[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 42

02.01. BAB WAKTU-WAKTU SHALAT 06

0162

162 – وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَوَّلُ الْوَقْتِ رِضْوَانُ اللَّهِ، وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اللَّهِ، وَآخِرُهُ عَفْوُ اللَّهِ» أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا

162. Dari Abu Mahdzurah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Awal waktu adalah keridhaan Allah, tengahnya adalah rahmat Allah dan akhirnya adalah ampunan Allah.” (HR. Ad Daruquthni dengan sanad dhaif sekali)

[Dhaif dalam Dhaif Al Jami 2131, Maudhu dalam Dhaif Targhib wa Tarhib 218 –ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Tentang nama Abu Mahdzurah, ada beberapa pendapat mengenai nama aslinya, akan tetapi yang paling benar ialah bahwa namanya Samurah bin Mi’yan. Ibnu Abdul Barr berkata, “Seluruh orang yang ahli dalam masalah nasab Quraisy menyatakan bahwa Abu Mahdzurah adalah dari suku Aus.” Ia adalah muadzin Rasulullah Shallallahu A-laihi wa Sallam, masuk Islam pada tahun penaklukan Makkah, ia tinggal di Makkah dan wafat di sana sebagai pengumandang adzan pada tahun 59 H.

Penjelasan Kalimat

“Awal waktu (untuk shalat-shalat wajib) adalah keridha’an Allah (yakni akan mendatangkan keridhaan Allah bagi orang yang menunaikan shalat padanya) tengahnya adalah rahmat Allah (yakni ia akan mendatangkan rahmat Allah bagi orang yang menunaikan shalat padanya, dan telah diketahui bahwa keridhaan lebih utama daripada rahmat) dan akhirnya adalah keampunan Allah (yang tentunya tidak diperlukan ampunan kecuali jika ada dosa).”

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dengan sanad dhaif, karena hadits ini melalui Ya’qub bin Al-Walid Al-Madani. Imam Ahmad mengatakan, “Ia adalah termasuk pembohong besar”, Ibnu Ma’in menyatakan, “Ia sebagai pembohong”, An-Nasa’i meninggalkan riwayat orang tersebut, Ibnu Hibban menganggapnya sebagai pemalsu hadits, demikianlah yang disebutkan di dalam Hawasyi Al-Qhaadi dan di dalam As-Syarh disebutkan bahwa di dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Zakariya Al-Bajali yang ia itu termasuk Muttaham -tertuduh-, karena itulah penulis buku menambahi kata-kata ‘lemah sekali’ menguatkan kedhaifannya.

Dan hadits berikut ini tidak bisa dijadikan penguat hadits di atas.

0163

163 – وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ، دُونَ الْأَوْسَطِ، وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا

163. Demikian pula hadits At Tirmidzi dari Ibnu Umar tanpa menyebutkan ‘bagian tengahnya’ namun hadits ini dhaif juga.

[Maudhu: At Tirmidzi 172]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Demikian pula hadits At-Tirmizi dari Ibnu Umar dalam menjelaskan awal dan akhir waktu shalat, akan tetapi ia tidak menyebutkan bagian tengahnya namun hadits ini dhaif juga, karena di dalam sanadnya terdapat Ya’qub bin Al-Walid sebagaimana yang dijelaskan di atas. Kami katakan bahwa, hadits ini tidak bisa menjadi penguat hadits di atas karena dalam kedua hadits tersebut ada seseorang yang telah dicap sebagai pembohong oleh para ulama, selain itu dalam masalah ini terdapat hadits yang diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Abbas dan Anas, akan tetapi semua riwayat ini dhaif. Ada juga hadits yang diriwayatkan dari Ali, melalui jalur Musa bin Muhammad bin Ali bin Al-Hasan dari ayahnya dari kakeknya dari Ali, mengenai riwayat ini Al-Baihaqi berkomentar, “Sanad hadits ini adalah sanad terbaik dari berbagai sanad dalam masalah ini walaupun ada cacatnya karena yang tercatat dalam riwayat ialah bahwa Ja’far bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya dan berhenti di situ atau mauquf”

Al-Hakim berkata, “Dalam masalah ini saya tidak menemukan hadits yang shahih diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam maupun dari para sahabat, yang ada hanya riwayat Ja’far bin Muhammad dari ayahnya secara mauquf.”

Saya katakan, “Jika hadits mauquf ini adalah hadits shahih maka hukumnya seperti hadits marfu’ karena dalam masalah fadhail amal -keutamaan amal perbuatan- boleh diungkapkan berdasarkan pendapat, apalagi dalam hadits ini ada kemungkinan untuk itu, dan seandainya semua hadits ini tidak ada yang shahih, kebiasaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mengerjakan shalat pada awal waktunya menunjukkan keutamaan awal waktu, ditambah lagi bukti-bukti yang telah kami kemukakan di atas.”

0164

164 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا صَلَاةَ بَعْدَ الْفَجْرِ إلَّا سَجْدَتَيْنِ» أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ «لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوع الْفَجْرِ إلَّا رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ»

164. Dari Ibnu Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua rakaat.” (HR. Al Khamsah kecuali An Nasa’i) dalam riwayat Abdurrazaq disebutkan, “Tidak ada shalat setelah terbit fajar kecuali dua rakaat fajar.”

[Shahih: Abu Daud 1278, At Tirmidzi 419. Dan tambahan Abdurrazaq sanadnya sangat lemah, lihat Al Irwa’ 478. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua rakaat (yaitu dua rakaat shalat fajar sebagaimana yang dijelaskan oleh riwayat setelah itu).”

Tafsif Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh yang lima perawi kecuali An-Nasa’i, yakni diriwayatkan oleh Ahmad, Ad-Daraquthni. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini gharib, karena tidak ada yang meriwayatkan kecuali dari Quddamah bin Musa.”

Hadits ini menjelaskan keharaman melaksanakan shalat apa pun setelah terbit fajar sebelum shalat fajar atau Subuh, kecuali shalat sunnah fajar, karena walaupun hadits itu susunan kalimatnya berbentuk kalimat berita negatif, akan tetapi ia bermakna larangan, dan makna dasar sebuah larangan adalah pengharaman.

At-Tirmidzi berkata, “Seluruh ulama berijma’ atas makruhnya mendirikan shalat setelah fajar kecuali shalat fajar.”

Pengarang buku ini mengatakan, “Klaim At-Tirmidzi atas ijma’ ulama dalam masalah ini adalah sesuatu yang aneh, karena perbedaan pendapat dalam masalah ini cukup masyhur sebagaimana yang diberitakan oleh Ibnu Al-Mundzir dan yang lainnya.”

Hasan Al-Bashri berkata, “Mendirikan shalat pada saat itu tidak apa-apa.” Sedangkan Malik berpendapat, “Jika seseorang tidak sempat melakukan suatu shalat pada malam hari, maka diperbolehkan mendirikan shalat pada saat itu.”

Dan yang dimaksud setelah fajar yaitu, setelah terbit fajar sebagaimana yang dijelaskan di dalam riwayat Abdurrazaq dari Ibnu Umar ~Radhiyallahu Anhu, “Tidak ada shalat setelah terbit fajar kecuali dua raka’at fajar.” Demikian juga riwayat berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *