[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 49

02.02. BAB ADZAN 06

0188

188 – وَلَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يُؤَذِّنُ إلَّا مُتَوَضِّئٌ» وَضَعَّفَهُ أَيْضًا

188. Dan dalam hadits At Tirmidzi juga dari Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Hendaklah tidak mengumandangkan adzan kecuali orang yang telah berwudhu.” (At Tirmidzi mendha’ifkannya)

[Dhaif: At Tirmidzi 200-201]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

At-Tirmidzi mendhaifkan hadits ini, sebagaimana beliau mendhaifkan hadits sebelumnya. Hadits ini dhaif karena munqathi’, karena ia diriwayatkan dari Az-Zuhri dari Abu Hurairah, padahal Az-Zuhri belum pernah mendengar hadits secara langsung dari Abu Hurairah.

At-Tirmidzi berkata, “Az-Zuhri belum pernah mendengar hadits secara langsung dari Abu Hurairah, dan perawi selain Az-Zuhri adalah perawi dhaif.”

At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits ini melalui Yunus dari Az-Zuhri secara mauquuf, dengan lafazh ,rLaa Yunaadi” artinya hendaklah tidak menyeru, dan hadits ini lebih shahih.

Abu Asy-Syaikh meriwayatkan hadits ini dalam “Kitabul Adzan’ dari Ibnu Abbas dengan lafazh,

«إنَّ الْأَذَانَ مُتَّصِلٌ بِالصَّلَاةِ فَلَا يُؤَذِّنُ أَحَدُكُمْ إلَّا وَهُوَ طَاهِرٌ»

“Sesungguhnya adzan berkaitan dengan shalat, maka hendaklah seseorang dari kalian tidak mengumandangkan adzan kecuali jika ia dalam kondisi suci.” [Shahih: lihat At-Talkhis 1/206]

Hadits ini adalah dalil bahwa bersuci dari hadats kecil dan hadats besar merupakan syarat untuk mengumandangkan adzan. Al-Hadawiyah berkata, “Suci dari hadats besar adalah syarat mengumandangkan adzan, maka adzan seseorang yang sedang junub tidak sah, sedangkan adzannya orang yang tidak berwudhu sah berdasarkan hadits di atas.” Sebagaimana yang ia sebutkan dalam As-Syarh.

Saya katakan, “Hadits di atas jelas mensyaratkan wudhu bagi orang yang mengumandangkan adzan, maka tidak ada alasan bagi Al-Hadawiyah untuk membedakan kedua jenis hadats di atas. Jika sahnya mengumandangkan adzan tanpa berwudhu ini diqiyaskan kepada sahnya seseorang membaca Al-Qur’an tanpa berwudhu maka qiyas ini bertentangan dengan nash hadits, dan hal ini jelas tidak sesuai dengan dasar pengambilan hukum yang mereka pakai.”

Ahmad dan beberapa ulama yang lainnya berpendapat bahwa adzan seseorang yang berhadats kecil tidak sah, berdasarkan hadits ini, walaupun Anda telah mengetahui keadaan hadits ini, yang mana At-Tirmidzi menegaskan bahwa hadits ini Mauquf pada Abu Hurairah.

Adapun masalah iqamah, maka kebanyakan ulama mensyaratkan wudhu ketika mengumandangkannya. Mereka berkata, “Tidak ada nash yang menyebutkan selain cara itu pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang hal itu tentunya cukup jelas.”

Namun ada beberapa orang yang mengatakan bahwa iqamah diperbolehkan tanpa berwudhu, walaupun hal itu makruh menurut mereka. Dan ada orang lain yang mengatakan bahwa mengumandangkan iqamah tanpa berwudhu boleh sama sekali.

0189

189 – وَلَهُ عَنْ زِيَادِ بْنِ الْحَارِثِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ» وَضَعَّفَهُ أَيْضًا

189. dan dalam hadits At Tirmidzi juga dari Ziyad bin Al Harits berkata, Rasulullah SAW bersabda, “…. dan siapa yang mengumandangkan adzan maka ia yang mengumandangkan iqamah.” (At Tirmidzi mendha’ifkannya)

[Dhaif: At Tirmidzi 199]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ziyad bin Al-Harits adalah Ziyad bin Harits As-Shuda’i, ia berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu ia mengumandangkan adzan di hadapannya. Ia adalah orang terpandang dari kalangan penduduk Bashrah. Shuda’ adalah nama satu kabilah.

Penjelasan Kalimat

“..dan siapa yang mengumandangkan adzan maka ia yang mengumandangkan iqamah (ungkapan ‘dan’ di sini menunjukkan bahwa sebelumnya ada ungkapan yang lain, yaitu sabda beliau, “Sesungguhnya saudara dari Shuda’ ini telah mengumandangkan adzan …”).

Tafsir Hadits

At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini dikenal sebagai hadits yang diriwayatkan dari Ziyad bin An’um Al-Ifriqi, yang mana Al-Qathan dan beberapa orang lainnya mendhaifkannya.” Al-Bukhari berkata, “Ia muqarib hadits.” Abu Hatim dan Ibnu Hibban mendhaifkannya.

At-Tirmidzi berkata, “Banyak ulama mengamalkan isi hadits ini, yakni orang yang mengumandangkan adzan maka dia pulalah yang mengumandangkan iqamah.”

Hadits ini adalah dalil bahwa iqamah merupakan hak muadzin, maka tidak boleh dikumandangkan oleh orang lain, demikian pendapat Al-Hadawiyah. Hadits ini didukung oleh hadits,

«مَهْلًا يَا بِلَالُ فَإِنَّمَا يُقِيمُ مَنْ أَذَّنَ»

“Tunggu dulu Bilal, sesungguhnya yang mengumandangkan iqamah ialah orang yang mengumandangkan adzan.” HR. At-Thabarani, Al-‘Uqaili dan Abu Syaikh, akan tetapi hadits ini didhaifkan oleh Abu Hatim dan Ibnu Hibban.

Al-Hanafiyah berkata, “Iqamah boleh dikumandangkan oleh orang lain, yakni yang tidak mengumandangkan adzan, karena dalil di atas tidak kuat dan hal ini didukung oleh hadits berikut ini,

02. KITAB SHALAT02. KITAB SHALAT\02.02. BAB ADZAN02.02. BAB ADZAN\0190 0190
190 – وَلِأَبِي دَاوُد مِنْ حَدِيثِ «عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ: أَنَا رَأَيْته – يَعْنِي الْأَذَانَ – وَأَنَا كُنْت أُرِيدُهُ. قَالَ: فَأَقِمْ أَنْتَ» وَفِيهِ ضَعْفٌ أَيْضًا.

190. Dan dalam riwayat Abu Daud dalam hadits Abdullah bin Zaid berkata, ‘Saya yang melihat adzan (dalam mimpi), dan waktu itu aku menginginkannya, kemudian beliau bersabda, “Kumandangkanlah iqamah.” Dalam hadits ini ada kelemahan.

[Dhaif: Abu Daud 512]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Penulis tidak menemukan keterangan atas kelemahan hadits ini. Abu Dawud juga tidak menerangkannya. Tetapi Al-Hafidz Al-Mundziri menyebutkan bahwa Al-Baihaqi menerangkan bahwa sanad dan matan hadits ini saling bertentangan.

Abu Bakat Al-Haazimi berkata, “Sanadnya menjadi bahan pembicataan para ulama sehingga ia tidak bisa digunakan sebagai dalil.”

Hukum asli dalam masalah ini adalah – iqamat boleh dikumandangkan selain oleh muadzin, dan hadits di atas menguatkan hukum ini.

0191

191 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «الْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ، وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ» رَوَاهُ ابْنُ عَدِيٍّ وَضَعَّفَهُ

191. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang muadzin lebih berhak atas adzan dan seorang imam lebih berhak atas iqamah.” (HR. Ibnu Adi’ dan ia mendha’ifkannya)

[Dhaif: Ibnu Adi 4/12]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biogfafi Perawi

Ibnu ‘Adi adalah seorang Hafidz besar, imam yang sangat terkenal, Abu Ahmad Abdullah bin Adii Al-Jurjaani, dikenal juga dengan nama Ibnul Qishaar. Ia adalah penulis Kitab Al-Kamil dalam masalah ilmu Jarh wa Ta’dil. Lahir pada tahun 279 H. belajar hadits dari banyak ulama, dan banyak imam yang belajar darinya. Ibnu Asakir berkata, “Ia adalah ulama tsiqah walaupun kadang ada sedikit kekeliruan.” Hamzah As-Sahmi berkata, “Ibnu Adi adalah seorang Hafidz yang profesional atau bagus, pada masanya tidak ada seorang pun yang menyamainya.” Al-Khalili berkata, “Jarang ada yang menyamainya dalam masalah hafalan dan keagungan.” Saya bertanya kepada Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Al-Hafidz mengenai Ibnu ‘Adi, ia menjawab, “Kancing bajunya lebih kuat hafalannya dari pada hafalan Abdul Baqi bin Qani’.” Beliau wafat pada bulan Jumadal Akhirah tahun 365 H.

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya seorang muadzin lebih berhak atas adzan (maksudnya bahwa waktu adzan menjadi tanggungjawab seorang muadzin, karena ia dipercaya untuk melaksanakannya) dan seorang imam lebih berhak atas iqamah (maka iqamah tidak boleh dikumandangkan kecuali atas perintah dari seorang imam).”

Tafsir Hadits

Hadits ini didhaifkan karena ia diriwayatkan dari Syuraik Al-Qadhi sendirian. Al-Baihaqi berkata, “Ia bukan orang yang dihafal.” Abu Syaikh meriwayatkan juga, akan tetapi di dalamnya ada kelemahannya.

Hadits ini merupakan dalil bahwa muadzin bertanggungjawab atas waktu permulaan adzan, karena ialah orang yang diserahi amanah untuk mengetahuinya, dan bahwa seorang imam bertanggungjawab atas iqamah, maka iqamah tidak boleh dikumandangkan kecuali atas perintah dari seorang imam.

Al-Bukhari telah meriwayatkan hadits,

«إذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَقُومُوا حَتَّى تَرَوْنِي»

“Jika iqamah telah dikumandangkan maka janganlah kalian berdiri hingga kalian melihatku.” [Al Bukhari 637]

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh mengumandangkan iqamah walaupun imam belum datang, jadi iqamah tersebut tidak tergantung kepada izin imam, demikian disebutkan di dalam As-Syarh, akan tetapi diterangkan dalam hadits lain,

«أَنَّهُ كَانَ بِلَالٌ قَبْلَ أَنْ يُقِيمَ يَأْتِي إلَى مَنْزِلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ»

“Bahwasanya Bilal mendatangi rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk meminta izin mendirikan shalat sebelum ia mengumandangkan iqamah. [Al Bukhari 417]

Izin mendirikan shalat setelah mengumandangkan adzan adalah izin untuk mengumandangkan iqamah.

Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya hadits Al-Bukhari bertentangan dengan hadits Jabir bin Samurah,

«بِأَنَّ بِلَالًا كَانَ لَا يُقِيمُ حَتَّى يَخْرُجَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -»

“Bahwasanya Bilal tidak pernah mengumandangkan iqamah hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar (dari rumahnya).” [Muslim 606]

Makna kedua hadits ini bisa digabungkan, yakni bahwasanya Abu Hurairah selalu mengawasi keluarnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga saat ia melihatnya segera ia mengumandangkan iqamah sebelum orang-orang melihatnya, dan saat mereka semua melihatnya mereka berdiri.

Dalam masalah kapan saat yang tepat bagi para makmum berdiri, Malik berkata, “Saya belum pernah mendengar batasan yang jelas kapan para makmun berdiri, akan tetapi dalam masalah ini saya berpendapat agar mereka berdiri sesuai dengan kemampuan masing-masing, karena di antara mereka ada orang-orang yang berat (sulit untuk berdiri) dan ada orang-orang yang ringan (mudah untuk berdiri).” Dan sebagian besar ulama berpendapat bahwa para makmum tidak berdiri hingga iqamah selesai dikumandangkan.

Diriwayatkan dari Anas bahwasanya ia berdiri saat orang yang mengumandangkan iqamah mengucapkan ‘Qad qaamat as-shalah’. Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dan yang lainnya.

Sedangkan dari Ibnul Musayyib diriwayatkan bahwasanya ia berkata, “Jika muadzin sudah mengucapkan, Allahu Akbar maka. wajib untuk segera berdiri, dan saat ia mengucapkan, Hayya ‘Alas shalah barisan harus sudah rapi, dan saat ia mengucapkan, ‘laa ilaaha illallah’ imam segera mengucapkan takbiratul ihram.” Namun hal ini adalah pendapatnya dan tidak pernah ditemukan di dalam sunnah.

0192

192 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ» رَوَاهُ النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

192. Dari Anas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “doa di antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah menshahihkannya)

[Shahih: Abu Daud 521, At Tirmidzi 212 –ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini hadits marfu’, disebutkan juga di dalam Sunan Abu Dawud dengan lafazh,

«لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ»

“Doa di antara adzan dan iqamah tidak akan di tolak.”

Al-Mundziri berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i di dalam bab Amal yaum wa lailah.

Hadits ini menunjukkan bahwa doa pada saat itu mustajab, karena maksud dari kata Tidak ditolak’ ialah dikabulkan dan dipenuhi, kemudian hal itu berkenaan dengan semua doa, yang tentunya harus diperjelas dan dibatasi dengan hadits-hadits lain yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan doa di sini ialah doa yang tidak berkenaan dengan dosa atau memutuskan hubungan silaturrahmi, dan telah dijelaskan beberapa doa yang selayaknya dibaca antata adzan dan iqamah, di antaranya:

1. Membaca, “Radhiitu billahi Rabban wa bil Islami dinan wa bi Muhammadin rasuulan”, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa membaca doa tersebut maka dosa-dosanya akan diampuni.” [Muslim 386]

2. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah selesai menjawab bacaan adzan. [Muslim 384] Dalam Al-Hadyu Ibnu Qayyim berkata, “Sebaik-baiknya shalawat yang akan sampai kepadanya, ialah apa yang beliau ajarkan kepada umatnya, agar umatnya bershalawat kepadanya dengan shalawat yang tiada tandingnya.”

Hal ini akan kami bahas lebih lengkap dalam bab shalawat.

3. Setelah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca, “Allahumma rabba haazihid da’watit taammah was shalatil qaa’imah, aati Muhammadan al-wasilah walfadhiilah, wab’atshu maqaamam mahmuudah allazi wa’adtah'” hal ini disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari’, dan selain Al-Bukhari menambahkan, “Innaka laa tukhliful mii’ad” [Tambahan ini dhaif]

4. Berdoa untuk diri sendiri, memohon karunia Allah Suhhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab-kitab Sunan, “Ucapkanlah seperti apa yang mereka ucapkan -yakni para muadzin-setelah itu mintalah apa saja engkau pasti akan diberi.’ [Hasan Shahih: Abu Daud 524]

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,

«مَنْ قَالَ حِينَ يُنَادِي الْمُنَادِي: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ الْقَائِمَةِ، وَالصَّلَاةِ النَّافِعَةِ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنْهُ رِضًا لَا سَخَطَ بَعْدَهُ اسْتَجَابَ اللَّهُ دَعْوَتَهُ»

“Barang siapa, saat muadzin mengumandangkan adzan ia membaca, Ya Allah, Tuhan -Pemilik- seruan yang lurus dan shalat yang bermanfaat, berikanlah shalawat kepada Muhammad, ridhailah ia dengan keridhaan yang tidak ada kemurkaan setelahnya’, maka Allah akan mengabulkan permohonannya. [Dhaif: Ahmad 3/337]

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajariku untuk mengucapkan doa berikut ini saat adzan Maghrib,

«عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ أَقُولَ عِنْدَ أَذَانِ الْمَغْرِبِ: اللَّهُمَّ هَذَا إقْبَالُ لَيْلِك وَإِدْبَارُ نَهَارِك وَأَصْوَاتُ دُعَاتِك؛ فَاغْفِرْ لِي»

“Ya Allah, sesungguhnya ini adalah kedatangan malam-Mu, dan kepergian siang-Mu, dan suara orang-orang yang berdoa kepada-Mu maka ampunilah kesalahanku.” [Dhaif: At Tirmidzi 3589]

Al-Hakim meriwayatkan dari Umamah secara marfuu’, ia berkata,

«كَانَ إذَا سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ قَالَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ الْمُسْتَجَابَةِ الْمُسْتَجَابِ لَهَا، دَعْوَةُ الْحَقِّ وَكَلِمَةُ التَّقْوَى، تَوَفَّنِي عَلَيْهَا وَأَحْيِنِي عَلَيْهَا وَاجْعَلْنِي مِنْ صَالِحِي أَهْلِهَا عَمَلًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Jika mendengarkan muadzin, beliau mengucapkan, “Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan mustajab, yang mustajab untuknya, yang memiliki seruan kebenaran, yang memiliki kalimat takwa, wafatkanlah aku di dalam keadaan takwa, dan hidupkanlah aku dalam keadaan takwa, jadikanlah di antara orang-orang bertakwa yang shalih, pada hari kiamat.” [Mustadrak 1/731]

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjelaskan doa yang dibaca saat itu dalam hadits, “Doa di antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak.”‘Para shahabat bertanya, “Apa yang kami baca saat itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Mohonlah ampunan dan kesehatan di dunia dan akhirat kepada Allah.” [Dhaif: At Tirmidzi 3594] Ibnul Qayyim berkata, “Hadits ini shahih.”

Al-Baihaqi menyebutkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat iqamah mengucapkan, Aqaamahallah wa adaamahaa’ -semoga Allah menegakkan dan melanggengkannya.” [Dhaif: Al Baihaqi dalam Al Kubra 1/411]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *