[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 362

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 09

1036

وَعَنْ رُوَيْفِعِ بْنِ ثَابِتٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَحَسَّنَهُ الْبَزَّارُ.

1036. Dari Ruwaifi’ bin Tsabit Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain (menyetubuhi wanita lainnya).” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi. Hadits ini shahih menurut Ibnu Hibban dan hasan menurut Al-Bazzar)

[hasan, Abi Dawud (2158)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ruwaifi’ berasal dari keturunan Bani Malik bin An-Najjar termasuk yang tinggal di daerah perkotaan, meninggal dunia pada tahun 46 H.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang mengharamkan bagi seseorang menggauli wanita yang sedang hamil (bukan isterinya), seperti budak wanita yang baru dibeli jika ia hamil bukan karena si pembeli (tapi orang lain) dan wanita tawanan perang; apabila benar-benar sedang hamil. Sedangkan jika kehamilannya belum pasti dan kepemilikannya atas budak wanita itu karena ia tertawan atau dibeli atau lainnya; akan dijelaskan pada pembahasan akan datang yang menegaskan bahwa ia juga tidak boleh digauli sampai dipastikan keadaan rahimnya dengan sekali haid.

Ada perbedaan ulama terhadap wanita zina yang tidak hamil: apakah wajib menjalani masa iddah atau cukup mengetahui status rahimnya dengan sekali haid? Sebagian ulama mewajibkan untuk menjalani masa iddah. Kebanyakan ulama lainnya tidak mewajibkan baginya untuk menjalani masa iddah. Dan kedua pendapat ini tidak berdasarkan pada dalil yang menguatkan. Sedangkan kebanyakan ulama berdasarkan pendapatnya pada hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Anak dinisbatkan kepada kasur (kinayah dari isteri) dan tidak dinisbatkan kepada laki-laki yang berzina” hadits bukan merupakan dalil karena menunjukkan bahwa nasab anak hasil perzinahan itu tidak dinisbatkan kepada laki-laki yang berzina, sedangkan pendapat yang mewajibkan baginya untuk menjalani masa iddah berdasarkan pada keumuman ayat tersebut, dan sudah maklum bahwa wanita pezina tidak termasuk dalam hadits tersebut; karena ditujukan kepada para isteri, akan tetapi termasuk pada dalil yang menegaskan untuk mengetahui status rahimnya, yaitu sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak boleh digauli wanita yang sedang hamil sampai melahirkan, dan wanita yang tidak hamil sampai mengalami haid sekali.

Penulis menyebutkan dalam kitab At-Talkhish: Hadits Ruwaifi’ ini dijadikan dalil oleh Hanabilah untuk tidak mengesahkan menikah dengan wanita hamil hasil zina. Sedangkan Al-Hanafiyyah melarang untuk menggaulinya, lalu berkata, “Kelompok-kelompok lainnya menjawab bahwa hadits itu diperuntukkan kepada tawanan perang dan bukan kepada wanita secara umum. Di akhir keterangan disebutkan bahwa ibrah (pengambilan dalil hukum itu) berdasarkan keumuman lafazh.

1037

وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي امْرَأَةِ الْمَفْقُودِ – تَرَبَّصُ أَرْبَعَ سِنِينَ ثُمَّ تَعْتَدُّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا أَخْرَجَهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ

1037. Dari Umar Radhiyallahu Anhuma tentang seorang isteri yang ditinggal suaminya tanpa berita: Ia menunggu empat tahun dan menghitung iddahnya empat bulan sepuluh hari. (HR. Malik dan Asy-Syafi’i)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini mempunyai riwayat lain, dan juga mempunyai kisah yang diriwayatkan Abdurrazzaq dengan sanad sampai kepada orang yang hilang, ia berkata, “Saya memasuki lembah, lalu jin menyembunyikan saya (tidak bisa keluar), maka saya tinggal di Sana selama empat tahun, lalu isteri saya menemui Umar meminta fatwa terhadap masalah yang menimpanya. Umar menyuruhnya menjalani masa iddah selama empat tahun terhitung dari laporannya, kemudian wali suaminya (mertuanya) dihadirkan- lalu ia menceraikan atas nama suaminya.

Umar menyuruh si wanita untuk menjalani masa iddah selama empat bulan sepuluh hari. Baru setelah itu saya datang, sedangkan ia (isteriku) sudah menikah dengan yang lainnya, dalam kasusku ini: Umar menyuruhku untuk memilih antara tetap mempertahankan rumah tangga (suami-isteri) atau mengambil maskawin yang pernah saya berikan kepadanya. (HR. Ibnu Abi Syaibah dari Umar dan diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi)

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil menurut madzhab Umar bahwa wanita yang ditinggal suami tanpa berita selama empat tahun; maka ia langsung talak ba’in terhitung dari pertama kali melaporkan kasusnya kepada pemimpin, sebagaimana zhahirnya riwayat Kitab, walaupun riwayat Ibnu Abi Syaibah menunjukkan bahwa seorang hakim (pemimpin) menyuruh wali yang hilang (bapak suami) untuk menceraikan isterinya. Inilah pendapat Malik, Ahmad dan Ishaq, salah satu riwayat Asy-Syafi’i dan jama’ah shahabat berdasarkan pada perbuatan Umar.

Abu Yusuf, Muhammad, riwayat Abu Hanifah dan salah satu pendapat Asy-Syafi’i menyebutkan bahwa statusnya tetap isteri sampai suaminya benar- benar mati atau menceraikan atau ia murtad, berdasarkan informasi yang jelas, mereka berkata, “Karena akad nikah itu adalah akad yang ditetapkan dengan yakin; maka tidak bisa menghilangkan status hukumnya kecuali dengan yakin. Berdasarkan riwayat Asy-Syafi’i dari Ali Radhiyallahu Anhu mauquf, “Wanita yang ditinggal suami tanpa berita adalah wanita yang sedang diuji, maka ia harus bersabar sampai ada kabar tentang kematiannya.” Al-Baihaqi berkata, “Riwayat itu masyhur berasal dari Ali Radhiyallahu Anhu. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq.

Al-Hadawiyah berkata, “Jika ia belum ada kabar yang pasti akan kematian; maka statusnya tetap sebagai isteri dan harus menunggu walaupun sampai usia 120 tahun.” Ada juga yang berkata, “Antara 150 sampai 200 tahun.” Adapun menurut para ahli bahwa perkiraan umur itu hanyalah perkiraan filsafat yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam Islam; karena umur manusia ditentukan Allah Yang Maha Pencipta, dan ungkapan bahwa penentuan umur itu sudah menjadi tradisi adalah tidak benar sebagaimana diketahui setiap orang yang berakal.

Bahkan mungkin sangat jarang seseorang yang mencapai seusia itu; seperti yang disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa umur kita berkisar antara 60-70 tahun. Imam Yahya berkata, “Ia tidak perlu menjalani masa iddah, jika suaminya yang pergi tanpa berita meninggalkan segala kebutuhan untuknya; maka sama saja artinya suami tidak pergi, karena semua kebutuhannya terpenuhi kecuali hubungan suami-isteri merupakan hak suami.

Akan tetapi, jika ia tidak meninggalkan apa-apa yang bisa memenuhi kebutuhan; maka hakim bisa langsung memisahkannya (cerai) ketika ia menuntut hal tersebut tanpa harus menunggu terlebih dahulu berdasarkan firman Allah,

{وَلا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارً

“Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan.” (QS. Al-Baqarah: 231)

Dan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«لَا ضَرَرَ، وَلَا ضِرَارَ فِي الْإِسْلَامِ»

“Tidak boleh menimbulkan mudharat dalam Islam.” [dha’if, Al-Irwa’ (896)]

dan seorang hakim berwenang untuk mengambil kebijakan berkaitan dengan hal-hal yang dapat menimbulkan mudharat, baik berkenaan dengan masalah Ila’ maupun zhihar, ini adalah hal yang sangat patut untuk dilakukan. Begitu juga dengan fasakh (menghapus status pernikahan) disyariatkan karena aib (cacat) dan yang lainnya.

Pendapatku: Inilah pendapat yang paling tepat, sedangkan pendapat-pendapat yang berasal dari Ali dan Umar adalah mauquf. Tersebut dalam kitab Al-Irsyad karya Ibnu Katsir, Asy-Syafi’i meriwayatkan dengan sanad kepada Abu Az-Zinad, ia berkata, “Saya bertanya kepada Sa’id bin Al-Musayyib tentang seorang yang tidak bisa memberikan nafkah kepada isterinya.” Ia menjawab, “Dipisah.” Saya bertanya lagi, “Apakah itu sunnah? Ia menjawab, “Sunnah.” Asy-Syafi’i berkata, “Sepertinya ungkapan ‘Sunnah’ yang dikatakan Sa’id adalah sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kami sudah menerangkan hal itu dalam kitab Hawasyi Dhau’ An-Nahar, lalu kami memutuskan bahwa pernikahannya dibatalkan ketika suaminya pergi tanpa berita atau tidak sanggup memberikan nafkah.

Kisah suami yang pergi tanpa berita juga diriwayatkan Al-Baihaqi, disebutkan bahwa ia menceritakan kepada Umar ketika pulang ke rumah: saya keluar dari rumah untuk shalat Isya’; lalu saya ditawan oleh bangsa jin, akhirnya saya tinggal dengan mereka dalam waktu yang lama; sewaktu-waktu markas jin tersebut diserang pasukan jin muslim, maka terjadilah pertempuran dengan kemenangan di pihak jin muslim.

Saya pun menjadi tawanan perang sebagaimana bangsa jin yang menawan saya, lalu mereka berkata, Menurut kami, kamu adalah seorang muslim dan tidak boleh bagi kami untuk menawanmu. Kemudian mereka memberi saya dua pilihan antara diam bergabung dengan mereka atau kembali lagi kepada keluargaku, maka saya memilih kembali kepada keluargaku.” Mereka pun menerima keinginanku. Apabila malam menjelang, mereka tidak mengajak saya berbicara.

Dan jika siang, saya hanya mengikuti arah angin, lalu Umar berkata, “Apa yang kamu makan ketika di sana? Ia menjawab, “Sejenis kacang-kacangan dan segala makanan yang dimakan tidak diiringi dengan bacaan basmalah.” Umar bertanya lagi, “Apa yang kamu minum di sana? Ia menjawab, “Al-Jadaf.” Qatadah berkata, “Al-Jadaf adalah minuman yang tidak tertutup.” Pendapat yang tersebut di atas benar; apabila hadits berikut ini benar:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *