[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 364

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 11

1041

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ فِي سَبَايَا أَوْطَاسٍ: «لَا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ، وَلَا غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ – وَلَهُ شَاهِدٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – فِي الدَّارَقُطْنِيِّ.

1041. Dari Abu Sa’id Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang tawanan wanita Authas, “Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali.” (HR. Abu Dawud. Hadits shahih menurut Al-Hakim. Ada hadits lain sebagai penguat yang diriwayatkan Ad-Daraquthni dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu)

[Shahih: Abu Daud 2157]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Authas adalah nama sebuah lembah di daerah Hawazin, yang berdekatan dengan Hunain. Ada yang mengatakan: lembah Authas bukanlah lembah Hunain. Ad-Daraquthni meriwayatkan hadits ini diawali dengan larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali. Hanya saja ini berasal dari riwayat Syuraik Al-Qadhi yang banyak diperbincangkan ulama hadits, sebagaimana juga yang disebutkan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Irsyad.

Tafsir Hadits

Hadits merupakan dalil yang mewajibkan kepada seseorang yang menawan tawanan wanita untuk memastikan terlebih dahulu status rahim wanita tawanan dengan datang haid sekali bagi yang tidak hamil dan melahirkan bagi yang hamil; jika ia ingin bercampur dengannya. Maka qiyaskan terhadap budak wanita yang dibeli dan tawanan perang dimiliki karena semua itu statusnya baru dimiliki. Zhahir sabda Nabi, “Dan wanita yang tidak hamil sampai dia haid sekali” berlaku secara umum, baik terhadap yang masih gadis ataupun janda; janda berdasarkan lafazh tersebut, sedangkan seorang gadis berdasarkan pada keumuman lafazh hadits. Dan wanita yang belum baligh penetapan iddahnya diqiyaskan dengan yang sudah baligh walaupun diketahui ia tidak hamil. Inilah pendapat kebanyakan ulama.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa istibra’ (mengetahui status rahimnya) bagi yang tidak diketahui keadaannya, bagi yang sudah diketahui; maka tidak perlu istibra’. Inilah yang diriwayatkan Abdurrazzaq dari Ibnu Umar berkata, “Apabila budak wanita itu masih gadis; maka tidak perlu melakukan istibra’, hadits serupa diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya dari Ibnu Umar, diriwayatkan juga dalam kitab Shahih Muslim dari Ali Radhiyallahu Anhu dari hadits Buraidah, mafhum hadits-hadits tersebut diperkuat dengan hadits riwayat Ruwaifi’ yang diriwayatkan Ahmad, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir; maka janganlah ia menikah dengan tawanan (statusnya janda) sampai ia haid.”

Inilah penjelasan Imam Malik yang dirangkum Al-Maziri dari murid Imam Malik ketika menetapkan fatwa madzhabnya dengan menegaskan: kesepakatan solusi atas masalah tersebut bahwa setiap budak wanita yang tidak hamil; maka ia tidak perlu istibra’ (mengetahui status rahimnya dengan haid sekali), dan setiap wanita yang diragukan status rahimnya (hamil atau tidak); maka harus menjalani istibra’, akan tetapi bila diyakini bahwa ia tidak hamil, menurut madzhab Malik bisa tetap menjalani istibra’ atau tidak. Masalah ini dibahas dengan panjang lebar yang terangkum sebagai berikut: pedoman Imam Malik dalam menentukan hukum istibra’ demi mengetahui status rahimnya, ketika tidak diketahui atau ragu-ragu. Namun, jika diketahui atau kuat dugaan tidak hamil; maka tidak perlu istibra’. Inilah pendapat Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim.

Hadits-hadits tersebut di atas, semuanya menunjukkan bahwa ‘illahnya hamil atau tidak (boleh langsung dicampuri), dan teks hadits menunjukkan pada kasus tawanan Authas, maka qiyaskanlah pada kasus berpindahnya status milik budak wanita dengan dibeli atau lainnya.

Dawud Azh-Zhahiri berpendapat tidak wajib melakukan istibra’ terhadap selain tawanan perang wanita; karena prinsip madzhabnya tidak menjadikan qiyas sebagai salah satu sumber istinbath hukum, akan tetapi dari zhahir lafazh hadits, dan juga menurutnya bahwa transaksi jual-beli dan lainnya sama seperti akad nikah.

Ketahuilah; bahwa zhahir hadits tentang tawanan perang (terdapat wanita) membolehkan mencampurinya, walaupun mereka belum masuk Islam; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyebutkan syarat Islam yang membolehkan mencampurinya, kecuali mengetahui status rahimnya dengan istibra’ atau dengan haid sekali, seandainya Islam merupakan syarat utama; tentu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menerangkan. Jika tidak, maka hal itu tidak boleh dilakukan Nabi; karena Nabi berkewajiban untuk memberitahukan hukum suatu masalah ketika dibutuhkan dan tidak boleh ditunda-tunda. Maka yang menjadi pedoman adalah keumuman lafazh hadits dan perbuatan shahabat pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang membolehkan mencampuri tawanan perang tanpa disyaratkan Islam terlebih dahulu. Inilah pendapat Thawus dan lainnya.

Ketahuilah; bahwa mafhum hadits menunjukkan boleh untuk bersenang-senang dengan tawanan perang tanpa menggaulinya sebelum dipastikan istibra’ terlebih dahulu, diperkuat lagi dengan perbuatan Umar yang menyebutkan: saya mendapatkan bagian perang seorang budak wanita pada hari Jalula’, lehernya seputih perak, lalu Umar berkata, “Saya tidak bisa menguasai diriku sehingga langsung saya cium, sedangkan muslimin lainnya menyaksikan apa yang aku lakukan.” [At-TarikhAl-Kabir (1/419)]

1042

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيثِهِ. وَمِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ فِي قِصَّةٍ وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ النَّسَائِيّ، وَعَنْ عُثْمَانَ عِنْدَ أَبِي دَاوُد.

1042. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Anak itu milik tempat tidur (isteri) dan bagi laki-laki yang berzina dirajam. (Muttafaq Alaih dari haditsnya. Demikian juga hadits An-Nasa’i dari Aisyah dalam suatu kisah dari Ibnu Mas’ud dan riwayat Abu Dawud dari Utsman)

[shahih, Al-Bukhari (6818) dan Muslim (1458)]

[Shahih: An-Nasa’i (3482)]

[Dha’if: Abi Dawud (2275)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ibnu Abdil Bar berkomentar, “Hadits ini diriwayatkan oleh 25 shahabat.”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menetapkan bahwa nasab anak milik tempat tidur (isteri). Ulama berbeda pendapat tentang makna firasy: Jumhur ulama berpendapat bahwa makna firasy adalah perumpamaan seorang wanita sebagai tempat tidur. Abu Hanifah berpendapat maknanya adalah untuk suami, kemudian mereka berbeda pendapat lagi tentang bagaimana menetapkan hal itu? Jumhur ulama berpendapat kalau ia wanita merdeka ditentukan dengan bisa untuk dicampuri dalam nikah shahih atau fasid (rusak), inilah pendapat Al-Hadawiyah, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Menurut Abu Hanifah langsung ditetapkan dengan pelaksanaan akad, walaupun diketahui ia tidak menggaulinya, bahkan seandainya ia menceraikannya di majlis tersebut setelah akad nikah; ia ditetapkan juga dengan firasy (tempat tidur). Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa wanita itu disebut dengan firays jika benar-benar dicampuri, inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim, lalu berkata, “Apakah ada ahli bahasa dan ilmu yang menyebutkan bahwa wanita yang tidak dicampuri dengan firays? Lalu bagaimana syariat menetapkan nasab kepada seorang yang belum pernah tinggal apalagi mencampuri isterinya walaupun itu bisa dilakukan? Biasanya ia mampu untuk mencampuri isterinya, akan tetapi ketetapannya ketika ia benar-benar bisa mencampuri isterinya. Disebutkan dalam kitab Al-Manar: Inilah yang bisa ditetapkan dengan pasti, maka bagaimana mungkin kita bisa menetapkan statusnya dengan pasti bila hanya berdasarkan pada asumsi: hal itu bisa ia lakukan! Masalah seperti masih ragu-ragu, sedangkan kita dituntut dalam pelaksanaan Ibadah berdasarkan ilmu atau zhann (dugaan), dan anggapan mampu itu masih terlalu umum bahkan lebih umum dari zhann.

Maka sangat mengherankan apabila pendapat jumhur ulama yang dilaksanakan walaupun masih meragukan, dengan demikian tampaklah dengan jelas ketetapan pendapat Ibnu Taimiyyah, inilah yang menjadi pendapat Imam Ahmad. Hukum ini berkaitan dengan wanita merdeka. Sedangkan hukum yang berkaitan dengan budak wanita, zhahirnya ia termasuk dalam hadits ini. Seorang budak wanita ditetapkan sebagai firasy jika bisa dicampuri bagi yang mampu atau budak wanita itu syubhat kepemilikanny a; apabila si majikan mengetahui atau ditetapkan dengan salah satu faktor. Hadits itu yang berkaitan dengan budak wanita, lafazhnya terdapat dalam riwayat Aisyah, ia berkata, “Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abd bin Zam’ah bertengkar tentang status anak hamba. Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah anak dari saudaraku Utbah bin Abi Waqqash yang dititipkan kepadaku agar mengurusnya, perhatikan kemiripannya. Abd bin Zam’ah berkata, “Anak ini adalah saudaraku wahai Rasulullah, hasil hubungan bapakku dengan budak wanitanya, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengamati kemiripannya; Rasulullah memutuskan ia lebih mirip dengan Utbah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ia adalah milikmu, wahai Abd bin Zam’ah, anak adalah milik orang yang menggaulinya dan bagi -pezinanya dihukum rajam, berhijablah kamu wahai Saudah.” Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan anak itu dengan firasy Zam’ah, inilah hukum yang berkaitan dengan budak wanita sependapat dengan pendapat jumhur ulama, dan juga pendapat Asy-Syafi’i, Malik, An-Nakha’i, Ahmad dan Ishaq.

Al-Hadawiyyah, Al-Hanafiyyah berpendapat tidak bisa ditetapkan kecuali bila dituntut, dan tidak cukup dengan pengakuan dicampuri. Jika tidak dituntut; maka tidak bisa dinasabkan kepadanya dan dinasabkan kepada majikannya. Apabila ia tetapkan telah mencampurinya; maka nasab anak tersebut kepadanya, namun setelah itu anak yang dilahirkan dinasabkan kepada majikannya, apabila majikannya tidak menuntut yang lainnya. Mereka berkata, “Untuk membedakan status hukum antara budak dan yang merdeka, karena wanita yang merdeka dinikahi dengan tujuan untuk dicampuri berbeda dengan budak; karena budak wanita itu tidak sebatas untuk dicampuri tapi untuk mendapatkan manfaat lainnya. Jawaban itu dibantah, karena pembahasannya tentang budak wanita yang dibeli untuk dicampuri, apabila sudah dibeli dan ia mengaku dicampuri; maka sudah menjadi firasy dan tidak membutuhkan ketetapan tentang nasab anaknya; berdasarkan hadits tersebut. Abdullah bin Zam’ah berkata, “Ia lahir karena menjadi firasy bapakku, lalu Nabi menasabkan anak tersebut kepada Zam’ah selaku pemilik firays dengan mengesampingkan kemiripannya dengan penuntut.”

Al-Hadawiyyah dan Al-Hanafiyyah menafsirkan hadits Abu Hurairah dengan berbagai penafsiran dengan mengatakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menasabkan anak yang diperdebatkan itu kepada Zam’ah; dengan dalil bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh Saudah Binti Zam’ah berhijab dari anak itu. Jawaban ini dibantah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh berhijab sebagai tindakan hati-hati dan wara’ terhadap Ummahatul Mukminin pada hal-hal yang masih syubhat (tidak jelas), yaitu ketika melihat bahwa anak tersebut lebih mirip dengan Utbah bin Abi Waqqash. Sedangkan murid-murid Malik berpendapat lain dengan menegaskan: hadits ini menunjukkan untuk menetapkan hukum di antara dua hukum yang diperselisihkan, yaitu dengan menetapkan hukum tersebut pada cabang karena lebih banyak mirip daripada asalnya, karena lafazh firasy menunjukkan lafazhnya kepada Zam’ah, sedangkan kemiripannya lebih mirip Utbah; maka Far’ diberikan dua pilihan hukum, akan tetapi ketika menetapkan nasab; ditetapkan dengan lafazh firasy, dan karena lebih mirip dengan Utbah; maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh Saudah untuk berhijab, mereka berkata: inilah penafsiran yang lebih utama, karena far’ yang mempunyai dua hukum asal; maka ditetapkan dengan salah satunya dan diabaikan kemiripannya dengan yang kedua. Apabila bisa dikaitkan dengan kedua pada salah satu segi, berarti lebih tepat lagi untuk mengabaikan salah satu hukum dari kedua pada segala segi; maka hukum yang terkait dengan hal itu ditentukan dengan tuntutan penuntut yang menghendaki nasab anak itu kepadanya. Sedangkan hukum yang terkait dengan yang lainnya dalam masalah “melihat” kepada yang mahram tidak bisa ditetapkan, mereka berkata: tidak apa menetapkan nasab atas satu alasan, sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Al-Auza’i dan lainnya menegaskan tidak halal bagi seorang menikah dengan anaknya hasil zina walaupun status hukumnya sama dengan orang asing. Pendapat ini dibantah oleh Muhaqqiq Tajuddin bin Daqiq Al-‘Id dengan dalil yang tidak kuat.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa seseorang bisa menuntut menetapkan nasab anak kepadanya, karena Abdullah bin Zam’ah menetapkan anak itu sebagai saudaranya dengan pengakuan bahwa ibunya adalah Firasy bapaknya, zhahirnya bahwa hal itu sah walaupun tidak dibenarkan oleh ahli waris lainnya, karena Saudah tidak menyebutkan persetujuan ataupun pengingkaran hanya saja dalam istilah fikih diamnya seorang wanita itu merupakan tanda pengakuannya. Dalam masalah ini terdapat dua hal pokok:

Pertama: apabila yang menuntut nasab anak itu bukan bapak dan ia tidak mempunyai ahli waris selain anak tersebut, seperti seorang kakek yang menetapkan nasab anak atasnya dan ia tidak mempunyai ahli waris selain dia; maka pengakuannya sah, dan ditetapkan nasabnya atas nama dirinya, demikian juga jika sebagian ahli waris menetapkan nasab anak tersebut dan walaupun hanya sebagian yang membenarkan. Dasar pada masalah itu, bahwa siapa yang mendapatkan harta warisan; maka ia bisa menetapkan nasab dengan pengakuannya sendiri atau didukung lainnya. Inilah madzhab Ahmad dan Asy-Syafi’i; karena ahli waris berkedudukan seperti si mayit sekaligus menempati posisinya.

Kedua: Al-Hadawiyyah tidak mengakui penetapan nasab anak yang diakui kecuali bapak, dan anak yang diakui nasabnya tersebut berhak mendapatkan warisan dari si pengaku (bapaknya) tapi tidak pada nasab keturunan, akan tetapi sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Abd, “Ia adalah saudaramu” sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari merupakan dalam penetapan nasab kepadanya, kemudian para ulama berbeda pendapat apabila yang menetapkan nasab selain bapak, apakah itu sebagai wakil sekaligus pengganti dari si mayit sehingga tidak disyaratkan kejujuran si penuntut maupun keislamannya, atau hal itu merupakan pengakuannya sebagai saksi dalam masalah tersebut sehingga harus diketahui kapasitasnya sebagai saksi? Asy-Syafi’iyyah dan Ahmad berpendapat bahwa itu merupakan pengakuannya sebagai wakil sekaligus pengganti kedudukannya. Sedangkan Al-Malikiyyah berpendapat bahwa itu pengakuannya sebagai saksi.

Al-Hadawiyyah dan Al-Hanafiyyah berdasarkan pada hadits bab yang tidak menetapkan nasab anak dari pengamatan Qiyafah (kemiripan fisik) berdasarkan sabda Nabi, “Nasab anak itu untuk Firasynya”, mereka berpendapat bahwa struktur kalimat ini menunjukkan pembatasan, sebab seandainya status anak bisa ditentukan dengan kemiripan fisik; tentu nasab anak itu dikembalikan kepada Utbah dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melakukan hal tersebut; bahkan menetapkan nasab anak itu kepada lainnya.

Asy-Syafi’i dan lainnya berpendapat bahwa status nasab anak bisa ditetapkan dengan kemiripan fisik (Qiyafah) hanya penetapan itu bisa dilakukan bila budak wanita itu dicampuri secara haram oleh dua orang seperti pembeli dan penjual yang mencampuri budak wanitanya saat suci sebelum diketahui status rahimnya (istibra’); berdasarkan hadits yang diriwayatkan Asy-Syaikhani yang memberikan kabar gembira dengang menyebutkan Mujazziz Al-Mudlaji, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat kedua telapak kaki Usamah bin Zaid dan Zaid, beliau bersabda, “Kaki-kaki ini berasal dari satu keturunan,” maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira dengan sabdanya dan menetapkan nasabnya berdasarkan kemiripan fisiknya.

Pembahasan tentang hal itu akan disampaikan pada bab tuntutan. Diperkuat lagi dengan sabda Nabi pada kisah li’an, “Kalau fisiknya seperti ini; maka ia anak si fulan, dan apabila fisiknya seperti ini dan ini; maka ia anak si Fulan” merupakan dalil yang menetapkan nasab berdasarkan pada kemiripan nasab, akan tetapi penetapan nasab itu terhalang dengan sumpah. Hadits ini menunjukkan bahwa nasab bisa ditentukan dengan kemiripan fisik, namun tidak bisa dilaksanakan bila ada seorang menuntut sebagaimana penjelasan di atas, dan juga Nabi bersabda kepada Ummu Sulaim ketika ia bertanya, “Apakah wanita juga mengalami mimpi basah?” Maka darimana datangnya kemiripan fisik tersebut?

Dan juga karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh Saudah untuk berhijab karena anak tersebut ada kemiripan fisik seperti yang tersebut di atas, dan Nabi sendiri menjawab kepada seorang yang menyebutkan bahwa anak yang dilahirkan budak wanita warna berbeda warna kulitnya, “Mungkin ia mirip dengan kakek-kakeknya terdahulu ” menetapkan nasab dengan faktor kemiripan secara fisik, akan tetapi hal itu tidak bisa diterapkan apabila ketetapan nasab itu dengan pengakuan bahwa ia anak firasynya.

Para penentang penentuan nasab dari faktor kemiripan fisik membantah dengan jawaban yang mengada-ada, sedangkan hukum ditetapkan dengan dalil yang zhahir, maka mengada-adakan jawaban untuk menolak lafazh zhahir hadits hanyalah untuk mempertahankan pendapat dalam madzhab bukannya mencari kebenaran bersumber dari Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Sedangkan penentuan pada lafazh hadits, “Anak itu milik firaysnya (isteri)” jika ditetapkan bahwa nasab anak itu kembali ke status firasynya, dan pembahasan ini bila hal itu tidak bisa ditetapkan, karena kadang-kadang penentuan status itu dengan lafazh yang berlaku secara umum, baru kemudian disebutkan lafazh penentuannya. Karena lafazh penentuan (hashr) sedikit sekali, maka contoh ungkapan berikut ini tidak dikategorikan: sungguh kalian telah meralat takwil yang salah itu. Sedangkan sabda Nabi “Sedangkan bagi laki-lakinya dirajam (al-hajr).” Maksudnya, bagi si laki-laki yang berzina adalah kerugian. Ada yang berpendapat: dihukum rajam, hanya saja sudah maklum bagi pezina yang sudah menikah dihukum dengan rajam, sedangkan hadits bab ini masih umum.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *