[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 50

02.03. BAB SYARAT-SYARAT SHALAT 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Kata ‘syarat’ secara etimologi berarti tanda, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

{فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا}

“Sesungguhnya telah datang tanda-tandanya” (QS. Muhammad: 18),

sedangkan menurut para ulama, syarat ialah sesuatu yang ketiadaanya menyebabkan ketiadaan sesuatu yang lain.

0193

193 – عَنْ عَلِيِّ بْنِ طَلْقٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا فَسَا أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَنْصَرِفْ، وَيَتَوَضَّأْ، وَلْيُعِدْ الصَّلَاةَ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

193. Dari Ali bin Thalaq RA ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian buang angin –kentut- saat sedang mengerjakan shalat, maka hendaklah ia keluar lalu mengambil wudhu dan mengulangi shalatnya.” (HR. Al Khamsah, dan Ibnu Hibban menshahihkannya)

[Dhaif: Abu Daud 205]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Biografi Ali bin Thalaq Radhiyallahu Anhu telah dijelaskan dalam bab hal-hal yang membatalkan wudhu. Ibnu Abdul Barr berkata, “Saya kira ia adalah orang tua Thalaq bin Ali Al-Hanafi.” Sedangkan Ahmad dan Al-Bukhari lebih suka untuk mengatakan bahwa Ali bin Thalaq maupun Thalaq bin Ali adalah orang yang sama.

Tafsif Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh imam yang lima dan Ibnu Hibban menshahihkannya. Ungkapan, ‘dan Ibnu Hibban menshahihkannya’ adalah ungkapan yang diringkas, lengkapnya ialah ‘Ibnu Hibban meriwayatkan dan menshahihkannya’, ungkapan ini sering digunakan oleh Ibnu Hajar, dan ada kemungkinan dipahami seakan-akan Ibnu Hibban tidak meriwayatkan hadits ini, akan tetapi ia menshahihkannya saja.

Ibnu Al-Qathani mencacat hadits ini karena keberadaan Muslim bin Salam Al-Hanafi, karena ia adalah sosok yang tidak dikenal.

At-Tirmidzi berkata, “Al-Bukhari berkata, ‘Saya tidak mengetahui hadits lain dari Ali bin Thalaq selain hadits ini.'”

Hadits ini menjelaskan bahwa buang angin —kentut- membatalkan wudhu, menurut ijma’ ulama, kemudian hal-hal lain yang membatalkan wudhu, diqiyaskan kepada buang angin. Semua itu membatalkan shalat.

Telah disebutkan hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, “Barangsiapa muntah atau mimisan atau gumoh —semancam muntah- saat sedang menunaikan shalat, maka hendaklah ia keluar —untuk berwudhu-, kemudian meneruskan shalatnya, selama ia tidak bercakap-cakap.”

Hadits ini bertentangan dengan hadits di atas, kedua hadits di atas bermasalah, namun Ibnu Hajar mentarjih hadits nomor ini, ia berkata, “Karena hadits nomor ini menetapkan pengulangan shalat, sedangkan hadits yang kedua menghilangkan keharusan untuk mengulangi shalat, atau bisa dikatakan hadits nomor ini membatalkan shalat sedangkan hadits yang satunya tidak, maka hadits nomor ini lebih layak untuk ditarjih disamping bahwa Ibnu Hibban telah menshahihkannya. Adapun hadits yang satunya tidak ada satu ulama pun yang menshahihkannya, sehingga hadits nomor ini lebih kuat dari sisi keshahihannya.”

0194

194 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إلَّا بِخِمَارٍ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

194. Dari Aisyah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat seorang wanita yang telah haidh kecuali jika ia mengenakan kerudung.” (HR. Al Khamsah kecuali An Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah menshahihkannya)

[Shahih: At Tirmidzi 377]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Allah tidak akan menerima shalat seorang wanita yang telah haidh (maksudnya ialah wanita yang telah mencapai umur baligh secara umum, walaupun umur itu ia capai dengan mimpi. Penggunaan kata haidh di sini karena kebanyakan wanita mencapai umur tersebut dengan haidh) kecuali jika ia mengenakan kerudung (yaitu sesuatu yang menutupi kepala dan leher).”

Tafsir Hadits

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim, sedangkan Ad-Daraquthni menganggapnya cacat, ia berkata, “Statusnya sebagai hadits mauquf lebih mendekati kebenaran.” Adapun Al-Hakim, ia melihatnya cacat dari segi kemursalan hadits ini.

At-Thabrani meriwayatkan hadits ini dalam As-Shagir dan Al-Ausath, dengan lafazh,

«لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْ امْرَأَةٍ صَلَاةً حَتَّى تُوَارِيَ زِينَتَهَا، وَلَا مِنْ جَارِيَةٍ بَلَغَتْ الْمَحِيضَ حَتَّى تَخْتَمِرَ»

“Allah tidak akan menerima shalat seorang wanita sehingga ia menutupi perhiasannya, dan tidak pula dari anak perempuan yang telah mencapai umur haidh hingga mengenakan kerudung.” [Al Aushath 7/315, Ash Shaghir 2/138] [Al Haitsami berkata dalam Al Majma 2230, diriwayatkan menyendiri oleh Ishaq bin Isma’il bin Abdul Ala Al Aili, aku tidak menemukan biografinya. Ebook editor]

Maksud tidak menerima di sini ialah tidak sah dan tidak benar. Hal ini menjelaskan bahwa shalat tetsebut tidak disebut sebagai ibadah, yang seharusnya menghasilkan pahala. Dengan demikian ketika Allah menganggapnya bukan sebagai ibadah, maka Allah telah menghapuskan pahala yang seharusnya didapatkan dari shalat tersebut. Akan tetapi, shalat tersebut tetap sah, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits,

«إنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ الْآبِقِ؛ وَلَا مَنْ فِي جَوْفِهِ خَمْرٌ»

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat seorang hamba yang melarikan diri atau seseorang yang di dalam perutnya terdapat arak.” [shahih: At Tirmidzi 360, tanpa lafazh seseorang yang di dalam perutnya terdapat arak]

Permasalahan ini telah kami jelaskan di dalam Risalah Isbal di dalam catatan pinggir Syarh Al-Umdah, yang kesimpulannya bahwa tidak diterima berarti tidak sah.

Ungkapan, ‘ kecuali jika ia mengenakan kerudung, menunjukkan bahwa seorang wanita harus menutup kepala, leher dan semua anggota tubuh yang biasa tertutup oleh kerudung, dan berikut ini hadits Abu Dawud dari Ummi Salamah mengenai shalatnya seorang wanita dalam baju kurung dan kerudung tanpa mengenakan sarung, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ قَدَمَيْهَا»

“Jika baju kurung tersebut lebar dan menutupi punggung telapak kakinya.” Hal ini menunjukkan bahwa seorang wanita hendaklah menutup kepala dan lehernya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits ‘kerudung’ di atas, juga menutup anggota badan yang lainnya bahkan hingga punggung telapak kakinya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits Ummu Salamah di atas.

Ia boleh membuka wajahnya karena tidak ada dalil yang mengharuskan untuk menutupnya. Maksudnya, ia boleh membuka wajahnya saat shalat selama tidak terlihat oleh laki-laki asing atau yang bukan mahramnya.

Inilah auratnya saat di dalam shalat, sedangkan auratnya di hadapan laki-laki bukan mahramnya ialah seluruh tubuhnya, sebagaimana yang akan kami jelaskan.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa auratnya saat shalat adalah auratnya di hadapan laki-laki bukan mahramnya, akan tetapi pembahasan perbedaan pendapat tentang masalah ini pada bab ini, bukanlah pada tempatnya, karena yang pasti seorang wanita mempunyai aurat yang harus ditutupi saat mendirikan shalat dan mempunyai aurat yang harus ditutup saat berada dihadapan lelaki bukan mahramnya, sedangkan bab ini hanya membahas aurat wanita di dalam shalat.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *