[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 355

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 02

1026

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: أُمِرَتْ بَرِيرَةُ أَنْ تَعْتَدَّ بِثَلَاثِ حِيَضٍ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ، لَكِنَّهُ مَعْلُولٌ.

1026. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Barirah diperintahkan untuk menghitung masa iddahnya tiga kali haid.” (HR. Ibnu Majah dan para perawinya dapat dipercaya, namun haditsnya ma’lul)

[Shahih: Ibnu Majah 2107]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Sudah disampaikan hadits yang memperkuat masalah ini, hadits ini merupakan dalil bahwa iddah itu tergantung status wanitanya bagi yang berpendapat bahwa iddah hamba sahaya lebih sedikit daripada wanita merdeka, dan bukan melihat status suaminya menurut pendapat lebih tegas; karena suami Barirah pada saat itu masih budak.

1027

وَعَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الْمُطَلَّقَةِ ثَلَاثًا – لَيْسَ لَهَا سُكْنَى، وَلَا نَفَقَةٌ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

1027. Dari Asy-Sya’bi dari Fatimah binti Qais Radhiyallahu Anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda -tentang perempuan yang ditalak tiga kali-, “Dia tidak mendapat hak tempat tinggal dan nafkah.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim (1480)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Asy-Sya’bi adalah Abu Amr bin Syarahil bin Abdullah Asy-Sya’bi Al-Hamdani Al-Kufi, Tabi’i yang utama. Ibnu Uyainah berkata,, “Ibnu Abbas dan Asy-Sya’bi pada periode yang sama. Suatu ketika Ibnu Umar melewati tempat Asy-Sya’bi yang sedang menyampaikan hadits tentang peperangan, ia berkata, “Saya menyaksikan suatu kaum yang lebih tahu daripada saya tentang peperangan itu.” Az-Zuhri berkata, “Ulama itu ada empat orang yaitu Ibnu Al-Musayyib di Madinah, Asy-Sya’bi di Kufah, Hasan di Bashrah dan Makhul di Syam. Asy-Sya’bi lahir pada masa khalifah Umar sebagaimana dalam kitab Al-Kasyif karya Adz-Dzahabi. Ada yang mengatakan, lahir enam tahun setelah kekhalifahan Utsman dan meninggal dunia pada tahun 204 H pada usia 62 tahun.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa perempuan yang ditalak tiga kali tidak mendapatkan hak tempat tinggal dan nafkah. Ada perselisihan ulama dalam masalah ini. Ibnu Abbas, Hasan, Atha’, Asy-Sya’bi, Ahmad dalam satu riwayatnya, Al-Qasim, Imamiyyah, Ishaq dan pengikutnya, Dawud dan Ahli hadits berpendapat sama berdasarkan hadits ini. Umar bin Al-Khaththab, Umar bin Abdul Aziz, Hanafiyyah, Ats-Tsauri dan lainnya berpendapat bahwa ia berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal, mereka mendasarkan ketetapan mendapatkan nafkah pada firman Allah Ta’ala,

{فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ}

“Maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin.” (QS. Ath-Thalaq: 6), tapi ayat ini berkaitan dengan wanita hamil. Sedangkan ijma’ ulama menetapkan wanita yang ditalak raj’i berhak menetapkan nafkah. Ketetapan tempat tinggal pada firman Allah Ta’ala,

{أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ}

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu.” (QS. Ath-Thalaq: 6).

Al-Hadi dan lainnya hanya mewajibkan nafkah saja berdasarkan firman Allah,

{وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ}

“Kepada wanita-wanita yang diceraikan.” (QS. Al-Baqarah: 241); sebab ia tetap bersama suaminya karena tetap diberikan nafkah sebagaimana wanita yang ditalak raj’i, namun tidak wajib mendapatkan tempat tinggal; karena firman Allah, “di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu” (QS. Ath-Thalaq: 6) menunjukkan bahwa ia tinggal bersama suaminya berarti akan selalu interaksi. Hal itu hanya berlaku bagi wanita yang ditalak raj’i.

Mereka berkata, “Hadits Fatimah Binti Qais ada ‘illahnya yang menyebabkannya tidak bisa dijadikan hujjah, terangkum dalam empat hal:

Pertama; Perawinya seorang wanita dan tidak didukung dua saksi laki-laki yang meneliti haditsnya.

Kedua: Riwayat ini bertentangan dengan zhahir Al-Qur’an.

Ketiga; Keluarnya si wanita itu dari rumah tersebut; bukan berarti dia tidak berhak untuk mendapatkan tinggal, akan tetapi karena ia tidak menjaga lidah.

Keempat: Riwayat ini bertentangan dengan riwayat Ibnu Umar.

Jawaban atas bantahan mereka: walaupun perawinya seorang wanita; hal itu tidak menjadi ‘illah mengubah status hadits, betapa banyak hadits-hadits bersumber dari wanita sebagaimana tersebut dalam kitab- kitab sejarah dan sanad-sanad shahabat. Sedangkan perkataan Umar:

“Kami tidak akan meninggalkan ketentuan Rabb kami dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi kami; karena perkataan seorang wanita, sebab kami tidak tahu apakah dia benar-benar hafal akan hal tersebut atau lupa” [Shahih: Muslim (1480)]

hadits ini menunjukkan keraguan Umar terhadap perawi wanita tersebut; karena Umar sendiri menerima berbagai riwayat hadits dari Aisyah dan Hafshah, keraguan Umar terhadap perawi tersebut adalah udzur beliau untuk tidak mengamalkan hadits itu, akan tetapi keraguan beliau itu tidak menjadi hujjah bagi yang lainnya untuk mengamalkan hadits riwayat ini.

Sedangkan ungkapan: hadits ini bertentangan dengan Al Qur’an yaitu firman Allah,

{لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ}

“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka.” (QS. Ath Thalak: 1), tidak benar karena antara hadits dan firman Allah ini bisa digabungkan pengamalannya dengan menafsirkan hadits sebagai pengecualian terhadap keumuman makna firman Allah. Sedangkan dalil mereka dengan menyebutkan riwayat Umar terdapat pada ungkapan Umar, ‘sunnah Nabi kami’ bukankah sudah diketahui dalam ilmu hadits bahwa perkataan shahabat termasuk sunnah apalagi marfu’. Bantahan atas ungkapan ini: Ahmad bin Hanbal mengingkari tambahan ‘sunnah Nabi kami’ merupakan perkataan Umar, lalu Ahmad bin Hanbal bersumpah dan bertanya: Sebutkan ayat manakah yang mewajibkan nafkah dan tempat tinggal bagi wanita yang ditalak tiga kali?

Dan ia berkata, “Tambahan itu tidak benar berasal dari Umar, demikianlah yang disampaikan Ad-Daraquthni. Sedangkan hadits Umar, saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Dia berhak mendapatkan tempat tinggal dan nafkah.” Hadits itu dari riwayat Ibrahim An-Nakha’i dari Umar, dan Ibrahim tidak mendengar hadits ini dari Umar; karena ia belum dilahirkan kecuali setelah beberapa tahun Umar wafat. Sedangkan pendapat yang menyebutkan keluarnya Fatimah dari rumah suaminya karena ia tidak bisa menjaga lisannya terhadap keluarga suaminya merupakan alasan aneh yang disimpulkan dari hadits itu.

Karena seandainya ia berhak mendapatkan tempat tinggal, tidak mungkin Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menggugurkan hak tersebut hanya karena ia tidak bisa menjaga lisannya; pastilah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menasihati dan melarangnya dari mengucapkan perkataan yang bisa menyakiti yang lainnya. Jelaslah kelemahan ‘illah yang disampaikan untuk menolak hadits tersebut. Maka yang paling tepat adalah sebagaimana makna dalam hadits tersebut. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah sudah membahasnya dalam kitab Al-Hadyu An-Nabawi mendukung hadits riwayat Fatimah ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *