[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 366

10. KITAB RUJUK – 10.04. BAB PENYUSUAN 02

1045

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ سَالِمًا مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ مَعَنَا فِي بَيْتِنَا، وَقَدْ بَلَغَ مَا يَبْلُغُ الرِّجَالُ، فَقَالَ: أَرْضِعِيهِ تَحْرُمِي عَلَيْهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

1045. Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha berkata, “Sahlah binti Suhail datang dan berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Salim, budak kecil yang telah dimerdekakan Abu Hudzaifah, tinggal bersama di rumah kami, padahal ia sudah dewasa. Beliau bersabda, “Susuilah dia agar engkau menjadi mahram dengannya.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 1453]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dalam Sunan Abi Dawud dengan lafazh, “Susuilah ia sebanyak lima kali.” [Shahih: Abu Daud 2061]

Maka ia menjadi seperti anak sesusuannya. Penulis menyebutkan hal ini, seakan-akan hadits Sahlah ini mengecualikan hadits radha’ah, sekaligus menunjukkan bahwa radha’ dengan orang dewasa juga bisa mengubah statusnya menjadi mahram, sedangkan hal itu tidak termasuk apabila dikembalikan pada makna radha’ah yang menjadi makanan pokok ketika lapar.

Kisahnya: Abu Hudzaifah dan isterinya pernah mengangkat Salim sebagai anak, anak bekas seorang hamba wanita Anshar, ketika Allah menurunkan firman-Nya,

{ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ}

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.” (QS. Al-Ahzab: 5)

Apabila bapaknya diketahui; maka panggilannya dinisbatkan kepada bapaknya, dan bagi yang tidak diketahui bapaknya; dipanggil dengan maula (bekas budak) dan saudara seagama. Lalu datanglah Sahlah menyebutkan sebagaimana dalam hadits tersebut di atas.

Ulama salaf berbeda pendapat dalam masalah ini, Aisyah menetapkan hukumnya menjadi mahram, walaupun ia sudah baligh dan berakal. Urwah berkata, “Aisyah menetapkan hukum berdasarkan hadits ini, maka ia menyuruh saudarinya Ummu Kultsum dan anak perempuan saudaranya (keponakan) untuk menyusui siapa yang ingin mereka jadikan mahram.” Inilah yang diriwayatkan Malik. Ali dan Urwah sependapat dengan riwayat tersebut, dan itulah yang menjadi pendapat Al-Laits bin Sa’ad dan Ibnu Hazm, dalam kitab Al-Bahr yang dinisbatkan kepada Aisyah dan Dawud Azh-Zhahiri berdasarkan pada hadits Sahlah ini, yang tidak diragukan lagi keshahihan, diperkuat lagi dengan firman Allah Ta’ala,

{وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ}

“Ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan.” (QS. An-Nisaa’: 23)

Yang disebutkan dengan mutlak tidak dibatasi dengan umur. Jurnhur shahabat, tabi’in dan fuqaha’ menetapkan status radha’ah itu menjadi mahram ketika ia masih kecil, hanya saja mereka berbeda pendapat dalam menentuan definisi anak kecil tersebut. Jumhur mereka menetapkan bahwa anak kecil itu umurnya sekitar dua tahun, lebih dari itu tidak menjadi mahram; berdasarkan firman Allah,

{حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ}

“Selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Mereka berkata: Radha’ yang menjadikan statusnya mahram pada saat belum disapih dan mereka tidak menentukan usianya. Al-Auza’i berkata, “Apabila ia disapih ketika masih berusia satu tahun dan berlangsung beberapa waktu, baru kemudian disusui lagi selama dua tahun; tidak mengubah statusnya menjadi mahram. Akan tetapi apabila radha’ah dilakukan sebelum ia disapih ibunya walaupun usianya dua tahun; maka ia menjadi mahram. Dan radha’ah yang berbeda dua hal tersebut tersebut tidak menjadikan status anak menjadi mahram. Dalam masalah ini ada beberapa pendapat lainnya, namun tidak berdasarkan pada dalil; maka kami tidak menyebutkannya.

Jumhur ulama berdasarkan pendapatnya pada hadits, “Penyusuan itu disebabkan lapar (makanan pokoknya)” dijelaskan pembahasan terdahulu bahwa yang disebut dengan radha’ah adalah apabila minum ASI itu mengenyangkan, menjadi makanan pokoknya; maka anak yang sudah beranjak dewasa tidak termasuk dalam hadits ini, dipertegas lagi dengan lafazh hadits yang menggunakan lafazh penentuan/terbatas. Jumhur menjawab mengenai hadits Salim terdahulu; bahwa hal itu hanya berlaku bagi Salim dan tidak bagi yang lainnya, sebagaimana jawaban Ummu Salamah yang disampaikan kepada Aisyah, “Kami berpendapat bahwa ini berlaku khusus bagi Salim, dan mungkin juga rukhshah bagi Salim”, atau hukum haditsnya mansukh (tidak dilaksanakan).

Yang berpendapat bahwa radha’ah orang dewasa bisa menjadikannya mahram dengan mengatakan bahwa ayat dan hadits: “Penyusuan itu dikarenakan lapar” kedua-duanya menerangkan nafkah yang wajib diberikan kepada ibu pemberi ASI, yaitu bagi kedua orangtuanya harus memberikan nafkah, baik dengan sukarela atau terpaksa, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

{وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ}

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 233), sedangkan Aisyah adalah perawi hadits dan berpendapat: boleh radha’ kepada orang yang beranjak dewasa dan menjadikan statusnya sama seperti mahram; menunjukkan bahwa pemahaman Aisyah sama seperti pendapat yang kami kemukakan tentang ayat dan hadits tersebut. Ungkapan Ummu Salamah, “Bahwa hadits itu berlaku khusus kepada Salim” hanyalah perkiraan saja; karena Aisyah sendiri langsung menjawab dengan bertanya kepadanya: “Apakah pendapat yang kamu sampaikan mempunyai dasar (contoh) dari Rasulullah?” seketika itu juga Ummu Salamah terdiam.

Sebab, kalau memang itu berlaku khusus kepada Salim saja; tentu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkannya sebagaimana pengkhususan yang diberikan Nabi kepada Abu Burdah berkorban dengan kambing seusia satu tahun. Dan ungkapan bahwa hadits ini mansukh juga tidak bisa diterima; karena hadits ini mutaakhir (lebih terakhir) daripada turun ayat yang menjelaskan ketentuan menyusui hanya sampai dua saja, diperkuat lagi dengan pertanyaan Sahlah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Bagaimana mungkin saya menyusui, sedangkan ia sudah dewasa?”

Menambahkan: pertanyaan Sahlah ini adalah pertanyaan istinkar (mengingkari) untuk menyusui orang dewasa; menunjukkan bahwa solusi yang disampaikan bisa menjadikan status mahram.

Pendapatku: sudah maklum bahwa makna radha’ah secara bahasa adalah ketika diberikan kepada orang masih kecil, berdasarkan pengertian secara bahasa ini didukung firman Allah menerangkan usia dua tahun, dan hadits, “Penyusuan dikarenakan lapar”, memang ayat itu mewajibkan untuk memberikan nafkah kepada ibu yang menyusui, akan tetapi bukan berarti tidak menerangkan juga waktu atau usia ketika memberikan radha’ah, bahkan Allah menjadikannya sebagai periode bagi yang mau menyempurnakan proses radha’ah, dan bukan berarti setiap perbuatan sempurna yang melampaui batas kesempurnaan menurut syariat dikatakan sempurna dalam Islam.

Yang paling baik adalah dengan menggabung antara makna hadits Sahlah dan pendapat Ibnu Taimiyyah yang menyebutkan: radha’ah yang menjadikannya mahram adalah ketika ia masih kecil, kecuali apabila keadaannya sangat darurat yang mengharuskan memberikan radha’ah kepada yang dewasa karena selalu bertemu dengannya di rumah dan sulit untuk menghindari agar ia tidak melihat kepada si ibu (bukan ibu kandung), sebagaimana keadaan Salim dengan isteri Abu Huzaifah, berdasarkanhal ini, memberikan Radha’ ah dalam situasi dharurat kepada orang dewasa; tetap mempengaruhinya (mengubah statusnya menjadi mahram), dan selain hal tersebut, tidak menjadikannya mahram karena radha’ah itu ketika ia masih kecil. Hal itu merupakan penggabungan pendapat yang baik antara hadits-hadits dan pengamalannya tanpa menyelisihi zhahir hadits; baik dalam istilah pengecualian, nasakh atau mengabaikan salah satu makna hadits berdasarkan maknanya secara bahasa maupun makna hadits lainnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *