[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 376

10. KITAB RUJUK – 10.05. BAB NAFKAH 06

1063

وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – أَنَّهُ كَتَبَ إلَى أُمَرَاءِ الْأَجْنَادِ فِي رِجَالٍ غَابُوا عَنْ نِسَائِهِمْ: أَنْ يَأْخُذُوهُمْ بِأَنْ يُنْفِقُوا، أَوْ يُطَلِّقُوا، فَإِنْ طَلَّقُوا بَعَثُوا بِنَفَقَةٍ مَا حَبَسُوا أَخْرَجَهُ الشَّافِعِيُّ ثُمَّ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

1063. Dari Umar Radhiyallahu Anhu bahwa ia menulis surat kepada para komandan militer tentang orang-orang yang meninggalkan isteri mereka: yaitu agar mereka menuntut dari para suami untuk memberi nafkah atau menceraikan. Apabila mereka menceraikan, hendaklah mereka memberi nafkah selama mereka dahulu tidak ada. (HR. Asy-Syafi’i, kemudian Al-Baihaqi dengan sanad hasan)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Sudan dijelaskan tahqiq pendapat Umar ini.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa tidak gugur nafkah isteri dahulu yang tidak diberikan selama suami tidak ada dahulu, bahkan suami wajib menentukan di antara dua pilihan, yaitu antara ditalak atau diberikan nafkah yang lalu.

1064

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ؟ قَالَ: أَنْفِقْهُ عَلَى نَفْسِك قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: أَنْفِقْهُ عَلَى وَلَدِك قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: أَنْفِقْهُ عَلَى أَهْلِك قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: أَنْفِقْهُ عَلَى خَادِمِك قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ ، قَالَ: أَنْتَ أَعْلَمُ» أَخْرَجَهُ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو دَاوُد، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَأَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ وَالْحَاكِمُ بِتَقْدِيمِ الزَّوْجَةِ عَلَى الْوَلَدِ.

1064. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Ada seorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar? Beliau bersabda, “Nafkahilah dirimu sendiri.” Ia berkata, “Aku mempunyai satu dinar lagi? Beliau bersabda, “Nafkahilah anakmu.” Ia berkata, “Aku mempunyai satu dinar lagi? Beliau bersabda, “Nafkahilah isterimu.” Ia berkata lagi, “Aku mempunyai satu dinar lagi? Beliau menjawab, “Nafkahilah pembantumu.” Ia berkata, “Aku mempunyai satu dinar lagi?” Beliau menjawab, “Engkau lebih tahu siapa yang harus engkau berikan nafkah.” (HR. Asy-Sy afi’i dan Abu Dawud dengan lafazh dari Abu Dawud. An-Nasa’i dan Al-Hakim juga meriwayatkan dengan mendahulukan isteri daripada anak)

[Hasan: Abu Daud 1691]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dalam Shahih Muslim dari hadits Jabir dengan mendahulukan isteri daripada anak-anak dengan pasti. Penulis berkata, “Ibnu Hazm berkata, “Yahya Al-Qaththani dan Sufyan Ats-Tsauri berbeda pendapat; Yahya mendahulukan isteri daripada anak, sedangkan Sufyan mendahulukan anak daripada isteri, sebaiknya kita tidak mendahulukan di antara keduanya, akan tetapi kedua-keduanya sama-sama didahulukan; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam jika berkata diulangi sampai tiga kali, mungkin ketika mengulangi perkataannya, anak didahulukan dan kadang pula isteri didahulukan; maka kedudukan keduanya sama.

Pendapatku: prasangka seperti itu sangat tidak tepat, karena bukanlah kebiasaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengulanginya perkataannya sampai tiga kali, kecuali dalam hal-hal tertentu, bahkan kebiasaannya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengulangi perkataannya lagi, kecuali jika apa yang disampaikan tidak dipahami. Hadits bab ini adalah jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada Nabi, maka tidak diulang-ulangi; karena tidak diperlukan dan juga si penanya memahami makna tersebut, kemudian riwayat Jabir yang tidak disebutkan tidak berulang-ulang; menguatkan riwayat yang menyebutkan isteri lebih dahulu daripada anak.

Tafsir Hadits

Hadits sudah dijelaskan pada pembahasan terdahulu, menyuruh seorang menginfakkan apa yang dia miliki dan jangan disimpan; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda di akhir jawaban, ketika ia mampu memberikan nafkah kepada semua tanggungannya dengan: “Engkau lebih tahu siapa yang harus diberikan infak” dan tidak berkata: “Simpanlah untuk memenuhi kebutuhanmu di kemudian hari,” walaupun lafazh hadits ini, mungkin menyuruh juga untuk ditabungkan (disimpan).

1065

وَعَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – قَالَ: «قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: أُمَّك قُلْت: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّك قُلْت: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّك قُلْت: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبَاك، ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ

1065. Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?” Beliau bersabda, “Ibumu.” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau bersabda, “Ibumu.” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau bersabda, “Ibumu.” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau bersabda, “Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits hasan menurut At-Tirmidzi)

[Hasan shahih: Abu Daud 5139]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Bapak Hakim (kakek) adalah Mu’awiyah bin Haidah Al-Qusyairi, sudah disebutkan biografinya pada pembahasan terdahulu.

Diriwayatkan Al-Hakim, sudah dijelaskan pada pembahasan terdahulu,, yang menunjukkan bahwa Ibu lebih didahulukan dan berhak mendapatkan kebaikan daripada bapak.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *