[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 43

02.01. BAB WAKTU-WAKTU SHALAT 07

0165

165 – وَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيِّ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ –

165. Demikian juga hadits riwayat Ad Daruquthni dari Amr bin Ash RA.

[Shahih: Sunan Ad Daruquthni 1/419]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu di atas menjelaskan maksud ungkapan ‘setelah fajar’, dan ini merupakan waktu keenam dari rangkaian waktu-waktu yang tidak diperbolehkan mendirikan shalat padanya. Akan tetapi larangan mendirikan shalat setelah Ashar, yang merupakan salah satu dari keenam waktu tersebut, bertentangan dengan hadits berikut ini.

0166

166 – وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – قَالَتْ: «صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْعَصْرَ، ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ. فَسَأَلْته، فَقَالَ: شُغِلْت عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ فَصَلَّيْتهمَا الْآنَ، فَقُلْت: أَفَنَقْضِيهِمَا إذَا فَاتَتَا؟ قَالَ: لَا» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ

166. Dari Ummu Salamah RA berkata, Rasulullah SAW telah menunaikan shalat Ashar, kemudian beliau memasuki rumahku seraya mendirikan shalat dua rakaat. kemudian aku bertanya kepadanya dan beliau menjelaskan, “Saya mempunyai kesibukan sehingga tidak sempat mengerjakan dua rakaat setelah shalat Zhuhur, maka saya mengerjakannya sekarang.” Saya berkata, “Apakah kami harus mengqhada’nya jika kita tidak sempat melakukannya pada waktunya?” Beliau menjawab, “Tidak.” (HR. Ahmad)

[Shahih: tanpa tambahan, apakah kami harus mengqadhanya dan seterusnya.. lihat; Al Irwa 441, ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menunaikan shalat Ashar, kemudian beliau memasuki rumahku seraya mendirikan shalat dua rakaat. Kemudian aku bertanya kepadanya (hal ini mengisyaratkan bahwa beliau tidak pernah melakukan hal tersebut sebelum itu di rumahnya, dan Ummu Salamah Radhiyallahu Anha telah mengetahui larangan menunaikan shalat setelah Ashar, ia merasa aneh saat melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melanggar larangan itu) dan beliau menjelaskan, “Saya mempunyai kesibukan sehingga tidak sempat mengerjakan dua rakaat setelah shalat Zhuhur (kesibukan tersebut ialah bahwa telah datang kepadanya beberapa orang dari kaum Abdul Qais, sedangkan dalam hadits At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas dijelaskan bahwa telah dibawa kepadanya harta benda yang menyibukkan beliau hingga tidak sempat mengerjakan shalat ba’diyah Zhuhur) maka saya mengerjakannya sekarang (yakni beliau mengqadha’nya waktu itu, sebagaimana yang dipahami oleh Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, karena itu ia bertanya) Saya berkata, Apakah kami harus mengqadha’nya jika kami tidak sempat melakukannya pada waktunya? (yakni sebagaimana yang engkau lakukan, wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?) Beliau menjawab, “Tidak” (yakni, “Jangan mengqadha’nya pada waktu itu?)

Walaupun larangan di atas bersifat umum akan tetapi bisa dipahami larangan itu pada waktu itu saja berdasarkan situasi dan kondisi kisah.

Akan tetapi sampai di sini pengarang buku, Ibnu Hajar tidak berkomentar, namun dalam Fath Al-Bari, setelah menyebutkan hadits ini beliau menjelaskan bahwa riwayat hadits ini lemah atau dhaif tidak bisa digunakan sebagai argumen, yang disayangkan beliau tidak menjelaskan apa yang menyebabkan riwayat ini menjadi dhaif, pada hal sebenarnya tidak baik baginya untuk diam tidak berkomentar tentang hadits ini dalam buku ini.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menjelaskan bahwa mengqadha’ shalat saat itu ialah salah satu dari kekhususan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan hal ini diperkuat oleh hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, “Bahwasanya beliau mengerjakan shalat setelah shalat Ashar akan tetapi beliau melarang perbuatan tersebut, dan beliau melakukan puasa wishal padahal beliau melarang perbuatan tersebut.”

Namun Al-Baihaqi berkata, “Kekhususan di sini ialah dalam masalah untuk selalu mengerjakan shalat sunnah sesudah Zhuhur tersebut, bukan masalah diperbolehkannya mengqadha’ pada saat itu.”

Jika kita lihat, jelas bahwa hadits Ummu Salamah di atas membantah jendapat Al-Baihaqi ini. Sehingga bisa disimpulkan bahwa diperbolehkannya mengqadha’ saat itu adalah salah satu kekhususan beliau juga, demikianlah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan hal itu diisyaratkan oleh pengarang, Ibnu Hajar dalam hadits berikut ini,

0167

167 – وَلِأَبِي دَاوُد عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – بِمَعْنَاهُ

167. dalam riwayat Abu Daud dari Aisyah RA dengan makna yang sama.”

[Shahih: Abu Daud 1273]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjeksan tentang makna hadits ini telah dijelaskan sebelumnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *