[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 360

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 07

1034

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: إنَّمَا الْأَقْرَاءُ الْأَطْهَارُ أَخْرَجَهُ مَالِكٌ فِي قِصَّةٍ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ.

1034. Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Arti Quru’ adalah suci.” (HR. Malik dalairi suatu kisah dengan sanad shahih)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Kisah seperti yang disebutkan dalam hadits. Asy-Syafi’i berkata, “Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah menerangkan bahwa sebagian shahabat mendebat Aisyah tentang makna firman Allah, “Tiga kali quru’.” (QS. Al-Baqarah: 228)

Aisyah berkata, “Benar, tapi apakah kalian mengetahui makna lafazh Al-aqra’? ‘Aisyah menyebutkan: ‘Aqra’ adalah suci. Asy-Syafi’i berkata, “Malik menyampaikan kepada kami riwayat dari Ibnu Syihab dan berkata, “Saya tidak menemukan seorang pun pakar fikih di zaman kami, kecuali dia mengatakan sebagaimana yang kami sebutkan (sesuai dengan pendapat Aisyah).”

Tafsir Hadits

Ada perbedaan ulama salaf dan khalaf dalam masalah tersebut, walaupun bersepakat bahwa Qur’a bisa berarti haid atau suci. Tidak ada perbedaan ulama dalam firman Allah, “tiga kali quru’.”(QS. Al-Baqarah: 228), maknanya salah satu dari keduanya, hanya saja ulama berbeda pendapat menentukan makna dari keduanya. Kebanyakan shahabat, fuqaha’ Madinah, Asy-Syafi’i, salah satu riwayat Ahmad dan inilah yang menjadi pendapat Malik: pakar ilmu di daerah kami menegaskan bahwa makna Qur’a adalah suci berdasarkan hadits Aisyah.

Asy-Syafi’i berkata, “Hal itu didasarkan pada Al-Qur’an dan bahasa Arab. Adapun dalam Al-Qur’an, sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala,

{فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ}

“Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” (QS. Ath-Thalaq: 1)

Ibnu Umar meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«ثُمَّ تَطْهُرُ ثُمَّ إنْ شَاءَ أَمْسَكَ، وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تَطْلُقَ لَهَا النِّسَاءُ»

“Lalu jika ia suci lagi, maka terserah suaminya, mungkin ingin tetap mempertahankan rumah tangga atau ingin menceraikan; itulah iddah atau ketentuan diperbolehkan mencerai isteri.’ [Shahih: Al Bukhari 4908 dan Muslim 1471]

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Ibnu Umar menceraikan isterinya yang sedang haid; lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika ia sudah suci, boleh menceraikan atau tetap mempertahankannya sebagai isteri (larangan menceraikan isteri ketika sedang haid)” lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyampaikan, “Apabila kalian ingin menceraikan isteri-isteri kalian, maka ceraikanlah ketika akan suci atau telah suci.”

Asy-Syafi’i berkomentar, “Saya ragu-ragu.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberitahukan bahwa iddahnya dihitung dengan berapa kali suci dan bukan haid serta ayat tersebut dibaca dengan “Maka ceraikanlah ketika akan suci atau suci”, maksudnya ceraikanlah ketika ia suci, apabila ia diceraikan dalam keadaan masih haid; maka belum dihitung sebagai masa iddah, kecuali bila ia sudah suci. Sedangkan menurut bahasa lafazh Al-Qur’ berarti menahan. Orang Arab mengatakan, “Ia menahan air tersebut di dalam kolam,” atau, ia menyimpan makanan di tempatnya, serta orang yang menyimpan makanan berarti menyembunyikannya. AL ‘Asya berkata:

Apakah kamu ingin berperang setiap hari

Dengan tekad bulat walaupun ke tempat jauh

Memperoleh kemulian dan disanjung di tempat sendiri

Akan tetapi kamu membiarkan masa suci isterimu berlalu begitu saja

Al-Qur’ di rumah maknanya adalah suci; karena ia membiarkan masa suci isterinya dengan berperang sehingga berlalu tanpa “disentuh”; dari sini dipahami bahwa Qur’ adalah suci.

Ulama-ulama salaf seperti Khalifah Ar-Rasyidin, Ibnu Mas’ud, kebanyakan shahabat dan tabi’in bahwa Al-Qur’ maknanya haid, inilah pendapat Imam Hadits, Ahmad (meralat pendapat yang lalu: menyebutkan bahwa Al-Qur’a adalah suci) menyebutkan bahwa ia berkata, “Dulu saya mengatakan bahwa Al-Qur’a adalah suci, sekarang saya meralat pendapat tersebut bahwa makna Al-Qur’a adalah haidh.” Inilah juga pendapat pengikut Hanafi dan lainnya; berdasarkan pada syari’at bahwa maknanya adalah haid sebagaimana firman Allah, “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” (QS. Al-Baqarah: 228); maksudnya adalah haid dan hamil; karena di antara keduanya yang terdapat pada rahim, begitulah penafsiran ulama salaf dan khalaf sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«دَعِي الصَّلَاةَ أَيَّامَ أَقْرَائِك»

“Tinggalkan shalat ketika kamu haid.” [Shahih: Abi Dawud (280)]

dan tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa maknanya adalah suci, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud tentang tawanan Authas,

لَا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ، وَلَا غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً»

“Tidak boleh disetubuhi wanita yang hamil sampai melahirkan, dan wanita yang tidak hamil sampai ia haid satu kali” yang akan disampaikan pada pembahasan yang akan datang. Kelompok pertama menjawab bahwa firman Allah di atas, mengharamkan bagi wanita untuk menyembunyikan apa yang terkandung di dalam rahimnya, baik berupa haid, atau hamil, atau keduanya.

Tidak diragukan bahwa haid termasuk juga ke dalam hal tersebut, namun pengharaman dalam ayat itu tidak menunjukkan bahwa Al-Qur’a yang tersebut dalam ayat bermakna haid. Kalau maknanya suci; maka iddah itu selesai ketika ia memasuki haid ke tiga atau ke empat. Bila haid disembunyikan; maka tidak bisa diketahui kapan habis masa iddahnya (suci), jadi makna Al-Aqra’ (Qur’a) lebih tepat adalah suci. Mereka membantah bahwa lafazh hadits pertama yang paling benar sebagaimana yang disampaikan Asy-Syafi’i adalah: Malik meriwayatkan dari Nafi’ dari Sulaiman dari Yasar dari Ummi Salamah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«لِتَنْتَظِرَ عِدَادَ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامِ الَّتِي كَانَتْ تَحِيضُهُنَّ مِنْ الشَّهْرِ قَبْلَ أَنْ يُصِيبَهَا الَّذِي أَصَابَهَا ثُمَّ لِتَدَعَ الصَّلَاةَ ثُمَّ لِتَغْتَسِلْ وَلْتُصَلِّ»

“Hendaklah ia menunggu beberapa malam dan hari yang biasa dia haid dalam sebulan sebelum ia mengalaminya, baru kemudian ia meninggalkan shalat pada hari-hari biasa dia haid, bila lebih dari itu; hendaklah ia mandi lalu shalat” [Shahih: Abi Dawud (273)]

beginilah riwayat dari Nafi’, dan Nafi’ lebih kuat hafalan dari pada Ayyub yang meriwayatkan hadits. Demikianlah kesimpulan atas penolakan hadits pertama sebagai-mana yang dinukilkan dari Asy-Syafi’i. Sedangkan hadits yang kedua tidak diragukan lagi untuk mengetahui status rahimnya cukup dengan sekali haid sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan itulah yang menjadi pendapat jumhur ulama. Perbedaan antara iddah dan istibra’ (status keadaan rahim), kalau iddah ketentuan syari’at yang merupakan hak suami dengan hitungan masa suci tertentu, yaitu berulang-ulang sampai tiga kali sehingga dipastikan status rahimnya dengan mengalami haid, berbeda dengan istibra’; karena tujuannya sekadar mengetahui status rahim dan tidak berkaitan dengan yang lainnya.

Banyak sekali dalil yang dikemukakan dua kelompok tersebut untuk mendukung pendapatnya, semuanya itu dikarenakan lafazh yang terdapat pada ayat dan hadits bisa berarti haid dan suci sebagaimana yang kamu ketahui. Apabila maknanya adalah haid dan suci; maka harus dengan qarinah (alasan) tertentu, jika salah satunya haqiqah (makna sebenamy a) dan majaz; maka makna yang diambil adalah makna haqiqah, akan tetapi mereka berbeda pendapat apakah haid makna haqiqah dan suci makna majaz atau kebalikannya.

Kebanyakan ulama mengatakan dengan makna yang pertama dan hanya sedikit dari mereka yang mengatakan makna yang kedua. Kelompok pertama yang mayoritas ulama berpendapat bahwa makna pada ayat adalah haid; karena itulah makna sebenarnya, dan sedikit ulama yang berpendapat maknanya suci dan keduanya tidak berdasarkan pada dalil yang tepat; karena maknanya secara bahasa bisa haid atau suci.

Sedangkan jika maknanya majaz harus ada qarinah yang mendukung dan menentukan atau lainnya, tapi dalam masalah ini tidak ada. Ibnu Al-Qayyim menjelaskan dengan panjang lebar bahwa maknanya adalah haid. Walaupun demikian, kita tidak dituntut untuk mengatakan juga bahwa maknanya adalah haid. Di antara dalil yang mengatakan bahwa Qur’a adalah haid adalah hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *