[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 354

10. KITAB RUJUK – 10.03. BAB IDDAH DAN IHDAD 01

Iddah adalah masa tunggu (belum boleh nikah), bagi wanita yang ditinggal mati, baik karena ditinggal mati suaminya atau dicerai. Masa iddah bisa dengan lahirnya bayi yang dikandung, atau dengan hitungan masa haid, atau dengan hitungan beberapa bulan. Ihdad secara bahasa adalah larangan, sedangkan menurut istilah adalah masa berkabung bagi seorang isteri yang ditinggal mati suaminya dengan tidak”berhias dan tidak memakai wangi-wangian.

1025

عَنْ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ «أَنَّ سُبَيْعَةَ الْأَسْلَمِيَّةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – نُفِسَتْ بَعْدَ وَفَاةِ زَوْجِهَا بِلَيَالٍ، فَجَاءَتْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَاسْتَأْذَنَتْهُ أَنْ تَنْكِحَ، فَأَذِنَ لَهَا، فَنَكَحَتْ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَأَصْلُهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ. وَفِي لَفْظٍ: «أَنَّهَا وَضَعَتْ بَعْدَ وَفَاةِ زَوْجِهَا بِأَرْبَعِينَ لَيْلَةً» . وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ، قَالَ الزُّهْرِيُّ:، وَلَا أَرَى بَأْسًا أَنْ تُزَوَّجَ وَهِيَ فِي دَمِهَا، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَقْرَبُهَا زَوْجُهَا حَتَّى تَطْهُرَ.

1025. Dari Al-Miswar bin Makhramah bahwa Subai’ah Al-Aslamiyyah Radhiyallahu Anha melahirkan anak setelah kematian suaminya beberapa malam. Lalu ia menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta izin untuk menikah. Beliau mengizinkannya, lalu ia menikah. (HR. Al-Bukhari dan asalnya dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim)”

Dalam lafazh yang lain: Dia melahirkan setelah empat puluh hari sejak kematian suaminya.

Dalam lafazh riwayat Muslim bahwa Az-Zuhri berkata, “Aku berpendapat tidak apa-apa seorang laki-laki menikahinya meskipun darah nifas masih keluar, hanya saja suaminya tidak boleh bersenggama dengannya sebelum suci.”

[Shahih: Al Bukhari 3991, 4909, 5320 dan Muslim 1484, 1485]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Miswar bin Makhramah sudah disampaikan biografinya pada pembahasan terdahulu. Subai’ah datang nifas setelah suaminya meninggal yang bernama Sa’ad bin Khaulah di Mekah setelah haji wada’. Setelah beberapa malam, ada perbedaan beberapa ulama dalam menentukan jumlah beberapa malam-tersebut dan sebagian pendapat itu akan dikemukakan pada pembahasan yang akan datang. Hadits yang menyebutkan bahwa ia melahirkan setelah empat puluh malam yang diriwayatkan Al-Bukhari berasal dari Miswar juga.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa masa iddah wanita hamil yang ditinggal mati suaminya itu berakhir dengan ia melahirkan, walaupun masa iddah itu belum sampai empat bulan sepuluh hari. Dengan demikian ia boleh menikah. Ada perbedaan ulama dalam memahami masalah ini; karena perbedaan jumhur ulama shahabat dan lainnya dalam memahami konteks hadits ini dan juga karena keumuman firman Allah Ta’ala,

{وَأُولاتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ}

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath Thalak: 4)

Walaupun sebelum ayat ini menerangkan hukum-hukum yang berkaitan tentang wanita-wanita yang dicerai suaminya, akan tetapi hal itu tidak mengecualikan makna keumuman ayat tersebut. Hal itu diperkuat dengan apa yang diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Al-Musnad, dan Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtarah. Dan diperkuat juga dengan riwayat Ibnu Mardawaih dari Ubay bin Ka’ab berkata, “Saya bertanya, Wahai Rasulullah, apakah firman Allah, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath Thalak: 4) ditujukan kepada wanita yang ditalak suaminya tiga kali? Rasulullah menjawab,

هِيَ الْمُطَلَّقَةُ ثَلَاثًا وَالْمُتَوَفَّى عَنْهَا

“Untuk wanita yang ditalak suaminya tiga kali dan wanita yang ditinggal mati suaminya.” [dha’if, Al-Irwa’ (2116)]

Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih dan Ad-Daraquthni meriwayatkan dari Ubay dari perawi lainnya, ia berkata, “Ketika ayat ini turun, saya bertanya kepada Rasulullah, “Apakah ayat ini diperuntukkan semua wanita atau tertentu saja?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Ayat yang mana?” Lalu saya sebutkan firman Allah, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Thalak: 4), Apakah ayat ini untuk wanita yang dicerai suaminya dan juga wanita yang ditinggal mati suaminya? Rasulullah menjawab, “Ya.” [dha’if, Al-Irwa’ (2116)]

Dan ditetapkan juga beberapa riwayat dari Ibnu Mas’ud yang menunjukkan bahwa ia berpendapat sama dengan makna tersebut di atas. Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata, “Semua iddah yang disebutkan pada surat An-Nisaa’ dinasakh (tidak berlaku hukumnya) dengan firman Allah, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath Thalak: 4), menegaskan bahwa masa iddah setiap wanita hamil yang cerai atau yang ditinggal mati suaminya adalah dengan melahirkan. Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Surat An-Nisaa’ yang menerangkan tentang iddah itu turun setelah tujuh tahun ayat dalam surat Al-Baqarah menerangkan hal tersebut.

Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim), Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Ketika saya sedang duduk-duduk dengan Ibnu Abbas dan Abu Hurairah, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang lalu berkata, “Fatwakan kepadaku tentang seorang wanita yang ditinggal mati suaminya lalu melahirkan setelah empat puluh malam, apakah ia boleh menikah? Ibnu Abbas menjawab, “Ia harus menunggu dengan masa iddah yang terpanjang. Abu Hurairah berpendapat, iddahnya selesai dengan melahirkan, berdasarkan firman Allah, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath Thalak: 4), Ibnu Abbas membantah bahwa ayat itu ditujukan kepada wanita yang ditalak.

Abu Salamah bertanya, “Bagaimana pendapatmu wahai Ibnu Abbas, bila ada seorang wanita yang mengandung selama satu tahun, berapa lama iddahnya?” Ibnu Abbas menjawab, “Menunggu dengan masa iddah yang terpanjang (empat bulan sepuluh hari).” Abu Hurairah menegaskan: “Saya sependapat dengan anak saudaraku Abu Salamah.” Lalu Ibnu Abbas mengutus budaknya untuk bertanya kepada Ummu Salamah, apakah ada ketentuan dari Nabi pada masalah tersebut? Ummu Salamah Radhiyallahu Anha menjawab: Suami Subai’ah Al-Aslamiyyah terbunuh, sedangkan ia dalam keadaan hamil dan melahirkan setelah empat puluh malam, setelah itu datanglah seseorang yang melamarnya; maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahkannya. [Shahih: Al Bukhari 4909 dan Muslim 1485]

Abd Ibnu Humaid meriwayatkan dari hadits Abi Salamah yang menerangkan bahwa mereka bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu Anha; maka Aisyah menjawab: “Subai’ah melahirkan…. seperti pada hadits yang lalu yaitu Nabi menikahkannya setelah melahirkan, hanya saja Aisyah menyebutkan setelah beberapa malam ditinggal mati suaminya.”

Pada bab ini, banyak sekali riwayat dari para salaf yang menunjukkan bahwa ayat ini umum berlaku untuk semua jenis iddah, dan berarti makna ayat yang bersifat umum pada surat Al-Baqarah mansukh (tidak berlaku lagi hukumnya) dengan adanya ayat ini, sebagaimana ditegaskan pada beberapa riwayat terdahulu bahwa ayat ini diturunkan terakhir; maka setiap pengecualiannya ataupun nasakh (penetapan tidak berlakunya suatu hukum) harus sesuai dengan makna ayat tersebut. Inilah yang menjadi pendapat Al-Hadawiyyah dan lainnya. Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu Anhu berpendapat bahwa ia menunggu dengan masa iddah yang terpanjang yaitu mungkin dengan melahirkan apabila masa untuk melahirkan itu kurang dari empat bulan sepuluh hari atau dengan masa tersebut selama empat bulan sepuluh hari apabila waktu melahirkan kurang dari waktu tersebut berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا}

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah: 234)

Mereka berkata, “Ayat tersebut berlaku secara umum dan khusus pada bagian tertentu. Demikian juga dengan firman Allah, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Thalak: 4)

Maka mereka menggabungkan makna kedua ayat tersebut dalam pengamalannya, dan keluar dari batasan waktu yang telah ditentukan akan menimbulkan perbedaan, sebab hanya mengamalkan salah satu pengertian dari kedua ayat tersebut. Jawaban itu dibantah; karena teks hadits Subai’ah menjelaskan bahwa ayat dalam surat An-Nisaa’ hukumnya mencangkup juga wanita yang ditinggal mati suaminya dan diperkuat dengan hadits-hadits dan atsar sebagaimana yang telah kamu ketahui. Sedangkan riwayat dari Ali Radhiyallahu Anhu, Asy-Sya’bi berkomentar, “Saya tidak yakin bila Ali Radhiyallahu Anhu berpendapat bahwa iddah wanita yang ditinggal mati suaminya adalah dengan masa iddah yang terpanjang. Sedangkan Az-Zuhri menegaskan boleh menikah walaupun darah nifasnya masih keluar, dan meskipun juga haram untuk melakukan hubungan suami-isteri karena darah nifasnya masih ada.

An-Nawawi menerangkan dalam kitab Syarah Muslim: Ulama madzhab kami dan lainnya berpendapat: baik yang dikandung itu sudah berwujud seorang anak atau hampir sempurna, atau kurang, atau masih berupa segumpal darah, atau daging; masa iddahnya selesai dengan melahirkan juga apabila memang sudah berbentuk janin, baik wujud janinnya hanya diketahui oleh wanita tertentu atau bisa diketahui yang lainnya secara umum. Ibnu Daqiq Al-Id Rahimahullah tidak berkomentar tentang hal itu; karena diketahui secara umum bahwa yang dimaksud melahirkan adalah melahirkan janin dalam wujud yang sempurna. Sedangkan kelahiran berupa segumpal darah dan daging itu sangat jarang sekali; maka mendefinisikan wanita mengandung dengan janin sempurna lebih tepat sebagaimana yang diketahui secara umum.

Pengarang kitab berkata, “Maka dari itu, dinukilkan dari Asy-Syafi’i bahwa iddah itu tidak akan selesai dengan hanya melahirkan segumpal daging yang tidak berbentuk janin, baik dengan jelas ataupun samar- samar.” Zhahir hadits dan ayat tersebut menyebutkan dengan mutlak bahwa keadaan itu disebut dengan hamil. Sedangkan keadaannya yang belum bisa ditetapkan hamil; maka tidak bisa disebut hamil, karena mungkin itu hanya berupa segumpal daging. Masalah iddah itu ditetapkan dengan yakin; maka tidak bisa dikatakan selesai dengan hal yang meragukan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *