[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 374

10. KITAB RUJUK- 10.05. BAB NAFKAH 04

1060

وَعَنْ جَابِرٍ – يَرْفَعُهُ، «فِي الْحَامِلِ الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا – قَالَ: لَا نَفَقَةَ لَهَا» . أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ، لَكِنْ قَالَ: الْمَحْفُوظُ وَقْفُهُ – وَثَبَتَ نَفْيُ النَّفَقَةِ فِي حَدِيثِ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – كَمَا تَقَدَّمَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

1060. Dari Jabir, -hadits marfu’- tentang wanita hamil yang ditinggal mati suaminya, ia berkata, “Tidak ada nafkah baginya.” (HR. Al-Baihaqi dan perawinya dapat dipercaya, tapi ia mengatakan bahwa yang tepat hadits itu adalah mauquf) Tidak ada kewajiban memberikan nafkah ini juga terdapat dalam hadits Fatimah binti Qais yang lalu. (HR. Muslim)

[shahih: Muslim 1480, Al Baihaqi 7/430]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Penjelasan yang lalu menyebutkan wanita yang dithalak ba’in tidak wajib dinafkahi lagi. Pembahasan sekarang terhadap wanita yang ditinggal mati suaminya, dalam masalah ini ada perbedaan ulama.

Tafsir Hadits

Sebagian ulama berpendapat bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya tidak wajib diberi nafkah, baik sedang hamil maupun tidak, tidak wajib bagi yang hamil berdasarkan teks hadits ini, dan yang tidak hamil lebih tepat tidak wajib. Inilah pendapat madzhab Asy-Syafi’i, Hanafi dan Al-Mu’ayyad; berdasarkan pada hadits ini, dan juga karena memang seseorang tidak dibebani kewajiban, dan kewajiban untuk menjalani masa iddah selama empat bulan sepuluh hari tidak wajib untuk diberi nafkah. Sebagian ulama yang lain, di antaranya Al-Hadi, mewajibkan memberi nafkah berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ}

“(yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).” (QS. Al-Baqarah: 240)

Menurut mereka, masa iddah dalam ayat dinasakh (tidak berlaku) bukan berarti kewajiban memberikan nafkah juga dinasakh, dan juga karena ia tidak boleh ke mana-mana (diam di rumah) karena hal itu; maka wajib diberi nafkah. Pendapat ini dijawab: sebenarnya kewajiban memberi nafkah itu dengan wasiat sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).” (QS. Al-Baqarah: 240)

Lalu, ayat wasiat dinasakh hukumnya, baik dengan firman Allah, “Hendaklah (para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah: 234), atau dengan ayat warisan, atau bisa dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam “Tidak ada wasiat bagi ahli waris.”

Sedangkan firman Allah, “maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin.” (QS. Ath-Thalaq: 6) ditujukan kepada wanita- wanita yang dicerai dan bukan kepada wanita yang ditinggal mati suaminya.

Dalam Sunan Abi Dawud dari hadits Ibnu Abbas disebutkan bahwa firman Allah ‘Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya.” (QS. Al-Baqarah: 240) dinasakh dengan ayat tentang pembagian harta warisan yang telah ditentukan Allah baik yang berhak mendapat 1/4 dan 1/8, dan masa iddah selama setahun dinasakh dengan masa iddah empat bulan sepuluh hari.

Disebutkan hadits Fatimah binti Qais di sini, seakan-akan penulis ingin mengatakan bahwa hukum wanita yang ditalak ba’in sama hukumnya dengan wanita yang ditinggal mati suaminya; karena keduanya sama-sama ba’in dan boleh dinikahi lainnya.

1061

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى، وَيَبْدَأُ أَحَدُكُمْ بِمَنْ يَعُولُ، تَقُولُ الْمَرْأَةُ: أَطْعِمْنِي، أَوْ طَلِّقْنِي» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

1061. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, hendaklah seseorang di antara kamu mulai (memberi nafkah) kepada orang yang menjadi tanggungannya. Para isteri akan berkata, “Berikan aku makan atau ceraikan aku.” (HR. Ad-Daraquthni dan sanadnya hasan)

[Sanadnya hasan, Ad-Daraquthni (3/296-297)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Diriwayatkan Ad-Daraquthni dari jalur Ashim dari Abi Shalih dari Abu Hurairah, hanya saja hafalan Ashim ada perdebatan ulama hadits.

Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah secara mauquf, menurut riwayat Isma’ili, mereka bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apakah itu pendapatmu atau sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Ia menjawab, “Pendapatku,” ini menunjukkan bahwa itu hasil dari istinbath darinya; inilah yang dikemukakan para penentang hadits Abu Hurairah.

Zhahirnya bahwa Abu Hurairah berkata kepada mereka, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Lalu mereka berkata, “Apakah itu pendapatmu atau sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Ia menjawab, “Itu pendapatku” adalah jawaban pedas kepada mereka dan bukan memberitahukan bahwa hal itu bukan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena bagaimana mungkin Abu Hurairah menisbatkan pendapat darinya sendiri sedangkan ia bermaksud bahwa semua itu dari Nabi dengan menyebutkan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,” dengan menisbathkan pendapatnya kepada Rasulullah, berarti semua ini adalah kebohongannya yang dinisbatkan kepada Rasulullah; tidak mungkin Abu Hurairah melakukan hal itu, karena ia adalah salah satu perawi hadits, “Siapa yang berdusta kepadaku dengan sengaja; maka akan dibuatkan kursi dari api neraka”, bukti-buktinya jelas bahwa ungkapan Abu Hurairah itu tidak lain adalah ungkapan pedas kepada penanya; maka kami sampaikan: inilah sebetulnya maksud ungkapan Abu Hurairah.

Penulis juga menyebutkan hadits riwayat dari Abu Hurairah yang menafsirkan maksud dari “pendapatku” yaitu hafalan, diungkapkan dengan lafazh “Pendapatku” isyarat tulisan yang terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan lainnya bahwa Abu Hurairah membentang bajunya atau kain (dari Yaman) (perumpamaan orang yang siap menerima ilmu) lalu Rasulullah menyebutkan hadits-hadits yang dilangsung dihafal dan tak terlupakan lagi, seakan-akan ungkapan “pendapat” itu dari kumpulan hadits-hadits yang dihafal dari Nabi.

Sudah kami isyaratkan terdahulu bahwa penulis tidak menyebutkan hadits Abu Hurairah dengan lengkap, dan kelengkapan hadits itu ada dalam kitab Al-Bukhari sebagai berikut, “Budakmu berkata, “Berilah aku makan dan kerjakanlah”, menurut riwayat Isma’ili disebutkan, “Budakmu berkata, “Berilah saya makan; kalau tidak juallah,” dan anakmu berkata, “Kepada siapa engkau akan meninggalkanku (menitipkan orang yang memenuhi kebutuhan).”

Tafsir Hadits

Semua ini merupakan dalil yang mewajibkan memberikan nafkah kepada siapa yang tersebut di atas, mulai dari isteri, anak dan budak yang sudah disebutkan dahulu. Menunjukkan juga wajib memberikan nafkah kepada budak, kalau tidak ia harus dijual, dan juga nafkah yang wajib diberikan bapak kepada anaknya walaupun sudah dewasa.

Ibnu Al-Mundzir berkata, “Ulama berbeda pendapat kewajiban nafkah kepada anak-anak laki-laki yang sudah dewasa yang tidak berharta dan tidak mempunyai pekerjaan mencukupi kebutuhannya, Sebagian ulama mewajibkan memberi nafkah kepada anak-anaknya, baik yang masih kecil maupun sudah baligh, laki-laki maupun perempuan; karena mereka tidak mempunyai harta untuk hidup mandiri. Jumhur ulama berpendapat bahwa wajib diberi nafkah anak laki-laki sampai ia baligh, sedangkan anak perempuan sampai ia menikah, kemudian tidak wajib memberikan nafkah kepada bapak, kecuali jika lumpuh, namun apabila mereka berharta; tidak wajib bagi anak memberikan nafkah kepada bapaknya, berdasarkan riwayat yang tentang suami yang tidak bisa memberi nafkah kepada isterinya; maka ia boleh meminta cerai, yaitu hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *