[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 361

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 08

1035

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «طَلَاقُ الْأَمَةِ تَطْلِيقَتَانِ وَعِدَّتُهَا حَيْضَتَانِ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَأَخْرَجَهُ مَرْفُوعًا، وَضَعَّفَهُ وَأَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ وَخَالَفُوهُ، فَاتَّفَقُوا عَلَى ضَعْفِهِ.

1035. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, “Talak budak perempuan ialah dua kali dan masa iddahnya dua kali haid.” (HR. Ad-Daraqutihni dengan marfu’ dan ia menilainya dha’if. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah juga meriwayatkan dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha dan dinilai shahih oleh Al-Hakim. Namun para ahli hadits menentangnya dan mereka sepakat bahwa ini haditsnya dhaif)

[Dhaif: Abu Daud 2189]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini mauquf kepada Ibnu Umar dan didhaifkan Ad-Daraquthni karena dari riwayat Athiyyah Al-Ufi, dan didhaifkan juga oleh beberapa Imam hadits. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah juga meriwayatkan dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha dengan lafazh, “Talak budak perempuan dua kali dan iddahnya dua kali haid,” hadits ini dhaif karena dari hadits Muzhahir bin Aslam, dan Abu Hatim menyebutkan, “Hadits ini munkar.” Ibnu Ma’in berkata, “Tidak dikenal.” Dari keterangan tersebut di atas dan yang terdahulu; maka tidak bisa dijadikan dalil pada masalah yang pertama.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa hukum yang berkaitan dengan budak wanita berbeda dengan wanita yang merdeka; maka ia langsung talak ba’in ketika ditalak dua kali, dan iddahnya dua kali qur’ (dua kali haid atau suci). Dalam masalah ini, ulama mempunyai empat pendapat: pendapat yang paling kuat adalah Azh- Zhahiriyyah yang menyebutkan bahwa hukum talak yang berkaitan antara budak dan merdeka sama; sementara tiga pendapat lainnya sudah disampaikan beserta dalil-dalilnya dan tidak perlu disebutkan lagi karena dalam masalah tersebut tidak ada dalil yang kuat.

Sedangkan iddahnya, para ulama juga berbeda pendapat. Azh- Zhahiriyyah menyatakan bahwa iddahnya sama dengan iddah wanita merdeka. Abu Muhammad bin Hazm berkata, “Allah Ta’ala berfirman,

{وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ}

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” (QS. Al-Baqarah: 228)

{وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا}

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah -para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah: 234)

{وَاللائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولاتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ}

“Dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Allah Ta’ala membolehkan budak-budak wanita kepada kita dan memberitahukan bahwa masa iddahnya seperti yang tersebut dalam ayat tersebut, Allah tidak membedakan status hukumnya antara budak wanita dan yang merdeka dan Allah tidak lalai untuk menjelaskan hal tersebut. Setelah menafsirkan hal itu, ulama-ulama lain yang membantah menegaskan bahwa ayat-ayat tersebut di atas ditujukan atas isteri-isteri berstatus wanita merdeka, sebab firman Allah,

{فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ}

“Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri utuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqarah: 229)

Ditujukan kepada wanita-wanita merdeka, karena tebusan untuk seorang budak diambil oleh majikannya, demikian juga firman Allah,

{فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا}

“Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali.” (QS. Al-Baqarah: 230)

Ditujukan kepada suami-isteri yang maknanya pada ayat itu akad nikah, sedangkan bagi budak perempuan urusan yang berkaitan dengan hal itu diserahkan kepada tuannya. Demikian juga firman Allah,

{فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ}

“Kemudian apabila telah habis masa ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 234)

Ditujukan kepada wanita merdeka; karena budak wanita tidak memiliki wewenang untuk melakukan berbuat sesuatu apa pun.

Pendapatku, jika ia tidak termasuk dalam ayat itu, dan juga tidak ada ketetapan status hukumnya, baik dalam sunnah nabi, ijma’ maupun qiyas, lalu bagaimana menentukan masa iddahnya? Maka yang paling dekat adalah dengan menjadikan statusnya sebagai isteri, karena syari’at membagi wanita yang halal menjadi dua: isterinya atau budak wanita yang dimiliki. Allah Ta’ala berfirman,

{إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ}

“Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki.” (QS. Al-Mukminun: 6)

Ayat inilah yang menjadi perselisihan ulama, karena maksudnya bukan benar budak wanita yang dimiliki, akan tetapi ia juga isteri termasuk dalam ayat itu, tidak termasuknya ia dalam status hukum yang sama dengan yang merdeka seperti yang berkaitan dengan tebusan, akad dan amal-amal ma’ruf yang berkaitan dengan dirinya sendiri bukan berarti hukum iddahnya tidak sama dengan wanita merdeka; karena hukum-hukum tersebut berkaitan dengan tuannya sebagaimana wanita merdeka yang masih kecil; karena hukumnya tergantung dengan walinya. Maka yang rajih (kuat) bahwa hukumnya sama dengan wanita merdeka baik berkaitan dengan hukum talak dan iddah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *