[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 367

10. KITAB RUJUK – 10.04. BAB PENYUSUAN 03

1046

وَعَنْهَا «أَنَّ أَفْلَحَ أَخَا أَبِي الْقُعَيْسِ – جَاءَ يَسْتَأْذِنُ عَلَيْهَا بَعْدَ الْحِجَابِ. قَالَتْ: فَأَبَيْت أَنْ آذَنَ لَهُ، فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَخْبَرْته بِاَلَّذِي صَنَعْته، فَأَمَرَنِي أَنْ آذَنَ لَهُ عَلَيَّ، وَقَالَ: إنَّهُ عَمُّك» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

1046. Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha bahwa Aflah -Saudara Abu Qu’ais- datang meminta izin untuk bertemu dengannya setelah ada perintah hijab. Aisyah berkata, ‘Aku tidak mengizinkannya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang aku beritahu apa yang telah aku lakukan. Lalu beliau menyuruhku untuk mengizinkannya seraya bersabda, “Sesungguhnya dia itu pamanmu (sepersusuan).” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 4796 dan Muslim 1445]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Aflah adalah bekas budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ada yang berpendapat: bekas budak Ummi Salamah. Abul Qu’ais nama aslinya adalah Wa’il bin Aflah Al-Asy’ari. Ada yang berpendapat bahwa namanya adalah Al-Ja’ad. Kalau merujuk kepada pendapat pertama lebih tepat karena sesuai dengan nama bapaknya. Ibnu Abdil Bar: nama Abul Qua’is disebutkan hanya dalam hadits ini.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menetapkan status hukum radha’ah berlaku juga kepada suami dari isteri yang menyusui beserta sanak kerabatnya; karena ASI berasal dari hubungan suami isteri, maka hukum Radha’ dikembalikan kepada status kedua sebagaimana kakek yang merupakan asal-usul keberadaan cucu-cucunya; maka cucunya tersebut menjadi mahram baginya karena asal-usul mereka semuanya darinya, maka dalam masalah ini, Ibnu Abbas berkomentar: Istri yang mempunyai ASI itu disebabkan karena hubungan dengan suami. Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Abbas, ia berkomentar: hubungan suami-isteri menimbulkan ASI, maka seorang suami mempunyai peranan penting juga pada hal tersebut. Inilah pendapat Jumhur Shahabat, Tabi’in dan ahli Fikih.

Hadits ini, sangat jelas sesuai dengan pendapat mereka, dalam riwayat Abu Dawud ada lafazh tambahan disampaikan Aisyah, ia berkata, “Aflah ingin menemuiku; maka saya bersembunyi di balik hijab, lalu ia berkata, “Apakah kamu berhijab (menjauh darinya) sedangkan saya adalah pamanmu?” Saya bertanya, “Darimana?” Ia menjawab, “Ketika kamu masih kecil, kamu disusui oleh isteri saudaraku, maka saya pun menjawab, “Yang menyusuiku itu adalah seorang wanita dan bukan laki-laki….” Al-hadits. [Shahih: Abi Dawud (2057)]

Namun Ibnu Umar, Ibnu Az-Zubair, Rafi’ bin Khudaij, Aisyah dan sekelompok ulama Tabi’in, Ibnu Al-Mundzir, Dawud dan murid-muridnya berpendapat: Hukum radha’ tidak berlaku atas suami (laki-laki) melainkan hanya berlaku kepada Ibu menyusui karena ASI itu ada padanya, mereka menegaskan dengan lagi dengan firman Allah, “ibu-ibumu yang menyusui kamu.” (QS. An-Nisaa’: 23)

Jawaban atas pendapat mereka bahwa ayat tersebut tidak bertentangan dengan hadits, dan penyebutan kaum ibu dalam ayat itu bukan berarti kaum bapak-bapak tidak termasuk, kemudian jika maknanya secara mafhum menunjukkan hal tersebut, hanya saja itu adalah mafhum penisbatan saja sebagaimana diketahui dalam prinsip-prinsip Ilmu Ushul. Mereka juga berdalil dengan fatwa sebagian shahabat, dan sudah maklum bahwa hal itu tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Sebagian ulama mutakhkhirin menjelaskan masalah itu dengan panjang lebar, akan tetapi Ibnul Qayyim sudah menjelaskannya terlebih dalam kitab Al-Hadyu dan gurunya Ibnu Taimiyyah. Yang tepat adalah pendapat jumhur ulama.

1047

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ: عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ، ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهِيَ فِيمَا يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

1047. Dan darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha berkata, “Yang diharamkan Al-Qur’an adalah sepuluh kali penyusuan yang sudah dikenal, kemudian dihapus dengan lima kali -penyusuan dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat ketika keadaan masih tetap sebagaimana ayat Al-Qur’an dibaca.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1452)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dengan keterangan itu Aisyah ingin menjelaskan bahwa penasakhan itu terjadi dalam waktu dekat menjelang wafat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga sebagian orang yang belum mengetahui adanya nasakh itu akan membacanya lima kali susuan, ketika mereka mengetahui adanya nasakh; mereka tidak membacanya dan berijma’ bahwa jumlah angka tersebut tidak baca. Inilah yang disebut dengan nasakh tilawah dan hukumnya tetap berlaku, yang merupakan bagian dari macam- macam Nasakh, yang terbagi menjadi tiga macam:

Pertama: Nasakh tilawah dan hukum seperti jumlah bilangan sepuluh kali susuan.

Kedua: Nasakh tilawah dan hukumnya tetap berlaku seperti jumlah lima kali susuan, dan juga orang yang sudah tua baik laki maupun perempuan apabila berzina; maka rajamlah kedua.

Ketiga: Nasakh hukumnya tapi bacaannya tetap ada, dan ini banyak seperti firman Allah,

{وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا}

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri” (QS. Al-Baqarah: 234)

Sudah dijelaskan ketetapan pendapat dalam masalah ini, bahwa mengamalkan makna hadits ini lebih tepat. Pendapat yang mengatakan bahwa hadits Aisyah ini bukanlah Al-Qur’an (yang harus dipatuhi); karena tidak bisa disebut dengan Khobar Ahad dan bukan pula disebut hadits karena Aisyah tidak meriwayatkannya sebagai hadits adalah pendapat yang salah; karena walaupun tidak ditetapkan sebagai Al-Qur’an sehingga harus dilaksanakan ketentuannya, akan tetapi diriwayatkan Aisyah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam; maka hal itu berkedudukan seperti hadits Nabi yang harus diamalkan. Ulama juga berdalilkan pada hal tersebut dalam amal perbuatan.

Asy-Syafi’i dan Ahmad mengamalkan pula hadits yang berkaitan dalam kasus seperti itu, Al-Hadawiyyah dan Al-Hanafiyyah mengamalkan hukum berdasarkan bacaan Ibnu Mas’ud tentang kaffarat Yamin “Tiga hari berturut-turut”, Malik mengamalkan hukum yang berkaitan tentang bagian saudara dari ibu (anak ibu) dengan bacaan Ubay, “Apabila ada anak laki-laki atau perempuan dari Ibu”. Semua orang berhujjah pada bacaan-bacaan tersebut, sudah seharusnya mengamalkan hadits bab ini; maka kami lebih memilih mengamalkan hadits ini sebagaimana dalam pembahasan terdahulu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *