[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 373

10. KITAB RUJUK – 10.05. BAB NAFKAH 03

1056

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ، وَلَا يُكَلَّفُ مِنْ الْعَمَلِ إلَّا مَا يُطِيقُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

1056. Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Hamba yang dimiliki wajib diberi makan dan pakaian, dan tidak dibebani pekerjaan kecuali yang ia mampu.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1662)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil sekaligus ijma’ ulama yang mewajibkan memberi makan dan pakaian kepada budak yang dimiliki, zhahirnya bersifat mutlak dan tidak menentukan jenis makanan dan pakaian yang sama dengan apa yang dimakan maupun dipakai tuannya. Perintah dalam hadits Muslim yang memerintah untuk memberi makan dan pakaian seperti yang dimakan dan dipakai majikannya adalah Sunnah. Akan tetapi, jika ada pendapat yang bahwa sudah ijma’ ulama untuk berbuat demikian; tentunya ijma’ tersebut mengkhususkan hadits mutlak dalam bab ini. Hadits ini menunjukkan bahwa majikan tidak boleh memberikan pekerjaan yang tidak sanggup dilaksanakan, dan inilah ijma’ ulama dalam masalah ini.

1057

وَعَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْقُشَيْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: «قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إذَا طَعِمْت، وَتَكْسُوَهَا إذَا اكْتَسَيْت» الْحَدِيثَ، وَتَقَدَّمَ فِي عِشْرَةِ النِّسَاءِ

1057. Dari Hakim bin Mu’awiyah Al-Qusyairi, dari ayahnya, berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah hak isteri salah seorang di antara kami?’ Beliau menjawab, “Engkau memberinya makan jika engkau makan dan engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian.” Al- Hadits, sudah tercantum dalam bab bergaul dengan isteri.

[Hasan shahih, sudah tercantum pada pembahasan tersebut]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini disebutkan dengan lengkap pada bab bergaul dengan isteri, dinisbatkan kepada Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Al-Bukhari menta’liq sebagian hadits ini dan dishahihkan Al- Hakim. Sudah dijelaskan pada pembahasan terdahulu.

1058

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – عَنْ النَّبِيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي حَدِيثِ الْحَجِّ بِطُولِهِ – قَالَ فِي ذِكْرِ النِّسَاءِ «وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

1058. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu – dalam sebuah hadits tentang haji yang panjang- Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau wajib memberi mereka rezeki dan pakaian dengan baik.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 966]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits merupakan dalil yang mewajibkan memberi nafkah dan pakaian kepada isteri sebagaimana yang disebutkan dalam ayat. Itu sudah ijma’ ulama dan sudah dijelaskan pembahasan terdahulu.

Sabda Nabi, “Dengan baik” adalah pemberitahuan bahwa tidak wajib memberikan nafkah, kecuali dengan ukuran yang lazim (ma’ruf, sesuai dengan yang berlaku) secara umum sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagaimana firman Allah,

{لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا}

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Kemudian, yang wajib diberikan adalah makanan yang sudah dibuatkan; karena inilah yang dinamakan dengan nafkah, dan tidak wajib dengan memberikan uang seharga makanan tersebut, kecuali dengan keridhaannya. Dalam masalah ini Ibnul Qayyim sudah membahasnya dengan terperinci, dan inilah yang benar.

Ibnul Qayyim berkata, “Tidak ada dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa nafkah itu berupa duit, tidak juga shahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in, begitu juga salah satu empat Imam Madzhab maupun imam-imam lainnya yang berpendapat demikian; Allah Ta’ala hanya mewajibkan untuk memberi nafkah kepada kerabat, isteri dan budak dengan ma’ruf. Maka, tidak termasuk perbuatan ma’ruf memberikan duit pengganti nafkah. Akan tetapi, yang ma’ruf menurut syari’at adalah memberikan pakaian dan makanan yang semisal dengan yang dipakai, karena yang wajib itu bukan uang maupun pengganti lainnya, dan juga tidak dibenarkan memberikan nafkah belum ditetapkan dan tidak bisa dimiliki, karena nafkah wajib diberikan kepada kerabat dan isteri adalah harian, seandainya langsung diberikan satu bulan; maka tidak bisa diganti dengan lainnya kecuali mendapatkan persetujuan dari isteri dan kerabat; karena uang itu sebagai pengganti nafkah wajib. Menurut Asy-Syafi’i bisa berupa gandum, atau makanan pokok menurut jumhur ulama, maka mengapa harus diganti dengan duit tanpa keridhaan dan syari’at juga tidak menuntut berupa duit. Semua itu bertentangan dengan kaidah, pendapat-pendapat imam dan kemashlahatan umat. Akan tetapi, apabila sudah ada kesepakatan di antara keduanya; maka boleh nafkah berupa uang atau lainnya. Hanya saja memberikan nafkah berupa uang atau lainnya pengganti nafkah wajib ada perbedaan pendapat dalam madzhab Asy-Syafi’i dan lainnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *