[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 365

10. KITAB RUJUK – 10.04. BAB PENYUSUAN 01

1043

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

1043. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sekali dan dua kali isapan (minum ASI) itu tidak mengharamkan.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1450)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Al-Mashshah menunjukkan hitungan sekali berasal dari Al-Mashsh, yaitu mengambil sebagian kecil dari sesuatu sebagaimana dalam kitab Adh-Dhiya’ dan Al- Qamus berarti saya minum sedikit.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa bayi yang minum ASI sekali maupun dua kali hisapan tidak menjadikannya sebagai anak yang disusui (anak sendiri). Ada beberapa pendapat dalam masalah ini:

Pertama: hitungan yang mengharamkan adalah hisapan tiga kali dan seterusnya, inilah pendapat Dawud dan pengikutnya serta jama’ah ulama berdasarkan mafhum hadits Muslim ini, dan hadits Muslim lainnya:

لَا تُحَرِّمُ الْإِمْلَاجَةُ وَالْإِمْلَاجَتَانِ»

“Tidak merubah status anak menjadi mahram dengan sekali minum maupun dua kali minum ASI” [Shahih: Muslim 1451]

menunjukkan bahwa yang merubah statusnya menjadi haram (mahram) di atas dua kali isapan ASI dan seterusnya.

Kedua: Jama’ah ulama salaf (shahabat) dan khalaf (setelah shahabat) menyebutkan sedikit maupun banyak bilangan ia (bayi) mengisap ASI, sudah cukup mengubah statusnya menjadi mahram. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas dan salaf lainnya, inilah yang menjadi pendapat Al-Hadawiyyah, Al-Hanafiyyah dan Malik. Mereka berpendapat bahwa standar penentuannya adalah segala sesuatu yang sampai ke lambung dengan sendiri. Ada yang menganggap ijma’ ulama yang menetapkan bahwa anak tersebut menjadi mahram walaupun hanya minum ASI seukuran minuman yang langsung membatalkan puasa; berdasarkan firman Allah yang mengharamkan (mahram) Ar-Radha’ secara mutlak. Jadi, apabila perbuatan si bayi sudah dikatakan minum ASI; maka langsung menjadi mahram. Ditambah lagi ada hadits yang memperkuat firman Allah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Saudara sesusuan itu status hukumnya sama seperti saudara dari nasab.” Berdasarkan hadits Uqbah yang akan datang dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Bagaimana kalian (hendak menikah) sedangkan seseorang mengaku telah menyusui kalian berdua.” dengan tidak menyebutkan berapa kali ia minum ASI, inilah dalil-dalil yang mendukung pendapat mereka.

Akan tetapi, mereka sendiri berbeda pendapat untuk menentukan definisi tentang Radha’ah yang tidak bersumber dari dalil. Maka pendapat mereka dijawab bahwa ungkapan lafazh Radha’ sangat umum dan syari’atlah yang menentukan berapa kali jumlahnya. Maka apabila sudah dijelaskan berarti syari’at tidak meninggalkan ketentuan yang menjadi standar penentuan jumlahnya.

Ketiga: ia belum menjadi mahram kecuali sampai lima kali minum ASI, inilah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Az-Zubair, Asy-Syafi’i dan riwayat dari Ahmad; berdasarkan hadits Aisyah yang menyebutkan dengan lima kali. Dan juga bahwa Sahlah binti Suhail menyusui Salim sampai lima kali -akan disebutkan- walaupun hadits itu bertentangan mafhum hadits satu dan dua kali isapan ASI terdahulu, akan tetapi hadits manthuq (disebutkan dengan jelas bilangan angka) lebih kuat kedudukannya dalam istinbath hukum dan lebih didahulukan. Hadits Aisyah walaupun kandungannya sama dengan Al-Qur’an, akan tetapi hukum mengamalkannya sama dengan Khobar Ahad sebagaimana dikenal dalam Ilmu Ushul, diperkuat lagi dengan hadits Sahlah yang menyebutkan bahwa ia menyusui Salim sebanyak lima kali agar menjadi mahram. Hal itu menunjukkan bahwa mereka menetapkan bahwa bayi (anak) yang sudah lima kali minum ASI menjadi mahram, akan dijelaskan tahqiq dalam masalah ini.

Sedangkan hakikat sekali radha’ah (susuan) seperti sekali pukulan atau duduk satu kali, maka ketika si bayi minum ASI sepuas-puasnya dan berhenti dengan sendiri dan bukan karena dihentikan atau terganggu dengan hal lainnya, ketika ia terhenti sejenak karena ingin bernafas, atau istirahat sebentar atau melihat sesuatu yang menggodanya, kemudian ia menyusu lagi; ini masih dihitung dengan sekali radha’ah. Sebagaimana seorang yang sedang makan, lalu ia berhenti sejenak; kemudian kembali makan lagi, bukankah ini dihitung dengan sekali makan. Menurut madzhab Asy Syafi’i yang menetapkan definisi radha’ah. Definisi inilah yang sesuai dengan pengertian secara bahasa, maka apabila ia menyusu sebanyak lima kali dengan cara seperti itu; maka ia langsung menjadi mahram.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *