[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 375

10. KITAB RUJUK – 10.05. BAB NAFKAH 05

1062

«وَعَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ – فِي الرَّجُلِ لَا يَجِدُ مَا يُنْفِقُ عَلَى أَهْلِهِ – قَالَ: يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا أَخْرَجَهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْهُ قَالَ: قُلْت لِسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ: سُنَّةٌ؟ فَقَالَ: سُنَّةٌ» ، وَهَذَا مُرْسَلٌ قَوِيٌّ.

1062. Dari Sa’id bin Al-Musayyib tentang seorang yang tidak mampu memberi nafkah kepada isterinya, ia berkata, “Mereka diceraikan.” (HR. Sa’id bin Manshur dari Sufyan dari Abu Az-Zinad, ia berkata, “Aku bertanya kepada Sa’id, “Apakah itu sunnah?” Dia berkata, “Ya, sunnah.” Hadits ini mursal yang kuat).

[dha’if, Al-Irwa’ (2161)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Mursal Sa’id diamalkan karena sudah ma’ruf (dikenal) ia tidak menyebutkan hadits mursal kecuali dari orang adil. Asy-Syafi’i berkata, “Sepertinya ungkapan Sa’id, ‘Sunnah’ adalah Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sedangkan perkataan Ibnu Hazm, “Maksudnya sunnah itu adalah sunnah Umar,” ini bertentangan dengan zhahir lafazh hadits, karena bagaimana mungkin ia menjawab dengan sunnah dan maksudnya sunnah Umar? Pemahaman seperti ini tidak sesuai, bukankah pertanyaan seseorang dengan menyebut istilah sunnah melainkan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Sebagian ulama berpendapat, “Apabila perawi hadits menyebutkan lafazh sunnah; mungkin maksudnya sunnah khulafaur rasyidin, apabila ia berkata, “Termasuk perbuatan Sunnah hal ini dan ini, namun apabila perawi ditanya maksud Sunnah yang disampaikan tidak lain adalah sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan tidak mungkin seorang yang menjawab sunnah melainkan maksudnya sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena merupakan dalil yang terutama.

Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi meriwayatkan hadits Abu Hurairah marfu’ dengan lafazh, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang seorang laki-laki yang tidak bisa memberi nafkah kepada isterinya menyebutkan: “Pisahkan keduanya”. Sedangkan tuduhan penulis bahwa hadits itu angan-angan Ad-Daraquthni, demikian juga dengan riwayat Al Baihaqi adalah tidak benar. Kami sudah mentahqiqnya dalam kitab Hawasyi Dhau’ An-Nahar” akan dijelaskan pada pembahasan yang akan datang tentang kitab Umar kepada para pemimpin pasukan agar disampaikan kepada pasukan agar memberikan (mengirimkan) nafkah kepada isteri atau menceraikan mereka.

Tafsir Hadits

Ulama berbeda pendapat tentang hukum memisahkan (menceraikan) pasangan suami-isteri apabila suami tidak mampu. memberi nafkah dalam beberapa pendapat:

Pertama: dipisahkan, inilah madzhab Ali, Umar, Abu Hurairah, jama’ah Tabi’in, ulama fiqih, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ahlu Zhahir; berdasarkan dengan hadits tersebut dan hadits, “Tidak menimbulkan kesusahan dan menyusahkan” yang sudah diriwayatkan pada pembahasan terdahulu, karena nafkah itu sebagai imbalan untuk bersenang-senang; dengan dalil bahwa nafkah tidak diberikan kepada isteri yang membangkang menurut jumhur ulama, maka apabila tidak mampu memberi nafkah; ia tidak bisa ‘bersenang-senang’ (melakukan hubungan seksual) dengannya, maka si isteri berhak menentukan pilihan (tetap sebagai isteri atau minta dicerai), bahkan mereka juga mewajibkan kepada majikan untuk menjual budaknya apabila ia tidak bisa memberikan nafkah, bila demikian tentu wajib dipisahkan isteri dari suami yang tidak mampu memberi nafkah; karena hasil kerja isteri bukan hak milik suami sebagaimana hak milik majikan bukan berarti juga mendapatkan semua hasil kerjanya.

Ibnu Al-Mundzir menukilkan ijma’ ulama yang memisahkan isteri, apabila suaminya impoten, dan kesusahan yang ditimbulkan dari suami yang tidak mampu memberi nafkah lebih besar daripada sekadar impoten. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu menyusahkan mereka.” (QS. Ath-Thalaq: 6), juga firman-Nya, “Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 229) apakah dikatakan mempertahankan rumah tangga dengan baik dan bukankah kesusahan yang sangat besar ketika isteri ditelantarkan tidak diberi nafkah?

Kedua: pendapat Al-Hadawiyyah dan Al-Hanafiyyah, salah satu riwayat Asy-Syafi’i bahwa ketidaksanggupan memberi nafkah tidak bisa dijadikan alasan untuk memisah keduanya (dari hubungan suami-isteri) berdasarkan firman Allah,

{وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا}

“Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang (melainkan sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepada-Nya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Mereka berkata, “Apabila Allah tidak membebani suami memberi nafkah pada kondisi seperti itu, sedangkan ia meninggalkan hal yang wajib dilakukan, dan tidak disebut berdosa; bahkan hal itu tidak dijadikan faktor utama untuk memisahkan keduanya, ditambah pula ditetapkan dalam Shahih Muslim: bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika para isterinya menuntut nafkah dari beliau; maka Abu Bakar dan Umar masing-masing hendak memukul leher anaknya masing-masing (Aisyah dan Hafshah) sambil berkata, “Mengapa kamu meminta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sesuatu yang tidak dimilikinya?” (Al-hadits)

Mereka menambahkan: Abu Bakar dan Umar memukul anak mereka masing-masing di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika kedua anak mereka meminta nafkah yang tidak dimiliki Nabi, seandainya mereka boleh meminta dipisahkan; tentu hal itu langsung dilakukan, karena kedua anak mereka meminta suatu yang menjadi haknya, namun mengapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengakui atas perbuatan keduanya, sebab kalau tidak; tentu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa keduanya berhak menuntut pisah ketika suaminya tidak sanggup memenuhi infak yang diwajibkan, dan juga sebagian shahabat hidup susah (sulit untuk memberi nafkah kepada isterinya), akan tetapi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memberitahukan bahwa mereka (isteri) punya hak untuk meminta cerai bila tidak dipenuhi.

Mereka berkata, “Seandainya isteri sakit dalam waktu yang lama, sehingga suaminya tidak bisa melakukan hubungan suami-isteri; ia tetap wajib memberikan nafkah dan tidak dipisah, demikian juga suami tentunya, jadi pemberian nafkah itu bukan sebagai imbalan untuk ‘bersenang-senang’ dengannya sebagaimana yang kalian sampaikan, sedangkan hadits Abu Hurairah, sudah dijelaskan bahwa itu merupakan pendapatnya sendiri, demikian juga halnya hadits lainnya, dan hadits Sa’id itu mursal.”

Bantahan itu dijawab, bahwa ayat tersebut menunjukkan gugurnya kewajiban suami, kami sependapat dalam hal ini.

Sedangkan menuntut pisah dengan suami, itu merupakan hak isteri untuk menuntut hal tersebut, dan kisah para isteri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam serta Abu Bakar dan Umar yang memukul anaknya masing-masing dan seterusnya seperti yang kalian sebutkan sama- sama menunjukkan seperti ayat terdahulu, yaitu gugurnya kewajiban memberi nafkah, dan bukan menuntut cerai atau pisah. Sudah maklum, bahwa mereka tidak mungkin menuntut berpisah dengan Nabi, karena Allah Ta’ala memberikan pilihan kepada mereka: dan memilih tetap hidup bersama Rasulullah dan hanya mengharapkan balasan di akhirat kelak; maka kisah tersebut tidak bisa dijadikan dalil.

Sedangkan pengakuan Nabi kepada Abu Bakar dan Umar atas perbuatan mereka, karena sudah maklum bahwa kewajiban seorang bapak untuk mendidik anak-anak jika mereka melakukan hal-hal yang tidak baik. Mana mungkin Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memenuhi nafkah yang diwajibkan kepada beliau, mungkin para isteri Nabi menuntut lebih banyak nafkah yang diberikan dari yang sebelumnya. Dengan demikian, maka tidak ada pertentangan lagi dalam memahami teks kisah tersebut.

Sedangkan shahabat-shahabat yang susah hidupnya, tidak ketahui bahwa isteri-isteri mereka meminta pisah atau cerai karena suaminya tidak bisa memberi nafkah maupun larangan kepada mereka untuk tidak meminta pisah atau cerai; sehingga hal itu bisa dijadikan hujjah, akan tetapi yang diketahui bahwa para isteri shahabat kepribadian mereka sama seperti suami-suaminya, bersabar atas kesusahan hidup, sebagaimana yang dikatakan Malik: bahwa isteri-isteri shahabat mereka hanya mengharapkan kehidupan akhirat dan kebaikan yang akan diberikan Allah, dan bukanlah tujuan mereka kehidupan duniawi, maka mereka tidak memperdulikan susahnya kehidupan suami-suaminya. Sedangkan wanita-wanita sekarang, mereka menikah dengan tujuan mendapatkan kekayaan dunia yang akan diberikan suami-suami berupa pakaian dan nafkah yang banyak.

Sedangkan hadits Ibnu Al-Musayyib, sudah kamu ketahui bahwa itu merupakan kumpulan Mursalnya, para pakar ilmu mengamalkan hadits tersebut sebagaimana terdahulu, hadits ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah marfu’ yang memperkuat kedudukan mursal Sa’id, seandainya hadits Abu Hurairah tidak dipakai; cukuplah berdalil dengan Mursal Sa’id.

Ketiga: suami yang tidak bisa memberi nafkah dipenjara sampai ia mendapatkan apa yang bisa dinafkahkan, inilah pendapat Al-‘Anbari. Al-Hadawiyyah berkata, “Ditawan agar bekerja’ kedua pendapat tersebut sama-sama aneh; karena wajib memberikan makan siang dan makan malam tepat pada waktunya, wajib dilaksanakan, maka dipenjara atau lainnya saat-saat wajib memenuhi kewajiban menghalangi pelaksanaannya, maka yang terjadi adalah sebaliknya; tidak bisa sama sekali memberi nafkah, jika sebelum itu (diwajibkan) maka hal itu tidak wajib dilaksanakan (memberi nafkah), lalu mengapa ia dipenjara karena sebab yang tidak wajib?! Namun apabila setelah diwajibkan; maka nafkah yang belum diberikan itu menjadi hutang yang harus dibayarkan dan ia tidak perlu dipenjara karena tidak mungkin ia memberi nafkah berdasarkan kesepakatan ulama.

Dalam masalah ini, Muhammad bin Dawud, menjawab pertanyaan seorang wanita berkaitan dengan suaminya tidak bisa memberi nafkah, ia menjawab, “Sebagian ulama berpendapat, “Biarkan ia berusaha dan bekerja agar bisa memenuhi kewajiban memberi nafkah.” Sebagian lagi berpendapat, “Si wanita disuruh bersabar, si wanita penanya tidak memahami jawaban yang disampaikan, maka ia mengulangi pertanyaan, dan Muhammad bin Dawud mengulangi jawabannya lagi, lalu berkata, “Demikianlah, saya sudah menjawab pertanyaanmu, dan saya bukan seorang hakim sehingga bisa memutuskan perkaramu, dan bukan pula penguasa yang bisa memuluskan perkaramu, bukan pula suamimu yang bisa membuat ridha.” Zhahirnya, jawaban Muhammad adalah tawaqquf (tidak bisa memutuskan lagi) dan jadilah pendapat yang keempat.

Kelima: apabila isteri orang yang mapan, sedangkan suaminya orang yang susah; maka ia memberi nafkah kepada suaminya dan tidak meminta diganti ketika suami mapan berdasarkan firman Allah, “dan waris-pun berkewajiban demikian.” (QS. Al-Baqarah: 233), inilah pendapat Ibnu Hazm. Namun dibantah bahwa ayat itu ditujukan untuk memberikan nafkah kepada anak-anak yang masih kecil, dan mungkin ia berpendapat demikian karena tidak melihat pengecualian dari perintah ayat tersebut.

Keenam: pendapat Ibnu Al-Qayyim, yaitu apabila wanita yang menikah itu mengetahui bahwa calon suaminya orang susah atau dulu suaminya orang kaya, tiba-tiba ada kejadian yang membuatnya miskin; maka ia tidak bisa menuntut pisah, kecuali jika tidak mengetahui; boleh menuntut. Seakan-akan Ibnul Qayyim menjadikan pengetahuannya bahwa suaminya orang miskin sebagai keridhaan, akan tetapi apabila dulunya ketika menikah suaminya adalah orang kaya, lalu ada musibah yang membuatnya menjadi miskin; maka zhahirnya ia boleh menuntut pisah dari suaminya.

Apabila sudah kamu ketahui semua pendapat-pendapat tersebut; maka pendapat yang paling kuat dalilnya dan banyak dianut adalah pendapat yang pertama.

Ulama yang berpendapat harus dipisah, berbeda pendapat tempo waktu yang diberikan, Malik berkata, “Diberi tempo selama sebulan.” Asy-Syafi’i berkata, “Tiga hari.” Hammad berkata, “Selama setahun.” Ada yang berpendapat, “Sebulan sampai dua bulan.”

Pendapatku: tidak ada dalil dalam memberikan tempo seperti tersebut di atas, bahkan yang tepat adalah apabila ia menderita langsung bisa meminta dipisah, dan siapa yang berpendapat: ia harus menceraikan, lalu menambahkan: isterinya melaporkan hal itu kepada Hakim memaksa suaminya untuk memberi nafkah atau menceraikan. Bagi yang berpendapat dipisah, maka ia melaporkan kepada Hakim untuk memastikan suaminya tidak bisa memberinya nafkah; baru kemudian dipisah, ada yang berpendapat: diajukan kepada Hakim; agar memaksa si suami untuk menceraikan atau berpisah atau mengizinkan untuk dipisah, apabila dipisah; maka disebut dengan fasakh (dipisah) bukan talak dan tidak boleh rujuk lagi, apabila suaminya mapan lagi, dan ia sedang menjalani masa ‘iddah dan talaknya raj’i; maka boleh rujuk lagi. Wallahu A’lam.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *