[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 353

10. KITAB RUJUK – 10.02. BAB LI’AN 04

1022

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ «سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ – حِينَ نَزَلَتْ آيَةُ الْمُتَلَاعِنَيْنِ أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَدْخَلَتْ عَلَى قَوْمٍ مَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ فَلَيْسَتْ مِنْ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَلَمْ يُدْخِلْهَا اللَّهُ جَنَّتَهُ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ جَحَدَ وَلَدَهُ – وَهُوَ يَنْظُرُ إلَيْهِ – احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ وَفَضَحَهُ عَلَى رُءُوسِ الْأَوَّلِينَ وَالْآخَرِينَ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

1022. Dan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ketika turun ayat tentang suami-isteri yang saling me-li’an dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa saja isteri yang memasukkan seorang laki-laki yang bukan (anggota keluarga) mereka, maka dia bukanlah apa-apa (tidak berharga) di mata Allah, dan Allah tidak akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Dan, siapa saja suami yang memungkiri anaknya, sedang dia melihatnya (bahwa itu anaknya), maka Allah akan menutup (rahmat) darinya dan Dia akan menyingkap aibnya di hadapan para pemimpin generasi pertama dan terakhir.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah dan telah dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Dha’if: Abi Dawud (2263)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Abdullah bin Yunus meriwayatkannya sendirian dari Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah, dan Abdullah tidak begitu dikenal selain melalui riwayat hadits ini. Maka, dalam menshahihkannya masih ada catatan. Ad-Daraquthni juga menshahihkannya sekalipun dia mengakui periwayatan tunggal terhadapnya oleh Abdullah ini. Dalam bab ini juga terdapat hadits dari Ibnu Umar yang ada pada riwayat Al-Bazzar. Di antara perawinya ada Ibrahim bin Yazid Al-Khuzi, seorang yang lemah. Sementara Ahmad meriwayatkan hadits yang sama dari jalur Mujahid dari Ibnu Umar, yang juga telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam kitab Zawaid Al-Musnad dari ayahnya dari Waki’, dan Abdullah berkata, “Waki’ meriwayatkannya sendirian.” Adapun makna hadits ini sangatlah jelas.

1023

وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: مَنْ أَقَرَّ بِوَلَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَنْفِيَهُ أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَهُوَ حَسَنٌ مَوْقُوفٌ.

1023. Dan dari Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Barangsiapa yang mengakui anaknya sekejap rnata, maka dia pun tidak berhak mengingkarinya.” (HR. Al-Baihaqi, dan ini hadits hasan yang mauquf atau disandarkan pada shahabat Nabi).

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil bahwa tidak sah mengingkari anak setelah mengakuinya, dan ini merupakan kesepakatan para ulama. Yang diperselisihkan apabila dia bersikap diam setelah mengetahuinya dan tidak pernah mengingkarinya. Al-Mu’ayyid berpendapat, “Anak itu lazim sebagai anaknya, meskipun tidak diketahui bahwa dia mengingkarinya. Karena, pengingkaran itu merupakan suatu hak (kebenaran) yang bisa batal (kalah) oleh sikap diam, dan itu ibarat penerima syuf’a (paruhan bagian) ketika dia membatalkan syufa-nya sebelum dia tahu jatah bagiannya.” Sedang Abu Thalib berpendapat bahwa dia berhak mengingkari anak itu sewaktu-waktu dia tahu, karena tidak boleh memberi opsi tanpa dasar pengetahuan. Jika dia bersikap diam pada waktu sudah mengetahui, maka itu wajib sebagai anaknya dan tidak boleh mengingkarinya setelah itu.

Adapun pengingkaran secara spontanitas ataupun ada jarak waktu (itarakhi) itu tidaklah dianggap olehnya. Bahkan, sikap diam itu sama dengan mengakui. Imam Yahya dan Asy-Syafi’i berkata, “Sebaliknya, pengingkaran olehnya itu harus spontanitas.” Dikatakan, “Batasan spontanitas di sini, adalah selama -menurut tradisi- dianggap tidak ada renggang waktu.” Jadi, jikalau dia sibuk memasang pelana hewan tunggangannya, mengenakan pakaiannya atau yang lain-lainnya, maka itu tidak terhitung sebagai renggang waktu. Dalam masalah ini, mereka (para ulama) punya perkiraan-perkiraan waktu yang tidak dilandasi oleh dalil selain sebatas pendapat dan sub-sub (furur) pada selain sumber yang paling orisinil/asli.

1024

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ «أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ امْرَأَتِي وَلَدَتْ غُلَامًا أَسْوَدَ. قَالَ: هَلْ لَك مِنْ إبِلٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَمَا أَلْوَانُهَا؟ قَالَ: حُمْرٌ. قَالَ: هَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَنَّى ذَلِكَ؟ قَالَ: لَعَلَّهُ نَزَعَهُ عِرْقٌ. قَالَ: فَلَعَلَّ ابْنَك هَذَا نَزَعَهُ عِرْقٌ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «، وَهُوَ يُعَرِّضُ بِأَنْ يَنْفِيَهُ» ، وَقَالَ فِي آخِرِهِ: «وَلَمْ يُرَخِّصْ لَهُ فِي الِانْتِفَاءِ مِنْهُ»

1024. Dan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteriku melahirkan anak berkulit hitam.” Beliau bertanya, “Apakah kamu punya onta?” “Ya”,jawabnya.”Apa warnanya?”, tanya beliau lagi.”Merah”, sahutnya. Beliau bertanya lagi, “Adakah yang berkulit abu-abu?” “Ada”, jawabnya. Beliau bertanya, “Kenapa bisa begitu?” Dia pun menjawab, “Barangkali dari asal keturunannya ada (gen) warna itu, dan ia mewarisinya.” Beliau berkata, “(Kalau begitu), anakmu ini mewarisi (warna kulit)nya.” (Muttafaq Alaih)

Dalam riwayat Muslim dikatakan, “Dan dia bermaksud untuk mengingkarinya”, dan dikatakan pada akhir redaksinya, “Tapi, beliau tidak memberi dispensasi baginya untuk berbuat ingkar terhadapnya.”

[shahih, Al-Bukhari (5305) dan Muslim (1500)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya seorang lelaki (disebutkan oleh Abdul Ghani, bahwa namanya adalah Dhamdham bin Qatadah) berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteriku melahirkan anak berkulit hitam”. Beliau bertanya, “Apakah kamu punya onta?” “Ya”, jawabnya.”Apa warnanya?”, tanya beliau lagi.”Merah”, sahutnya. Beliau bertanya lagi, “Adakah yang berkulit abu-abu?” (yakni, onta yang berwarna hitam, tapi tidak legam) “Ada”, jawabnya. Beliau bertanya, “Kenapa bisa begitu?” Dia pun menjawab, “Barangkali dari asal keturunannya ada (gen) warna itu, dan ia mewarisinya.” Beliau berkata, “(Kalau begitu), anakmu ini mewarisi (warna kulit)nya.” (Muttafaq Alaih). Sedang dalam riwayat Muslim (dari Abu Hurairah) dikatakan, “Dan dia (lelaki itu) bermaksud untuk mengingkarinya”, dan dikatakan pada akhir redaksinya, “Tapi, beliau tidak memberi dispensasi baginya untuk berbuat ingkar terhadapnya.”

Al-Khithabi berkata, “Ucapan lelaki ini sebagai ungkapan implisit keragu-raguan, seakan-akan dia hendak mengingkari anak tersebut. Maka, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun memutuskan bahwa anak itu adalah anak lelaki yang tidur seranjang dengan ibunya, dan tidak menjadikan perbedaan kemiripan wajah dan warna kulit sebagai bukti wajib itulah putusannya. Beliau malah membuat untuknya perumpamaan dengan perbedaan yang terdapat pada warna-warna unta, sedangkan air maninya satu.”

Dalam bab ini terkandung penetapan qiyas dan penjelasan bahwa dua hal yang serupa itu hukumnya dari sudut kemiripan adalah satu. Kemudian, dikatakan, “Di sini juga terdapat dalil bahwa had (sanksi) itu tidak wajib (dijatuhkan) dalam konteks tempat kejadian, tetapi mutlak ada akibat qadzaf secara blak-blakan.” Al-Mihlab berpendapat, “Ta’ridh (ungkapan secara implisit), jika disampaikan dalam bentuk pertanyaan itu tidak dikenai had.

Sebaliknya, had wajib dijatuhkan terhadap ungkapan ini jika dilontarkan secara vis a vis dan saling mencaci.” Ibnu Al-Barr berpendapat, “Harus dibedakan antara suami dan lelaki lain dalam masalah ta’ridh ini, mengingat lelaki lain berorientasi pada siksaan semata, sedang suami bisa saja dimaafkan terkait masalah pemeliharaan nasab” Al-Qurthubi berkata, “Tidak ada khilaf (silang pendapat) tentang tidak boleh ingkar anak akibat adanya perbedaan warna kulit yang berdekatan seperti warna coklat dan sawo matang. Juga, tidak ada khilaf pada warna putih dan hitam, jika suami benar-benar telah mengakui adanya hubungan badan dan belum berakhirnya masa istibra’ (perceraian) “.

Dikatakan dalam kitab “Asy-Syarh”, “Seolah-olah beliau (Al-Qurthubi) menghendaki itu dalam madzhabnya. Jika tidak, maka khilaf nyata adanya menurut kalangan Syafi’iyah dengan cara terinci. Yaitu, jika tidak dimasukkan kepadanya qarinah (faktor/indikasi) zina, maka tidak boleh ada pengingkaran anak.

Dan, jika suami menuduh isterinya selingkuh, lalu isteri melahirkan anak yang berkulit sama dengan lelaki yang dituduhkan selingkuh dengannya, maka menurut pendapat yang shahih pengingkaran anak tersebut boleh.” Sedang menurut kalangan madzhab Hanbali pengingkaran anak itu mutlak dibolehkan bila disertai dengan adanya qarinah. Silang pendapat di sini terjadi hanya ketika qarinah tersebut tidak ada. Dan, hadits di atas mencakup masalah ini, karena suami di sini tidak menyinggung adanya qarinah tentang perselingkuhan, namun sebatas perbedaan warna kulit semata.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *