[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 45

02.02. BAB ADZAN 02

0170

170 – «وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَّمَهُ الْأَذَانَ، فَذَكَرَ فِيهِ التَّرْجِيعَ» . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَلَكِنْ ذَكَرَ التَّكْبِيرَ فِي أَوَّلِهِ مَرَّتَيْنِ فَقَطْ. رَوَاهُ الْخَمْسَةُ فَذَكَرُوهُ مُرَبَّعًا

170. Dari Abu Mahdzurah RA, bahwasanya Nabi SAW mengajarinya adzan, dan ia menyebutkan tarji’ –pengulangan di dalam adzan tersebut. (HR. Muslim, akan tetapi ia menyebutkan takbir dua kali saja pada permulaannya)

[Muslim: 379]

(HR. Lima, kemudian mereka menyebutkannya empat kali)

[Shahih: Abu Daud 500]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Mahdzurah Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarinya adzan (secara langsung, yang cerita lengkapnya adalah sebagai berikut ini, setelah penaklukan kota Makkah, Abu Mahdzurah Radhiyallahu Anhu bersama sembilan penduduk Makkah pergi menuju Hunain, sesampainya di sana, ketika orang-orang Hunain mendengarkan adzan, mereka mengumandangkan adzan juga untuk menghina kaum mukminin, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Saya telah mendengar bahwa dalam rombongan itu ada suara adzan yang bagus.” Maka beliau mengutus seseorang untuk memanggil kami, lalu kami mengumandangkan adzan satu per satu, dan aku mendapatkan urutan terakhir, ketika aku mengumandangkan adzan beliau berkata, “Kemarilah” ia menyuruhku untuk duduk di hadapannya, beliau mengusap rambut ubun-ubunku lalu mendoakan keberkahan kepadaku sebanyak tiga kali, kemudian beliau bersabda, “Pergilah dan kumandangkanlah adzan di Masjidil Haram!” Saya berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku.”) dan ia menyebutkan tarjii’ -pengulangan- di dalam adzan tersebut (dalam bacaan dua kalimat syahadat. Yang dalam hadits Abu Dawud disebutkan, “Kemudian engkau mengucapkan Asyhadu alla ilaaha illallah, Asyhadu alla ilaaha illallah, Asyhadu anna Muhammad Rasuulullah, Asyhadu anna Muhammad Rasuulullah’ dengan merendahkan suara.” Maksudnya ialah cukup didengarkan orang-orang yang ada di dekatnya saja. Hikmahnya ialah agar orang tersebut meresapi bacaan tersebut terlebih dahulu, yang hal itu tidak mungkin dilakukan dengan baik kecuali dengan merendahkan suara.

Kemudian beliau bersabda, “Lalu engkau meninggikan suaramu mengumandangkan Asyhadu alla ilaaha illallah, Asyhadu alla ilaaha illallah, Asyhadu anna Muhammad Rasuulullah, Asyhadu anna Muhammad Rasuulullah’.'” Inilah yang dimaksud dengan tarji’ yang dipahami dan dianjurkan oleh kebanyakan ulama, berdasarkan hadits shahih ini, ia melengkapi hadits Abdullah bin Zaid, dan karena ia adalah merupakan tambahan legal yang bisa diterima.

Sedangkan para ulama yang tidak memakai tarji’ tersebut adalah Al-Hadi, Abu Hanifah dan beberapa orang lainnya, berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid) akan tetapi ia menyebutkan takbir dua kali saja pada permulaannya (berbeda dengan hadits dari Abdullah bin Zaid. Al-Hadawiyah, Malik dan beberapa orang yang lainnya berpegang dengan hadits ini).

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh yang lima, yaitu para perawi kitab-kitab Sunan ditambah Ahmad, (kemudian mereka menyebutnya empat kali) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid.

Ibnu Abdul Barr menyebutkan di dalam Al-Istidzkar, “Takbir empat kali pada permulaan adzan telah disebutkan di dalam riwayat perawi-perawi yang bisa dipercaya -Tsiqaat-, dalam hadits riwayat Abu Mahdzurah dan Abdullah bin Zaid, yang di dalamnya terdapat tambahan yang layak dan harus diterima.

Ketahuilah bahwa Ibnu Taimiyah di dalam Al-Muntaqa menjelaskan bahwa riwayat yang menyebutkan takbir empat kali dalam hadits Abu Mahdzurah diriwayatkan oleh Muslim, akan tetapi Ibnu Hajar tidak menisbahkan riwayat tersebut kepada Muslim, ia hanya menisbahkannya kepada lima perawi tersebut, coba lihat Shahih Muslim dan syarahnya, kemudian An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya kebanyakan sumber hadits tersebut -Abu Mahdzurah- menyebutkan takbir dua kali pada permulaan adzan.”

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Sesungguhnya pada sebagian riwayat hadits dari jalur Al-Farisi di dalam shahih Muslim menyebutkan takbir empat kali, pada permulaan adzan. Dengan begitu Anda bisa pahami bahwa dalam masalah ini Ibnu Hajar melihat isi kebanyakan riwayat yang ada, sedangkan Ibnu Taimiyah mengambil sebagai riwayat, sehingga tidak terjadi benturan antara pendapat Ibnu Hajar dan Ibnu Taimiyah.”

Dalam Al-Jami’ setelah menyebutkan berbagai riwayat yang menyebutkan takbir empat kali pada permulaan adzan, Ibnu Atsir berkata, “Muslim meriwayatkan hadits terakhir ini.”

Ucapan ini tidak benar, karena Muslim hanya meriwayatkan satu riwayat dalam masalah takbir empat kali pada permulaan adzan, sebagaimana yang telah kami jelaskan.

0171

171 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «أُمِرَ بِلَالٌ: أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ شَفْعًا، وَيُوتِرَ الْإِقَامَةَ إلَّا الْإِقَامَةَ، يَعْنِي: إلَّا قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَلَمْ يَذْكُرْ مُسْلِمٌ الِاسْتِثْنَاءَ.

171. Dari Anas RA berkata, “Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah kecuali lafazh iqamah.” Yaitu qad qaamati shalah. (Muttafaq alaih) akan tetapi Muslim tidak menyebutkan tambahan kecuali lafazh iqamah.

[Al Bukhari 605, Muslim 378]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Bilal diperintahkan (oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, walaupun ia tidak disebutkan, karena tidak ada yang memerintahkan suatu perintah syariat kecuali Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang akan diperkuat hadits yang akan datang setelah hadits ini) untuk menggenapkan adzan (yaitu mengulangnya masing-masing dua kali atau empat kali-empat kali, karena kedua cara tersebut dianggap menggenapkan. Hadits ini menjelaskan kekaburan yang terdapat di dalam hadits Abdullah bin Zaid dan Abu Mahdzurah, ‘agar ia menggenapkan takbir’ yakni mengumandangkannya empat kali dan menggenapkan yang lainnya, yaitu dengan mengumandangkannya masing-masing dua kali, pemahaman ini berdasarkan kepada hukum yang berlaku pada kebanyakan bacaan adzan, karena sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa bacaan tauhid ‘Laa ilaaha illallah’ dikumandangkan satu kali) dan mengganjilkan iqamah kecuali lafazh iqamah. Yaitu bacaan ‘Qad qaamat as-Shalaatu (demikianlah yang diajarkan untuk mengumandangkannya dua kali).

Tafsif Hadits

Hadits ini Muttafaq Alaih. Akan tetapi Muslim tidak menyebutkan tambahan ‘kecuali lafazh iqamah’, sehingga dalam masalah ini para ulama mempunyai tiga pendapat:

1. Pendapat Al-Hadawiyah, mereka berkata, “Semua bacaan iqamah dikumandangkan dua kali, berdasarkan hadits,

«إنَّ بِلَالًا كَانَ يُثَنِّي الْأَذَانَ وَالْإِقَامَةَ»

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan dua kali lafazh-lafazh adzan dan iqamah.” HR. Abdurrazaq, Ad-Daraquthni dan Ath-Thahawi.

Akan tetapi Al-Hakim menyebutkan bahwa hadits tersebut Munqathi’, walaupun hadits itu mempunyai banyak riwayat akan tetapi semuanya terdapat perawi dhaif di dalamnya.

Jadi kesimpulannya, tidak ada pertentangan antara hadits yang menyebutkan empat takbir dan hadits mengganjilkan lafazh iqamah, karena hadits tersebut shahih adanya, dengan begitu tidak bisa dikatakan, “Sesungguhnya menggenapkan lafazh iqamah adalah tambahan yang layak untuk diterima.” Karena Anda telah memahami bahwa riwayatnya tidak shahih.

2. Pendapat Malik, “Semua lafazh iqamah diganjilkan bahkan hingga lafazh ‘Qad qaamat as-Shalaatu’.”

3. Pendapat jumhur ulama, “Lafazh iqamah dikumandangkan ganjil kecuali lafazh ‘Qad qaamat as-Shalaatu” ia dikumandangkan dua kali, berdasarkan hadits-hadits yang telah di pastikan kekuatannya.

0172

172 – وَلِلنَّسَائِيِّ: أَمَرَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِلَالًا

172. Dan dalam riwayat An Nasa’i , Nabi SAW memerintahkan Bilal.

[Shahih: An Nasa’i 626]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Yakni dalam riwayat An-Nasa’i dari Anas Radhiyallahu Anhu, “Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Bilal.” Hal ini disebutkan oleh Ibnu Hajar untuk menjelaskan bahwa hadits di atas adalah hadits marfu”.

Al-Khaththabi’ berkata, “Hadits yang menjelaskan masalah mengumandangkan adzan masing-masing dua kali dan mengumandangkan iqamah masing-masing sekali, adalah hadits yang paling shahih dari sekian banyak riwayat. Hadits itu menjadi pegangan kebanyakan ulama di negeri ini, hal tersebut dipraktekkan di Makkah, Madinah, Hijaz, Syam, Yaman, sebagian daerah Mesir, daerah barat dan hingga ujung wilayah Islam.” Kemudian beliau menyebutkan nama ulama-ulama yang ia maksud.

Saya katakan, “Ketika beliau menyebutkan Yaman mungkin yang beliau maksud ialah daerah-daerah yang bermadzhab Syafi’i, sebagaimana Anda telah ketahui bahwa di sana banyak yang bermadzhab Al-Hadawiyah dan mereka itulah sebagian besar penduduk Yaman. Sungguh tepat apa yang dijelaskan oleh para ulama belakangan ini, -yang telah membahas dalam masalah lafazh adzan, apakah takbir permulaannya dikumandangkan masing-masing dua kali atau masing-masing empat kali, dan apakah perlu pengulangan -tarjii’- dalam mengumandangkan adzan ditambah lagi masalah iqamah-, yang lengkapnya adalah sebagai berikut ini, “Masalah ini merupakan satu kejadian aneh, yang jarang ada dalam pembahasan ibadah bahkan jarang ada dalam kehidupan keseharian. Yaitu mengenai lafazh adzan yang sebenarnya adalah bacaan yang terbatas, jelas dan ringkas, dikumandangkan lima kali tiap hari, di suatu tempat yang tinggi, dan setiap orang yang mendengarnya diharuskan untuk menirukannya. Para shahabat dahulu adalah generasi terbaik pada awal kebangkitan Islam, sangat antusias untuk menjaga dan mengamalkan semua kebaikan, namun tidak pernah sama sekali terjadi perbedaan pendapat di antara para shahabat dan para tabi’in mengenai masalah tersebut. Sebaliknya, orang-orang belakanganlah yang berdebat dengan sengit dalam masalah tersebut, lalu setiap kelompok mengemukakan argumen yang secara umum adalah benar semua, walaupun ada sedikit perbedaan, yang di antara sekian riwayat yang ada tidak pernah ada yang saling mematahkan, karena tidak ada larangan untuk mengatakan bahwa semuanya adalah sunnah, sebagaimana menurut hemat pendapat kami, yang hal itu pernah terjadi dalam masalah bacaan tasyahud, tata cara shalat khauf dan lain sebagainya.”

 0173

173 – وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «رَأَيْت بِلَالًا يُؤَذِّنُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ، هَهُنَا وَهَهُنَا، وَإِصْبَعَاهُ فِي أُذُنَيْهِ» . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

– وَلِابْنِ مَاجَهْ: وَجَعَلَ إصْبَعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ

– وَلِأَبِي دَاوُد: «لَوَى عُنُقَهُ، لَمَّا بَلَغَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، يَمِينًا وَشِمَالًا وَلَمْ يَسْتَدِرْ» وَأَصْلُهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ.

173. Dari Abu Juhaifah RA, “Saya melihat Bilal sedang mengumandangkan adzan dan saya mengikuti mulutnya di sini dan di sana, sedangkan kedua jarinya berada di telinganya. (HR. Ahmad dan At Tirmidzi, beliau menshahihkannya).

[Shahih: At Tirmidzi 197]

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Dan ia meletakkan kedua jarinya di telinganya.”

[Shahih: Ibnu Majah 718]

Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, “Ia menengokkan lehernya, saat tiba pada lafazh ‘Hayya alas shalah’ ke kanan dan ke kiri tanpa berputar.” Dan asal hadits ini berada dalam Ash-Shahihain.

[Shahih: Abu Daud 520]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Juhaifah Radhiyallahu Anhu yakni Wahb bin Abdullah. Ada yang mengatakan ia adalah Ibnu Muslim as-Sawa’i Al-‘Amiri. Ia tinggal di Kufah dan termasuk seorang shahabat muda, saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat beliau belum mencapai umur baligh, akan tetapi ia telah mendengarkan hadits dari beliau. Ali Radhiyallahu Anhu menjadikannya sebagai pemegang amanah Baitul Maal, ia selalu menyertai setiap peristiwa bersama Ali Radhiyallahu Anhu, wafat di Kufah pada tahun 74 H.

Penjelasan Kalimat

“Saya melihat Bilal sedang mengumandangkan adzan dan saya mengikuti mulutnya (yakni mengikutinya dengan pandangan) di sini dan di sana (yakni ke kanan dan ke kiri) sedangkan kedua jarinya berada di telinganya (tidak ada nash yang menjelaskan jari yang manakah yang dimaksud. An-Nawawi berkata, “Kedua jari tersebut adalah jari telunjuk).”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan adab tata cara muadzin, yaitu dengan menengok ke kanan dan ke kiri saat tiba pada bacaan ‘Hayya ‘alas shalah’ sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Dawud, dan yang lebih jelas lagi dalam hadits Muslim yang berbunyi, “dan saya mengikuti mulutnya di sini dan di sana ke kanan dan ke kiri, sambil mengumandangkan ‘Hayya ‘alas shalah, Hayya ‘alal Falaah’.” Hadits ini dengan jelas menyebutkan bahwa gerakan menengok tersebut dilakukan pada kedua bacaan tersebut.

Ibnu Khuzaimah membuat bab khusus untuk masalah ini dengan nama, ‘Menengoknya seorang muadzin saat mengumandangkan ‘Hayya ‘alas shalah, Hayya ‘alal Falaah’ dengan mulutnya tidak dengan seluruh badannya.’ Ia berkata, “Mulut bisa menengok jika wajah menengok.”

Kemudian beliau menyebutkan hadits dari Wakii’, “Kemudian ia melakukan begini dalam adzannya” sambil menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri”

Sedangkan hadits yang menyebutkan bahwa Bilal memutar badannya saat tersebut adalah tidak benar, demikian pula hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya untuk meletakkan kedua jarinya di telinganya adalah hadits dhaif, sedangkan riwayat dari Ahmad bin Hanbal ia berkata, “Tidak perlu memutar badan kecuali jika saya berada di atas menara, untuk memperdengarkan suaranya ke berbagai pejuru.”

Para ulama menyebutkan dua hikmah di balik gerakan menengok ini, yaitu:

1. Suaranya akan menjadi lebih nyaring.

2. Ia sebagai pertanda bahwa ia sedang mengumandangkan adzan, agar orang yang berada di tempat yang jauh, begitu pula orang yang tuli mengetahui bahwa orang tersebut sedang mengumandangkan adzan.

Sedangkan melakukan gerakan ini di dalam iqamah maka At-Tirmidzi berkata, “Hal tersebut dianggap perbuatan baik -Istihsan-oleh Al-Auza’i.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *