[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 378

10. KITAB RUJUK – 10.06. BAB PENGASUHAN ANAK 02

1068

وَعَنْ «رَافِعِ بْنِ سِنَانٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ أَسْلَمَ، وَأَبَتْ امْرَأَتُهُ أَنْ تُسْلِمَ فَأَقْعَدَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْأُمَّ نَاحِيَةً وَالْأَبَ نَاحِيَةً، وَأَقْعَدَ الصَّبِيَّ بَيْنَهُمَا فَمَالَ إلَى أُمِّهِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ اهْدِهِ فَمَالَ إلَى أَبِيهِ فَأَخَذَهُ» . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

1068. Darz Rafi’ bin Sinan Radhiyallahu Anhu bahwa ia masuk Islam namun isterinya menolak masuk Islam. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendudukkan sang ibu di sebuah sudut, sang ayah di sebuah sudut lainnya, dan sang anak beliau dudukkan di antara keduanya. Lalu anak itu cenderung mengikuti ibunya. Maka beliau berdoa: Ya Allah, berilah ia hidayah. Kemudian ia cenderung mengikuti ayahnya, lalu ia mengambilnya. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i. Hadits shahih menurut Al-Hakim)

[Shahih: Abi Dawud (2244)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ibnu Al-Mundzir berkata, “Hadits ini tidak ditetapkan pakar hadits, sanadnya rawinya diperbincangkan para pakar hadits, karena dari riwayat Abdul Hamid bin Ja’far bin Rafi’, ia dinilai dha’if oleh Ats-Tsauri dan Ibnu Yahya bin Ma’in.

Ulama berbeda pendapat tentang jenis kelamin si anak. Ada yang berpendapat: Ia adalah perempuan. Ada yang berpendapat: Ia adalah laki-laki. Hadits ini tidak menyebutkanbahwa si anak diberikan hak pilih, karena zhahirnya si anak belum mencapai usia yang memungkinkannya untuk bisa memilih, melainkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendudukkannya di antara keduanya, lalu mendoakannya agar diberi hidayah oleh Allah; maka ia memilih bapak berkat doa dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan hadits ini bukan merupakan dalil pemberian hak pilih.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menetapkan hak asuh atas ibu yang kafir, walaupun anaknya seorang muslim; sebab jika tidak, tentu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak akan mendudukkannya di antara keduanya.

Itulah pendapat para pakar logika dan Ats-Tsauri. Jumhur ulama berpendapat bahwa ibu yang kafir tidak berhak mengasuh anaknya, mereka berkata: karena seorang pengasuh bertanggung jawab memberikan pendidikan agama pada anaknya, dan Allah Ta’ala menggugurkan perwalian antara orang kafir dan muslim dan hanya menjadikan perwalian di antara kaum muslim saja.

Firman Allah Ta’ala,

{وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا}

‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa’: 141), dan pengasuhan itu harus memperhatikan kemashlahatan bagi si anak seperti yang telah kamu ketahui, dan hadits Rafi’ sudah kamu ketahui tidak bisa dijadikan dalil. Seandainya hadits ini shahih, akan tetapi mansukh dengan ayat Al-Qur’an tersebut, lalu bagaimana menetapkan pengasuhan kepada ibu yang kafir umpamanya. Jumhur ulama, Al- Hadawiyyah, pengikut Ahmad dan Asy-Syafi’i mensyaratkan ‘adalah (prilaku yang baik) bagi ibu yang mengasuh dan tidak berhak bagi ibu yang fasik.

Walaupun syarat itu sangat berat, seandainya itu syarat mutlak dalam mengasuh; berapa banyak anak yang tidak akan diasuh oleh ibunya. Sudah maklum, sejak diutus Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam smpai hari kiamat kelak, bahwa orangtua fasik mengasuh anak-anak mereka, tidak ada seorang pun yang memprotes hal tersebut walaupun mereka banyak, dan tidak diketahui bahwa ada seorang yang merebut anak dari kedua orangtuanya karena kefasikan keduanya; maka syarat tersebut adalah batil, karena tidak ada yang mengamalkan. Memang disyaratkan bahwa Ibu pengasuh harus berakal, baligh; maka tidak boleh pengasuhan anak itu diserahkan kepada orang gila, lemah akal dan orang yang masih anak-anak; karena sebetulnya mereka sendiri membutuhkan pengasuhan dari lainnya.

Al-Hadawiyyah dan Ats-Tsalatsah (imam yang tiga) mensyaratkan si pengasuh harus merdeka, mereka berkata, “Karena budak tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, bagaimana ia bisa mengasuh yang lainnya, karena pengasuh itu adalah kekuasaan untuk berbuat demi kebaikan si anak.”

Malik berpendapat tentang laki-laki merdeka mempunyai anak dari budak wanita: bahwa ibunya lebih berhak mengasuhnya selama belum dijual, jika ia; maka bapaknya lebih berhak mengasuhnya berdasarkan keumuman hadits,

«لَا تُوَلَّهُ وَالِدَةٌ عَنْ وَلَدِهَا»

“Jangan dipisah anak dari ibunya” [dha’if, Dha’if Al-Jami’ (6280)]

dan hadits

«مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ وَالِدَةٍ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Siapa yang memisahkan ibu dari anaknya, maka Allah akan memisahkan dari orang yang dicintai pada hari kiamat.”[shahih, Shahih Al-Jami’ (6412)]

Hadits pertama diriwayatkan Al-Baihaqi dari hadits Abi Bakr, dan dinggap hasan menurut As-Suyuthi.

Hadits yang kedua, diriwayatkan Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari hadits Abi Ayyub. Hadits shahih menurut Al-Hakim, ia berkomentar, “Walaupun manfaat yang dikerjakan semuanya diperuntukkan bagi majikannya, namun hak mengasuh anak adalah pengecualiannya, walaupun semua waktu dihabiskan untuk mengasuh dan beribadah kepada Allah.”

1069

وَعَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَضَى فِي ابْنَةِ حَمْزَةَ لِخَالَتِهَا، وَقَالَ: الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ» . أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ – وَأَخْرَجَهُ أَحْمَدُ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، فَقَالَ: «وَالْجَارِيَةُ عِنْدَ خَالَتِهَا، وَأَنَّ الْخَالَةَ وَالِدَةٌ»

1069. Dari Al-Bara’ bin Azib bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan puteri Hamzah agar dipelihara saudara perempuan ibunya. Beliau bersabda, “Saudara perempuan ibu (bibi) kedudukannya sama dengan ibu.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al-Bukhari (2699)]

Ahmad juga meriwayatkan dari hadits Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Anak perempuan itu dipelihara oleh saudara perempuan ibunya karena sesungguhnya ia adalah ibunya.” [Shahih: Al-Irwa’ 2190]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menetapkan hak mengasuh kepada saudara perempuan ibu (bibi), kedudukannya sama dengan ibu, maknanya juga bahwa saudara perempuan lebih utama daripada bapak dan nenek dari ibu, namun ijma’ ulama mengecualikan tentang hal itu.

Zhahirnya, bahwa saudara perempuan ibu lebih utama daripada yang laki-laki, karena Ashabah laki-laki saat itu ada, mereka meminta agar mengasuh seperti yang terdapat dalam kisah: Ali, Ja’far dan Zaid Ibnu Haritsah berselisih pendapat tentang anak itu sebagaimana dalam kisah dahulu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan hak asuhnya kepada saudara perempuan ibu dan berkata, “Saudara perempuan ibu, kedudukannya sama dengan ibu.” Ada kisah tentang hal itu yang diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan hak asuhnya kepada Ja’far, maka keputusan itu menyulitkan; karena ia bukan Mahram bagi si puteri Hamzah, dan Ali juga Radhiyallahu Anhu kekerabatannya sama dengan si puteri Hamzah. Keputusannya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan hak asuhnya kepada isteri Ja’far yang merupakan saudara perempuan ibu yang tidak lain adalah isteri Ja’far yang menj adi tanggungannya.

Akan tetapi, karena yang menuntut Ja’far ketika ia berkata dalam perbedaan pendapat dengan yang lainnya, “Puteri pamanku (saudara bapak) dan saudara perempuan ibu berada dalam tanggunganku.” Maksudnya, hak asuhnya adalah isteriku karena zhahirnya dia yang menuntut. Nabi bersabda, “Saudara perempuan ibu, kedudukannya sama dengan ibu”menegaskan bahwa hak asuhnya diberikan kepada saudara perempuan ibu, yaitu isteri Ja’far;-karena Ja’far yang menuntut. Apabila demikian, tentu tidak ada permasalahan, hanya saja yang dipermasalahkan kedua kali adalah bahwa saudara perempuan ibu itu bersuami, dan ia tidak hak lagi untuk mengasuh berdasarkan hadits, “Kamu (ibu) lebih berhak mengasuhnya selama belum menikah lagi.”

Jawaban atas hal itu, bahwa yang benar bagi yang sudah menikah lagi adalah mengurusi suami, dan hak asuhnya gugur; karena ia sibuk memenuhi hak dan melayaninya. Apabila si suami ridha’, kalau isterinya mengasuh siapa yang berhak diasuh, dan juga senang ketika isterinya mengasuh; maka hal itu tidak menggugurkan hak asuhnya terhadap anak tersebut. Kisah dalam hadits ini merupakan dalil dalam memutuskan hukum itu, inilah madzhab Al-Hasan, Imam Yahya, Ibnu Hazm dan Ibnu Jarir; karena menikah lagi bagi seorang wanita hanya menggugurkan haknya mengasuh, sebab bapaknya (suaminya) memprotes karena sebagian hak-haknya terabaikan.

Sedangkan hak asuhnya tidak gugur karena ia menikah, atau hak statusnya sebagai seorang ibu apalagiyang memprotes bukanbapak (suaminya) diperkuat lagi sebagaimana yang telah kamu ketahui, bahwa seorang wanita yang dicerai sangat membenci suaminya dan semua yang masih hubungan dengannya, kalau ia akan mengabaikan anaknya; dengan niat agar suaminya (mantan) marah kepadanya, sebaliknya ia akan menunjukkan sikap sayang kepada suaminya yang baru dengan selalu memenuhi hak-haknya. Dengan demikian, pemahaman ini mencakup hadits tersebut.

Sedangkan pendapat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan hak asuhnya kepada Ja’far sebagai dalil bahwa kekerabatan Ashabah mempunyai hak mengasuh tidak tepat, karena antara Ja’far dan Ali kedudukan Ashabah keduanya sama, namun karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Saudara perempuan ibu seperti ibu kedudukannya” jelas-jelas menyebutkan alasan Nabi memberikan hak asuhnya kepadanya, karena seorang ibu tidak ada yang merampas haknya, hak mengasuh anaknya, sebab yang lainnya tidak berhak untuk mendapatkan hak tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *