[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 359

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 06

1032

وَعَنْ «فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ قَالَتْ: قُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ زَوْجِي طَلَّقَنِي ثَلَاثًا، وَأَخَافُ أَنْ يُقْتَحَمَ عَلَيَّ. فَأَمَرَهَا، فَتَحَوَّلَتْ»

1032. Dari Fatimah binti Qais berkata, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, suamiku telah mentalakku tiga kali, aku takut ada orang yang mendatangiku. Maka beliau menyuruh pindah, kemudian ia pindah.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 1482]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits Fatimah tersebut sudah dijelaskan pada pembahasan terdahulu, dan ketentuan hukumnya berdasarkan pada hadits itu serta tidak perlu diulangi.

1033

وَعَنْ «عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: لَا تُلْبِسُوا عَلَيْنَا سُنَّةَ نَبِيِّنَا: عِدَّةُ أُمِّ الْوَلَدِ إذَا تُوُفِّيَ عَنْهَا سَيِّدُهَا أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَأَعَلَّهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِالِانْقِطَاعِ

1033. Dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhu berkata, “Janganlah engkau campur-baurkan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada kami. Masa iddah Ummul Walad (budak perempuan yang memperoleh anak dari majikannya) jika ditinggal mati suaminya ialah empat bulan sepuluh hari.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Al-Hakim, dan Ad-Daraquthni menilainya munqathi’)

[Shahih: Abu Daud 2308]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ad-Daraquthni menilainya munqathi’ karena diriwayatkan Qubaishah bin Dzu’aib dari Amr bin Al-Ash, sedangkan ia tidak mendengarnya langsung dari Amr bin Al-Ash; inilah alasan Ad-Daraquthni menilainya munqathi’.

Ibnu Al-Mundzir berkata, “Ahmad dan Abu Ubaid mendha’ifkan hadits ini. Muhammad bin Musa berkata, “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang hadits ini, ia menjawab, “Hadits ini tidak shahih (tidak bisa dijadikan hujjah).” Al-Maimuni berkata, “Saya mendapati Abu Abdullah terheran-heran dengan hadits ini kemudian berkomentar, “Di mana Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang terdapat dalam hadits ini?” Lalu berkata, “Iddah wanita merdeka adalah empat bulan sepuluh hari, sedangkan status perempuan dalam hadits ini adalah budak, akankah ketetapan hukumnya sama dengan status wanita merdeka?”

Al-Mundziri berkata, “Pada hadits Amr ini terdapat perawi bernama Mathar bin Thahman yang biasa dipanggil dengan Abu Raja’ Al-Warraq, dan ia didha’ifkan lebih dari satu orang pakar hadits. Di samping itu, hadits ini mempunyai ‘Illah (penyakit) ke tiga yaitu hadits ini mudhtharib; karena diriwayatkan dengan tiga redaksi. Ahmad berkata, “Hadits munkar.” Khilas meriwayatkan hadits ini dari Ali sebagaimana yang diriwayatkan Qubaishah dari Amr, akan tetapi hadits riwayat Khilas bin Amr banyak diperbincangkan pakar hadits. Ibnu Mu’in tidak rnenerima hadits darinya. Ahmad meriwayatkan perkataan dari Ali bahwa itu adalah kitab. Al-Baihaqi berkata, “Menurut pakar hadits, riwayat Khilas dari Ali adalah dha’if.”

Tafsir Hadits

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sedangkan Umar, Al-Auza’i, An-Nashir, Azh-Zhahiriyyah dan lainnya sependapat dengan hadits tersebut. Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad dan sekelompok ulama berpendapat bahwa iddahnya satu kali haid; karena statusnya bukan isteri maupun wanita yang dicerai suaminya, dan yang harus diketahui hanyalah statusnya; apakah ia hamil? Itu cukup diketahui dengan sekali haid disamakan statusnya dengan budak wanita yang ditinggal mati majikannya. Ulama tidak berbeda pendapat, apabila ketetapan hukumnya demikian. Malik berkata, “Jika ia termasuk wanita yang tidak haid; maka harus menjalani masa iddah selama tiga bulan dan berhak mendapatkan tempat tinggal.”

Abu Hanifah berkata, “Iddahnya dengan tiga kali haid, inilah pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud; karena ia harus menjalani masa iddah seperti wanita merdeka, akan tetapi statusnya bukan isteri; maka iddahnya sama dengan iddah wanita yang ditinggal mati suaminya. Ia juga bukan budak, jika memang budak, maka iddahnya wanita budak. Maka untuk mengetahui status kehamilannya dengan menjalani masa iddah seperti wanita merdeka.”

Kami berkata, “Apabila maksudnya sekadar mengetahui keadaannya (hamil atau tidak); maka cukup dengan sekali haid; karena bisa ditentukan status keadaannya. Ada pendapat yang mengatakan, “Iddahnya setengah iddah wanita merdeka diserupakan dengan budak wanita yang menikah bagi yang berpendapat demikian, akan dijelaskan pada pembahasan yang akan datang.” Al-Hadawiyyah berkata, “Iddahnya dua kali haid serupa dengan masa khiyar penjual dan pembeli ketika membeli budak wanita; karena keduanya sama-sama ingin mengetahui status keadaannya.”

Disebutkan dalam kitab Nihayah Al-Mujthid: Perbedaan ulama itu terjadi karena masalah tersebut tidak disebutkan dalam kitab maupun sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam; maka ia kadang-kadang diserupakan antara budak dan wanita merdeka, siapa yang menyerupakannya statusnya dengan budak wanita yang dinikahi; pendapat itu lemah, dan lebih lemah lagi orang yang menyamakan Iddahnya dengan wanita merdeka yang dicerai.

Pendapatku: dari penjelasan terdahulu, kamu mengetahui bahwa pendapat yang lebih tepat adalah pendapat Ahmad dan Asy-Syafi’i yang menyebutkan bahwa ia harus iddah sekali haid, inilah pendapat Ibnu Umar, Urwah bin Az-Zubair, Al-Qasim bin Muhammad, Asy-Sya’bi dan Az-Zuhri; karena asalnya, ia bebas dari status hukum dan tidak boleh dilarang untuk menikah; kalau ingin mengetahui status keadaannya cukup dengan sekali haid.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *