[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 358

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 05

1031

وَعَنْ «فُرَيْعَةَ بِنْتِ مَالِكٍ أَنَّ زَوْجَهَا خَرَجَ فِي طَلَبِ أَعْبُدٍ لَهُ فَقَتَلُوهُ. قَالَتْ: فَسَأَلْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ أَرْجِعَ إلَى أَهْلِي، فَإِنَّ زَوْجِي لَمْ يَتْرُكْ لِي مَسْكَنًا يَمْلِكُهُ، وَلَا نَفَقَةً، فَقَالَ: نَعَمْ فَلَمَّا كُنْت فِي الْحُجْرَةِ نَادَانِي، فَقَالَ: اُمْكُثِي فِي بَيْتِك حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ قَالَتْ: فَاعْتَدَدْت فِيهِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا، قَالَتْ: فَقَضَى بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عُثْمَانُ» . أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالذُّهْلِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَغَيْرُهُمْ

1031. Dari Furai’ah binti Malik bahwa suaminya keluar untuk mencari budak-budak miliknya, lalu mereka membunuhnya. Kemudian aku meminta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar aku boleh pulang ke keluargaku, sebab suamiku tidak meninggalkan rumah dan nafkah untukku, beliau bersabda, “Ya “. Ketika aku sedang berada di dalam kamar, beliau memanggilku dan bersabda, “Tinggallah di rumahmu hingga masa iddah. Ia berkata, “Aku beriddah di dalam rumah selama empat bulan sepuluh hari. Ia berkata, “Setelah itu, Utsman juga menetapkan seperti itu.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi, Dzuhali, Ibnu Hibban, Hakim dan lain-lainnya)

[Shahih: Abi Dawud (2300)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Furai’ah adalah saudara perempuan Abu Sa’id Al-Khudri ikut serta menyaksikan Bai’ah Ar-Ridhwan dan ini adalah salah satu riwayat haditsnya. Ibnu hibban, Hakim dan lainnya meriwayatkan hadits ini dari Sa’ad bin Ishaq bin Ka’ab dari bibinya Zainab Binti Ka’ab bin Ujrah dari Furai’ah, inilah yang tersebut dalam hadits ini.

Penjelasan Kalimat

Ibnu Abdil Bar berkata, “Hadits ini sangat masyhur di kalangan ulama Hijaz dan Iraq, Abdul Haq mengatakan hadits ini ada ‘Illahnya sependapat dengan Ibnu Hazm karena tidak mengetahui perihal Zainab, dan Sa’ad bin Ishaq tidak dikenal ‘Adalah (shalih). Zainab dalam sanad perawi ini adalah seorang Tabi’iyyah, yaitu isteri Abu Sa’id yang haditsnya diriwayatkan Sa’ad Ibnu Ishaq. Ibnu Hibban memasukkannya pada kitab Ats-Tsiqat, haditsnya diriwayatkan juga oleh Sulaiman bin Muhammad bin Ka’ab bin Ujrah, disebutkan bahwa ia seorang Tabi’i, haditsnya diriwayatkan oleh perawi-perawi tsiqah dan tidak ada seorang pun berkomentar tentang mereka. Sa’ad bin Ishaq dinilai tsiqah Ibnu Mu’in, An-Nasa’i dan Ad-Daraquthni. Hammad Ibnu Zaid, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Juraij, Malik dan lainnya meriwayatkannya dari Sa’ad bin Ishaq.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa perempuan yang ditinggal mati suaminya harus beriddah diam di rumah tersebut dan tidak boleh keluar darinya. Inilah pendapat ulama salaf (terdahulu) dan khalaf. Masalah ini ditegaskan dalam beberapa hadits dan atsar dari Shahabat dan Tabi’i. Inilah pendapat Ahmad, Asy-Syafi’i, Abu Hanifah dan murid-murid mereka. Ibnu Abdil Bar berkata, “Demikian pula pendapat jamaah pakar fikih Amshar, hijaz, Syam, Mesir dan Iraq. Umar juga disaksikan kaum Muhajirin dan Anshar menetapkan hukum yang sama.

Hadits Furai’ah ini, tidak ada ulama yang berkomentar padanya maupun pada perawinya kecuali yang disebutkan dan telah dibantah. Wanita yang iddah ditinggal mati suaminya berhak mendapatkan tempat tinggal dari harta warisan suaminya berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).” (QS. Al-Baqarah: 240)

Walaupun ayat tersebut sudah dinasakh hukumnya, akan tetapi berhak mendapatkan nafkah, pakaian selama setahun serta hak mendapatkan tempat tinggal selama masa iddah. Asy-Syafi’i berdasarkan pada ayat ini dalam menetapkan hukum yang terkait dengan hal tersebut dengan pembahasan yang panjang.

Sebagian ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya tidak berhak mendapatkan tempat tinggal (selama masa iddah). Abdurrazzaq meriwayatkan dari Urwah dari Aisyah yang memfatwakan wanita yang ditinggal mati suaminya untuk keluar dari rumah itu pada masa iddah. Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan kepadanya untuk menjalani masa iddah selama empat bulan sepuluh hari, dan tidak memerintahkan untuk menjalani masa iddah itu di rumahnya; maka ia berhak menjalani masa iddah itu di tempat yang dikehendaki. Demikian juga yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, sekelompok shahabat dan inilah yang menjadi pendapat Al-Hadi dengan menegaskan bahwa ia harus tinggal di rumahnya sendiri (orangtuanya). Berdasarkan dalil yang disebutkan Ibnu Abbas; bahwa Allah Ta’ala hanya menyebutkan masa iddah yang harus dijalani dan tidak menyebutkan hak tempat tinggalnya.

Jawaban atas hal itu, bahwa ketetapan hukum tersebut berdasarkan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yaitu hadits Furai’ah dan juga firman Allah sebagaimana yang telah disebutkan pada pembahasan terdahulu, hanya saja Furai’ah menegaskan bahwa suaminya tidak mempunyai rumah. Dari sini bisa disimpulkan bahwa ia tidak boleh keluar dari rumah tempat meninggalnya suami, baik itu rumahnya sendiri ataupun bukan.

Dalam kitab Al-Hadyu An-Nabawi dibahas panjang lebar tentang ketetapannya mendapatkan tempat tinggal dan hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut, yaitu apakah ahli waris berhak mendapatkan warisan dari semua harta peninggalannya atau tidak? Apakah harus dari rumahnya demi keperluan yang mendesak atau tidak? Lalu menyebutkan perbedaan-perbedaan ulama dalam membahas masalah tersebut yang tidak perlu disebutkan dalam bab ini, karena tidak memberikan faedah dan juga kesemuanya tidak berdasarkan pada dalil yang bisa dijadikan hujjah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *