[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 352

10. KITAB RUJUK – 10.02. BAB LI’AN 03

1019

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَمَرَ رَجُلًا أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عِنْدَ الْخَامِسَةِ عَلَى فِيهِ، وَقَالَ: إنَّهَا مُوجِبَةٌ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ

1019. Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh suami pada sumpah yang kelima untuk meletakkan (menutupkan) tangannya pada mulutnya dan berkata, “Sungguh, sumpah yang kelima itulah yang menyebabkan (murka Allah dan siksa-Nya).” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dan para perawinya terpercaya)

[Shahih: Abi Dawud (2255)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa disyariatkan terhadap seorang hakim untuk bersikap ketat dalam melarang sumpah karena takut bila suami berdusta. Karena, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang dengan memberikan peringatan dan nasihat sebagaimana dipaparkan sebelumnya. Selanjutnya, di sini beliau juga melarang dengan sikap (tindakan), dan tidak pernah ada riwayat bahwa beliau menyuruh suami untuk meletakkan tangannya pada mulut isteri, sekalipun perkataan Ar-Rafi’i melemahkanya. Dan, ucapan Nabi, “Sungguh, sumpah yang kelima itulah yang menyebabkan”, yakni, perceraian dan disiksanya orang yang berdusta.”

Dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa kata ‘laknat’ (kutukan) pada sumpah yang kelima itu hukumnya wajib. Adapun berkenaan dengan cara pengucapan sumpah ini, maka Al-Hakim dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas tentang pengambilan sumpah terhadap Hilal bin Umayyah, yaitu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya,

احْلِفْ بِاَللَّهِ الَّذِي لَا إلَهَ إلَّا هُوَ إنِّي لَصَادِقٌ. يَقُولُ ذَلِكَ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ

“Bersumpahlah atas nama Allah, Dzat yang tiada tuhan yang berhak disembah selain-Nya bahwa diriku orang yang jujur.” Beliau mengucapkan itu empat kali….. .dan seterusnya.

Al-Hakim berkata, “Hadits shahih berdasarkan syarat Al-Bukhari.”

1020

«وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي قِصَّةِ الْمُتَلَاعِنَيْنِ – قَالَ: فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ تَلَاعُنِهِمَا قَالَ: كَذَبْت عَلَيْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إنْ أَمْسَكْتهَا. فَطَلَّقَهَا ثَلَاثًا قَبْلَ أَنْ يَأْمُرَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

1020. Dan, dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu Anhu mengenai kisah suami-isteri yang saling mengutuk (li’an), dia berkata, “Ketika keduanya selesai mengucap sumpah li’an, suami pun berkata, “Aku berdusta terhadapnya, wahai Rasulullah, jika aku menahannya.” Maka, dia pun menceraikannya talak tiga sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhnya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 5308 dan Muslim 1492]

1021

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ: إنَّ امْرَأَتِي لَا تَرُدُّ يَدَ لَامِسٍ. قَالَ: غَرِّبْهَا قَالَ: أَخَافُ أَنْ تَتْبَعَهَا نَفْسِي. قَالَ: فَاسْتَمْتِعْ بِهَا» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالْبَزَّارُ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ.

وَأَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – بِلَفْظِ قَالَ: «طَلِّقْهَا قَالَ: لَا أَصْبِرُ عَنْهَا. قَالَ: فَأَمْسِكْهَا»

1021. Dan, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya berkata, “Sesungguhnya isteriku tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya”. Beliau pun berkata, “Asingkan saja dia!” Lelaki itu berkata, “(Tapi) aku takut jika diriku (perasaanku) mengikutinya.”Beliau berkata, “(Kalau begitu) bercintalah dengannya!” (HR. Abu Dawud dan Al-Bazzar, dan para perawinya terpercaya)

[Shahih: Abi Dawud (2049)]

Dan, An-Nasa’i meriwayatkan dari jalur lain dari Ibnu Abbas dengan redaksi, “Ceraikan saja dia!” Lelaki itu berkata, “(Tapi) aku tak bisa kehilangannya.” Beliau lalu berkata, “(Jika demikian), tahanlah dia!”

[shahih isnadnya, An-Nasa’i (3229)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan, dari Ibnu Abbas, bahwasanya seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya berkata, “Sesungguhnya isteriku tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya”. Beliau pun berkata, “Asingkan saja dia!” (Dalam kitab An-Nihayah dikatakan: Jauhkanlah dia!, maksudnya dicerai) Lelaki itu berkata, “(Tapi) aku takut jika diriku (perasaanku) mengikutinya.” Beliau berkata, “(Kalau begitu) bercintalah dengannya!” (HR. Abu Dawud dan Al-Bazzar, dan para perawinya terpercaya). (An-Nawawi menyatakan keshahihan hadits ini. Namun, Ibnul Jauzi menceritakan dari Ahmad bahwasanya dia berkata, “Dalam soal ini, tidak ada suatu hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan hadits ini pun tidak punya landasan.” Dengan pendapat inilah, Ibnul Jauzi berpedoman dan dia mengkategorikan hadits ini dalam daftar hadits-hadits palsu, padahal sebenarnya dia meriwayatkannya dengan isnad yang shahih). Dan, An-Nasa’i meriwayatkan dari jalur lain dari Ibnu Abbas dengan redaksi, “Ceraikan saja dia!” Lelaki itu berkata, “(Tapi) aku tak tahan kehilangannya.” Beliau lalu berkata, “(jika demikian), tahanlah dia!”

Tafsir Hadits

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kalimat, “Laa taruddu yada laamisin” menjadi dua pendapat:

Pertama, bahwa maknanya adalah berbuat selingkuh, dan bahwa si isteri selalu bersikap menerima (tidak menolak) terhadap orang yang ingin berzina dengannya. Dan, ini merupakan pendapat Abu Ubaid, Al- Khallal, An-Nasa’i, Ibnul A’rabi dan Al-Khiththabi. Sedangkan Ar-Rafi’i berdalil dengan makna ini untuk menegaskan bahwa menceraikan isteri yang selingkuh itu tidaklah wajib apabila si suami tidak kuasa berpisah dengannya.

Kedua, bahwasanya isteri selalu menghambur-hamburkan harta suaminya, dan tidak menolak orang yang meminta sesuatu darinya. Dan, ini adalah pendapat Ahmad dan Al-Ashmu’i dan yang diriwayatkannya dari ulama Islam. Ibnul Jauzi mengingkari orang yang berpihak kepada pendapat pertama. Dikatakan dalam kitab An-Nihayah, “Pendapat ini serupa dengan hadits di atas, karena makna yang pertama menyamarkan terhadap zhahir firman Allah,

{وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ}

“Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. An-Nur: 3) sekalipun ada banyak tafsiran dalam makna ayat tersebut.”

Saya katakan, “Makna yang pertama sangat-sangat jauh, bahkan tidak tepat untuk ayat ini, di samping juga karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyuruh suami untuk menjadi mucikari. Maka, diartikannya kalimat tersebut dengan makna ini tidaklah benar. Makna yang kedua, juga jauh karena tindakan boros jika itu dilakukan dengan memakai harta isteri sendiri, maka bisa saja dia dilarang. Tentunya, demikian pula jika itu dari harta suaminya. Dan, perintah Nabi untuk menceraikan isteri di sini tidak mesti berarti bahwa dalam term bahasa tidak dikenal ucapan, “si fulan tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya”, sebagai kinayah (kiasan) dari sifat dermawan. Maka, makna yang paling benar, adalah bahwa isteri bersikap gampangan (supel), tidak ada dalam dirinya sifat angkuh ataupun apriori (anti) terhadap lelaki lain, bukan karena dia berbuat selingkuh. Dan, banyak suami maupun isteri yang semacam ini, tapi jauh dari perbuatan selingkuh. Sebagaimana dikatakan dalam bait sya’ir oleh Abu Ath-Thayyib,

“Putih, dia pun terangsang pada sesuatu di balik busananya.

Kehormatan itu tergapai manakala dia mencari”

Andaikan yang dimaksud olehnya bahwa isteri tidak mencegah dirinya berbuat selingkuh dengan lelaki lain, niscaya posisi suami di sini sebagai penuduhnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *