[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 41

02.01. BAB WAKTU-WAKTU SHALAT 05

0158

158 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الشَّفَقُ الْحُمْرَةُ» ، رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ. وَغَيْرُهُ وَقَفَهُ عَلَى ابْنِ عُمَرَ

158. Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mega itu ialah yang berwarna merah.” (HR. Ad Daruquthni, Ibnu Khuzaimah dan perawi lainnya menyatakan bahwa hadits ini mauquf pada Ibnu Umar)

[Dhaif: Dhaif Al Jami’ 3440]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Oleh perawi lain dinyatakan bahwa hadits ini mauquf pada Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, kelanjutan hadits tersebut ialah,

«فَإِذَا غَابَ الشَّفَقُ وَجَبَتْ الصَّلَاةُ»

“Jika kemerah-merahan telah lenyap maka telah masuk waktu wajib shalat — Isya-‘

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu sebagai hadits marfuu’. Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu Anhu, Umar Radhiyallahu Anhu, Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Anhu, Syidad bin Aus Radhiyallahu Anhu dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, namun tidak ada satupun yang shahih.”

Saya katakan, “Jika pembahasannya dari sisi bahasa, maka hendaklah dikembalikan kepada ahli bahasa, dan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu adalah salah satu ahli bahasa dan penghulu bangsa Arab, dengan begitu maka ucapannya merupakan dasar hukum wakupun hadits itu mauquf padanya. Dan dalam Al-Qamus diterangkan, mega ialah warna merah di ufuk barat yang bertahan hingga tiba waktu Isya’ atau telah mendekati waktu Isya’ atau ketika tiba sepertiga malam yang pertama.”

As-Syafi’i berpendapat bahwa, waktu shalat Maghrib ialah tepat setelah matahari terbenam, berdurasi selama lima raka’at shalat ditambahkan waktu untuk bersuci, memakai pakaian, mengumandangkan adzan dan iqamah. Berdasarkan hadits Jibril Alaihissalam, bahwasanya ia menunaikan shalat Maghrib bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selama dua hari dalam waktu yang sama, yaitu tepat setelah matahari terbenam. Ia berkata, “Seandainya waktu Maghrib itu panjang tentulah ia mengakhirkannya sebagaimana ia mengakhirkan waktu shalat Zhuhur, hingga bayangan segala sesuatu sepanjang wujud aslinya pada hari keduanya.”

Jawaban atas pendapat ini ialah bahwa hadits Jibril Alaihissalam lebih dahulu keluar, yaitu pada awal-awal perintah shalat di Makkah, sedangkan hadits yang menjelaskan bahwa akhir waktu shalat Maghrib adalah hilangnya mega merah dari ufuk barat ia lebih akhir yaitu di Madinah, baik nash maupun prakteknya, maka ia harus dipakai sebagai sumber hukum dan ia lebih shahih sanadnya, dengan begitu hadits ini harus dikedepankan saat terjadi perbedaan.

Jika ada yang membantah, “Hadits kedua ini adalah hadits pernyataan, sedangkan hadits Jibril Alaihissalam adalah perbuatan.”

Maka bantahan ini tidak benar karena hadits Jibril Alaihissalam adalah hadits pernyataan maupun perbuatan, karena setelah menunaikan lima waktu shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Jibril Alaihissalam berkata kepadanya, “Antara kedua waktu tersebut adalah waktu shalat untukmu dan untuk umatmu.”

Betul, memang tidak ada jeda antara shalat Maghrib dan shalat Isya yang dilakukan oleh Jibril. Jawaban atas fenomeaa ini ialah bahwa fenomena itu hanyalah perbuatan jika dipandang dari sisi penentuan waktu shalat Maghrib, dan pendapat yang lebih benar ialah bahwa perkataan lebih didahulukan atas perbuatan jika keduanya saling bertentangan, akan tetapi dalam masalah ini tidak ada pertentangan dalam kedua hadits tersebut, karena ungkapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits kedua memberikan keterangan tambahan atas hadits Jibril Alaihissalam, ia adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menurut saya seharusnya hadits ini diletakkan di awal-awal bab waktu shalat, setelah hadits yang pertama yaitu hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu.

Dan harap diketahui pendapat yang baru kita sebutkan tadi adalah pendapat baru Imam Syafi’i, sedangkan pendapatnya yang lebih dahulu ialah bahwa ada dua pendapat dalam masalah waktu shalat Maghrib, yang pertama adalah pendapat ini yaitu, bahwa waktu shalat Maghrib ialah tepat setelah matahari terbenam dan yang kedua bahwa waktunya mulai terbenamnya matahari hingga hilangnya mega merah, yang hal ini didukung oleh rekan-rekannya seperti Ibnu Khuzaimah, Al-Khathabi, Al-Baihaqi dan yang lain-lainnya.

Imam Nawawi telah menyebutkan dalil-dalil yang menjelaskan bahwa waktunya agak panjang hingga hilangnya mega merah, di dalam Syarh Al-Muhadzdzab, kemudian ia berkata, “Jika Anda telah memahami kekuatan hadits tersebut maka harus mengamalkannya, karena sebenarnya pendapat ini adalah pendapat Imam Syafi’i terdahulu, akan tetapi kemudian ia mengomentari kekuatan hadits ini di dalam Al-Imla’ namun sekarang kekuatan hadits ini tidak diragukan lagi bahkan banyak hadits serupa yang juga kuat.”

 0159

59 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «الْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ الطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ الصَّلَاةُ، وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ الصَّلَاةُ – أَيْ صَلَاةُ الصُّبْحِ – وَيَحِلُّ فِيهِ الطَّعَامُ» رَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ

159. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Fajar itu ada dua macam, fajar yang mengharamkan makan dan diperbolehkan shalat padanya dan fajar yang tidak boleh melakukan shalat padanya.” Yaitu shalat Shubuh, dan diperbolehkan makan padanya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim, dan keduanya menshahihkannya)

[Shahih: Shahih Al Jami 4279]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Syarah Kalimat

“Ada dua macam. Fajar, yang mengharamkan makan (untuk orang-orang yang hendak menunaikan puasa) dan diperbolehkan shalat padanya (karena telah masuk waktu untuk melaksanakan shalat Subuh) dan fajar yang tidak boleh melakukan shalat padanya.’ Yaitu shalat Subuh (diterangkan sedemikian rupa agar tidak ada yang mengira bahwa saat itu diharamkan mengerjakan shalat apapun, akan tetapi keterangan tambahan ini bisa jadi berasal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan itulah seharusnya; dan bisa jadi berasal dari perawi hadits) dan diperbolehkan makan padanya”

Dikarenakan kata fajar secara bahasa mempunyai dua makna, dan dalam beberapa hadits disebutkan bahwa awal waktu shalat Subuh adalah fajar, maka Rasulullah menjelaskan fajar manakah yang beliau maksud, yaitu fajar yang mempunyai tanda sangat jelas seperti diterangkan di dalam hadits berikut ini.

0160

160 – وَلِلْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ نَحْوُهُ، وَزَادَ فِي الَّذِي يُحَرِّمُ الطَّعَامَ؛ ” إنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلًا فِي الْأُفُقِ “، وَفِي الْآخَرِ: ” إنَّهُ كَذَنَبِ السِّرْحَانِ ”

160. Al Hakim meriwayatkan hadits serupa dari Jabir, kemudian dalam masalah fajar yang dilarang makan padanya ditambahkan, “Sesungguhnya ia memanjang di ufuk.” Dan dalam riwayat lain, “Sesungguhnya ia bagaikan ekor srigala.”

[Shahih: Shahih Al Jami 4278]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Al-Hakim meriwayatkan hadits serupa dari Jabir yakni serupa dengan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, yang lafazhnya disebutkan di dalam Al-Mustadrak,

«الْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَأَمَّا الْفَجْرُ الَّذِي يَكُونُ كَذَنَبِ السِّرْحَانِ فَلَا يَحِلُّ الصَّلَاةُ وَيَحِلُّ الطَّعَامُ؛ وَأَمَّا الَّذِي يَذْهَبُ مُسْتَطِيلًا فِي الْأُفُقِ فَإِنَّهُ يُحِلُّ الصَّلَاةَ وَيُحَرِّمُ الطَّعَامَ»

“Fajar itu ada dua macam; fajar yang menyerupai ekor serigala, pada waktu itu tidak boleh melakukan shalat dan masih dibolehkan makan -bagi yang berpuasa-, sedangkan fajar yang memanjang di ufuk, pada waktu itu diperbolehkan melakukan shalat dan diharamkan makan —bagi yang berpuasa-.”

Penjelasan Kalimat

Anda telah memahami apa yang dimaksud dengan ucapan Ibnu Hajar berikut ini, “Kemudian dalam masalah fajar yang dilarang makan padanya ditambahkan, “Sesungguhnya ia memanjang di ufuk (dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengulurkan tangannya dari kalian ke kiri).” Dan dalam riwayat lain, “Sesungguhnya ia bagaikan ekor srigala (yakni ilustrasi fajar yang tidak boleh shalat dan tidak diharamkan makan padanya, yang maksudnya ialah saat itu ia seperti ekor srigala yang tegak ke atas tidak memanjang, yang jarak antara keduanya sekitar satu jam, setelah fajar yang pertama muncul kemudian akan muncul fajar yang kedua nampak jelas, inilah penjelasan awal waktu shalat Subuh, sedangkan akhir waktunya ialah waktu yang tersisa untuk menunaikan satu raka’at, sebagaimana telah Anda pahami terdahulu).

Dikarenakan setiap waktu shalat ada awal dan ada akhirnya, maka beliau menjelaskan waktu yang paling utama.

0161

161 – وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ، وَأَصْلُهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ.

161. Dari Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda: “Seutama-utama pekerjaan ialah menunaikan shalat pada awal waktunya.” (HR. At Tirmidzi dan Al Hakim dan keduanya menshahihkannya. Asli hadits ini terdapat dalam Shahihain)

[Shahih: At Tirmidzi 173]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dengan lafazh,

«سَأَلْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا»

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Perbuatan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau bersabda, ‘Shalat tepat pada waktunya?”

Dalam riwayat ini tidak disebutkan lafazh ‘pada awal’.

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat pada awal waktunya merupakan perbuatan paling utama dibandingkan dengan perbuatan apa pun, karena hadits di atas menggunakan kata Al A’maal’dalam bentuk ma’rifah dengan tambahan alif dan laam.

Namun hadits ini bertentangan dengan hadits:

«أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إيمَانٌ بِاَللَّهِ»

“Seutama-utama amal perbuatan ialah beriman kepada Allah.”[Al Bukhari 26, Muslim 83]

Dengan demikian jelas bahwa maksud pertanyaan Ibnu Mas’ud di atas ialah amal perbuatan apakah yang paling utama selain iman, atau apakah perbuatan orang mukmin yang paling utama?

Ibnu Daqiq Al-‘Iid berkata, “Maksud amal perbuatan di dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas ialah amal perbuatan fisik dan tidak berkenaan dengan amal perbuatan hati. Dengan demikian, hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Seutama-utama amal perbuatan ialah beriman kepada Allah Aza wa Jalla.” Akan tetapi ada hadits-hadits lain yang menerangkan bahwa kebajikan adalah amal perbuatan yang paling utama dan dalam masalah ini jelas ia bertentangan dengan hadits di atas.”

Jawaban atas masalah ini adalah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan jawaban yang paling tepat untuk setiap orang yang diajak bicara, paling cocok untuknya, paling ia sukai dan paling banyak manfaatnya bagi orang tersebut. Sebagai contoh, untuk orang pemberani maka amal perbuatan yang paling utama ialah berjihad, karena hal itulah yang lebih baik untuknya daripada menghabiskan waktunya untuk beribadah ritual, sedangkan untuk orang kaya amal perbuatan yang paling utama untuknya ialah bersedekah, dan demikian selanjutnya.

Atau bisa jadi di dalam hadits tersebut ada lafazh yang disembunyikan yaitu ‘di antara’ sehingga maksudnya adalah ‘di antara amal perbuatan paling utama’, bisa juga lafazh Afdhal’ di dalam hadits-hadits tersebut tidak menunjukkan kelebihan akan tetapi hanya bermaksud bahwa hal itu adalah amal perbuatan utama, tidak ada maksud untuk menjelaskan bahwa amal perbuatan itu adalah paling utama.

Ungkapan yang menjelaskan bahwa amal paling utama adalah shalat pada awal waktunya bertentangan dengan hadits yang menerangkan hal lain, seperti hadits shalat Isya’, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku pastilah aku akhirkan shalat Isya’.” Yakni mengakhirkannya hingga pertengahan malam atau sekitar pertengahan malam, juga dengan hadits ‘Menunggu pagi bersinar untuk shalat Subuh’ dan hadits ‘Menunggu saat dingin untuk shalat Zhuhur.’

Jawaban atas masalah ini adalah, bahwa hadits-hadits terdahulu termasuk pengecualian dari hadits nomor 161 ini, sehingga tidak ada pertentangan antara hadits-hadits di atas dengan hadits nomor ini.

Sedangkan pertanyaan yang mengatakan bahwa hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ali bin Hafsh sendirian dan tidak didukung oleh shahabat-shahabat Syu’bah, padahal mereka semua meriwayatkan dengan lafazh ‘pada waktunya’ tidak dengan lafazh ‘awal waktunya’.

Maka pertanyaan ini telah dijawab, bahwasanya walaupun Ah bin Hafsh meriwayatkannya sendirian, ia adalah seorang syaikh yang shaduuq (jujur), termasuk di antara perawi yang diakui oleh Muslim, kemudian hadits tersebut telah dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah.

Dari sisi makna, lafazh “Alaa waqtihaa’ (tepat pada waktunya) menyiratkan makna pada awal waktunya, karena lafazh “Alaa’ mempunyai konotasi bahwa ia berada di atas keseluruhan waktunya. Sedangkan riwayat yang menyebutkan ‘liwaqtihaa maka ia bermakna menyongsongnya, dan secara mudah telah dipahami bahwa shalat tersebut tidak mungkin dilakukan sebelum waktunya dengan harapan menyongsongnya, sehingga sudah pasti yang dimaksud dengan lafazh ‘liwaqtihaa ialah pada awal waktunya.

Hal ini didukung oleh firman Allah Ta’ala,

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ}

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik.” (QS. Al-Anbiyaa”: 90), demikian pula bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu melakukan shalat pada awal waktunya dan tentu apa yang beliau lakukan adalah yang paling utama, dalam hadits Ali yang diriwayatkan oleh Abu Dawud disebutkan,

«ثَلَاثٌ لَا تُؤَخَّرُ، ثُمَّ ذَكَرَ مِنْهَا الصَّلَاةَ إذَا حَضَرَ وَقْتُهَا»

“Tiga hal yang seyogyanya jangan kalian akhirkan, kemudian ia menyebutkan di antaranya; shalat jika telah datang waktunya” [1]

Yang maksudnya, itulah yang lebih utama, walaupun melakukannya setelah saat itu juga boleh.

______________

[Dhaif: At Tirmidzi 171, saya tidak menemukannya dalam riwayat Abu Daud]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *