[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 39

02.01. BAB WAKTU-WAKTU SHALAT 03

0150

150 – وَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أَصْبِحُوا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُورِكُمْ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ.

150. Dari Rafi’ bin Khudaij RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “tunggulah hingga tiba waktu pagi untuk melaksanakan shalat Shubuh, karena ia lebih besar untuk pahala-pahala kalian atau ia lebih besar pahalanya.” (HR. Al Khamsah, dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

[Shahih: At Tirmidzi 154]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Tunggulah hingga tiba waktu pagi untuk mendirikan shalat Subuh (pada riwayat lain disebutkan (أَسْفِرُوا ) -tunggulah hingga pagi bersinar- ) karena ia lebih besar untuk pahala-pahala kalian atau ia lebih besar pahalanya.” HR. lima perawi, dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban, sementara teks hadits ini adalah teks Abu Dawud.

Syarah Hadits

Berdasarkan hadits ini, madzhab Imam Hanafi menganjurkan untuk mengakhirkan shalat Subuh hingga pagi bersinar.

Tetapi pendapat ini dibantah dengan jawaban, bahwa selama itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mengerjakan shalat di saat pagi masih gelap yang didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Anas Radhiyallahu Anhu,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَسْفَرَ بِالصُّبْحِ مَرَّةً ثُمَّ كَانَتْ صَلَاتُهُ بَعْدُ بِغَلَسٍ حَتَّى مَاتَ»

“Bahwasanya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam suatu kali mengerjakan shalat Subuh saat pagi sudah bersinar, akan tetapi shalat beliau setelah itu selalu pada saat pagi masih gelap hingga beliau wafat.” [shahih: Abu Daud 394, dari Abu Mas’ud Al Anshari]

Hal ini mengisyaratkan bahwa lafazh ashbihu tidak dipakai dalam arti aslinya, yaitu agar menunggu hingga pagi bersinar.

Sehingga ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafazh ini adalah agar seseorang meyakinkan diri bahwa fajar telah terbit, dan bahwa lafazh A’zamu -lebih besar- di sini bukan untuk menunjukkan keutamaan.

Ada juga yang mengatakan bahwa maksud dari perintah ini adalah bahwa agar seseorang yang sedang mengerjakan shalat Subuh memanjangkan bacaannya, sehingga ketika ia selesai menunaikan shalat Subuh dalam keadaan pagi telah bersinar.

Ada juga yang mengatakan bahwa hadits ini digunakan pada waktu malam-malam berbulan yang mana kadang kedatangan fajar tidak begitu jelas, karena kedatangan fajar tersamarkan oleh cahaya bulan.

Bisa jadi beliau melakukannya sekali dikarenakan ada halangan, kemudian ia kembali melakukan kebalikannya -yakni ketika pagi masih gelap- selamanya, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits Anas Radhiyallahu Anhu.

Sedangkan upaya untuk membantah hadits yang memerintahkan untuk menunggu hingga pagi bersinar dengan hadits Aisyah Radhiyallahu Anha yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah,

«مَا صَلَّى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا الْآخَرِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ»

“Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukan shalat pada akhir waktunya hingga wafat.” [1]

Maka tidaklah tepat karena waktu bersinarnya pagi bukanlah akhir shalat Subuh, akan tetapi akhir waktu shalat Subuh adalah yang dijelaskan dalam hadits berikut ini.

_________________

[1] tidak ditemukan dalam kitab Ibnu Abi Syaibah, akan tetapi ia diriwayatkan oleh Al Hakim 1/302

0151

151 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ مِنْ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

151. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh, sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh, dan barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Ashar, sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.’ (Muttafaq alaih)

[Al Bukhari 579, Muslim 608 -ebook editor ; dalam catatan kaki penerbit Darus Sunnah dicantumkan At Tirmidzi 154, ini kekeliruan –ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Subuh, sebelum matahari terbit (kemudian orang tersebut mengerjakan rakaat keduanya setelah matahari terbit) maka ia telah mendapatkan shalat Subuh dan barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Ashar, sebelum matahari terbenam (yakni mengerjakan satu rakaat) maka ia telah mendapatkan shalat Ashar (walaupun ia mengerjakan tiga rakaat sisanya setelah matahari terbenam).”

Tafsir Hadits

Dari hadits ini kami memahami bahwa orang tersebut mengerjakan satu raka’at shalat Subuh setelah terbit matahari atau mengerjakan tiga raka’at shalat Ashar setelah matahari terbenam, karena para ulama telah berijma’ bahwa hadits tersebut tidak bermaksud menjelaskan bahwa barangsiapa yang mengerjakan satu rakaat saja maka ia seakan-akan telah mengerjakan shalat dengan sempurna.

Dalam masalah ini hadits Al-Baihaqi menyebutkan dengan jelas,

«مَنْ أَدْرَكَ مِنْ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ، وَرَكْعَةً بَعْدَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ»

“Barangsiapa mendapatkan atau mengerjakan satu raka’at dari shalat Subuh sebelum matahari terbit dan satu raka’at lagi setelah matahari terbit, maka ia telah mendapatkan atau mengerjakan shalat Subuh.” [Al Kubra 1/378]

Dalam riwayat lain disebutkan,

«مَنْ أَدْرَكَ فِي الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَلْيُصَلِّ إلَيْهَا أُخْرَى»

“Barangsiapa mendapatkan atau mengerjakan satu raka’at dari shalat Subuh sebelum matahari terbit, maka hendaklah ia menyempurnakan raka’at yang lainnya.” [Al Kubra 1/379]

Sedangkan hadits yang membicarakan shalat Ashar adalah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,

«مَنْ صَلَّى مِنْ الْعَصْرِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى مَا بَقِيَ بَعْدَ غُرُوبِهَا لَمْ يَفُتْهُ الْعَصْرُ»

“Barangsiapa mengerjakan satu raka’at dari shalat Ashar sebelum matahari terbenam, kemudian ia mengerjakan raka’at yang lainnya setelah matahari terbenam maka ia telah mendapatkan atau mengerjakan shalat Ashar.”

Ungkapan mendapatkan atau mengerjakan satu raka’at, yang dimaksud ialah melakukan semua rukunnya yang terdiri dari membaca surat Al-Fatihah lalu menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Zhahir hadits ini menjelaskan bahwa orang yang melakukannya dianggap telah menunaikan shalat Ashar pada waktunya atau Adaa’, dan bahwasanya raka’at yang dilakukan sebelum waktunya habis menarik raka’at yang dilakukan setelah waktunya habis, hal ini merupakan kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan bisa disimpulkan bahwa yang tidak bisa menyempurnakan satu raka’at sebelum waktunya habis, maka ia dianggap tidak melakukan shalat tersebut pada waktunya, namun ada hadits yang menyebutkan:

0152

152 – وَلِمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – نَحْوُهُ، وَقَالَ: ” سَجْدَةً ” بَدَلَ ” رَكْعَةً “. ثُمَّ قَالَ: «وَالسَّجْدَةُ إنَّمَا هِيَ الرَّكْعَةُ»

152. Dari riwayat Muslim melalui Aisyah RA menyebutkan hadits serupa itu juga, beliau bersabda, “Satu sujud” sebagai ganti “satu rakaat”. kemudian ia berkata, “Sesungguhnya satu sujud itu ialah satu rakaat.”

[Muslim: 609]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Satu sujud” sebagai ganti “satu rakaat”(hal ini jelas menyebutkan bahwa seseorang yang mendapatkan atau mengerjakan satu sujud maka ia telah mengerjakan shalat pada waktunya, akan tetapi hadits itu diteruskan) Kemudian ia berkata (yakni perawi hadits, bisa juga yang berkata di sini ialah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) Sesungguhnya satu sujud itu ialah satu rakaat (hal ini memperjelas makna bahwa yang dimaksud dengan satu sujud bukan berarti satu sujud begitu saja, karena tambahan ini adalah tafsir atau penjelasan dari potongan hadits di atas, jika benar tambahan ini berasal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan seandainya ia berasal dari perawi hadits, maka sesungguhnya ia lebih memahami apa yang ia riwayatkan dari pada kita).

Al-Khathabi berkata, “Yang dimaksud satu sujud di sini ialah satu rakaat lengkap dengan ruku’ dan sujudnya, karena dalam mengerjakan satu rakaat pasti diakhiri dengan satu sujud, maka dengan begitu satu rakaat bisa disebut satu sujud.”

Tafsir Hadits

Andaikan hadits di atas dipahami begitu adanya, yakni seseorang yang mengerjakan satu sujud dari dua sujud dalam satu raka’at dianggap telah berhasil mendapatkan kesempatan menunaikan shalat tepat waktunya, maka hal ini pun akan dipatahkan dengan kenyataan bahwa banyaknya hadits yang menyebutkan satu raka’at bukan satu sujud. Sehingga hadits yang menyebutkan satu sujud diartikan satu raka’at, dengan begitu hadits yang menyebutkan satu raka’at tidak terbantahkan oleh hadits apapun.

Bisa juga dipahami bahwa seseorang yang mendapatkan satu sujud pada waktunya, maka ia telah mengerjakan shalat tersebut pada waktunya, sebagaimana orang yang mendapatkan satu raka’at, dan keduanya tidak saling mematahkan, karena inti hadits ‘yang mendapatkan satu raka’at’ lain dari hadits “yang mendapatkan satu sujud.” Itu artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemurahan kepada orang-orang yang mendapatkan satu sujud dianggap telah mengerjakan shalat pada waktunya, sebagaimana orang yang mendapatkan satu raka’at. Bisa jadi pemberitahuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa orang yang mendapatkan satu raka’at dianggap telah mengerjakan shalat pada waktunya sebelum memberitahukan bahwa orang yang mendapatkan satu sujud dianggap telah mengerjakan pada waktunya, karena satu raka’at tentunya lebih sempurna dari pada satu sujud.

Sedangkan ungkapan yang mengatakan, “Sesungguhnya satu sujud itu ialah satu raka’at” bisa jadi ia adalah ucapan perawi, dengan begitu ia tidak bisa dijadikan dalil, walaupun di sana ada ungkapan, “penafsiran perawi lebih utama” itu memang secara umum, tetapi perlu diingat bahwa ada hadits yang menyebutkan,

«فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ»

“Berapa banyak orang yang menerima berita lebih paham dari pada yang membawa berita.” [shahih: At Tirmidzi 2657]

Dan dalam riwayat lain menyebutkan, “Afqahu” lebih paham dari sisi fikih, sehingga kita temui beberapa orang yang lebih paham fikih dari pada para pendahulu.

Zhahir hadits menjelaskan bahwa seseorang yang mendapatkan satu raka’at shalat Subuh sebelum matahari terbit atau satu raka’at shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka shalatnya di saat matahari terbit maupun terbenam bukanlah perbuatan makruh, akan tetapi hukum makruh berkenaan orang yang mengerjakan shalat sunnah di saat itu. Sebagaimana yang dijelaskan di hadits berikut.

0153

153 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «لَا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلَفْظُ مُسْلِمٍ: «لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ»

153. Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada shalat setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.” (Muttafaq alaih) dan dalam riwayat Muslim disebutkan, “Tidak ada shalat setelah shalat Fajar.”

[Al Bukhari 586, Muslim 827]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Tidak ada shalat (yakni shalat nafilah atau sunnah) setelah shalat Subuh (yakni setelah shalat Subuh atau setelah lewat waktu shalat Subuh) hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar (yakni setelah shalat Ashar atau setelah lewat waktu shalat Ashar) hingga matahari terbenam” (Muttafaq Alaih), Dan dalam riwayat Muslim disebutkan, “Tidak ada shalat setelah shalat Fajar.”

Tafsir Hadits

Riwayat ini menerangkan dengan jelas maksud dari hadits di atas, karena hadits di atas bisa dipahami seperti apa yang kami jelaskan, begitu pula dengan shalat Ashar, ada hadits serupa yang diriwayatkan oleh Ibnu Atsir, dan beliau menisbahkannya kepada Al-Bukhah dan Muslim, hadits tersebut ialah,

«لَا صَلَاةَ بَعْدَ الْعَصْرِ»

“Tidak ada shalat setelah shalat Ashar.”

Riwayat lain menyebutkan,

«لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ إلَّا رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ»

‘Tidak ada shalat setelah fajar terbit kecuali dua rakaat shalat Fajar.”

Larangan ini ditujukan untuk shalat setelah mengerjakan shalat fajar dan setelah mengerjakan shalat Ashar. Akan tetapi, setelah terbit fajar tidak diperkenankan mengerjakan shalat, kecuali shalat sunnah fajar saja.

Akan halnya setelah masuk waktu shalat Ashar, maka zhahir hadits mengisyaratkan diperbolehkannya mengerjakan shalat sunnah sebanyak-banyaknya selama belum mengerjakan shalat Ashar. Larangan ini hanya berkenaan dengan shalat dalam arti terminologi saja, -karena shalat berarti doa juga-, inilah yang dimaksudkan oleh larangan di atas.

Makna asli dari larangan adalah pengharaman, dengan begitu bisa dipahami bahwa shalat sunnah apa pun tidak diperbolehkan pada dua kesempatan ini.

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa shalat-shalat sunnah yang memiliki sebab ia tetap diperbolehkan sementara itu shalat-shalat sunnah tanpa sebab dilarang, maka pendapat ini telah kami jelaskan bahwasanya ia tidak memiliki dalil apa pun, sebagaimana yang kami jelaskan di dalam Syarh Al-Umdah.

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat dua rakaat setelah shalat Ashar di rumahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu Anha,

«مَا تَرَكَ السَّجْدَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ عِنْدِي قَطُّ»

“Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan dua rakaat setelah Ashar di rumahku.”

Atau dalam riwayat lain,

لَمْ يَكُنْ يَدَعْهُمَا سِرًّا وَلَا عَلَانِيَةً

“Beliau tidak pernah meninggalkannya baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.” [Al Bukhari 593, Muslim 835]

Maka komentar saya ialah bahwasanya shalat yang beliau kerjakan tersebut adalah shalat Qadha’untuk sunnah Zhuhur yang ketinggalan yang hal itu berkelanjutan, karena biasanya jika beliau mengerjakan satu pekerjaan beliau akan membiasakan atau melakukannya secara konsisten. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa mengerjakan qadha’ shalat sunnah yang ketinggalan pada waktu-waktu makruh diperbolehkan, dan itu merupakan kekhususan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Dawud dari Aisyah Radhiyallahu Anhu,

«أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْعَصْرِ وَيَنْهَى عَنْهَا، وَكَانَ يُوَاصِلُ وَيَنْهَى عَنْ الْوِصَالِ»

“Bahwasanya beliau mengerjakan shalat setelah shalat Ashar akan tetapi beliau melarang perbuatan tersebut, dan beliau melakukan puasa wishal padahal beliau melarang perbuatan tersebut.” [Dhaif: Abu Daud 1280]

Ada pendapat yang mengatakan bahwa melakukan shalat nafilah (shalat sunnah) setelah shalat Subuh maupun shalat Ashar diperbolehkan berdasarkan perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits di atas, juga berdasarkan persetujuan beliau atas orang yang melakukan shalat sunnah fajar setelah mengerjakan shalat Fajar -Subuh-.

Ada yang menjawab pendapat di atas dengan argumen sebagai berikut: Kedua argumen yang digunakan di atas adalah argumen dibolehkannya mengerjakan qadha’ shalat nafilah pada waktu-waktu yang dimakruhkan mengerjakan shalat, bukannya argumen atas bolehnya mengerjakan shalat nafilah apa saja. Karena dalil yang lebih khusus tidak bisa secara langsung menganulir dalil yang umum begitu saja, akan tetapi ia hanya mengkhususkan atau mempersempitnya saja, dalam masalah ini yang terjadi ialah mempersempit dalil qauli -atau perkataan dengan dalil fi’li atau perbuatan.

Walaupun di sini akan kami sebutkan satu hadits yang menjelaskan bahwa barangsiapa ketinggalan shalat nafilah Zhuhur, maka hendaklah ia tidak mengqadha’nya. setelah shalat Ashar, ditambah lagi ada kaidah yang mengatakan jika perkataan -dalam hadits- berlawanan dengan perbuatan maka perkataan lebih diutamakan.

Dengan begitu maka pendapat yang benar ialah, bahwa shalat sunnah diharamkan pada dua waktu ini, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits berikut bahwa diharamkan shalat pada tiga waktu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *