[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 357

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 04

1029

وَعَنْ «أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: جَعَلْت عَلَى عَيْنِي صَبِرًا، بَعْدَ أَنْ تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: إنَّهُ يَشِبُّ الْوَجْهَ، فَلَا تَجْعَلِيهِ إلَّا بِاللَّيْلِ وَانْزِعِيهِ بِالنَّهَارِ، وَلَا تَمْتَشِطِي بِالطِّيبِ، وَلَا بِالْحِنَّاءِ، فَإِنَّهُ خِضَابٌ قُلْت: بِأَيِّ شَيْءٍ أَمْتَشِطُ؟ قَالَ: بِالسِّدْرِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ، وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

1029. Dari Ummi Salamah Radhiyallahu Anha berkata, “Aku menggunakan jadam di mataku setelah kematian Abu Salamah. Lalu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jadam itu mempercantik wajah, maka janganlah memakainya kecuali pada malam hari dan hapuslah pada siang hari, jangan menyisir dengan minyak atau pacar rambut, karena yang demikian itu termasuk celupan (semiran).” Aku bertanya, “Dengan apa aku menyisir? ” Beliau menjawab, “Dengan bidara.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i. Sanadnya hasan)

[Dhaif: Abu Daud 2305]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang mengharamkan memakai wangi-wangian secara umum, lafazhnya menyebutkan: “Tidak menggunakan wangi-wangian”, akan tetapi ada pengecualian sebagaimana disebutkan dalam pembahasan terdahulu yaitu boleh menggunakan wangi-wangian ketika ia suci dari haid, yaitu Qisth dan Azhfar (wewangian berupa asap). Al-Bukhari berkata, “Al-Qisth dan Al-Kisth, lafazhnya sama dengan Al-Kafur dan Al-Qafur; boleh menggunakan huruf Qaf atau Kaf. An-Nawawi berkata, “Al-Qisth dan Azhfar adalah dua jenis wewangian berupa asap yang sudah dikenal.

___________________

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ ابْنَتِي مَاتَ عَنْهَا زَوْجُهَا، وَقَدْ اشْتَكَتْ عَيْنَهَا، أَفَنَكْحُلُهَا؟ قَالَ: لَا»

“Darinya (Ummi Salamah) Radhiyallahu Anha bahwa seorang perempuan berkata, “Wahai Rasulullah, anak perempuanku telah ditinggal mati suaminya, dan matanya benar-benar sakit. Bolehkah kami memberinya celak?” Beliau menjawab, “Tidak.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5336) dan Muslim (1488)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Secara zhahir, hadits menunjukkan bahwa ia tidak boleh menggunakan celak sekalipun untuk berobat. Bagi yang mengatakan bahwa wanita yang berkabung tidak boleh menggunakan celak itsmid; beralasan bahwa ia bisa dijadikan sebagai hiasan. Sedangkan celak At-Tutya, Ghandarut dan lainnya boleh digunakan; karena tidak dijadikan sebagai hiasan, bahkan bisa menyehatkan mata. Akan tetapi, pendapat ini bertentangan dengan hadits tersebut, karena hadits itu menyebutkan: ia bertanya tentang penggunaan celak secara umum untuk berobat dan tidak khusus menyebutkan celak itsmid, kecuali bila diketahui secara umum, bila lafazh celak disebutkan; maka yang akan dipahami adalah celak itsmid.

1030

وَعَنْ «جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: طَلُقَتْ خَالَتِي، فَأَرَادَتْ أَنْ تَجُدَّ نَخْلَهَا فَزَجَرَهَا رَجُلٌ أَنْ تَخْرُجَ، فَأَتَتْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ: بَلَى، جُدِّي نَخْلَك، فَإِنَّك عَسَى أَنْ تَصَّدَّقِي، أَوْ تَفْعَلِي مَعْرُوفًا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

1030. Dari jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Saudara perempuan ibuku (bibi) telah cerai dan ia ingin memotong pohon kurmanya, namun ada seseorang melarangnya keluar rumah. Lalu ia menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau bersabda, “Boleh kamu keluar rumah” tebanglah pohon kurmamu, sebab engkau mungkin bisa bersedekah atau berbuat kebaikan (dengan kurma itu).” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1483)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Kata tajudz artinya memotong atau menebang pohon sampai akar-akarnya, sebagaimana dalam kitab Al-Qamus dan An- Nihayah, sedangkan kata tajud artinya memetik buahnya. Muslim memasukkannya dalam bab: boleh keluar dari rumah wanita yang sedang iddah ba’in sebagaimana An-Nawawi menjadikan bab dalam pembahasannya.

Abu Dawud dan An-Nasa’i menambahkan: “Saudara perempuan ibuku telah dicerai tiga kali” [Shahih: Abu Daud 2297]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang membolehkan wanita yang sedang iddah dari talak ba’in keluar rumah di siang hari karena ada keperluan, namun tidak boleh, jika tidak ada keperluan. Inilah pendapat seba gian ulama, mereka menambahkan: boleh bagi seorang wanita yang sedang iddah keluar dari rumah karena ada keperluan dan udzur yang membolehkan, baik di siang maupun malam hari, seperti takut atau khawatir rumahnya roboh. Boleh juga dikeluarkan dari rumah apabila ia menyakiti tetangga atau para tetangganya mengganggu berdasarkan firman Allah,

{لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ}

“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” (QS. Ath-Thalaq: 1)

Kalimat Fahisyah ditafsirkan dengan tidak bisa menjaga lisannya terhadap saudara-saudara suami atau lainnya. Sebagian ulama lagi membolehkan ia keluar dari rumah di siang hari dengan mutlak dan tidak boleh di malam hari berdasarkan hadits bab, dan diqiyaskan dengan iddah wanita yang ditinggal mati suaminya. Hadits bab tersebut beralasan bahwa bolehnya ia keluar dari rumah dengan harapan mau bersedekah atau berbuat kebaikan. Inilah udzur yang membolehkannya keluar dari rumah, dan keluar tanpa udzur tidak dibolehkan berdasarkan hadits ini. Kecuali jika diketahui bahwa: ia akan berbuat kebaikan, inilah yang diharapkan setiap kali ia keluar dari rumah.

Hadits ini juga merupakan dalil yang mensunnahkan sedekah dengan kurma ketika memetiknya, serta disunnahkan untuk mengingatkan si empu pohon agar berbuat kebaikan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *