[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 36

01.10. BAB HAIDH 03

0137

137 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَلَيْسَ إذَا حَاضَتْ الْمَرْأَةُ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ.

137. Dari Abu Sa’id Al Khudri, “Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah wanita itu bila haidh tidak boleh shalat dan puasa.” (Muttafaq alaih dalam hadits yang panjang)

[Al Bukhari 304, Muslim 298]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Lanjutan hadits tersebut adalah,

فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

‘Yang demikian itu adalah kekurangan agamanya”,

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar dengan lafazh,

«تَمْكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي، وَتُفْطِرُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، فَهَذَا نُقْصَانُ دِينِهَا»

‘Dia berhenti beberapa malam tidak shalat dan tidak berpuasa di bulan Ramadban, itulah yang dimaksud dengan kekurangan agamanya. [Muslim 79]

Tafsir Hadits

Itu adalah hadits yang memberikan pengertian penetapan beliau padanya untuk meninggalkan shalat dan puasa, keduanya tidak wajib baginya. Para ulama sudah sepakat bahwa wanita tidak wajib melaksanakan shalat dan puasa ketika masih haidh, dia hanya wajib meng-qadha puasa berdasarkan dalil lainnya.

Adapun tidak bolehnya wanita yang sedang haidh masuk masjid berdasarkan hadits,

«لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ»

“Aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita yang haidh dan junub”, hadits ini telah dibahas sebelumnya. [Dhaif: sudah dijelaskan kedhaifannya]

Wanita yang haidh juga tidak boleh membaca Al-Qur’an berdasarkan hadits dari Ibnu Umar secara marfu’,

«وَلَا تَقْرَأُ الْحَائِضُ وَلَا الْجُنُبُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ»

“Wanita yang haidh dan junub tidak boleh membaca sedikitpun dari Al-Qur’an, meskipun mengenai hadits tersebut terdapat pembicaraan. [Dhaif: At Tirmidzi 131]

Demikian pula dia tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur’an, berdasarkan hadits Amr bin Hazm, yang sudah dijelaskan sebelumnya bersama penguatnya.

Hadits-hadits tersebut tidak kurang dari penetapan hukum makruh bagi setiap masalah tersebut, meskipun hukumnya tidak mencapai tingkat haram, karena hadits-hadits tersebut masih diperdebatkan sanadnya, sedangkan maksud-maksud lafazhnya tidak jelas mengharamkannya.

0138

138 – وَعَنْ «عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – قَالَتْ: لَمَّا جِئْنَا سَرِفَ حِضْت، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ.

138. Dari Aisyah RA, ia berkata, “Ketika kami sudah tiba di Sarif, aku haidh, lalu Nabi SAW bersabda, kerjakanlah segala aktivitas yang dikerjakan oleh orang yang sedang haji, kecuali thawaf di Ka’bah sampai kamu suci.” (Muttafaq alaih, dalam hadits yang panjang)

[Al Bukhari 305, Muslim 1211]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Ketika kami telah sampai (yaitu pada tahun haji Wada’ Aisyah melaksanakan Ihram bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) di Sarif (nama satu tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah) aku haidh, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kerjakanlah segala aktivitas yang dikerjakan oleh orang yang sedang haji, kecuali thawaf di Kabbah, sampai kamu suci”

Muttafaq Alaih, dalam hadits panjang, yaitu dalam hadits tentang sifat (praktek) haji Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut terkandung dalil yang menunjukkan bahwa wanita haidh sah mengerjakan semua aktivitas haji, kecuali thawaf di baitullah dan itu sudah disepakati para ulama. Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat tentang alasannya. Ada yang mengatakan karena syarat thawaf harus suci. Ada juga yang mengatakan karena wanita yang haidh dilarang memasuki masjid.

Adapun mengenai shalat sunnah Thawaf dua rakat, sudah diketahui, bahwa keduanya tidak sah melakukannya, karena keduanya berkaitan dengan thawaf dan kesucian.

0139

139 – وَعَنْ «مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنْ امْرَأَتِهِ، وَهِيَ حَائِضٌ؟ فَقَالَ: مَا فَوْقَ الْإِزَارِ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَضَعَّفَهُ.

139. Dari Muadz bin Jabal RA, “Bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Apa yang halal bagi lelaki terhadap istrinya yang sedang haidh?’ beliau menjawab, “Segala yang di atas kain.” (HR. Abu Daud dan dia sendiri menilai hadits lemah)

[Dhaif: Abu Daud 213]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Mu’adz adalah Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabbal Al-Anshari Al-Khuzraji. Salah seorang yang mengikuti Baiah Al-Aqabah dari kaum Anshar. Beliau ikut serta dalam perang Badr dan peperangan lainnya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutusnya ke Yaman sebagai hakim dan guru, diserahi tugas untuk mengumpulkan zakat dari para pekerja di Yaman, beliau termasuk shahabat yang mulia dan alim. Beliau juga pernah diangkat oleh Umar untuk menjadi gubernur di Syam menggantikan Abu Ubaidah. Beliau meninggal dunia karena terserang wabah kolera pada tahun 18 H. Ada yang mengatakan tahun 17 H, dalam usia 38 tahun.

Ia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apa yang halal bagi lelaki terhadap isterinya yang sedang haidh?” Beliau menjawab, “Segala yang di atas kain.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan dia sendiri menilainya lemah, dia mengatakan, “Tidak kuat.”

Tafsir Hadits

Hadits tersebut sebagai dalil diharamkannya berdempetan kulit tubuh pada tempat kain, yaitu tubuh antara pusar dan lutut. Hadits tersebut bertentangan dengan hadits, “lakukanlah segalanya kecuali nikah (bercampur)” telah dijelaskan sebelumnya, dan hadits tersebut lebih shahih dan lebih rajih dari hadits Mu’adz ini. Andai penulis menggabungkan kedua hadits tersebut maka lebih baik. Masalah ini sudah dibahas sebelumnya, dalam hadits dari Aisyah, dia berkata, “Beliau menyuruhku, lalu aku memakai kain.”

0140

140 – وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَتْ النُّفَسَاءُ تَقْعُدُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ يَوْمًا» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَاللَّفْظُ لِأَبِي دَاوُد. وَفِي لَفْظٍ لَهُ: وَلَمْ يَأْمُرْهَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِقَضَاءِ صَلَاةِ النِّفَاسِ. وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

140. Dari Ummu Salamah RA, “Biasanya wanita-wanita yang nifas pada masa Rasulullah SAW duduk (tidak shalat) setelah nifasnya selama 40 hari. (HR. Khamsah, kecuali An Nasa’i, dan lafazh ini adalah milik Abu Daud).

[Hasan Shahih: At Tirmidzi 139, Abu Daud 311]

Dan di dalam lafazhnya, “Dan Rasulullah SAW tidak menyuruhnya meng-qadha’ shalat selama nifas.” Dishahihkan oleh Al Hakim.

[Hasan: Abu Daud 312]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Sekelompok ulama menilai hadits tersebut dha’if, An-Nawawi mengatakan, sekelompok ulama fiqh mengatakan hadits ini lemah dan tidak bisa diterima. Tapi hadits ini punya syahid yaitu hadits Ibnu Majah dari Anas, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَّتَ لِلنُّفَسَاءِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا إلَّا أَنْ تَرَى الطُّهْرَ قَبْلَ ذَلِكَ»

“Beliau menetapkan waktu bagi para wanita yang nifas selama 40 hari, kecuali jika dia melihat suci sebelum itu.” [Dhaif sekali: Ibnu Majah 655]

Dan bagi Al-Hakim dari Utsman bin Abi Al-Ash,

«وَقَّتَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِلنِّسَاءِ فِي نِفَاسِهِنَّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا»

“Rasulullah menetapkan masa bagi para wanita dalam nifasnya 40 hari.”[1]

Hadits-hadits ini saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.

Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa darah yang keluar setelah melahirkan hukumnya berlanjut sampai 40 hari, selama itu perempuan yang nifas tidak boleh shalat dan puasa. Sekalipun hadits itu tidak menjelaskan demikian, tapi dapat dipahami dari dalil lainnya.

Hadits Anas memberikan pengertian bahwa wanita-wanita itu bila sudah melihat suci sebelum 40 hari, berarti dia telah suci, dan hal ini tidak ada batas minimalnya.

_____________

[1] Berkata Adz Dzahabi dalam At-Talkhish Al Mustadrak no 624: ‘Abu Bilal Al Asy’ari meriwayatkan secara sendirian dari Ibnu Syihab, jikan sanad darinya selamat, maka statusnya mursal shahih, karena Al Hasan tidak mendengar dari Utsman bin Abul Ash. (ebook editor).

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *