[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 40

02.01. BAB WAKTU-WAKTU SHALAT  04

0154

154 – وَلَهُ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: «ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ، وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَتَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ»

154. Dan dalam riwayatnya juga, dari Uqbah bin Amir, ‘Ada tiga waktu dimana Rasulullah SAW melarang kami mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah padanya, saat matahari terbit hingga meninggi, saat matahari tepat berada di atas kepala hingga tergelincir atau condong dan saat matahari miring akan terbenam.”

[Muslim 831]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً، حَتَّى تَرْتَفِعَ

Ada tiga waktu dimana Rasulullah SAW melarang kami mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah padanya, saat matahari terbit dan meninggi”, hadits Amr bin Abasah menjelaskan ukuran tingginya matahari sehingga keluar dari saat terlarang tersebut, ‘Naik setinggi satu atau dua tombak.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i)

[Shahih: Abu Daud 1288]

Biografi Perawi

Uqbah bin Amir adalah Abu Hammad atau Abu Amir, Uqbah bin Amir Al-Juhani. Salah seorang pegawai Muawiyah di Mesir, meninggal di sana juga pada tahun 58 H. Ada yang mengatakan bahwa ia meninggal pada perang Nahrawan saat ia bersama Ali Radhiyallahu Anhu, akan tetapi Ibnu Abdul Barr mengatakan bahwa berita ini salah.

Penjelasan Kalimat

“Saat matahari tepat berada di atas kepala (hadits Amr bin Abasah menjelaskan, “Saat tombak tepat di atas bayangannya.” ) hingga tergelincir atau condong (dari tengah langit) dan saat matahari miring akan terbenam.”

Tafsir Hadits

Tiga waktu ini jika ditambahkan kepada dua di atas maka ia menjadi lima waktu, hanya saja tiga waktu terakhir ini berkenaan dengan dua masalah yang tidak disukai, yaitu menguburkan jenazah dan mendirikan shalat, sedangkan dua waktu di atas berkenaan dengan masalah shalat saja.

Alasan pelarangan pada tiga waktu ini dijelaskan di dalam hadits Ibnu Abasah -bagi sebagian orang yang menerima hadits tersebut- yaitu bahwa ketika matahari sedang terbit ia terbit di antara dua tanduk setan, maka orang-orang kafir menyembahnya saat itu, sedangkan pada tengah hari, maka pada saat itu neraka Jahannam sedang dipanaskan dan pintu-pintunya sedang dibuka dan saat terbenam matahari terbenam di antara dua tanduk setan maka orang-orang kafir menyembahnya saat itu.

Makna ‘Qaaimu Zhahirah’ ialah saat matahari diam untuk condong ke barat. Disebut demikian karena lafazh ‘Qaamat bihi Daabbatuhu’ artinya hewan kendaraannya berhenti, sebab jika saat itu seseorang sedang berjalan melihat bayangannya, ia seakan-akan tidak bergerak atau diam di tempat.

Larangan ini mencakup shalat-shalat wajib maupun shalat sunnah. Larangan ini berarti pengharaman, karena demikianlah makna dasar dari sebuah larangan begitu pula hukum menguburkan jenazah pada saat itu.

Akan tetapi kewajiban shalat bagi orang yang ketiduran ada pengecualiannya berdasarkan hadits, “Barangsiapa ketiduran dari satu shalat…”, maka waktunya adalah saat ia mengingatnya.”[lihat Shahihul Jami 6571]. Maka kapan saja ia terbangun atau teringat kepada shalat tersebut ia harus segera menunaikannya, begitu pula orang yang menunaikan satu raka’at shalat sebelum matahari terbit atau sebelum matahari terbenam, maka ia harus menunaikannya saat itu pula dan hal itu tidak dianggap haram.

Dengan demikian larangan tersebut berkenaan dengan shalat sunnah bukan shalat wajib. Namun ada yang mengatakan bahwa larangan itu mencakup keduanya, yaitu yang wajib maupun yang sunnah, berdasarkan satu riwayat yang menyebutkan bahwa ketika beliau ketiduran untuk melakukan shalat Subuh di suatu lembah, saat terbangun beliau tidak langsung menunaikan shalat tersebut akan tetapi menunggu hingga keluar dari saat yang dimakruhkan shalat padanya.

Jawaban atas pendapat ini ialah:

1. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat waktu itu bangun dari tidur karena sengatan matahari, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits tersebut, artinya saat mereka bangun mereka telah keluar dari waktu yang dilarang shalat padanya.

2. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan alasan mengakhirkan shalat saat itu, bahwasanya lembah itu telah didatangi oleh para setan. Maka beliau ingin menunaikan shalat pada tempat lain jadi alasan pengunduran waktu shalat saat itu bukan karena adanya waktu yang dilarang shalat padanya. Seandainya apa yang mereka katakan benar, bisa diambil kesimpulan shalat sunnah haram dilakukan pada kelima waktu tersebut, dan dibolehkan mengqadha’ shalat sunnah setelah shalat Subuh dan setelah shalat Ashar, berdasarkan dalil bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengadha’ shalat sunnah Zhuhur setelah shalat Ashar, seandainya hal tersebut bukan merupakan hukum khusus untuknya. Sedangkan qadha’ shalat sunnah setelah shalat Subuh berdasarkan persetujuan beliau terhadap seseorang yang pernah mendirikan shalat sunnah Subuh setelah shalat Subuh. Kesimpulan selanjutnya ialah shalat wajib bisa dilakukan pada kelima waktu tersebut untuk orang-orang yang ketiduran kelupaan dan orang yang sengaja mengakhirkannya walaupun dengan begitu ia berdosa atas keterlambatannya dengan sengaja, shalatnya mereka itu dianggap shalat tepat pada waktunya kecuali jika orang yang mengakhirkan waktu shalat tersebut telah keluar dari saatnya.

Khusus hari Jumat diperbolehkan shalat sunnah saat matahari sedang tergelincir, berdasarkan hadits berikut ini.

0155

155 – وَالْحُكْمُ الثَّانِي عِنْدَ الشَّافِعِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. وَزَادَ ” إلَّا يَوْمَ الْجُمُعَةِ ”

155. Dan hukum untuk kondisi kedua, menurut imam Asy-Syafi’i berdasarkan hadits Abu Hurairah RA dengan sanad dhaif, dan ia menambahkan,”…. kecuali hari Jum’at.”

[Dha’if: Musnad Asy Syafi’i 1/139, Syaikh Hamid Al Faqi berkata dalam ta’liqnya atas Bulughul Maram, Hadits ini dhaif karena di dalamnya terdapat Ibrahim bin Yahya dan Ishaq bin Abi Farwah, keduanya dhaif. Demikian pula yang dikatakan Syaikh Abdullah bin Abdullah Al Bassam dalam Taudihul Ahkam 1/283. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan hukum untuk kondisi kedua (yakni hukum larangan mendirikan shalat saat matahari sedang tergelincir tengah hari, sedangkan hukum yang pertama adalah hukum saat matahari sedang terbit).”

Tafsir Hadits

Pensyarah menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan hukum kedua ialah, larangan mendirikan shalat pada ketiga waktu tersebut, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Sa’id dan hadits Uqbah, akan tetapi dalam hadits ini ia disebut sebagai hukum pertama, karena hukum keduanya adalah larangan menguburkan jenazah. Dalam hadits Uqbah juga dijelaskan bahwa pengecualian diperbolehkannya shalat, untuk hari Jumat ini mencakup ketiga waktu tersebut, akan tetapi hal itu tidak disepakati oleh para ulama, karena yang diperselisihkan ialah hanya waktu matahari sedang tergelincir.

Menurut Imam Syafi’i berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dengan sanad dhaif, dan ia menambahkan, “…kecuali hari Jumat, hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Ma’rifah dan Atha’ bin Ajlan dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mendirikan shalat pada tengah hari kecuali hari Jumat.” Akan tetapi hadits ini dhaif, karena di dalamnya ada Ibrahim bin Abu Yahya dan Ishaq bin Abdullah bin Abu Firarah yang keduanya merupakan perawi dhaif. Namun hadits ini didukung oleh hadits berikut,

0156

156 – وَكَذَا لِأَبِي دَاوُد عَنْ أَبِي قَتَادَةَ نَحْوُهُ

156. Dan seperti itu pula riwayat Abu Daud dari Abu Qatadah.

[Dhaif: Abu Daud 1083]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Dengan lafazh,

«وَكَرِهَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الصَّلَاةَ نِصْفَ النَّهَارِ إلَّا يَوْمَ الْجُمُعَةِ؛ وَقَالَ: إنَّ جَهَنَّمَ تُسْجَرُ إلَّا يَوْمَ الْجُمُعَةِ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membenci pelaksanaan shalat di tengah hari kecuali pada hari Jumat.” Dan beliau bersabda, “Sesungguhnya neraka Jahannam dipanaskan kecuali pada hari Ju’mat.”

Abu Dawud berkata, “Hadits ini adalah hadits mursal.” Karena di dalamnya terdapat Laits bin Abu Salim, ia adalah perawi dhaif.

Namun hal ini didukung oleh perbuatan para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka mendirikan shalat di tengah hari pada hari Jumat. Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam juga menganjurkan agar bersegera menuju ke masjid pada hari itu, kemudian ia menganjurkan untuk shalat hingga imam keluar tanpa mengkhususkan atau mengecualikan waktu apapun. Kemudian hadits yang melarang tersebut merupakan hadits yang umum mencakup semua tempat kecuali Makkah.

0157

157 – وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ.

157. Dari Jubair Ibnu Muth’im berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian melarang siapa pun melakukan tawaf di Ka’bah ini atau melakukan shalat pada waktu kapan pun ia kehendaki, baik malam maupun siang.” (HR. Al Khamsah, dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

[Shahih: At Tirmidzi 868]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Jabir bin Muth’im adalah Abu Muhammad Jabir bin Muth’im bin Adi bin Naufal Al-Qurasyi An-Naufali, bergelar Abu Umayyah. Masuk Islam sebelum penaklukan Makkah, tinggal di Madinah dan wafat di sana pada tahun 57 atau 59 H. Ia adalah orang yang sangat memahami silsilah nasab Quraisy yang ia pelajari dari Abu Bakar.

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan bahwa thawaf maupun shalat di Ka’bah pada waktu kapan pun tidak dilarang, dan hal ini bertentangan dengan hadits yang lalu. Karena itu, jumhur ulama mengedepankan hadits yang lalu yang melarang shalat pada jam-jam tertentu dengan alasan bahwa hadits yang melarang tersebut terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari maupun Shahih Muslim dan kitab yang lainnya dengan begitu hadits itu lebih kuat.

Sedangkan As-Syafi’i berpegang kepada hadits ini yang memperbolehkan thawaf maupun shalat di Ka’bah pada waktu kapanpun. Mereka berargumen, “Hadits yang melarang telah dilemahkan dengan pengecualian bagi orang yang ketinggalan, orang yang lupa, orang yang ketiduran dan qadha” shalat sunnah, artinya hadits ini merupakan pengecualian untuk hadits yang lalu.”

Dan shalat sunnah apa pun dan kapan pun di Makkah tidak dilarang. Hal ini bukan khusus shalat sunnah thawaf saja, tetapi mencakup seluruh shalat sunnah. Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dalam Shahihnya.,

«يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ إنْ كَانَ لَكُمْ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ فَلَا أَعْرِفَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ يَمْنَعُ مَنْ يُصَلِّي عِنْدَ الْبَيْتِ أَيَّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ»

“Wahai Bani AbdulMuththalib, jika kalian memiliki urusan maka sesungguhnya aku tidak ingin tahu ada seseorang dari kalian melarang orang yang hendak mendirikan shalat di Ka’bah, pada waktu kapanpun, baik malam maupun siang hari.”

Di dalam An-Najm Al-Wahhaj disebutkan, jika diperbolehkan mendirikan shalat sunnah di Masjidil Haram, apakah diperbolehkan juga di semua tempat yang masuk wilayah tanah Haram Makkah?

Dalam masalah ini ada dua pendapat, namun yang lebih benar ialah diperbolehkan di seluruh wilayah Haram Makkah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *