْهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ يُصَلِّي وَعَلَيَّ ثَوْبٌ فَاشْتَمَلْت بِهِ وَصَلَّيْت إلَى جَانِبِهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: مَا هَذَا الِاشْتِمَالُ الَّذِي رَأَيْت؟ قُلْت: كَانَ ثَوْبٌ، قَالَ: فَإِنْ كَانَ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ؛ وَإِذَا كَانَ ضَيِّقًا فَاِتَّزِرْ بِهِ»

Bahwasanya Jabir berkata, “Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat ia sedang mengerjakan shalat, dan pada saat itu aku memakai pakaian atau kain, aku berselimut dengannya, kemudian aku shalat di sisi beliau, ketika beliau menyelesaikan shalatnya, beliau bersabda kepadaku, “Selimut apa ini?” Aku berkata, “Ini adalah pakaian.” Kemudian beliau bersabda, “Jika pakaiannya lebar maka lilitkanlah, dan jika sempit maka kenakanlah sebagai sarung.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa jika kain yang dipakai lebar, maka hendaklah dipakai sebagai sarung pada satu ujungnya, sedangkan ujung yang lain diselempangkan di atas pundak. Dan apabila kainnya sempit maka hendaklah dipakai sebagai sarung untuk menutupi aurat. Karena berdasarkan pendapat banyak ulama, aurat pria adalah antara pusar hingga lutut.

0196

196 – وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ»

196. hadits Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, “Hendaklah salah seorang dari kalian tidak mendirikan shalat dengan satu kain dan tidak ada apa pun di atas pundaknya.”

[Al Bukhari 359, Muslim 516]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Hendaklah salah seorang dari kalian tidak mendirikan shalat dengan satu kain dan tidak ada apapun di atas pundaknya (jika kain tersebut lebar, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits di atas, maksudnya, hendaklah tidak menyarungkan kain tersebut tepat pada tengahnya kemudian mengikatkan kedua ujung kain tersebut pada pinggangnya, akan tetapi hendaklah disisakan salah satu ujungnya untuk dikenakan pada pundaknya agar menutupi bagian atas tubuhnya).”

Tafsir Hadits

Jumhur ulama berpendapat bahwa larangan ini berarti makruh, sebagaimana mereka mengatakan bahwa maksud perintah ‘Maka lilitkanlah’ pada hadits sebelumnya bermakna mandub (sunnah). Namun, Ahmad mengatakan bahwa perintah ini berarti wajib, sehingga seseorang yang bisa melakukan hal tersebut tapi tidak melakukannya maka shalatnya tidak sah, pada riwayat lain ia mengatakan bahwa shalatnya sah akan tetapi pelakunya berdosa.

Ketika Ahmad mengatakan bahwa shalatnya tidak sah maka cara memakai kain tersebut dianggap sebagai salah satu syarat, dan ketika ia mengatakan bahwa shalatnya sah akan tetapi ia berdosa maka hal itu dianggap sebagai salah satu yang wajib dalam shalat.

Dalam masalah ini Al-Khathabi mengatakan, bahwa argumen jumhur ulama adalah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mendirikan shalat dengan satu kain, sedangkan salah satu ujungnya berada di atas salah seorang istri beliau yang sedang tidur. Ia berkata, “Dan pastilah bagian yang beliau pakai tidak cukup untuk ia gunakan sebagai sarung sekaligus menutupi pundaknya.”

Saya berkata, “Argumen ini tertolak dengan perkataan Ahmad, “Sehingga seseorang yang bisa melakukan hal tersebut tapi tidak melakukannya maka shalatnya tidak sah,” karena bisa jadi saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak bisa memakai kecuali dengan cara itu. Artinya hal ini memperkuat dugaan bahwa saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memiliki kain yang lainnya.

0197

197 – وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّهَا سَأَلَتْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَتُصَلِّي الْمَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ، بِغَيْرِ إزَارٍ؟ قَالَ: إذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ قَدَمَيْهَا» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد. وَصَحَّحَ الْأَئِمَّةُ وَقْفَهُ

197. Dari Ummu Salamah RA bahwasanya beliau bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah seorang wanita boleh menunaikan shalat dengan baju kurung dan kerudung tanpa mengenakan sarung?”. Beliau bersabda, “Jika baju kurung tersebut lebar sehingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” (HR. Abu Daud. Para imam menyatakannya sebagai hadits mauquf)

[Dhaif: Abu Daud 640]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

H adits ini telah kami jelaskan di atas dan hukumnya seperti hadits marfu’ walaupun ia hadits mauquf, karena selayaknya tidak diperbolehkan untuk berijtihad dalam kisah seperti ini.

Malik dan Abu Dawud telah meriwayatkan secara mauquf dengan lafazh, “Dari Muhammad bin Zaid bin Qanfadz dari ibunya, bahwasanya ia bertanya kepada Ummu Salamah, “Pakaian apakah yang dikenakan oleh seorang wanita ketika shalat?” Ia menjawab, “Seorang wanita shalat dengan kerudung dan baju kurung yang lebar sehingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.'”

0198

198 – وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ، فَأَشْكَلَتْ عَلَيْنَا الْقِبْلَةُ، فَصَلَّيْنَا. فَلَمَّا طَلَعَتْ الشَّمْسُ إذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا إلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ، فَنَزَلَتْ {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ} [البقرة: 115] » أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

198. Dari Amr bin Rabi’ah ia berkata, “Kami bersama Nabi SAW pada satu malam yang gelap gulita, sehingga kami tidak bisa mengetahui arah Kiblat, kemudian kami menunaikan shalat. Ketika matahari terbit, kami sadari ternyata kami telah mengerjakan shalat bukan ke arah kiblat, kemudian turunlah ayat, “… maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah…” (HR. At Tirmidzi dan ia mendha’ifkannya)

[Shahih: At Tirmidzi 345]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Amir bin Rabi’ah, yakni Abdullah bin Amir bin Rabi’ah bin Malik Al-‘Anziy bernisbah kepada Anz bin Wa’il, ada juga yang mengatakan Al-‘Adawi. Masuk Islam pada periode awal, mengikuti kedua hijrah dan menyertai semua peristiwa penting yang terjadi. Wafat pada tahun 32 atau 33 atau 35 H.

Penjelasan Kalimat

“Kami bersama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pada satu malam yang gelap gulita, sehingga kami tidak bisa mengetahui arah kiblat, kemudian kami menunaikan shalat (zhahirnya mereka tidak melihat kepada tanda-tanda alam) ketika matahari terbit, kami sadari ternyata kami telah mengerjakan shalat bukan ke arah kiblat, kemudian turunlah ayat tersebut.

Syarah Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa siapapun yang mengerjakan shalat bukan ke arah kiblat dikarenakan oleh kegelapan malam atau oleh awan, maka shalatnya benar, baik ia melihat tanda-tanda alam serta berusaha untuk mencarinya atau tidak, baik kesalahannya diketahui pada saat itu atau sesudahnya.

Hadits ini diperkuat oleh hadits At-Thabrani dari Muadz bin Jabal, ia berkata,

«صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي يَوْمِ غَيْمٍ فِي السَّفَرِ إلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ تَجَلَّتْ الشَّمْسُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا إلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ، قَالَ: قَدْ رُفِعَتْ صَلَاتُكُمْ بِحَقِّهَا إلَى اللَّهِ»

“Saya telah mengerjakan shalat ke arah selain kiblat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari yang berawan dalam sebuah perjalanan, ketika ia telah menyelesaikan shalatnya, matahari nampak, kemudian kami berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, kita telah mengerjakan shalat bukan ke arah kiblat?’ Kemudian beliau bersabda, “Shalat kalian dengan semua haknya telah diangkat ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Di dalam sanad hadits ini terdapat Abu Ailah, yang telah dikuatkan oleh Ibnu Hibban.

Para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ini:

1) Madzhab As-Sya’bi, Al-Hanafiyah dan Al-Kufiyin, mengatakan bahwa shalat tersebut benar, kecuali bagi orang yang mengerjakan shalat tanpa berusaha untuk mencari kiblat kemudian setelah itu ia mendapati arahnya salah. Dalam hal ini disebutkan di dalam Al-Bahr bahwa seluruh ulama berijma’ bahwa orang tersebut harus mengulangi shalatnya. Jika ijma’ ini benar adanya, maka ia adalah pengecualian untuk hadits di atas.

2) Beberapa ulama yang lain mengatakan, bahwa orang tersebut tidak perlu mengulangnya, apabila ia telah berusaha untuk mendapatkan arah kiblat sebelum shalat walau kemudian ia mengetahui setelah shalat tersebut bahwa arahnya salah, dan waktunya telah habis, sedangkan bila ia menyadari kesalahannya padahal waktunya masih tersisa maka ia harus mengulanginya, karena perintah shalat masih berada dalam tanggungannya dan waktunya masih ada. Akan tetapi jika ia tidak menyadari kesalahannya maka tidak perlu mengulanginya karena selama ia tidak menyadarinya tidak menutup kemungkinan jika ia mengulanginya ia akan salah arah lagi, maka jika waktunya telah habis ia tidak perlu mengulanginya berdasarkan hadits di atas. Kelompok ini menganggap bahwa berusaha untuk menghadap kiblat adalah syarat mutlak, karena orang tersebut harus yakin bahwa ia menghadap ke kiblat. Jika ia tidak bisa meyakinkan diri bahwa ia telah menghadap ke kiblat maka ia berusaha semampunya, jika ia tidak berusaha semaksimal mungkin maka ia tidak bisa dimaafkan, kecuali jika ia yakin bahwa arahnya sudah tepat.

3) Imam Syafi’i mengatakan bahwa orang tersebut harus mengulangi shalatnya baik sebelum maupun sesudah habis waktunya. Karena menghadap ke kiblat hukumnya wajib, padahal hadits Sariyah dalam masalah tersebut ada kelemahannya.

Menurut saya seharusnya kita mengamalkan hadits Sariyah karena ia diperkuat oleh hadits Muadz, bahkan hadits ini saja sudah cukup sebagai dalil, dan berkenaan dengan ijma’ di atas, kita telah sering mendapati mereka mengklaim ijma’ padahal tidak begitu adanya, sehingga pendapat bahwa hal ini adalah ijma’ ulama adalah salah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *