[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 46

02.02. BAB ADZAN 03

0174

174 – وَعَنْ «أَبِي مَحْذُورَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَعْجَبَهُ صَوْتُهُ، فَعَلَّمَهُ الْأَذَانَ» . رَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.

174. Dari Abu Mahdzurah RA, bahwasanya Rasulullah SAW merasa takjub atas suaranya maka beliau mengajarinya adzan. (HR. Ibnu Khuzaimah)

[Hasan: Shahih Ibnu Khuzaimah 377. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Lanjutan hadits ini telah kami sebutkan di atas, yaitu saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merasa bahwa suara Abu Mahdzurah bagus beliau memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan di Makkah.

Hadits ini menunjukkan bahwa hendaknya seorang muadzin itu adalah orang yang bersuara bagus.

0175

175 – وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: «صَلَّيْت مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْعِيدَيْنِ، غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إقَامَةٍ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

175. Dari Jabir bin Samurah berkata, “Saya telah melaksanakan dua shalat Ied bersama Rasulullah SAW tidak hanya sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tidak pula iqamah.

[Muslim 887]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Saya telah melaksanakan dua shalat Ied bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak hanya sekali atau dua kali (maksudnya ia telah mengerjakan shalat bersamanya berkali-kali) dengan tanpa adzan tidak pula iqamah (yakni shalat tersebut tanpa disertai dengan adzan tidak pula iqamah).”

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil bahwasanya adzan dan iqamah tidak disyariatkan atau tidak dianjurkan pada shalat ‘Ied, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dan hal ini hampir seperti ijma’ ulama.

Akan tetapi ada yang mengatakan hal lain, yakni adzan dan iqamah dianjurkan dalam kedua shalat tersebut, hal ini diriwayatkan dari Ibnu Al-Zubair, Muawiyah dan Umar bin Abdul Aziz, berdasarkan analogi atau qiyas kedua shalat tersebut dengan shalat Jumat.

Analogi ini salah, bahkan perbuatan tersebut adalah bid’ah, karena hal tersebut tidak pernah ditemukan dasarnya, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, tidak juga dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin. Dan ini dikuatkan oleh hadits berikut ini.

0176

176 – وَنَحْوُهُ فِي الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – وَغَيْرِهِ

176. Dan seperti itu juga hadits di dalam Muttafaq alaih dari Ibnu Abbas RA dan yang lainnya.

[Al Bukhari 959, 960, Muslim 886]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ucapan As-Shalatu Jaami’ah’ yakni shalat berjamaah menggantikan lafazh adzan, maka sesungguhnya tidak ada hadits dua shalat Ied yang menjelaskan hal tersebut. Disebutkan di dalam Al-Hadyu An-Nabawi’, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah tiba di tempat shalat ‘Ied, beliau memulai shalat, yakni shalat ‘Ied tanpa adzan dan iqamah, tidak juga mengucapkan As-Shalatu Jaami’ah’. Bahkan yang diajarkan dalam sunnah ialah tidak melakukan apapun dari tata cara di atas.”

Dengan demikian jelas bahwa apa yang disebutkan di dalam As-Syarh’, “Dianjurkan -Mustahab- untuk menyeru kepada dua shalat ‘Ied dengan seruan shalat selain adzan sebagaimana yang disyariatkan pada shalat jenazah yang tidak memakai adzan padanya, yaitu bacaan As-Shalatu Jaami’ah” adalah tidak benar, karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut adalah mustahab, seandainya mustahab tentulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Khulafaur Rasyidun, dan orang-orang setelahnya tidak akan meninggalkannya.

Memang seruan itu ada pada shalat Kusuf, akan tetapi hal itu tidak bisa diqiyaskan, karena hal-hal yang terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau tidak melakukan ritual tertentu saat itu, maka melakukan ritual dalam rangka kejadian tersebut, setelah beliau wafat adalah bid’ah, maka seruan tersebut tidak bisa ditetapkan dengan qiyas maupun yang lainnya.

0177

177 – وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي الْحَدِيثِ الطَّوِيلِ فِي نَوْمِهِمْ عَنْ الصَّلَاةِ – «ثُمَّ أَذَّنَ بِلَالٌ، فَصَلَّى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَمَا كَانَ يَصْنَعُ كُلَّ يَوْمٍ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

177. Dari Abu Qatadah RA dalam hadits panjang tentang kisah kejadian saat mereka ketiduran dari shalat, ‘Kemudian Bilal mengumandangkan adzan maka Rasulullah SAW mendirikan shalat sebagaimana yang beliau lakukan setiap harinya.’ (HR. Muslim)

[Muslim 681]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Qatadah RA dalam hadits panjang tentang kisah kejadian saat mereka ketiduran dari shalat (yaitu dari shalat Subuh, saat mereka sedang kembali dari perang Khaibar. Ibnu Abdul Barr berkata, “Inilah riwayat yang benar”) kemudian Bilal mengumandangkan adzan (atas perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang disebutkan dalam Sunan Abu Dawud, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan panggilan shalat, maka Bilal pun menyeru untuk shalat.”[Dhaif: Abu Daud 438]) maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendirikan shalat sebagaimana yang beliau lakukan setiap harinya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya adzan untuk shalat yang terlewatkan karena ketiduran atau kelupaan, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyamakan hukum antara orang yang ketiduran dan kelupaan, “Barangsiapa ketiduran atas suatu shalat atau kelupaan.”

Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan iqamah.” [Muslim 680] Dan tidak menyebutkan adzan dalam hadits tersebut, begitu pula saat beliau ketinggalan shalat saat perang Khandaq beliau memerintahkan untuk mengumandangkan iqamah dan tidak disebutkan adanya adzan saat itu, sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits Abu Said dalam riwayat As-Syafi’i.

Hal ini tidak bertentangan dengan hadits Abu Qatadah, karena hadits Abu Qatadah menyebutkan adanya adzan dan iqamah, sedangkan hadits Abu Hurairah dan Abu Said tidak menyebutkan dan tidak pula melarangnya, karena ketiadaan penyebutan sesuatu tidak bertentangan dengan adanya penyebutan sesuatu.

0178

178 – وَلَهُ عَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ، بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ»

178. Dan dalam hadits Muslim yang lain, dari Jabir bahwasanya Nabi SAW datang di Muzdalifah lalu beliau mendirikan shalat Maghrib dan Isya dengan sekali adzan dan dua kali iqamah.

[Muslim 1218]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam datang di Muzdalifah (saat kembali dari Arafah) lalu beliau mendirikan shalat Maghrib dan Isya’ dengan sekali adyan dan dua kali iqamah (yakni beliau menjama’ kedua shalat tersebut).

Tafsif Hadits

Al-Bukhari telah meriwayatkan satu hadits dari Ibnu Mas’ud, “Bahwasanya dirinya mendirikan shalat Maghrib -di Muzdalifah- dengan adzan dan iqamah lalu mendirikan shalat Isya’ dengan adzan dan iqamah juga, kemudian ia berkata, “Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan seperti itu.” [Al Bukhari 1675]

Namun hadits berikut ini bertentangan dengan kedua hadits di atas.

0179

179 – وَلَهُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «جَمَعَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِإِقَامَةٍ وَاحِدَةٍ» . وَزَادَ أَبُو دَاوُد: لِكُلِّ صَلَاةٍ، وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: وَلَمْ يُنَادِ فِي وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا

179. Dan dalam hadits Muslim juga, dari Ibnu Umar RA, “Rasulullah SAW menjama’ antara shalat Maghrib dan shalat Isya dengan satu iqamah. Kemudian Abu Daud menambahkan, ‘untuk setiap shalat.’

Disebutkan dalam riwayat Abu Daud lainnya, ‘… dan tidak dikumandangkan adzan untuk satupun dari keduanya.’

[Shahih: Abu Daud 1928]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjama’ antara shalat Maghrib dan shalat isya’ dengan satu iqamah (tanpa adzan pada keduanya, dan hadits Muslim menjelaskan bahwa hal itu terjadi di Muzdalifah, dalam hadits tersebut disebutkan, “Said bin Jubair berkata, ‘Kami keluar bersama Ibnu Umar hingga berada di luar Muzdalifah, kemudian ia mendirikan shalat Maghrib dan shalat Isya’ dengan satu iqamah, kemudian ia berbalik dan berkata, “Beginilah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat bersama kami di tempat ini.'”)

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa dalam kedua shalat tersebut tidak ada adzan dan hanya ada satu iqamah untuk dua shalat.

Kemudian Abu Dawud menambahkan, “Untuk setiap shalat” karena tambahan ini beliau sebutkan setelah ungkapan ‘dengan satu iqamah’ di dalam hadits Muslim di atas, sehingga dengan demikian hadits Abu Dawud menperjelas atau mempersempit makna hadits Muslim.

Disebutkan di dalam riwayat Abu Dawud yang lainnya, “Dan tidak dikumandangkan adzan untuk satupun dari keduanya”, hadits ini dengan tegas menjelaskan bahwa tidak ada adzan pada keduanya.

Hadits-hadits di atas kelihatannya saling bertentangan, hadits Jabir menyebutkan adanya satu adzan dan dua iqamah, hadits Ibnu Umar meniadakan adzan dan menetapkan dua iqamah sedangkan hadits Ibnu Mas’ud menetapkan adanya dua adzan dan dua iqamah.

Pendapat kami, “Hadits -mutsbit, -yaitu yang menetapkan hukum lebih diutamakan dari pada hadits Nafi yang meniadakan hukum, dengan begitu kami mengamalkan hadits Ibnu Mas’ud.” Pensyarah berkata, “Kami mengutamakan hadits Jabir atas hadits Ibnu Umar, karena hadits Jabir menetapkan adanya adzan.”

Akan tetapi, kami tetap berpegang dengan hadits Ibnu Mas’ud karena ia lebih lengkap dengan menetapkan dua adzan dan dua iqamah.

0180

180 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – قَالَا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ وَكَانَ رَجُلًا أَعْمَى لَا يُنَادِي، حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْت، أَصْبَحْت» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَفِي آخِرِهِ إدْرَاجٌ

180. Dari Ibnu Umar dan Aisyah RA mereka berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari, maka makanlah dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.’ Ia adalah orang yang buta yang tidak akan mengumandangkan adzan hingga ada yang memberitahunya bahwa pagi telah datang.” (Muttafaq alaih dan diakhirnya ada idraj)

[Shahih: Al Bukhari 617, Muslim 1092]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari (hadits Al-Bukhari menjelaskan bahwa maksudnya ialah malam sebelum fajar, hadits itu menyebutkan, “Jarak antara keduanya hanyalah sekitar waktu yang digunakan bagi yang naik dan yang lain turun.” Sedangkan dalam riwayat At-Thahawi disebutkan, “Hanyalah sekira yang satu naik dan yang lain turun.”) maka makanlah dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan (nama Ibnu Ummi Maktum ialah Ami) ia adalah orang buta yang tidak akan mengumandangkan adzan hingga ada yang memberitahunya bahwa pagi telah datang. Muttafaq Alaih dan di akhirnya terdapat Idraaj (yakni ada ungkapan yang bukan ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu ungkapan, “Ia adalah orang buta…”)

Dalam hadits Al-Bukhari disebutkan, “Ia berkata, ‘Ia adalah orang buta…’, dengan tambahan ‘ia berkata’, para peneliti menjelaskan bahwa orang yang berbicara di sini ialah Ibnu Umar. Akan tetapi ada yang mengatakan bahwa yang berbicara ialah Az-Zuhri, dengan demikian jelas bahwa keterangan di atas adalah ucapan salah satu dari kedua orang ini, kemudian digabungkan pada hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya mengumandangkan adzan sebelum datang fajar, bukan untuk menyeru orang untuk shalat atau menandakan bahwa waktu shalat telah tiba.

Tujuan adzan sebelum fajar ini telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Untuk membangunkan orang-orangyang tidur dan mengembalikan orang-orang yang sedang menunaikan shalat malam” Yakni agar orang-orang yang sedang mendirikan shalat beristirahat tidur atau duduk saat ia mendengarkan adzan, jadi ia bukan seruan shalat atau pemberitahuan akan kedatangan waktu shalat, namun ia seperti bacaan tasbih yang sering di baca masa sekarang ini.

Seruan itu adalah lafazh adzan, ia bagaikan adzan yang diperintahkan oleh Utsman pada hari Jumat, yang mana saat itu beliau memerintahkan seseorang untuk mengumandangkan adzan dari tempat yang dinamakan Az-Zaura’, agar orang-orang segera menghadiri dan berkumpul dalam rangka mendirikan shalat Jumat. Saat itu yang digunakan adalah lafazh adzan. Akan tetapi kemudian belakangan ini orang-orang menggantinya dengan bacaan tasbih-tasbih dari ayat-ayat Al-Qur’an dan shalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Adanya perselisihan dan munculnya argumen-argumen antara yang melarang maupun memperbolehkannya, tidaklah digubris oleh orang-orang yang tujuannya selalu mengamalkan apa-apa yang jelas ada ajarannya dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ungkapan beliau, “Maka makanlah dan minumlah” wahai orang-orang yang ingin berpuasa esok hari, “hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan” menunjukkan diperbolehkanya makan dan minum hingga adzan Ibnu Ummi Maktum.

Ungkapan, “-Ibnu Ummi Maktum- tidak akan mengumandangkan adzan hingga ada yang memberitahunya bahwa pagi telah datang” hal ini menurut beberapa orang menunjukkan diperbolehkannya makan dan minum walaupun fajar telah tiba.

Akan tetapi, orang-orang yang tidak memperbolehkan hal itu berargumen bahwa arti ”pagi telah tiba’ ialah pagi telah mendekat, dan orang-orang itu memberitahu Ibnu Ummi Maktum pada akhir malam, sedangkan adzannya berada pada bagian permulaan dari fajar.

Hadits ini memperbolehkan adanya dua muadzin dalam satu masjid, seorang mengumandangkan adzan terlebih dahulu kemudian yang lainnya mengumandangkan setelahnya. Akan halnya dua orang mengumandangkan adzan secara bersamaan maka sebagian ulama melarangnya, mereka mengatakan, “Orang yang pertama kali mengada-adakannya ialah Bani Umayyah.” Ada yang mengatakan, “Hal itu tidak makruh asal tidak mengganggu.”

Menanggapi ungkapan di atas, saya katakan bahwa hal itu perlu dicermati lebih mendalam lagi, karena saat itu Bilal tidak mengumandangkan seruan Anda shalat wajib, tetapi seruan untuk shalat wajib saat itu hanya satu.

Pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas:

1. Bolehnya bertaqlid kepada orang yang buta maupun orang yang bisa melihat.

2. Bolehnya makan saat kita ragu akan kedatangan fajar, karena hukum asalnya adalah hukum malam.

3. Boleh menggantungkan periwayatan —hadits- kepada suara saja, asalkan perawi itu mengenali suara tersebut walaupun ia tidak melihatnya secara langsung.

4. Boleh menyebutkan cacat seseorang jika hal tersebut bertujuan untuk mengenalkan seseorang.

5. Diperbolehkan bernasab kepada ibu jika hal itu yang lebih terkenal.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *