[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 48

02.02. BAB ADZAN 05

0185

185 – وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْنِي إمَامَ قَوْمِي. فَقَالَ: أَنْتَ إمَامُهُمْ، وَاقْتَدِ بِأَضْعَفِهِمْ، وَاِتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا» أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ، وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

185. dari Utsnan bin Abul Ash ia berkata, “Wahai Rasulullah, jadikanlah aku sebagai imam untuk kaumku!”, beliau bersabda, “Kamu imam kaummu, pertimbangkanlah orang yang paling lemah di antara kalian dan angkatlah seorang muadzin yang tidak meminta upah dari adzannya.” (HR. Al Khamsah. At Tirmidzi menghasankannya sedangkan Al Hakim menshahihkannya)

[Shahih: Abu Daud 531]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Utsman bin Abul Ash adalah Abu Abdullah Ustman bin Abul Ash bin Basyar Ats-Tsaqafi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempekerjakannya di Thaif, ia tetap berada di sana selama kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, masa khalifah Abu Bakar dan dua tahun pada masa khalifah Umar, kemudian Umar memutasinya ke Oman dan Bahrain. Ia termasuk orang-orang Tsaqif yang bertamu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat itu ia berumur 27 tahun sebagai anggota termuda, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, orang-orang Tsaqif berniat untuk keluar dari agama Islam, maka Utsman bin Abul Ash berkata kepada mereka, “Wahai penduduk Tsaqif, kalian adalah orang terakhir memeluk agama Islam maka janganlah kalian menjadi orang pertama keluar dari Islam”, mereka pun mengurungkan niatnya. Beliau wafat di Bashrah tahun 51 H.

Penjelasan Kalimat

“Wahai Rasulullah, jadikanlah aku sebagai imam untuk kaumku!’ Beliau bersabda, ‘Kamu imam untuk kaummu, pertimbangkanlah orang yang paling lemah di antara kalian (maksudnya, agar ia menjadikan orang-orang yang lemah, baik karena sakit atau tua sebagai standar shalatnya dalam rangka memberikan keringanan kepada mereka) angkatlah seorang muadzin yang tidak meminta upah dari adzannya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya meminta posisi imam atau pemimpin dalam kebaikan, dan hal ini telah disebutkan di dalam ayat yang menjelaskan sifat-sifat hamba Allah,

{وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا}

“..dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqaan: 74) Permohonan jabatan di sini tidaklah termasuk ambisi untuk menjadi pemimpin yang hukumnya makruh. Ambisi untuk mendapatkan jabatan kepemimpinan yang hukumnya makruh adalah jabatan yang bersifat keduniaan, orang yang berambisi seperti itu selayaknya tidak perlu ditolong dan tidak perlu untuk dikabulkan permintaannya, sebagaimana yang akan kami terangkan mendatang.

Imam shalat hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya, lalu menjadikan orang yang paling lemah sebagai standarnya dan meringankan shalat karenanya. Hal ini akan dibahas lebih luas dalam bab Imam Shalat.

Hendaklah orang tersebut mengangkat seorang muadzin untuk menyeru orang-orang agar menghadiri shalat, dan di antara kriteria muadzin tersebut ialah orang yang tidak mengharap upah dari adzannya. Dengan demikian, orang yang meminta upah atas adzannya tidak layak untuk diangkat sebagai muadzin.

Apakah ia boleh menerima upah? Madzhab imam Syafi’i membolehkannya walaupun ia menganggap hal tersebut hukumnya makruh. Sedangkan madzhad Al-Hadawiyah dan Hanafiyah mengharamkannya berdasarkan hadits ini.

Saya katakan, “Hadits di atas tidak mengharamkannya.” Ada yang mengatakan, “Boleh mengambilnya jika ia memang ditugaskan sebagai muadzin tetap, dengan begitu ia tidak mengambil upah dari adzannya akan tetapi ia mengambil upah dari jabatannya.”

0186

186 – وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لَنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ» الْحَدِيثَ. أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ.

186. Dari malik bin Al Huwairits ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan untuk kalian.” (HR. As Sab’ah)

[Al Bukhari 631, Muslim 674]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Malik bin Al-Huwairits adalah Abu Sulaiman Malik bin Al-Huwairits Al-Laitsi, ia pernah bertamu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tinggal bersama beliau selama dua puluh malam. Ia tinggal di Bashrah dan wafat pada tahun 94 H.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah kutipan dari hadits yang panjang, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan berbagai macam lafazh atau ungkapan. Salah satunya adalah, Malik berkata,

«أَتَيْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِي، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، وَكَانَ رَحِيمًا رَفِيقًا، فَلَمَّا رَأَى شَوْقَنَا إلَى أَهْلِينَا قَالَ: ارْجِعُوا فَكُونُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَصَلُّوا، فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ» . زَادَ فِي رِوَايَةٍ: «وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

“Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama beberapa orang dari kaumku, lalu kami tinggal di dekatnya selama dua puluh hari. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang penyayang dan lemah lembut, ketika beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga kami, beliau berkata, ‘Pulanglah kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka, shalatlah bersama mereka, jika waktu shalat telah tiba maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan untuk kalian, dan hendaklah orang yang paling tua di antara kalian menjadi imam’, dalam riwayat lain disebutkan, “Maka shalatlah kalian sebagaimana aku shalat”‘

Kemudian pada kesempatan ini, Ibnu Hajar menukil sebagian dari hadits tersebut dengan mengambil bagian yang dianggap mewakili permasalahan yang sedang dibahas, yaitu anjuran untuk mengumandangkan adzan, yang merupakan dalil atas wajibnya hal tersebut.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa untuk menjadi seorang muadzin tidak memerlukan berbagai macam syarat selain iman, berdasarkan ungkapan beliau, “Salah seorang dari kalian”

0187

187 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلَالٍ: إذَا أَذَّنْت فَتَرَسَّلْ، وَإِذَا أَقَمْت فَاحْدُرْ وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِك وَإِقَامَتِك مِقْدَارَ مَا يَفْرُغُ الْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ» الْحَدِيثُ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

187. dari Jabir RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal, “Jika engkau mengumandangkan adzan maka panjangkanlah suaramu, dan jika engkau mengumandangkan iqamah maka percepatlah, dan buatlah jarak antara adzan dan iqamahmu seukuran seseorang yang makan bisa menyelesaikan makannya.” (HR. At Tirmidzi dan beliau mendha’ifkannya)

[Dhaif: At Tirmidzi 195]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika engkau mengumandangkan adzan maka panjangkanlah suaramu (yakni tartilkanlah lafazhnya, jangan tergesa-gesa atau terburu-buru ketika mengucapkannya) dan jika engkau mengumandangkan iqamah maka percepatlab dan buatlah jarak antara adzan dan iqamahmu sekira seseorang bisa menyelesaikan makannya (yakni buatlah jeda waktu yang cukup bagi seseorang yang sedang makan untuk menyelesaikan makannya) Al-Hadits (maksudnya bacalah selengkapnya atau kelanjutannya).

Tafsir Hadits

Hadits ini tidak disebutkan secara lengkap oleh Ibnu Hajar. Bagian yang ditinggal ialah,

وَالشَّارِبُ مِنْ شُرْبِهِ، وَالْمُعْتَصِرُ إذَا دَخَلَ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ، وَلَا تَقُومُوا حَتَّى تَرَوْنِي

“Orang yang sedang minum hingga menyelesaikan minumnya, orang yang hendak buang hajat (hingga menyelesaikan hajatnya) dan janganlah kalian berdiri (mengumandangkan iqamah) hingga kalian melihatku.”

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan beliau mendhaifkannya, ia berkata, “Kami tidak mengetahuinya kecuali dari Abdul Mun’im dan sanadnya majhul (tidak diketahui).”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim. Juga diperkuat oleh hadits Abu Hurairah dan hadits Salman yang diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh, juga oleh hadits Ubai bin Kaab yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Semuanya lemah, namun walaupun begitu makna hadits ini diperkuat oleh alasan atau hikmah disyariatkannya adzan, yakni untuk menyeru orang-orang yang belum hadir di masjid agar segera hadir untuk shalat. Maka sudah selayaknyalah disediakan waktu yang cukup untuk bersiap-siap dan mendatangi masjid, jika tidak tentulah tujuan disyariatkannya adzan tidak tecapai.

Al-Bukhari telah menulis bab khusus, ‘Bab Berapa Jarak antara Adzan dan Iqamah’, akan tetapi ia tidak menyebutkan batasannya secara jelas. Ibnu Bathaal berkata, “Hal itu tidak ada batasannya yang pasti, kecuali waktunya kira-kira dari mulai masuknya waktu shalat hingga berkumpulnya para jamaah.”

Hadits ini merupakan dalil agar adzan dikumandangkan dengan perlahan, karena tujuannya adalah untuk memberitahu orang-orang yang berada di tempat yang jauh. Dengan suara perlahan akan lebih tepat sebagai pemberitahuan, juga merupakan dalil agar iqamah dikumandangkan dengan cepat, karena tujuannya adalah pemberitahuan untuk orang-orang yang telah hadir, maka mengumandangkannya dengan cepat lebih cocok, agar ia segera selesai dari iqamah lalu melaksanakan pokok kegiatannya, yaitu shalat.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *