[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 371

10. KITAB RUJUK – 10.05. BAB NAFKAH 01

1054

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «دَخَلَتْ هِنْدُ بِنْتُ عُتْبَةَ – امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ – عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ، إلَّا مَا أَخَذْت مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ، فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟ فَقَالَ: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيك وَمَا يَكْفِي بَنِيك» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

1054. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Hindun Binti Utbah -isteri Abu Sufyan- masuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan adalah orang yang pelit. Ia tidak memberiku nafkah yang cukup untukku dan anak-anakku kecuali aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah yang demikian itu, aku berdosa? Beliau bersabda, “Ambillah dari hartanya yang cukup untukmu dan anak-anakmu sesuai dengan ‘urf (tradisi yang berlaku).” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 5364 dan Muslim 1714]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Masuk Islam ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) setelah saaminya, Abu Sufyan masuk Islam. Bapak Hindun yang bernama Utbah, pamannya yang bernama Syaibah dan saudaranya yang bernama Al-Walid bin Utbah, ketiganya terbunuh pada saat perang Badar sehingga tragedi ini membuatnya merana. Ketika Hamzah terbunuh pada perang Uhud, ia sangat senang sekali, lalu ia membelah perutnya -Hamzah-, mengambil hati dan langsung mengunyahnya kemudian dimuntahkan lagi karena tidak bisa ditelan. Wafat pada bulan Muharram tahun 14 H. Ada juga yang mengatakan bukan pada tahun tersebut. Abu Sufyan nama aslinya adalah Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams dan termasuk pemimpin kaum Quraisy. Masuk Islam pada saat Fathu Makkah sebelum isterinya masuk Islam, yaitu ketika ia ditangkap pasukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam saat penaklukankota Mekkah. Lalu, Al-Abbas memberikan jaminan kepadanya, baru kemudian dihadapkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam; maka ia masuk Islam, wafat pada waktu kekhilafahan Utsman bin Affan tahun 32 H.

Penjelasan Kalimat

Kata Asy-Syuhhu artinya pelit yang disertai dengan penuh perhitungan, dan lebih khusus dari sekadar pelit. Karena, sifat pelit (bukhl) hanya diberikan kepada orang yang tidak mau menginfakkan hartanya saja, sedangkan asy-Syuhhu adalah sifat pelit terhadap segala sesuatu.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang membolehkan bagi seseorang untuk menyebutkan aib atau kekurangan orang lain untuk menjelaskan tentang keadaaannya dan meminta fatwa (solusi) atas hal tersebut. Ini termasuk hal-hal yang membolehkan ghibah, sekaligus mewajibkan kepada suami untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anak, walaupun anak-anaknya sudah dewasa berdasarkan sifat umum pada hadits yang tidak merincikan keadaan anak-anak, kecuali apabila ada hadits yang mengecualikan. Jika tidak, maka wajib memberikan nafkah kepada anak-anak walaupun sudah dewasa.

Hadits ini menunjukkan juga bahwa yang wajib dalam memberikan nafkah adalah secukupnya tanpa ditentukan berapa nilainya. Inilah pendapat jumhur ulama seperti Al-Hadi dan Asy-Syafi’i berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Menurut salah satu pendapat Asy-Syafi’i, bahwa nafkah yang cukup diukur dengan beberapa mud, maka bagi yang lapang hidupnya, menafkahi dengan dua mud, bagi yang biasa-biasa saja, satu setengah mud, dan bagi yang susah, cukup satu mud saja.

Al-Hadi berpendapat, setiap hari dua mud, setiap bulan dua dirham untuk membeli lauk-pauk. Abu Ya’la berpendapat bahwa wajib bagi orang susah maupun mapan, masing-masing menyediakan dua liter roti setiap hari, hanya berbeda pada sifat dan kualitasnya; karena, baik yang mapan maupun yang susah, serupa dalam ukuran yang dimakan dan hanya berbeda pada kualitas dan lainnya.

An-Nawawi berkata, “Hadits ini merupakan hujjah bagi yang menentukan jumlah nafkah yang harus diberikan.” Penulis berkomentar, “Namun tidak terang-terangan sebagai bantahan terhadap mereka, akan tetapi ukuran nafkah yang mereka sebut harus berdasarkan dalil, jika memang ada dalil; maka definisi ‘cukup’ dalam hadits bab disesuaikan dengan ukuran tersebut.

Ungkapannya: “Kecuali aku mengambil hartanya” merupakan dalil yang menunjukkan bahwa ibu mempunyai kekuasaan untuk memberikan infak kepada anak-anaknya walaupun suaminya tidak berkenan, dan dalil juga bagi yang harus memenuhi kewajibannya untuk mengambilnya terlebih dahulu; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengakuinya dan tidak menyebutkan bahwa perilaku tersebut adalah haram, bahwa Hindun bertanya kepada Nabi: apakah yang ia lakukan perbuatan dosa? Beliau membolehkan jika hal itu dilakukan dikemudian hari dan menetapkan apa yang telah dilakukan, dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari disebutkan: “Tidak apa-apa bagimu untuk memberikan makanan kepada anak-anaknya dengan ma’ruf”. Sabda Nabi: “Ambillah secukupnya untukmu dan anak-anakmu” mungkin merupakan fatwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mungkin juga keputusan hukum.

Hadits ini merupakan dalil yang memutuskan hukum terhadap yang tidak hadir tanpa ditujukan kepadanya, hadits ini dijadikan bab Al-Bukhari yang diberi judul “Bab memutuskan hukum atas yang tidak hadir lalu menyebutkan hadits ini, akan tetapi An-Nawawi berkata, “Syarat pengadilan atas orang yang tidak hadir adalah ia tidak berada di negara (daerah) tersebut, atau penguasa yang tidak bisa dihadirkan, atau udzur yang membuatnya tidak bisa hadir, dan Abu Sufyan tidak termasuk dalam syarat-syarat tersebut, bahkan ia hadir di daerah tersebut; maka hadits ini bukan dalil yang bisa memutuskan perkara kepada orang yang tidak hadir. Hanya saja, Al-Hakim meriwayatkan hadits ini dalam tafsir surat Al-Mumtahanah pada kitab Al-Mustadrak yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika membaiat kaum wanita menyebutkan untuk tidak mencuri. Hindun berkata, “Saya tidak membaiatmu untuk tidak mencuri, karena saya mencuri harta suami,” maka ia tidak dibaiat sampai dikirim utusan kepada Abu Sufyan meminta kehalalan atas hal tersebut. Abu Sufyan berkata, “Kalau kurma, saya halalkan, tapi jika berupa yang kering-kering, maka tidak saya halalkan.” Hadits ini menyebutkan bahwa Nabi memutuskan perkara atas terdakwa yang hadir, hanya saja hadits ini bertentangan dengan bab yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, seakan-akan lafazh tambahan yang diriwayatkan Al Hakim; menurutnya salah.

Kesimpulannya, bahwa kisah dalam hadits ini bisa dikatakan fatwa dari Nabi dan ketentuan hukum dari Nabi, akan tetapi lebih tepat sebagai fatwa Nabi; karena Nabi tidak menuntut bukti dan juga menyuruh bersumpah atas pengakuannya. Ada yang berpendapat, hukum itu diputuskan berdasarkan pengetahuan dari Nabi tentang kejujuran Hindun sehingga Nabi tidak menuntut bukti atas dakwaan dan juga sumpah atas pengakuannya. Hal ini merupakan hujjah bagi yang berpendapat bahwa hakim bisa memutuskan perkara atas pengetahuannya terhadap terdakwa, akan tetapi karena masih mungkin; maka tidak bisa dijadikan dalil. Akan tetapi, ini merupakan dalil bagi suami untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya serta baginya untuk mengambil harta suaminya lagi, jika yang diberikan tidak mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan anak-anaknya. Inilah yang diinginkan penulis kitab ketika menyebutkan hadits ini pada bab nafkah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *