[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 377

10. KITAB RUJUK – 10.06. BAB PENGASUHAN ANAK 01

Al-Hidhanah kata benda dari Hadhana Ash Shabiyya yaitu mengasuh, Al-Hidhnu dengan kasrah huruf Ha’ yaitu yang berada di antara ketiak sampai ke daerah dada, lengan dan yang di antara keduanya, dalam “Kamus” bermakna yang berada di ujung atau sisi sesuatu. Menurut syari’at, hidhanah adalah mengasuh, memelihara dan menjaga siapa yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri dari hal-hal yang membinasakan atau membahayakan.

1066

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ «امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً، وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً، وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً، وَإِنَّ أَبَاهُ طَلَّقَنِي وَأَرَادَ أَنْ يَنْزِعَهُ مِنِّي، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ، مَا لَمْ تَنْكِحِي» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

1066. Dari Abdullah bin Amur bahwa ada seorang perempuan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, perutkulah yang mengandungnya, susuku yang memberinya minum, dan pangkuanku yang melindungi. Namun ayahnya yang menceraikanku ingin merebutnya dariku. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum menikah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud. Hadits shahih menurut Al-Hakim)

[hasan, Abi Dawud (2276)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Wi’a disebut juga dengan I’aa’ yang berarti tempat, sebagaimana dalam Al-Qamus, Siqaa’ wazannya sama dengan Kisaa’ artinya: kulit anak domba apabila digunakan untuk menyimpan air dan susu seperti yang terdapat dalam “Kamus”, Hijri yaitu pengasuhan seseorang. Hiwa’ tempat untuk mengumpulkan dan menampung.

Tafsir Hadits

Hadits merupakan dalil bahwa seorang ibu lebih berhak untuk mengasuh anaknya, jika bapak ingin merebutnya darinya, wanita dalam hadits ini juga menyebutkan sifat-sifat khusus bagi seorang wanita yang menguatkan keutamaannya mengasuh anaknya sendiri, bahkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan dan memutuskan hukum sesuai dengan keinginannya. Hal ini mengingatkan kita bahwa alasan dan tujuan-tujuan utama dipertimbangkan dalam menetapkan hukum; karena lahir dari fitrah manusia.

Tidak ada perbedaan ulama dalam menetapkan hukum berkaitan dengan hadits ini, Abu Bakar dan Umar memutuskan perkara berdasarkan hadits ini, Ibnu Abbas berkata, “Udara, kasur, kebebasan yang diberikan seorang ibu lebih baik daripada bapak sampai anaknya dewasa (baligh) dan memilih di antara keduanya.” (HR. Abdurrazzaq) pada sebuah kisah.

Hadits ini menunjukkan juga apabila seorang ibu tersebut menikah lagi, maka gugurlah haknya untuk mengasuh anaknya, inilah pendapat jumhur ulama.

Ibnul Mundzir berkata, “Ulama berijma’ berdasarkan hadits ini.” Al-Hasan dan Ibnu Hazm berpendapat tidak gugur haknya mengasuh walaupun ia menikah lagi; berdasarkan pada kasus shahabat seperti Anas bin Malik tetap bersama ibunya walaupun ia menikah lagi, demikian juga Ummu Salamah yang menikah lagi, anaknya tetap ia asuh. Demikian juga anak perempuan Hamzah, yang diputuskan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar diasuh bibinya (dari bapak) sedangkan ia sudah menikah lagi. Lalu berkomentar: hadits Ibnu Amar tersebut masih diperdebatkan, karena sebetulnya adalah lembaran, sebab ada yang berpendapat: hadits Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya adalah lembaran catatan.

Pendapat ini dibantah, bahwa para Imam Ahli ilmu menerima dan mengamalkan hadits Amr bin Syu’aib, seperti: Al-Bukhari, Ahmad, Ibnu Al-Madini, Ishaq bin Rahawaih dan lainnya; maka jangan pedulikan pendapat mereka. Sedangkan kisah-kisah di atas yang dijadikan sebagai dalil, belum bisa dijadikan dalil kecuali ada tuntutan dan pertentangan orang yang ingin mengasuhnya, ketika tidak ada pertentangan dan tuntutan dari yang lainnya; maka ibunya (walaupun) menikah lagi lebih berhak untuk mengasuh anaknya, dan juga tidak disebutkan dalam kisah-kisah tersebut adanya pertentangan, maka hal itu tidak bisa dijadikan dalil atas anggapan yang mereka kemukakan.

1067

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ «امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّ زَوْجِي يُرِيدُ أَنْ يَذْهَبَ بِابْنِي، وَقَدْ نَفَعَنِي وَسَقَانِي مِنْ بِئْرِ أَبِي عِنَبَةَ، فَجَاءَ زَوْجُهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: يَا غُلَامُ، هَذَا أَبُوك، وَهَذِهِ أُمُّك، فَخُذْ بِيَدِ أَيِّهِمَا شِئْت فَأَخَذَ بِيَدِ أُمِّهِ، فَانْطَلَقَتْ بِهِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ.

1067. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa seorang perempuan berkata, “Wahai Rasulullah, suamiku ingin pergi membawa anakku, padahal ia berguna untukku dan mengambilkan air dari sumur Abu Inabah untukku.” Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai anak laki-laki, ini ayahmu dan ini ibumu, peganglah tangan siapa dari mereka yang engkau kehendaki.” Lalu ia memegang tangan ibunya dan ia membawanya pergi. (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut At Tirmidzi)

[Shahih: At Tirmidzi 1357]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini dishahihkan juga oleh Ibnu Al-Qaththan.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa seorang anak-anak ketika bisa mandiri diajukan dua pilihan antara ikut dengan ibunya atau bapaknya. Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat: sebagian kecil ulama berpendapat bahwa anak itu diajukan pilihan antara memilih ibu atau bapaknya mengamalkan hadits ini, inilah pendapat Ishaq bin Rahawaih, batasan umur untuk diajukan pilihan itu mulai dari usia tujuh tahun. Ai-Hadawiyyah dan Al-Hanafiyyah berpendapat bahwa anak itu tidak diberikan untuk memilih, mereka berkata, “Ibu lebih berhak mengasuh sampai anaknya bisa mandiri, apabila sudah mandiri, bapak lebih berhak mengasuh anak laki-laki dan ibu mengasuh anak perempuan.” Malik sependapat untuk diberikan hak memilih, hanya saja berkata, “Ibu lebih berhak mengasuh anak-anak, baik yang laki-laki maupun perempuan.”

Ada yang berpendapat: sampai anaknya mencapai usia baligh. Dalam masalah ini, ada yang menjelaskan secara rinci, tapi semua itu tidak berdasarkan pada dalil. Sedangkan yang berpendapat tidak diberikan pilihan berdasarkan pada makna umum hadits tersebut yaitu “Kamu lebih berhak selama belum menikah” mereka menambahkan: seandainya diberikan pilihan kepada anak-anak, tentu ibu tidak berhak untuk mengasuhnya.

Pendapat itu dibantah; walaupun dalam masalah ini, waktunya bersifat umum atau mutlak, namun hadits memberikan pilihan ini; mengecualikan atau mengkhususkannya. Ini merupakan penggabungan yang baik antara kedua dalil tersebut. Jika si anak tidak memilih salah satu kedua orangtuanya, ada yang berpendapat: Ibunya lebih berhak mengasuhnya tanpa harus diundi sebelumnya; karena mengasuh itu merupakan haknya, dan berpindah kepada yang lainnya berdasarkan kerelaannya, maka ketika ia tidak memilih ke salah satunya, diserahkan pengasuhannya kepada Ibunya -Ada yang berpendapat: ini merupakan dalil dan solusi yang tepat-. Ada juga yang berpendapat: diundi terlebih dahulu, karena ada hadits Abu Hurairah yang berkaitan dengan pengundian tersebut dengan lafazh:

«اسْتَهِمَا، فَقَالَ الرَّجُلُ مَنْ يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ وَلَدِي، فَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اخْتَرْ أَيَّهمَا شِئْت فَاخْتَارَ أُمَّهُ فَذَهَبَتْ بِهِ»

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Undilah oleh kalian berdua” yang laki-laki berkata (bapak), “Siapa yang bisa memisah saya dengan anakku?” Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai anak, pilih di antara kedua orangtuamu yang inginkan untuk mengasuhnya,” maka ia memilih dan pergi bersama ibunya. [Al Baihaqi 8/3]

Zhahir hadits ini, mendahulukan pengundian daripada memberikan pilihan kepada anak, akan tetapi tidak demikian maknanya; karena yang didahulukan itu bahwa ia diasuh oleh ibunya berdasarkan lafazh hadits dan pengamalan Khulafa’ur Rasyidin, namun dalam kitab Al-Hadyu An-Nabawi disebutkan: hak pilih dan undian, tidak bisa dilaksanakan kecuali apabila mendatangkan kebaikan kepada si anak. Seandainya si Ibu lebih bisa menjaga dan mendatangkan kebaikan kepada si anak; maka diberikan kepadanya, dengan mengesampingkan hasil undian dan pilihan si anak; karena ia belum bisa menggunakan daya nalar dan lebih mengutamakan main dan senda gurau. Apabila ia memilih orang yang sering mengasuhnya (selain ibunya), maka diabaikan saja, karena ia harus diasuh oleh yang memberi manfa’at dan kebaikan kepadanya, inilah tujuan syari’at. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مُرُوهُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَى تَرْكِهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ»

“Suruhlah mereka (anak-anak) shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah jika mereka mengabaikan shalat ketika berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” [Hasan Shahih: Abu Daud 494]

Allah Ta’ala berfirman,

{قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا}

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6), apabila si ibu sering meninggalkannya untuk kerja di kantor atau mengajarkan Al-Qur’an, sedangkan anaknya lebih mengutamakan senda-gurau dan bermain-main dengan kawan sebaya, dan apabila bapaknya lebih mampu untuk menjaga dan mengajarkan Al-Qur’an; maka ia lebih berhak untuk mengasuhnya, dan tidak perlu pemberian hak pilih dan undian untuk menentukan siapa pengasuhnya. Demikian juga sebaliknya. Ini merupakan pendapat yang baik.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *