[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 363

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 10

1038

وَعَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «امْرَأَةُ الْمَفْقُودِ امْرَأَتُهُ حَتَّى يَأْتِيَهَا الْبَيَانُ» . أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

1038. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Istri yang ditinggal suaminya tanpa berita, tetap menjadi isteri bagi suami tersebut hingga datang kepadanya berita.” (HR. Ad-Daraquthni dengan sanad yang lemah)

[Dhaif sekali: Dhaif Al Jami’ 1253]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Kalau hadits ini kuat, tentu menguatkan atsar-atsar terdahulu, hanya saja Abu Hatim, Al-Baihaqi, Ibnu Al-Qaththan, Abdul Haq dan lainnya mendha’ifkan hadits ini.

1039

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ إلَّا أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا، أَوْ ذَا مَحْرَمٍ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

1039. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki bermalam di rumah seorang perempuan kecuali ia (perempuan itu) sebagai isterinya atau sebagai mahram.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (2171)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dalam riwayat Muslim terdapat lafazh tambahan, امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ ‘Perempuan janda’. Ada yang berpendapat, “Lafazh tambahan dengan istilah janda; karena biasanya yang mempersilahkan tidak malu-malu menerima tamu laki-laki adalah janda, sedangkan seorang gadis biasanya sangat menghindari tamu laki-laki. Di samping itu, bila kebiasaan bertamu dengan janda dilarang; maka tentunya dengan gadis lebih utama dilarang.

Maksud kata Nakihan adalah menikah dengannya.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang mengharamkan khalwah (berduaan) dengan wanita yang bukan mahram, dan dibolehkan berduaan dengan wanita mahram. Ketetapan hukum tersebut berdasarkan ijma’ ulama.

Para ulama telah mendefinisikan bahwa mahram adalah setiap orang yang haram dinikahi untuk selamanya karena sebab mubah yang mengharamkannya. Namun, dalam hal ini ada pengecualian, yakni saudari isteri (ipar), bibinya (baik dari pihak ibu maupun bapak) dan lainnya yang tidak diharamkan untuk selamanya.

Ungkapan “Sebab yang mubah” mengecualikan wanita yang digauli dengan syubhah dan anak gadisnya; bahwa keduanya diharamkan selama-lamanya, akan tetapi tidak disifati mubah, karena hubungan suami-isteri syubhah tidak bisa disifati dengan mubah dan haram maupun dengan hukum-hukum lima lainnya; karena tidak termasuk perbuatan mukallaf. Ungkapannya “Diharamkan” mengecualikan pelaku dari sekedar mendapatkan laknat, karena hal tersebut diharamkan selama-lamanya dan tidak sebatas diharamkan saja bahkan sangat diwanti-wanti. Mafhum dari ungkapan ‘Jangan bermalam’ dibolehkan berduaan dengan wanita asing atau lainnya (boleh dinikahi) di siang hari. Akan tetapi pemahaman ini dibantah dengan hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *