[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 38

02.01. BAB WAKTU-WAKTU SHALAT 02

0144

144 – وَعَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي الْعَصْرَ، ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إلَى رَحْلِهِ فِي أَقْصَى الْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ، وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ الْعِشَاءِ، وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا، وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ، وَكَانَ يَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إلَى الْمِائَةِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

144. Dari Abu Barzah Al Aslami, bahwasanya Rasulullah SAW menunaikan shalat ashar, kemudian salah seorang dari kami pulang ke tempat tinggalnya di ujung Madinah pada saat matahari masih terik, dan bahwasanya beliau SAW suka mengakhirkan shalat Isya, beliau tidak menyukai tidur sebelum shalat Isya, tidak menyukai perbincangan setelah shalat Isya, beliau membalik tubuhnya setelah menunaikan shalat Shubuh saat seseorang bisa mengenali teman duduknya, dan beliau membaca antara enam puluh hingga seratus ayat.” (Muttafaq alaih)

[Al Bukhari 547, Muslim 647]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Barzah, nama aslinya Nadhlah bin ‘Ubaid al-Aslami dan ada yang menyebutnya Ibnu Abdillah, beliau masuk Islam pada periode awal, ikut serta dalam peristiwa pembukaan Makkah, selalu menyertai peperangan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga beliau wafat, setelah Rasulullah wafat beliau tinggal di Bashrah lalu ikut berperang ke Khurasan dan akhirnya beliau wafat di Marwa -ada yang mengatakan bahwa beliau wafat bukan di Marwa- pada tahun 60 H.

Penjelasan Kalimat

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunaikan shalat Ashar, kemudian salah seorang dari kami pulang (setelah selesai menunaikan shalat) ke tempat tinggalnya di ujung Madinah. Pada saat matahari masih terik (yakni saat ia tiba di rumahnya, matahari masih terik, berwarna putih dan sinarnya masih menyengat kuat) dan bahwasanya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam suka mengakhirkan shalat Isya’ (akan tetapi tidak dijelaskan sampai jam berapa beliau mengakhirkannya, seakan-akan beliau’ tidak ingin memberi batasan, namun ada hadits-hadits lain yang menjelaskan masalah tersebut) dan beliau tidak menyukai tidur sebelum shalat Isya’ (agar tidak kelewatan dari waktu yang beliau pilih) dan tidak menyukai perbincangan setelah shalat Isya’ (yakni tidak menyukai obrolan bersama orang-orang, dengan harapan bisa segera tidur setelah mendapat pengampunan dosa, yaitu saat beliau menunaikan shalat Isya’ tersebut, sehingga ia menjadi penutup amal perbuatan hari itu dan agar bisa bangun malam tanpa disibukkan oleh obrolan malam. Namun ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah begadang bersama Abu Bakar Radhiyallahu Anhu membicarakan urusan kaum muslimin) dan beliau membalik tubuhnya (yakni menengok ke arah orang-orang yang berada di belakangnya atau keluar) setelah menunaikan shalat Subuh (yakni shalat Fajar) saat seseorang bisa mengenali teman duduknya (karena terangnya cahaya fajar, hal ini dikarenakan pada masa itu masjid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mempunyai penerangan. Pada sisi lain, hadits ini mengisyaratkan bahwa saat mereka memasuki masjid mereka tidak bisa mengenali teman duduk mereka. Secara tidak langsung hadits ini menjadi dalil dianjurkannya bersegera untuk menunaikan shalat Subuh saat keadaan masih gelap) dan beliau membaca antara enam puluh hingga seratus ayat (yaitu jika beliau ingin menyingkat shalat Subuhnya beliau membaca enam puluh ayat dan jika ingin memanjangkan shalatnya beliau membaca seratus ayat).”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan waktu-waktu shalat Ashar, Isya’ dan Subuh tanpa menyebutkan batasannya, yang mana hal tersebut telah dibahas secara jelas dan tuntas dalam hadits sebelumnya.

0145

145 – وَعِنْدَهُمَا مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: «وَالْعِشَاءُ أَحْيَانًا يُقَدِّمُهَا، وَأَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا: إذَا رَآهُمْ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ، وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ، وَالصُّبْحُ؛ كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ»

145. Dari mereka berdua –Al Bukhari dan Muslim- dari hadits Jabir RA, ‘Shalat Isya kadang beliau segerakan dan kadang beliau akhirkan, jika beliau lihat para shahabat telah berkumpul maka beliau menyegerakannya dan jika beliau melihat mereka terlambat maka beliau mengakhirkannya, sedangkan shalat Shubuh, Rasulullah SAW menunaikannya saat malam masih gelap.”

[Al Bukhari 565, Muslim 646]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Shalat isya’ kadang beliau segerakan (pada awal waktunya) dan kadang beliau akhirkan (dari awal waktunya, yang kemudian diperjelas) jika beliau lihat para sahabat telah berkumpul, maka beliau menyegerakannya dan jika beliau melihat mereka terlambat (dari awal waktunya) maka beliau mengakhirkannya (menunggu yang belum hadir. Dan dalam satu riwayat dijelaskan bahwa andai tidak takut memberatkan para shahabat pastilah beliau mengakhirkan shalat Isya’) sedangkan shalat Subuh, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunaikannya saat malam masih gelap (kegelapan di sini adalah kegelapan ujung malam, sebagaimana yang dijelaskan di dalam al-Qamus, yakni permulaan fajar, yang hal ini bertentangan dengan apa yang dimuat dalam hadits Rafi’ bin Khudaij).

0146

146 – وَلِمُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: «فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ، وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا»

146. Dalam riwayat Muslim dari hadits Abu Musa RA, “Maka beliau menunaikan shalat Shubuh ketika fajar tiba di saat orang-orang hampir-hampir tidak saling mengenali seorang dengan yang lainnya.”

[Muslim 614]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim sendirian, dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu.

0147

147 – وَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كُنَّا نُصَلِّي الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَيَنْصَرِفُ أَحَدُنَا وَإِنَّهُ لَيُبْصِرُ مَوَاقِعَ نَبْلِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

147. Dari Rafi’ bin Khudaij RA, beliau berkata, ‘Kami menunaikan shalat Maghrib bersama Rasulullah SAW, kemudian salah seorang dari kami keluar di saat ia masih bisa melihat tempat jatuh anak panahnya.”

[Al Bukhari 559, Muslim 637]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Rafi’ bin Khudaij Radhiyallahu Anhu adalah Abu Abdullah atau Abu Khudaij Al-Khazraji Al-Anshari Al-Ausi, seorang penduduk Madinah. Beliau tidak ikut serta pada perang Badar karena saat itu ia masih kecil, beliau ikut serta pada perang Uhud dan peperangan-peperangan setelahnya. Beliau terkena satu panah pada saat perang Uhud, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Saya akan menjadi saksi untukmu pada hari kiamat.” Beliau hidup hingga masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, kemudian luka-lukanya kambuh sehingga beliau wafat pada tahun 73 H atau 74 H dalam usia 86 tahun. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau wafat pada masa Yazid bin Muawiyah.

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi dalil atas anjuran untuk bersegera menunaikan shalat Maghrib sebagaimana yang diilustrasikan di dalam hadits tersebut bahwa mereka keluar dari masjid dalam keadaan cahaya siang masih tersisa, di samping ada banyak anjuran untuk hal tersebut.

0148

148 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «أَعْتَمَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَاتَ لَيْلَةٍ بِالْعِشَاءِ، حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ، ثُمَّ خَرَجَ، فَصَلَّى، وَقَالَ: إنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

148. Dari Aisyah RA bahwasanya suatu malam Rasulullah SAW mengakhirkan shalat Isya, hingga sebagian malam telah berlalu, kemudian beliau keluar seraya menunaikannya, lalu bersabda, “Sungguh saat inilah waktunya, seandainya tidak memberatkan umatku.”(HR. Muslim)

[Muslim: 638]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengakhirkan (yaitu memasuki sepertiga malam yang pertama setelah hilangnya mega merah di langit, demikian yang disebutkan di dalam al-Qamus) suatu malam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengakhirkan shalat Isya’ (mengundurnya) hingga sebagian malam telah berlalu (bukan sebagian besar dari malam) kemudian beliau keluar seraya menunaikannya, lalu bersabda, ‘Sungguh saat inilah waktunya (waktu yang paling baik dan paling utama) seandainya tidak memberatkan umatku (pastilah aku mengakhirkannya sampai jam ini).”

Tafsif Hadits

Hadits menunjukkan bahwa waktu shalat Isya’ terhitung lapang, dan waktu yang paling utama ialah di saat akhir waktunya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih memperhatikan keringanan untuk umatnya sehingga terpaksa harus meninggalkan waktu yang utama tersebut, hal ini berlawanan dengan kondisi shalat Maghrib, yang mana waktu’ paling utamanya adalah di awal waktunya, begitu pula dengan shalat-shalat yang lainnya kecuali shalat Zhuhur pada musim panas, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits yang akan datang ini.

0149

149 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

149. Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika keadaan sangat panas, maka tunggulah saat dingin –teduh- untuk shalat, karena panas yang sangat menyengat adalah dari hembusan neraka Jahannam.” (Muttafaq alaih)

[Al Bukhari 536, Muslim 613]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika keadaan sangat panas maka tunggulah saat dingin -teduh- untuk shalat (yakni shalat Zhuhur) karena panas yang sangat menyengat adalah dari hembusan neraka Jahannam (yakni karena luasnya penyebaran panas dan hembusannya).”

Lafazh abrada yaitu jika seseorang memasuki saat dingin atau teduh, sebagaimana lafazh Azhhara yaitu jika seseorang memasuki saat Zhuhur, keduanya menjelaskan tentang waktu, dengan kaidah serupa berlaku pada lafazh Anjada bila seseorang memasuki wilayah Najd atau athama jika seseorang memasuki wilayah Tihamah, hanya saja bedanya bahwa lafazh kedua yang terakhir ini berkenaan dengan tempat.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil atas wajibnya menunggu saat dingin pada waktu keadaan sangat panas sekali, untuk melakukan shalat Zhuhur, karena kalimat perintah pada dasarnya bermakna wajib, tetapi jumhur ulama mengatakan bahwa perintah ini berarti mustahab —disukai-.

Kemudian hadits ini bersifat umum mencakup orang yang mengerjakan shalat sendirian atau berjamaah, baik di negara bersuhu panas maupun sebaliknya, dan di sana masih ada beberapa pendapat dalam masalah ini.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa menunggu saat dingin adalah sunnah, akan tetapi bersegera menunaikan shalat adalah lebih utama, berdasarkan dalil-dalil yang menyebutkan keutamaan mengerjakan shalat di awal waktu.

Atas pendapat ini saya berkomentar, “Dalil-dalil mengenai keutamaan mengerjakan shalat pada awal waktu bersifat umum kemudian dikhususkan dengan pengecualian untuk perkara menunggu udara dingin (teduh) pada shalat Zhuhur ini.”

Hadits ini ditentang oleh hadits Khabbab Radhiyallahu Anhu,

«شَكَوْنَا إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَرَّ الرَّمْضَاءِ فِي جِبَاهِنَا وَأَكُفِّنَا فَلَمْ يُشْكِنَا»

“Kami mengeluh kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengenai panasnya pasir yang memanas, pada kening dan telapak tangan kami —waktu shalat- akan tetapi beliau tidak menghiraukan keluhan kami. Maksudnya, apa yang kami keluhkan masih kami rasakan.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim). [Muslim 619]

Kami memiliki banyak komentar untuk hadits ini, akan tetapi yang paling bagus ialah bahwa apa yang mereka keluhkan adalah panasnya pasir yang tentunya hal itu tidak akan hilang kecuali di akhir waktu shalat Zhuhur atau setelah habis waktunya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu A.laihi wa Sallam bersabda,

«صَلُّوا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا»

“Shalatlah setiap shalat pada waktunya.'”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, hal ini menunjukkan bahwa saat itu mereka ingin agar mereka menunggu saat dingin yang melebihi batasnya, dengan begitu hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang memerintahkan untuk menunggu saat dingin atau teduh di atas.

Alasan untuk menunggu saat dingin karena suhu yang panas adalah berasal dari hembusan neraka Jahannam, maksudnya adalah bahwa suhu yang sangat panas akan menghilangkan kekhusyu’an, padahal khusyu’ adalah jiwa dari shalat dan sesuatu yang keberadaannya sangat diharapkan dari shalat tersebut.

Jika demikian hal yang mendasari perintah tersebut maka perintah ini tidak berlaku pada negara-negara bersuhu dingin. Dalam al-Qabas Ibnu Abdul Barr mengatakan, “Proses menunggu saat dingin di sini tidak ada batasan tertentu, kecuali dari apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa’i dan Al-Hakim melalui Al-Aswad, ia berkata, “Masa itu panjang bayangan saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat Zhuhur di musim panas ialah tiga hingga lima kaki, dan pada musim dingin antara lima hingga tujuh kaki.” Hal ini di sebutkan di dalam Al-Talkhiish, akan tetapi dalam Al-Yawaaqiit dijelaskan bahwa hadits ini tidak bisa dipakai sebagai dalil.

Anda telah memahami bahwa hadits yang memerintahkan untuk menunggu saat dingin, menjadi pengecualian atas hadits yang menerangkan keutamaan shalat Zhuhur pada awal waktunya, khususnya pada musim-musim panas, sebagaimana ada yang mengatakan juga bahwa ada hadits yang menjadi pengecualian dalam masalah shalat Subuh yaitu hadits berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *