[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 356

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 03

1028

وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا تُحِدُّ امْرَأَةٌ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ، إلَّا عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا، وَلَا تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوغًا، إلَّا ثَوْبَ عَصْبٍ، وَلَا تَكْتَحِلُ، وَلَا تَمَسُّ طِيبًا، إلَّا إذَا طَهُرَتْ نُبْذَةً مِنْ قُسْطٍ، أَوْ أَظْفَارٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ وَلِأَبِي دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ مِنْ الزِّيَادَةِ “، وَلَا تَخْتَضِبُ ” وَلِلنَّسَائِيِّ “، وَلَا تَمْتَشِطُ ”

1028. Dan Ummi Athiyyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah seorang perempuan berkabung atas kematian lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya ia boleh berkabung empat bulan sepuluh hari, ia tidak boleh berpakaian warna-warni kecuali kain ‘Ashab (pakaian dari Yaman), tidak boleh mencelak matanya, tidak menggunakan wangi-wangian, kecuali jika telah suci, dia boleh menggunakan sedikit Qusth dan Azhfar (wangi-wangian).” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Muslim. [shahih, Al-Bukhari (5342) dan Muslim (938)]

Menurut riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’i tambahan: “Tidak boleh menggunakan pacar.” [Shahih: Abi Dawud (2302,2303)]

Menurut riwayat An-Nasa’i: “Dan tidak menyisir”) [Shahih: An-Nasa’i (3536)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ummi Athiyyah nama aslinya Nusaibah, seorang Shahabiyyah dan riwayat-riwayat haditsnya terdapat pada kitab-kitab hadits.

Penjelasan Kalimat

‘Ashab adalah selimut dari Yaman yang dibuat dengan cara dipintal lalu diwarnai dan ditenun. Qusth dart Azhfar adalah sejenis wangi-wangian yang berupa asap, keduanya biasa digunakan perempuan untuk membersihkan bekas haid perempuan dengan maksud untuk menghilangkan bau tidak sedap, bukan untuk wangi-wangian.

Tafsir Hadits

Hadits ini mempunyai beberapa hal penting:

Pertama: masa berkabung seorang wanita atas kematian bapak atau saudara lainnya hanya tiga hari, jika lebih dari itu hukumnya haram. Jika suami yang meninggal, masa berkabung dibatasi sampai empat bulan sepuluh hari. Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab Al-Marasil dari hadits Aim bin Syu’aib, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meringankan masa seorang wanita berkabung atas kematian bapaknya sampai tujuh hari, dan yang lainnya hanya tiga hari.” Seandainya hadits ini shahih; maka menjadi pengecualian keumuman larangan tersebut sebagaimana hadits riwayat Ummi Athiyyah yaitu terhadap bapak. Akan tetapi, hadits itu mursal dan tidak bisa menjadi pengecualian terhadap larangan tersebut.

Kedua: ungkapan ‘perempuan’ menunjukkan bahwa anak yang masih kecil tidak termasuk dalam pengertian ini; maka ia tidak wajib berkabung atas kematian suaminya (karena masih kecil) tapi boleh berkabung atas lainnya lebih dari tiga hari, inilah yang menjadi pendapat Al-Hanafiyyah dan diikuti Al-Hadi. Jumhur ulama berpendapat bahwa ia termasuk dalam larangan hadits, dan lafazh ‘perempuan’ juga dipahami maknanya secara umum, bagi si wali agar melarangnya untuk memakai wangi-wangian atau lainnya; karena iddah itu wajib berlaku bagi yang dewasa maupun kecil dan belum boleh untuk dilamar.

Ketiga: ungkapan: ‘terhadap mayit’ merupakan dalil yang menunjukkan bahwa wanita yang ditalak tidak berkabung atas kematian suaminya, akan tetapi kalau talak raj’i; maka ia harus berkabung berdasarkan ijma’ ulama, tapi kalau talak ba’in, maka tidak wajib untuk berkabung. Inilah pendapat Al-Hadi, Asy-Syafi’i, Malik dan salah satu pendapat Ahmad berdasarkan lafazh zhahir hadits: ‘terhadap mayit’ berdasarkan mafhum hadits, sebab didukung dari hikmah disyariatkan masa berkabung guna memutuskan hal-hal yang membangkitkan keinginan melakukan hubungan suami-isteri, ini berlaku bagi wanita yang ditalak ba’in karena ada udzur yang menghalangi untuk kembali lagi kepada suaminya. Akan tetapi, wanita yang ditalak ba’in, boleh kembali lagi kepada suami, namun dengan akad baru; jika belum ditalak tiga kali.

Sedangkan Ali, Zaid bin Ali, Abu Hanifah dan pengikutnya mewajibkan masa berkabung bagi wanita yang sudah ditalak ba’in oleh suaminya; diqiyaskan terhadap wanita yang ditinggal mati suaminya, karena kedua-duanya wajib untuk iddah walaupun sebabnya berbeda, dan juga masa iddah adalah masa diharamkan untuk menikah, berarti segala sesuatu yang menjurus terjadinya pernikahan juga diharamkan. Namun, pendapat yang pertama lebih tepat sesuai dengan hadits.

Keempat: teks hadits itu tidak mewajibkan untuk berkabung, melainkan boleh bagi isteri untuk berkabung atas kematian suaminya. Mayoritas ulama berpendapat wajib bagi isteri berkabung berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ummi Salamah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertakziyah kepadaku ketika Abu Salamah (suami Ummi Salamah) meninggal dunia, sedangkan saya memakai Jadam di mataku …” Hadits ini akan disebutkan pada pembahasan yang akan datang.

Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh An-Nasa’i, dan Ibnu Katsir berkomentar: Dalam sanadnya ada perawinya yang gharib, lalu menambahkan: akan tetapi hadits itu diriwayatkan Asy-Syafi’i dari Malik bahwa ia mendapatkan hadits ini dari Ummu Salamah lalu menyebutkannya. Hal ini memperkuat kedudukan hadits serta menunjukkan bahwa habits ini jelas sumbernya. Dan berdasarkan juga pada hadits yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا لَا تَلْبَسُ الْمُعَصْفَرَ مِنْ الثِّيَابِ، وَلَا الْمُمَشَّقَةَ، وَلَا الْحُلِيَّ، وَلَا تَخْتَضِبُ، وَلَا تَكْتَحِلُ»

“Istri yang ditinggal mati suaminya, tidak boleh memakai pakaian bahan dasar (corak) warna kuning, merah (yang dapat mengundang perhatian), perhiasan, dan juga tidak boleh menggunakan pacar dan celak.” [Shahih: Abi Dawud (2304)]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkomentar: Silsilah sanad perawinya jayyid (bagus). Akan tetapi hadits itu diriwayatkan Al-Baihaqi dengan mauquf.

Al-Hasan dan Asy-Sya’bi berpendapat bahwa perempuan yang ditalak tiga kali dan yang ditinggal mati suaminya boleh memakai celak, merapikan rambut, memakai wangi-wangian, keluar rumah dan berbuat semaunya; berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban yaitu hadits Asma’ binti Umais, ia berkata,

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْيَوْمَ الثَّالِثَ مِنْ قَتْلِ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَ لَا تَحِدِّي بَعْدَ يَوْمِك

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. bertakziyah kepadaku pada hari ke tiga atas kematian Ja’far bin Abu Thalib, lalu bersabda, “Janganlah kamu berkabung setelah hari ini,”

teks hadits ini menurut redaksi dari Ahmad, dan masih ada beberapa lafazh hadits lainnya, tapi semuanya menunjukkan perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk tidak berkabung setelah tiga hari.

Hadits ini menjadi nasikh (penghapus hukumnya) terhadap hadits Ummu Salamah untuk menentukan masa berkabung; karena kematian Abu Salamah lebih dahulu daripada kematian Ja’far. Menanggapi hal ini, jumhur ulama memberikan tujuh jawaban sebagai alasan untuk menolak hadits Asma’, kesemuanya diada-adakan dan tidak perlu disebutkan.

Kelima: terdapat pada: “Empat bulan sepuluh hari”, ada yang berpendapat: hikmah dari penentuan masa berkabung itu; karena bakal janin akan sempurna penciptaannya dan ditiupkan ruh setelah 120 hari (empat bulan) yaitu lebih dari empat bulan, lalu dihitung berdasarkan bulan hijriyah untuk kehati-hatian ketika hendak melangsungkan akad nikah, dan lafazh angka sepuluh dengan mu’annats i’tibar dengan lafazh malam, menurut jumhur ulama dengan siangnya juga; maka tidak boleh menikah, kecuali pada malam ke sebelasnya.

Keenam: Teks hadits: “Tidak boleh berpakaian warna-warni” merupakan larangan untuk berpakaian dengan warna apapun kecuali yang dibolehkan dalam hadits. Ibnu Abdil Bar berkata, Ijma’ ulama menetapkan tidak boleh bagi wanita yang berkabung memakai pakaian warna kuning dan warna-warna lainnya, kecuali warna hitam. Malik dan Asy-Syafi’i membolehkan memakai warna hitam karena dipakai bukan untuk berhias; bahkan termasuk pakaian duka. Ulama berbeda pendapat tentang sutera, pengikut Asy-Syafi’i dalam pendapat yang lebih shahih melarang dengan mutlak memakai sutera, baik yang berwarna maupun tidak. Mereka berkata, “Karena sutera dibolehkan secara khusus bagi perempuan untuk berhias, sedangkan wanita yang berkabung diharamkan untuk berhias.”

Ibnu Hazm berkata, “Dia hanya dilarang memakai pakaian yang berwarna-warni saja, dan boleh memakai pakaian apa saja, baik sutera putih atau kuning selama tidak berwarna-warni. Dibolehkan juga memakai pakaian berhiaskan emas atau semua hiasan dari emas, perak dan mutiara.” Itulah yang dipahami Ibnu Hazm terhadap hadits Ummi Athiyyah.

Sedangkan hadits Ummi Salamah yang menyebutkan larangan memakai pakaian warna kuning, merah (yang dapat mengundang perhatian) dan juga perhiasan. Ibnu Hazm berkomentar: haditsnya tidak shahih; karena dari riwayat Ibrahim bin Thahhan, namun pendapat itu dibantah; karena para pakar hadits menetapkan ia termasuk perawi tsiqah dan haditsnya benar-benar dari Rasulullah, bahkan ditetapkan bahwa hadits tersebut shahih, dan kebanyakan Imam hadits menshahihkan hadits itu seperti Ibnu Al-Mubarak, Ahmad dan Abu Hatim.

Sedangkan Ibnu Hazm memahami berdasarkan zhahir teks hadits, sebagian Imam lagi berdasarkan alasan yang tepat dari teks nash- yaitu yang mengharamkan perhiasan secara mutlak-; maka menurut mereka walaupun terbuat dari bahan Yaman, tetapi ada hiasannya, maka tetap dilarang, dan mengecualikan hadits tersebut dengan makna larangan yang tepat. Tafsir makna lafazh ‘Ashab sudah dijelaskan dalam kitab An-Nihayah, dan ulama-ulama mempunyai penafsiran lain tentang lafazh ‘Ashab. ,

Ketujuh: sabda Nabi: “Jangan mencelak mata” adalah dalil yang melarang memakai celak, inilah pendapat jumhur ulama.

Ibnu Hazm berkata, “Tidak boleh mencelak matanya walaupun ia tidak mempunyai mata, baik di waktu siang ataupun malam” berdasarkan hadits bab ini dan hadits Ummi Salamah yang disepakati keshahihannya yang menyebutkan bahwa ada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, lalu sanak kerabatnya mengkhawatirkan keadaan matanya kemudian datang meminta izin kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memakai celak (sebagai obat matanya), Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengizinkan bahkan bersabda, “Tidak” diulangi sampai dua atau tiga kali. [Shahih: Al Bukhari 5706 dan Muslim 1488]

Jumhur ulama, di antara Malik, Ahmad, Abu Hanifah beserta pengikutnya membolehkan memakai celak untuk berobat berdasarkan hadits Ummi Salamah yang diriwayatkan Abu Dawud menyebutkan tentang celak untuk berobat mata (menajamkan penglihatan dan menyejukkannya), ketika ada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya ingin memakainya karena mengeluh sakit di matanya. Ummi Salamah menjawab: Tidak boleh memakai celak, kecuali dalam keadaan darurat (terpaksa), maka boleh dipakai di malam hari, namun dihapus ketika siang hari.

Kemudian Ummu Salamah melanjutkan: Rasulullah bertakziyah, ketika Abu Salamah (suaminya) meninggal dunia, lalu menyebutkan hadits tentang jadam.

Ibnu Abdil Bar berkata, “Inilah pendapat saya, walaupun bertentangan dengan hadits lain yang melarang penggunaan celak sekalipun matanya sakit, hanya saja kedua hal yang bertentangan tersebut bisa digabungkan berdasarkan keadaannya masing-masing yaitu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang karena melihat kondisinya tidak begitu parah dan tidak membahayakan, dan dibolehkan pada malam hari untuk menghindari fitnah tersebut.”

Pendapatku: sudah maklum bahwa fatwa Ummi Salamah yang mengqiyaskan jadam dengan celak, menggunakan qiyas dengan adanya nash dan larangan dalam beberapa hadits; tidak bisa dijadikan dasar hukum menurut yang mewajibkan berkabung.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *