[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 44

02.02. BAB ADZAN 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Adzan secara bahasa berarti pemberitahuan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ}

“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya..” (QS. At-Taubah: 3)

dan ditilik dari sisi terminologi ia berarti pemberitahuan akan datangnya waktu shalat dengan lafazh-lafazh tertentu.

Adzan disyariatkan pertama kali di Madinah pada tahun 1 H, walaupun ada beberapa hadits yang menerangkan bahwa adzan pertama kali disyariatkan di Mekah, namun yang benar ialah bahwa adzan disyariatkan pertama kali di Madinah.

0168

168 – عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ قَالَ: «طَافَ بِي – وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ فَقَالَ: تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، فَذَكَرَ الْأَذَانَ – بِتَرْبِيعِ التَّكْبِيرِ بِغَيْرِ تَرْجِيعٍ، وَالْإِقَامَةَ فُرَادَى، إلَّا قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ – قَالَ: فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: إنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٍّ» – الْحَدِيثَ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد. وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ

168. Dari Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih berkata, ‘Saya melihat dalam tidurku seorang mengelilingiku, kemudian ia berkata, Ucapkanlah,…’allahu akbar…’ kemudian ia mengumandangkan adzan dengan cara membaca allahu akbar empat kali tanpa mengulang, sedangkan iqamah ia baca sekali-sekali kecuali ‘qad qaamati Shalah’. Ia –Abdullah- berkata, ‘Ketika pagi telah tiba, saya mendatangi Nabi SAW. beliau berkata, “Sungguh itu adalah mimpi yang benar.” (HR. Ahmad dan Abu Daud. At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah menshahihkannya)

[Shahih: Abu Daud 499]

– وَزَادَ أَحْمَدُ فِي آخِرِهِ قِصَّةَ قَوْلِ بِلَالٍ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ: «الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ»

Ahmad menambahkan di akhir hadits tersebut, “Kisah tentang Bilal yang menambahkan bacaan ‘As-Shalatu khairun minan naum’ —shalat itu lebih baik daripada tidur- dalam adzan shalat Subuh.”

[Sanadnya terputus, karena an’anah Abu Ishaq, tetapi syaikh Ahmad Syakir menyatakan maushul, ketika menta’liq hadits ini no. 16429. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Anhu adalah Abu Muhammad Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih Al-Anshari Al-Khazraji. Abdullah hadir pada peristiwa Bai’at Aqabah, ikut serta dalam perang Badar dan peperangan setelah itu. Wafat pada tahun 32 H.

Penjelasan Kalimat

“Saya melihat dalam tidurku seseorang mengelilingiku (hadits ini mempunyai cerita khusus yang telah dijelaskan di dalam beberapa hadits yang lain, yaitu ketika jumlah umat Islam telah banyak mereka menginginkan satu cara bersama untuk memberitahu masyarakat akan kedatangan waktu shalat. Ada yang mengusulkan, ”Bagaimana jika kita menggunakan lonceng.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Itu cara orang-orang Nashrani.” Ada yang mengusulkan, “Bagaimana jika kita menggunakan terompet?” Beliau berkata, “Itu cara orang-orang Yahudi.” Ada yang mengusulkan, “Bagaimana jika kita nyalakan api?” Beliau berkata, “Itu cara orang-orangMajusi.” Lalu mereka semua berpencar, kemudian Abdullah bin Zaid bermimpi lalu ia mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menceritakan mimpi tersebut.

Disebutkan di dalam Sunan Abu Dawud, “Ketika saya sedang tidur seseorang membawa terompet mengelilingiku, saya bertanya kepadanya, “Wahai hamba Allah, apakah kamu menjual terompet?” Ia balik bertanya, “Untuk apa engkau mencari terompet?’ Saya menjawab, “Untuk memanggil orang-orang agar mengerjakan shalat.” Ia berkata, “Maukah kamu saya beritahu dengan hal yang lebih baik?’ Saya menjawab, Tentu.’) kemudian ia berkata, ‘Ucapkanlah, Allahu Akbar… ‘ kemudian ia mengumandangkan adzan (hingga selesai) dengan cara membaca Allah Akbar empat kali (dengan mengumandangkannya sepasang-sepasang) tanpa mengulang (bacaan syahadat. Dalam Shahih Muslim diterangkan bahwa maksudnya ialah membaca kembali kalimat syahadat, dengan suara lantang setelah membaca dengan suara pelan) sedangkan iqamah ia baca sekali-sekali (tanpa mengulang bacaan apapun) kecuali ‘Qad Qaamat as-Shalah’ (bacaan itu diulang) Ia —Abdullah- berkata, ‘Ketika pagi telah tiba saya mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau berkata, “Sungguh itu adalah mimpi yang benar.”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil disyariatkannya adzan untuk shalat, panggilan bagi orang-orang yang tidak berada di masjid untuk menghadiri shalat. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memikirkan cara untuk mengumpulkan mereka, dan inilah panggilan untuk shalat sekaligus pemberitahuan akan masuknya waktu shalat.

Apakah hukumnya wajib? Para ulama berbeda pendapat, yang jelas ia adalah salah satu syiar agama Islam sekaligus salah satu wujud keindahan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalil yang mewajibkannya merupakan dalil yang implisit, bisa ya dan bisa juga tidak, dan akan dibahas setelah ini.

Begitu pula masalah lafazhnya, para ulama berbeda pendapat juga, hadits ini menjelaskan bahwa adzan dimulai dengan mengumandangkan bacaan takbir empat kali, dan ada riwayat lain yang berbeda.

Dalam sebagian hadits riwayat Abu Mahdzurah dijelaskan bahwa permulaannya ialah takbir dua kali, sedangkan dalam riwayat lainnya empat kali disebutkan, kemudian kebanyakan ulama mengambil pendapat takbir empat kali berdasarkan kemasyhuran haditsnya dan karena tambahan itu -yakni dua tambah dua- adalah genap sehingga layak untuk diterima -karena tidak menyalahi hadits yang menyebutkan bahwa adzan dikumandangkan dengan hitungan genap-.

Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya mengulang dalam bacaan syahadat, namun kemudian ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ulama yang berpendapat bahwa mengulang tidak disyariatkan mengambil hadits ini sebagai argumen, sedangkan yang mengatakan bahwa hal itu disyariatkan mereka mengambil hadits Abu Mahdzurah sebagai argumen.

Hadits ini menunjukkan bahwa iqamat dibaca sekali-sekali, kecuali lafazh ‘Qad Qaamat as-Shalah’ yang harus dibaca dua kali.

Zhahir hadits menunjukkan bahwa takbir permulaan iqamat dibaca sekali, akan tetapi kemudian jumhur ulama mengambil pendapat bahwa ia dibaca dua kali. Mereka mengatakan, “Jika dilihat dari cara mengumandangkan takbir pada permulaan adzan yang dibaca empat kali, maka membacanya dua kali di dalam iqamah seperti tidak ada pengulangan -dianggap satu kali-, begitu pula ia diulang pada penutup iqamah, sedangkan bacaan yang lainnya dibaca sekali.

Al-Bukhari telah meriwayatkan hadits, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memerintahkan Bilal untuk menggenapkan bacaan adzan dan mengganjilkan bacaan iqamah, kecuali bacaan Qad Qaamat as-Shalah’.” Hadits ini akan segera dibahas.

Hadits ini merupakan dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa bacaan adzan dibaca masing-masing dua kali sedangkan bacaaan iqamah dibaca sekali-sekali kecuali ‘Qad Qaamat as-Shalah’.

Mereka yang berpendapat bahwa takbir dibaca empat kali membantah pendapat ini mereka mengatakan, “Memang hadits ini shahih dan menjelaskan pendapat mereka itu, akan tetapi hadits yang menyebutkan bahwa takbir dibaca empat kali tidak ada yang meragukan keshahihannya, maka posisi hadits ini adalah sebagai pelengkap hadits di atas, dengan demikian orang yang membaca takbir empat kali saat permulaan adzan maka ia telah mengamalkan kedua hadits ini. Kemudian perlu diketahui bahwa hadits yang memerintahkan untuk menggenapkan adzan tidak menunjukkan dilarangnya membaca takbir empat kali.”

Para ulama telah sepakat bahwa bacaan tauhid ‘laa ilaaha illallah’ di akhir adzan dan iqamah dibaca sekali, dan ia tidak termasuk ke dalam perintah untuk menggenapkan bacaan adzan.

Hikmah diperintahkan untuk mengenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah ialah, bahwa adzan merupakan pemberitahuan untuk orang-orang yang berada jauh dari masjid sehingga harus diulang-ulang, sekaligus dianjurkan pula untuk meninggikan suara di atas tempat yang tinggi. Sebaliknya, iqamah tidak memerlukan pengulangan karena merupakan pemberitahuan untuk orang-orang yang telah hadir, sehingga dianjurkan dengan suara rendah dan cepat. Sedangkan hikmah pengulangan bacaan ‘Qad Qaamat as-Shalah’ ialah karena itulah inti dari iqamah.

Ahmad menambahkan di akhir hadits Abdullah bin Zaid tersebut, “Kisah tentang Bilal yang menambahkan bacaan As-Shalatu khairun minan naum’ -shalat itu lebih baik daripada tidur- dalam adzan shalat Subuh.

At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Ya’la dari Bilal, ia berkata,

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تُثَوِّبَنَّ فِي شَيْءٍ مِنْ الصَّلَاةِ إلَّا فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, ‘Janganlah engkau mengumandangkan As-Shalatu khairun minan naum’ untuk shalat apapun kecuali shalat Subuh.” [Dhaif: At Tirmidzi 198]

Hanya saja dalam sanad hadits ini ada yang dhaif, dan ia juga terpotong -munqathi’-. Seharusnya penyusun buku ini -Ibnu Hajar- menjelaskan hal tersebut sebagaimana yang biasa ia lakukan.

Ada yang mengatakan bahwa bacaan ‘As-Shalatu khairun minan naum’ dibaca dua kali, sebagaimana yang disebutkan di dalam Sunan Abu Dawud, dan bacaan ‘As-Shalatu khairun minan naum’ tidak ada di dalam hadits Abdullah bin Zaid, sebagaimana yang mungkin dipahami dari ungkapan Ibnu Hajar, karena ia mengungkapkan, “Menambahkan di akhir hadits”, padahal maksudnya ialah bahwa Ahmad meriwayatkan hadits Abdullah bin Zaid yang kemudian ia sambung dengan hadits riwayat dari Bilal.

0169

169 – وَلِابْنِ خُزَيْمَةَ عَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «مِنْ السُّنَّةِ إذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْفَجْرِ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ»

169. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Anas, “termasuk bagian dari sunnah jika seorang muadzin mengucapkan pada adzan Shubuh, Hayya alal falah –kemudian mengumandangkan Ashalatu khairun minan naum.

[Sanadnya Shahih: Ta’liq Shahih Ibnu Khuzaimah no 386]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Termasuk bagian dari sunnah jika seorang muadzdzin mengucapkan pada adzan Subuh Hayya ‘alal falaah’ -marilah menuju kemenangan- (atau keabadian, yakni marilah segera menuju sarana meraih kemenangan dan keabadian) kemudian mengumandangkan ‘As-Shalatu khairun minan naum’ -shalat itu lebih baik dari pada tidur-.”

Tafsir Hadits

Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu As-Sakan, sedangkan di dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan,

«الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ مِنْ الصُّبْحِ»

‘As-Shalatu khairun minan naum’, ‘As-Shalatu khairun minan naum’pada adzan Subuh yang pertama.” [Shahih: An Nasa’i 632]

Hadits ini memberikan batasan jelas untuk hadits-hadits yang lain.

Ibnu Ruslan berkata, “Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini.” Ia berkata, “Sesungguhnya syariat mengumandangkan ‘As-Shalatu khairun minan naum’ hanya saat adzan Subuh yang pertama, karena tujuannya untuk membangunkan orang-orang yang masih terlelap tidur, sedangkan adzan kedua bertujuan untuk memberitahukan akan datangnya waktu shalat sekaligus panggilan untuk menunaikannya.

Adapun lafazh hadits An-Nasa’i di dalam As-Sunan Al-Kubra [1/503] yang diriwayatkan melalui Sufyan dari Abu Ja’far dari Abu Sulaiman dari Abu Mahdzurah, ialah ia berkata,

«كُنْت أُؤَذِّنُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَكُنْت أَقُولُ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ الْأَوَّلِ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؛ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ»

“Waktu itu saya adzan untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan pada adzan pertama shalat Subuh aku mengumandangkan, ‘Hayya ‘alas Shalah, Hayya ‘alal Falah, As-Shalatu khairun minan naum’, As-Shalatu khairun minan naum’.” Ibnu Hazm berkata, “Sanad hadits ini shahih.” Demikianlah akhir dari Takhriij Al-Zamakhsari li ahaadiitsi Ar-Raafi’i.

Begitu pula yang terdapat di dalam Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra [1/421-422], dari Abu Mahdzurah,

أَنَّهُ كَانَ يُثَوِّبُ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ مِنْ الصُّبْحِ بِأَمْرِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwasanya ia mengumandangkan As-Shalatu khairun minan naum pada adzan pertama shalat Subuh atas perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam”

Jadi menurut saya, berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa lafazh itu bukan bagian dari adzan yang fungsinya sebagai seruan untuk menunaikan shalat atau sebagai pemberitahuan akan datangnya waktu shalat, akan tetapi ia hanyalah lafazh yang fungsinya untuk membangunkan orang-orang yang masih tidur, sehingga ia hanya seperti bacaan-bacaan tasbih yang biasa dilantunkan orang-orang sekarang ini sebagai pengganti dari adzan pertama tersebut.

Jika Anda memahami hal itu, maka apa yang sering diperdebatkan oleh para ulama, apakah bacaan As-Shalatu khairun minan naum’ bagian dari adzan atau bukan? Apakah ia termasuk bid’ah atau tidak? Menjadi tidak terlalu penting lagi.

Kemudian makna dari lafazh tersebut ialah bahwa bangun untuk menunaikan shalat lebih baik daripada tidur, atau istirahat yang ditunda belakangan lebih baik daripada tidur saat ini, dan kami telah menulis makalah kecil dalam masalah ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *