[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 372

10. KITAB RUJUK – 10.05. BAB NAFKAH 02

1055

وَعَنْ طَارِقٍ الْمُحَارِبِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَائِمٌ عَلَى الْمِنْبَرِ يَخْطُبُ النَّاسَ وَيَقُولُ: يَدُ الْمُعْطِي الْعُلْيَا، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ: أُمَّك وَأَبَاك، وَأُخْتَك وَأَخَاك، ثُمَّ أَدْنَاك فَأَدْنَاك» رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالدَّارَقُطْنِيّ

1055. Dari Thariq Al-Muharibi Radhiyallahu Anhu berkata, “Ketika kami datang ke Madinah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri di atas Mimbar berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau bersabda, “Tangan pemberi adalah yang paling tinggi (utama), mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu; ibumu dan ayahmu, saudaramu perempuan dan laki-laki, lalu orang yang dekat denganmu dan yang lebih dekat denganmu.” (HR. An-Nasa’i. Hadits ini shahih menurut Ibnu Hibban dan Ad-Daraquthni)

[Shahih: An Nasa’i 2531]

ـــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Thariq Al-Muharibi adalah Thariq bin Abdullah Al-Muharibi. Jami’ bin Syaddad dan Rib’i meriwayatkan hadits ini darinya, ia dikenal dengan Ibnu Hirasy.

Penjelasan Kalimat

Hadits ini menafsirkan hadits “Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”, dalam kitab An-Nihayah ditafsirkan, bahwa tangan yang di atas adalah pemberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah orang yang tidak mau menafkahkan harta atau peminta-minta.

Tafsir Hadits

Sabda Nabi, “Mulailah dari yang menjadi tanggunganmu” adalah dalil yang mewajibkan berinfak kepada orang yang terdekat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan secara terperinci kepada ibu terdahulu baru kemudian bapak dan seterusnya secara berurutan. Maka, urutan ini menunjukkan bahwa ibu lebih utama mendapatkan kebaikan dari pada bapak. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Inilah pendapat jumhur ulama, diperkuat lagi dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Al-Bukhari yang menyebutkan ibu terlebih dahulu sebanyak tiga kali baru kemudian menyebutkan bapak dengan kata sambung ‘kemudian’.” Maka, siapa yang hanya sanggup memberikan infak kepada di antara keduanya, hendaknya diberikan kepada ibu terdahulu berdasarkan hadits-hadits tersebut, bahkan Al-Qur’an menegaskan tentang hak seorang ibu, sebagaimana dalam ay at berikut,

{وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا}

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Sabda Nabi, “Saudara perempuan dan laki-lakimu… dan seterusnya” adalah dalil yang mewajibkan memberikan infak kepada kerabat dekat yang susah. Hal ini merupakan penjelasan makna sabda Nabi, “Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu” saudara laki-laki juga termasuk yang menjadi tanggungannya. Inilah pendapat Umar, Ibnu Abi Laila, Ahmad dan Al-Hadi, akan tetapi dalam kitab Al-Bahr disyaratkan kerabat itu termasuk ahli waris karena nasab berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ}

“Dan waris pun berkewajiban demikian.” (QS. Al-Baqarah: 233) dan huruf Lam untuk menentukan. Menurut Asy-Sy afi’i, nafkah itu wajib hukumnya diberikan kepada kerabat yang miskin, tidak mampu bekerja, baik karena lumpuh atau masih kecil, atau gila karena semuanya itu maksudnya ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, mereka berkata: jika saudaranya tidak mempunyai sifat-sifat tersebut; pendapat yang paling baik juga adalah wajib karena ia menjelekkan kerabat yang kaya namun tidak mau menginfakkan sebagian hartanya kepada kerabatnya.

Pendapat yang kedua: tidak boleh berinfak, jika mampu bekerja; karena berkedudukan seperti orang yang kaya.

Pendapat yang ketiga: wajib bagi anak-anak memberikan nafkah kepada orangtuanya dan tidak sebaliknya (apabila sudah besar); karena bukan termasuk perbuatan ma’ruf menyuruh orangtuanya bekerja ketika mereka sudah tua (udzur). Menurut Al Hanafiyyah: wajib memberikan nafkah kepada kerabat Mahram yang miskin, tidak mampu bekerja sejumlah harta warisannya, inilah yang disebutkan dalam kitab-kitab kedua kelompok madzhab itu, akan tetapi dalam kitab Al-Bahr dinukilkan hal yang berbeda, dan semua pendapat ini tidak diketahui dalil-dalilnya.

Firman Allah Ta’ala,

{وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ}

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya.” (QS. Al- Israa’: 26), yang mengisyaratkan bahwa kerabat mempunyai hak atas kerabat lainnya, hak-hak tersebut berbeda-beda. Maka jika ia miskin; harus diberikan infak, jika tidak; maka haknya adalah menghormati, memuliakannya atau hal lainnya yang termasuk perbuatan baik. Hadits ini merupakan penafsir tentang definisi sanak kerabat beserta tingkatan-tingkatannya, maka wajib memberikan infak kepada kerabat yang susah berurutan seperti dalam hadits, dan hadits itu tidak menyebutkan anak dan isteri; karena memang keduanya wajib diberikan infak berdasarkan dalil yang lain, sedangkan yang beralasan kedua ahli waris adalah pendapat yang tidak bisa ditanggapi (tawaqquf).

Ulama berbeda pendapat tentang gugurnya memberikan nafkah yang telah berlalu. Ada yang berpendapat: gugur apabila diberikan kepada isteri dan kerabat, ada yang juga berpendapat: tidak gugur nafkah keduanya walau sudah berlalu, ada yang berpendapat: yang gugur adalah kewajiban nafkah kerabat dekat, Istrinya tetap wajib diberikan; beralasan bahwa kewajiban nafkah kerabat dengan tujuan agar tetap mempertahankan kehidupan, hal ini sudah berlalu karena berkaitan dengan kewajiban yang telah lalu.

Sedangkan nafkah isteri hukumnya wajib dan bukan sekadar mempertahankan hidup, maka tetap wajib diberikan walaupun isterinya orang kaya, dan juga ijma’ shahabat bahwa kewajiban nafkah tersebut tidak gugur, jika memang sudah ijma’ di kalangan shahabat; maka tidak perlu untuk mengambil pendapat lainnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ»

“Dan bagi kalian wajib memberikan nafkah dan pakaian dengan ma’ruf kepada isterinya”[shahih, Muslim (1218)]

walaupun isterinya seorang yang ta’at (tidak menuntut), tetapi nafkah ini haknya yang harus diberikan.

Asy Syafi’i meriwayatkan dengan sanad Jayyid bahwa Umar menyampaikan ultimatum kepada para panglima/pemimpin pasukan untuk disampaikan kepada pasukannya yang sudah lama berpisah dari isterinya dengan dua pilihan: memberikan nafkah kepada isteri atau menceraikan, dan jika mereka memilih menceraikan; maka harus mengirimkan nafkah yang tidak mereka berikan selama ikut berperang’, hadits ini shahih menurut Al Hafizh Abu Hatim Ar Razi. Disebutkan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Irsyad.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *