[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 47

02.02. BAB ADZAN 04

0181

181 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ بِلَالًا أَذَّنَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يَرْجِعَ، فَيُنَادِيَ أَلَا إنَّ الْعَبْدَ نَامَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَضَعَّفَهُ

181. Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Bilal mengumandangkan adzan sebelum fajar, maka Nabi SAW memerintahkannya untuk kembali, maka ia menyeru, “Bukankah sesungguhnya para hamba telah tertidur.” (HR. Abu Daud dan ia mendha’ifkannya)

[Shahih: Abu Daud 532]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Setelah meriwayatkan hadits ini Abu Dawud berkata, “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Ayyub kecuali Hammad bin Salamah.” Al-Mundziri berkata, “At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini tidak dihafal.” Ali bin Al-Madini berkata, “Hadits Hammad bin Salamah tidak dihafal dan ia salah saat menganggapnya sebagai hadits marfu’ (yakni yang riwayatnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam), yang benar hadits ini mauquf pada Ibnu Umar dan kejadian tersebut terjadi antara dirinya dan muadzinnya.”

Inilah hadits yang digunakan orang-orang yang mengatakan bahwa adzan sebelum fajar tidak ada syariatnya.

Jelas bahwa hadits ini tidak bisa dibandingkan dengan hadits yang telah disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim di atas, bahkan seandainya hadits ini shahih maka bisa ditafsirkan bahwa hadits ini muncul sebelum disyariatkan adzan sebelum fajar, karena Bilal adalah muadzin pertama yang Abdullah bin Zaid ajarkan kepadanya lafazh-lafazh adzan atas perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah itu, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai muadzin bersama Bilal. Maka Bilal mengumandangkan adzan pertama yang faedahnya telah diterangkan di atas, kemudian jika fajar telah terbit Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan kedua.

0182

182 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

182. dari Abu Sa’id Al Khudri RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda “Jika kalian mendengarkan –adzan-, ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin.” (Muttafaq alaih)

[Al Bukhari 611, Muslim 383]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Hadits ini mengajarkan kepada orang yang mendengarkan adzan untuk menirukan bacaan muadzin, baik ia dalam kondisi suci atau tidak, bahkan walaupun ia dalam kondisi junub atau haid. Kecuali saat seseorang sedang menggauli istri atau saat buang hajat, karena berdzikir saat itu hukumnya makruh.

Namun, apabila orang tersebut sedang shalat maka ada beberapa pendapat dalam masalah ini, dan yang paling masuk akal ialah menjawabnya setelah ia menyelesaikan shalatnya.

Perintah wajib ini ditujukan kepada orang yang mendengarnya, bukan orang yang melihatnya. Seperti, jika muadzin berada di atas menara sehingga orang tersebut tidak bisa mendengarkannya atau memang orang tersebut tuli, walaupun dia melihatnya.

Menjawab seruan adzan, apakah hukumnya wajib? Al-Hanafiyah, Ahli Zhahir dan beberapa ulama yang lainnya menganggapnya wajib. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa hal itu tidaklah wajib, berdasarkan hadits yang menyebutkan, “Rasulullah Shallallahhu Alaihi wa Sallam mendengarkan adzan, dan saat muadzin mengumandangkan, ‘Allahu Akbar’ beliau mengucapkan, “Alal Fithrah” (artinya atas fitrah), dan saat muadzin mengumandangkan bacaan syahadat beliau mengucap, ‘Kharajta minan Naar’ (artinya engkau telah terbebas dari neraka).'” HR. Muslim [382]. Jumhur ulama mengatakan, “Seandainya menjawab adzan hukumnya wajib, tentulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menirukan bacaan muadzin, karena saat itu beliau tidak menirukanya, maka hal ini menunjukkan bahwa perintah di dalam hadits Abu Said bermakna mustahab (sunnah).

Akan tetapi argumen ini dibantah, bahwa dalam hadits tersebut tidak ada ungkapan perawi yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menirukan bacaan muadzin, bisa saja beliau menirukannya akan tetapi perawi tidak menyebutkannya karena hal itu telah menjadi kebiasaan beliau, kemudian perawi hanya menyebutkan hal yang dianggap baru saja.

Ungkapan beliau, “mitslama” -seperti apa- menunjukkan bahwa seyogyanya orang yang mendengar tersebut menirukan setiap apa yang ia dengar. Dan telah diriwayatkan dari Ummu Salamah,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: كَانَ يَقُولُ كَمَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ حَتَّى يَسْكُتَ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan seperti apa yang diucapkan muadzin hingga muadzin itu diam.” HR. An-Nasa’i. [Al Kubra 6/14, dari Ummu Habibah]

Jika orang tersebut tidak bisa menjawabnya tepat setelah muadzin mengumandangkannya maka hendaklah ia menyusulnya, selama jaraknya tidak lama. Zhahir An-Nidaa’ -seruan- berarti orang tersebut menjawab setiap adzan yang ia dengarkan, namun yang paling utama untuk dijawab adalah adzan pertama. Disebutkan di dalam As-Syarh, “Kecuali pada seruan shalat Fajar dan shalat Jumat, maka kedua adzan pada kedua shalat itu sama hukumnya, karena keduanya disyariatkan.”

Saya katakan, “Yang ia maksud di sini adalah adzan pertama sebelum fajar dan adzan pertama sebelum masuk waktu shalat Jumat, dan tidak diragukan bahwa adzan sebelum fajar adalah disyariatkan dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutnya juga sebagai adzan, sebagaimana dalam sabda beliau, “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari…” maka adzan ini termasuk dalam hadits Abu Said, sedangkan adzan sebelum masuk waktu shalat Jumat adalah perkara baru yang diadakan setelah beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, maka ia tidak bisa disebut sebagai adzan secara syariat.

Dan ungkapan ‘seperti’ dalam hadits di atas tidak berarti bahwa orang tersebut harus menjawabnya dengan suara lantang sebagaimana suara muadzin, karena fungsi suara muadzin adalah untuk memberitahu, tidak seperti fungsi suara orang yang menjawabnya.

Dan tidak cukup menjawabnya di dalam hati, karena itu bukanlah Qaul -ucapan-, karena itulah yang tersirat pada zhahir hadits Abu Said dan hadits berikut ini.

0183

183 – وَلِلْبُخَارِيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مِثْلُهُ

183. Dan dalam riwayat Al Bukhari dari Muawiyah terdapat hadits serupa

[Al Bukhari 612]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Yakni hadits seperti hadits Abu Said, yang menerangkan bahwa orang yang mendengarkannya mengucapkan seperti apa yang dikumandangkan oleh muadzin dalam setiap lafazhnya, kecuali pada lafazh ‘Hayya ‘alas shalat’ ‘Hayya ‘alal falah’, dalam hal ini diterangkan oleh hadits berikut ini.

0184

184 – وَلِمُسْلِمٍ «عَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي فَضْلِ الْقَوْلِ كَمَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ كَلِمَةً كَلِمَةً، سِوَى الْحَيْعَلَتَيْنِ، فَيَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ»

184. dan dalam hadits Muslim dari Umar dalam bab “keutamaan menirukan ucapan muadzin kalimat per kalimat, kecuali pada bacaan ‘Hayya alas shalah, Hayya alal falah’, maka orang tersebut menjawabnya dengan bacaan, ‘Laa haula wala quwata illa billah.”

[Muslim 385]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan dan mempersempit pemahaman hadits yang menerangkan anjuran untuk menirukan setiap ucapan muadzin.

Isi hadits ini adalah isi hadits Al-Bukhari dari Muawiyah pada nomor 183 di atas, dan ia merupakan hadits Muslim dari Umar, akan tetapi Ibnu Hajar menyingkatnya dengan cukup menyebutkan ‘Dan dalam riwayat Al-Bukhari dari Muawiyah terdapat hadits serupa’ yang maksudnya adalah seperti hadits nomor 182 yang kemudian dilanjutkan dengan hadits nomor 184 ini.

Dengan begitu orang tersebut akan mengucapkan ‘Laa haula walaa quwwata ilia billaah’ sebanyak empat kali.

Lafazh hadits ini di dalam hadits Muslim adalah sebagai berikut, “Jika muadzin mengumandangkan, Allahu Akbar, Allahu Akbar’ maka kalian mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar’, hingga sabdanya, “dan ketika ia mengumandangkan ‘Hayya ‘alas shalah’ kalian mengucapkan ‘Laa haula walaa quwwata illa billaah’, ketika ia mengumandangkan ‘Hayya ‘alal falah’, maka orang tersebut menjawabnya dengan bacaan ‘Laa haula walaa quwwata ilia billaah’

Hal ini bisa dipahami, bahwa ketika muadzin mengumandangkan ‘Hayya ‘alas shalah’ sekali maka jawabannya, ‘Laa haula walaa quwwata illa billaah’ sekali dan begitu seterusnya hingga semuanya berjumlah empat kali. Atau bisa juga dipahami bahwa ketika muadzin mengumandangkan ‘Hayya ‘alas shalah’ dua kali baru dijawab dengan bacaan Laa haula walaa quwwata ilia billaah’ sekali, dan demikian selanjutnya hingga semuanya hanya dua kali saja.

An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadits Muawiyah yang menyebutkan hal itu.

Alasan ungkapan Ibnu Hajar, ‘Bab keutamaan bacaan tersebut’, karena di akhir hadits tersebut disebutkan, “Jika seseorang yang mendengarkan adzan mengucapkannya dari dalam hatinya, maka ia akan masuk ke dalam surga.” Akan tetapi ia tidak menyebutkan lafazh haditsnya dengan lengkap, namun hanya menyebutkan maknanya saja.

Makna ‘Al-haulu’ dalam bacaan “laa haula walaa quwwata illa billaah’ ialah gerakan, maksudnya tiada gerakan dan kemampuan kecuali dengan kehendak dari Allah. Ada yang memahaminya, ‘Tiada daya untuk menolak kejahatan dan tiada kekuatan untuk meraih kebaikan kecuali dengan izin dari Allah’. Ada juga yang memahami, ‘Tiada daya untuk menghindar dari kemaksiatan kecuali dengan penjagaan dari Allah dan tiada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan kecuali dengan pertolongan-Nya’, pemahaman ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud secara marfu’.

Ketahuilah bahwa hadits ini membatasi makna hadits Abu Said, “Maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin”, sehingga maksudnya, “Tirukanlah semua ucapan muadzin kecuali pada kedua bacaan ini.”

Ada juga yang memahami bahwa orang tersebut menirukan bacaan muadzin seperti apa adanya kemudian ditambah dengan bacaan *Laa haula walaa quwwata illa billaah’ dengan alasan ingin melaksanakan kedua hadits tersebut.

Tentu pendapat yang pertama lebih baik, karena hadits ini mengkhususkan hadits Abu Said yang umum, dan membatasi (taqyiid) maknanya yang tanpa batas {muthlaq). Kemudian dari sisi makna ia lebih tepat, karena saat muadzin menyeru untuk menuju kemenangan dan keselamatan dalam bacaan ‘Hayya ‘alas shalah’ ‘Hayya ‘alal falah’ orang tersebut seakan-akan menjawab, itu adalah perkara besar yang tidak mungkin aku melaksanakannya kecuali dengan pertolongan dari Allah, dengan mengucap ‘laa haula walaa quwwata ilia billaah’. Alasan yang lain ialah karena semua lafazh adzan adalah dzikir kepada Allah maka layak untuk ditirukan, akan tetapi kedua lafazh ini adalah seruan dan ajakan untuk melaksanakan shalat dari muadzin maka yang paling cocok untuk menjawabnya ialah laa haula walaa quwwata illa billaah’ untuk memenuhi panggilan tersebut.

Dan cara ini tetap sebagai bentuk pengamalan kedua hadits tersebut, dengan cara membawa hadits muthlaq kepada hadits muqayyad, dan membawa hadits ‘am kepada hadits khash.

Apakah harus menjawab tarji’, yakni saat muadzin membaca dua kalimat syahadat dengan suara rendah? Dan apakah harus menjawab bacaan muadzin ‘As-Sahalaatu khairun minan naum? Maka dalam masalah yang terakhir ini ada yang berpendapat agar si pendengar menjawab dengan bacaan, “Shadaqta wa bararta” (kamu benar dan kamu betul), namun hal ini hanya suatu istihsan karena tidak ada sunnah yang menjelaskan hal itu.

Abu Dawud meriwayatkan dari beberapa shahabat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«أَنَّ بِلَالًا أَخَذَ فِي الْإِقَامَةِ، فَلَمَّا أَنْ قَالَ: قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ، قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَقَامَهَا اللَّهُ وَأَدَامَهَا»

“Bahwasanya Bilal sedang mengumandangkan iqamah, dan saat ia membaca, ‘Qad qaamat as-shalaah’ Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan, ‘Aqaamahallah wa adaamahaa’, artinya semoga Allah menegakkannya dan melanggengkannya.” [Dhaif: Abu Daud 528]

Dan ia menjawab semua bacaan iqamah seperti yang disebutkan di dalam hadits Umar dalam masalah adzan. Maksudnya ialah, ia menirukan semua bacaan iqamah sebagaimana yang dilakukan dengan adzan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *