[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 368

10. KITAB RUJUK – 10.04. BAB PENYUSUAN 04

1048

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أُرِيدَ عَلَى ابْنَةِ حَمْزَةَ، فَقَالَ: إنَّهَا لَا تَحِلُّ لِي، إنَّهَا ابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ، وَيَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

1048. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa dia menginginkan agar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahi puteri Hamzah. Beliau bersabda, “Dia itu tidak halal bagiku. Dia adalah puteri saudaraku sepersusuan dan apa yang diharamkan karena nasab (keturunan) juga diharamkan karena penyusuan.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2645) dan Muslim (1447)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ulama berbeda pendapat tentang nama perempuan Hamzah atas tujuh pendapat yang semuanya hanya perkiraan semata, namun yang jelas status perempuan adalah anak Hamzah saudara Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah disusui oleh Tsuwaibah budak wanita Abu Lahab, dan ia juga menyusui Hamzah paman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Hukum-hukum yang berkaitan dengan Radha’ adalah diharamkan menikahinya, boleh melihat, khalwat dan bepergian dengannya, tapi tidak bisa saling mewarisi, tidak wajib memberikan infak, membebaskan budak yang dimilikinya dan lain sebagainya hukum-hukum yang berkaitan dengan saudara kandung (nasab).

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apa yang diharamkan karena nasab (keturunan) juga diharamkan karena penyusuan” maksudnya adalah mengharamkan hukum penyusuan dengan nasab, kemudian hukum lainnya yang berkaitan dengan Ibu yang menyusui (murdhi’), karena kerabat orang yang diberi ASI berarti kerabat Ibu murdhi’ juga, sedangkan kerabat Radhi’ (orang yang diberi ASI) selain anak-anak kandungnya; mereka tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan ibu murdhi’ sehingga tidak ada hukum yang terkait dengan mereka.

1049

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يُحَرِّمُ مِنْ الرَّضَاعِ إلَّا مَا فَتَقَ الْأَمْعَاءَ، وَكَانَ قَبْلَ الْفِطَامِ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ هُوَ وَالْحَاكِمُ

1049. Dari Ummi Salamah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak haram karena penyusuan kecuali yang membekas di perut, yaitu sebelum anak disapih.” (HR. At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut Al-Hakim)

[Shahih: At Tirmidzi 1152]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Fataka maknanya menembus, maksudnya sampai di perut; maka tidak menjadikannya mahram ASI sedikit yang tidak bisa sampai di perut, mungkin juga maksudnya ASI yang menjadi makanan pokok; sehingga merupakan dalil bahwa ASI yang diberikan kepada orang dewasa tidak mengubah statusnya menjadi mahram, hal itu ditunjukkan pada sabda Nabi “Sebelum anak disapih” maksudnya sebelum ia berusia dua tahun sebagaimana dalam hadits lainnya: “Anak saya Ibrahim meninggal ketika masih minum ASI, sungguh ia akan mendapatkan Ibu yang menyusuinya di surga” [Shahih: Muslim 2316]

hal itu dipertegas lagi dengan hadits berikut ini:

1050

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «لَا رَضَاعَ إلَّا فِي الْحَوْلَيْنِ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَابْنُ عَدِيٍّ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَرَجَّحَا الْمَوْقُوفَ

1050. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Tidak ada penyusuan kecuali dalam dua tahun.” (Hadits marfu’ dan mauquf, diriwayatkan Ad-Daraquthni dan Ibnu ‘Adi, namun mereka lebih menilainya mauquf)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dinilai mauquf menurut Ad-Daraquthni karena Al-Haitsum Ibnu Jamil dari Ibnu Uyainah sendirian, ada yang berpendapat: Tsiqah dan hafalannya bagus. Diriwayatkan Sa’id bin Manshur dari Ibnu Uyainah dan dinilai mauquf. Pendapatku: hal itu bukanlah ‘illah sebagaimana yang sering kami sampaikan. Ibnu Adi berkata, “Al-Haitsam sering salah menyampaikan hadits.” Al-Baihaqi berkata, “Yang shahih adalah hadits ini mauquf, riwayat yang menentukan usianya di bawah dua tahun berasal dari Umar dan Ibnu Mas’ud.”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menentukan pemberian ASI harus di bawah usia dua tahun, dan tidak disebut radha’, kecuali dalam usia dua tahun, sebagaimana disebutkan dalam ayat terdahulu. Dan yang berpendapat bahwa ayat itu mewajibkan memberikan nafkah dan lain sebagainya dan bukan batas usia radha’ah; sudah dibantah pada pembahasan terdahulu, ditunjukkan dengan hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *