[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 379

10. KITAB RUJUK – 10.06. BAB PENGASUHAN ANAK 03

1070

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ، فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهُ فَلْيُنَاوِلْهُ لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

1070. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila pelayan salah seorang di antara kamu datang membawa makanannya, maka jika ia tidak diajak duduk bersamanya, hendaklah diambilkan sesuap atau dua suap untuknya.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 2557 dan Muslim 1663]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Lafazh khadim (pelayan) bisa laki-laki atau perempuan, lebih umum daripada ia seorang budak atau merdeka, maksudnya dalam hadits ini apabila si khadim orang yang merdeka, jika ia seorang wanita, sedangkan yang akan dilayani laki-laki; maka harus dibarengi dengan mahramnya, demikian juga sebaliknya.

Zhahirnya perintah ini wajib hukumnya, dan ia mengambil maka- nan apa saja yang ia sukai, hadits ini menerangkan juga hadits yang memerintahkan majikan untuk memberikan makanan seperti yang ia makan, namun tidak berarti makan bersama-sama dan tidak pula langsung mengenyangkannya, akan tetapi hanya sebatas ia merasakan juga walaupun hanya satu atau dua suap.

Ibnu Al-Mundzir menukilkan pendapat dari para ulama: yang wajib adalah memberikan makanan yang biasa dimakan oleh penduduk yang tinggal di tempat tersebut, baik lauk-pauknya maupun pakaian yang dikenakan, sang majikan seharusnya memberikan mutu yang lebih dari umumnya, walaupun yang terutama itu menikmati seperti yang dinikmati oleh majikannya, kelanjutan hadits “Ia sudah memasak (makanan yang dihidangkan) dan mencium aroma masakan tersebut” menunjukkan bahwa khadim (pelayan) tugasnya adalah menjadi juru masak, maka berhubungan dengan makanan, maka yang bertugas menghidangkan makanan juga termasuk dalam pengertian hadits tersebut, karena keterikatannya dengan hal tersebut.

1071

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ، سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ النَّارَ فِيهَا، لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا إذْ هِيَ حَبَسَتْهَا، وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

1071. Dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang perempuan disiksa karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati, lalu ia masuk neraka. Ia tidak memberinya makan dan minum padahal ia mengurungnya. Ia tidak melepaskannya agar makan binatang serangga.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (3318) dan Muslim (904)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Penulis berkata, “Saya tidak mengetahui nama wanita tersebut. Menurut riwayat: ia bernama Humairiyyah, menurut riwayat lainnya, ia berasal dari bani Israel. Hirrah adalah kucing betina dan kucing jantan. Khasyasy adalah serangga yang biasa tinggal di tanah.

Tafsir Hadits

Hadits merupakan dalil yang mengharamkan membunuh kucing, karena perbuatan yang pelaku mendapatkan azab menunjukkan perbuatan haram yang harus dihindari, namun mungkin juga karena si wanita orang kafir, sehingga diazab karena ia kafir ditambah lagi perbuatan tersebut. An-Nawawi berkata, “Wanita itu seorang muslimah, dan masuk neraka karena perbuatannya tersebut.”

Abu Nu’aim menyebutkan dalam kitab Tarikh Ashbahan: wanita itu orang kafir, diriwayatkan Al-Baihaqi dalam kitab Al-Ba’ts waAn-Nusyur dari Aisyah yang menyebutkan ia mendapatkan azab karena kafir atau perbuatan haramnya.

Ad-Dumairi menyebutkan dalam kitab Syarh Al-Minhaj: yang benar adalah boleh membunuh kucing, jika menyerang dan bukan seperti yang disebutkan dalam hadits, Al-Qadhi membolehkan membunuhnya walaupun ia tidak menyerang, karena dianggap termasuk lima binatang kotor (harus dibunuh).

Hadits ini juga menunjukkan bolehnya memelihara kucing, atau mengikatnya, jika diberi makan dan minum.

Pendapatku, hadits ini tidak mewajibkan memberi makan kepada kucing, akan tetapi yang wajib adalah membebaskannya mencari makan sendiri.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *