[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 351

10. KITAB RUJUK – 10.02. BAB LI’AN 02

1017

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِلْمُتَلَاعِنَيْنِ: حِسَابُكُمَا عَلَى اللَّهِ، أَحَدُكُمَا كَاذِبٌ، لَا سَبِيلَ لَك عَلَيْهَا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَالِي. فَقَالَ: إنْ كُنْت صَدَقْت عَلَيْهَا، فَهُوَ بِمَا اسْتَحْلَلْت مِنْ فَرْجِهَا، وَإِنْ كُنْت كَذَبْت عَلَيْهَا فَذَاكَ أَبْعَدُ لَك مِنْهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

1017. Dan, dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada suami-isteri yang saling mengucap sumpah li’an, “Hisab kalian diserahkan kepada Allah. Salah satu dari kalian mesti berdusta. Tiada jalan lagi bagimu (suami) atasnya (isterimu).” Lelaki itu pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana hartaku?”Lalu beliau menjawab, “Jika kamu jujur (dalam tuduhannya) atasnya, maka itu sebagai penghalal farjinya. Tapi, jika kamu berdusta (dalam tuduhannya) atasnya, maka itu adalah yang paling jauh bagimu darinya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5312) dan Muslim (1493)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada suami-isteri yang saling mengucap sumpah li’an, “Hisab kalian diserahkan kepada Allah (dijelaskan beliau dengan ucapannya). Salah satu dari kalian mesti berdusta (jika salah satu dari mereka berdusta, maka Allah-lah Dzat yang mengatur balasannya). Tiada jalan lagi bagimu (suami) atasnya (sebagai penjelasan tentang perceraian di antara mereka, seperti terdahulu). Lelaki itu pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana hartaku?” (Maksudnya, maskawin yang telah diserahkannya kepada isterinya) Lalu beliau menjawab, “Jika kamu jujur atasnya, maka itu sebagai penghalal farjinya. Tapi, jika kamu berdusta atasnya, maka itu adalah yang paling jauh bagimu darinya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan pembahasan hadits sebelumnya, yaitu: perceraian di antara mereka berdua, bahwa dalam urusan yang sama satu dari mereka mesti berdusta, dan hisabnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Juga, bahwasanya tidak ada sedikit pun dari maskawin yang telah diserahkannya dikembalikan. Karena, jika dia jujur dalam tuduhannya itii, maka si isteri berhak memiliki harta tersebut sebagai penghalal farjinya, dan jika dia berdusta, maka si isteri juga tetap berhak memilikinya, dan sangatlah jauh (mustahil) maskawin itu dipulangkan lagi kepadanya, karena dia telah menghancurkan reputasinya dengan berdusta terhadapnya. Lalu, bagaimana mungkin apa yang telah diberikan kepada isterinya itu kembali lagi?

1018

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَبْصِرُوهَا، فَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَبْيَضَ سَبِطًا، فَهُوَ لِزَوْجِهَا، وَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَكْحَلَ جَعْدًا، فَهُوَ لِلَّذِي رَمَاهَا بِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

1018. Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah wanita itu. Jika dia melahirkan anak berkulit putih, berambut kusut, maka anak itu benih suaminya. Dan, jika dia melahirkan anak yang bercelak dan keriting rambutnya, maka anak itu benih lelaki yang dituduhkan berzina dengan isterinya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Muslim 1496; tanpa Al Bukhari]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu dia berkata,” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah wanita itu. Jika dia melahirkan anak berkulit putih, berambut kejur (sempurna ciptaannya), maka anak itu benih suaminya. Dan, jika dia melahirkan anak yang bercelak (yaitu, bagian pelupuk matanya berwarna hitam seolah ada celaknya dan itu sebagai ciri atau bawaan) dan keriting rambutnya (ikal), maka anak itu benih lelaki yang dituduhkan berzina dengan isterinya.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu si isteri pun melahirkan anak dengan sifat (ciri-ciri) yang tidak disukai.” [shahih, Al-Bukhari (5309) dan (1495)]

Dan, dalam beberapa hadits bahkan dinyatakan sejumlah sifatnya. Dalam riwayat mereka yang lain dan juga riwayat An-Nasa’i dikatakan, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah menyebutkan sifat janin yang ada dalam kandungannya, beliau berdoa, “Ya Allah, nyatakanlah!”. Lalu, si isteri pun melahirkan anak dengan sifat persis seperti yang telah disebutkan suaminya, yaitu bahwa dia mendapatinya (sifat itu) ada padanya. [Shahih: An-Nasa’i (3470)]

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil bahwa li’an terhadap isteri yang sedang hamil itu sah dan tidak perlu ditunda sampai dia melahirkan. Pendapat ini dikemukakan oleh jumhur berdasarkan hadits ini. Sedangkan pendapat Al-Hadawiyah, Abu Yusuf, Muhammad dan menurut riwayat dari Abu Hanifah dan Ahmad, bahwa tidak sah melakukan li’an untuk mengingkari kehamilan karena bisa jadi itu berupa angin (bukan hamil). Maka, melakukan li’an pada saat itu menjadi tidak ada artinya.

Saya katakan, “Pendapat ini (yang kedua) bertentangan dengan nash (dalil) dan seakan mereka menginginkan bahwasanya tidak boleh melakukan li’an semata karena dugaan hamil oleh lelaki lain, bukan karena didapatinya kehamilan pada isteri yang merupakan paparan dalil di atas.”

Hadits ini juga menunjukkan bahwa anak ternafikan oleh li’an, sekalipun penafian itu tidak diucapkan di dalam sumpah, dan pendapat ini seperti dikemukakan oleh kelompok Zhahiriyah. Sedang menurut sebagian kalangan Malikiyah dan pengikut Ahmad, bahwa li’an sah-sah saja dilakukan sewaktu hamil dengan syarat pihak suamilah yang menuturkan untuk mengingkari anak, bukan isteri. Dengan demikian, pengingkaran terhadap anak sewaktu masih dalam kandungan ini sah. Dan, li’an pun ditunda setelah kelahiran. Hanya, kedua hal ini tidak ada dalilnya. Akan tetapi, yang benar adalah pendapat Zhahiriyah. Karena, dalam kasus li’an ini belum pernah terjadi pengingkaran anak pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kami juga tidak melihatnya dalam hadits Hilal dan Uwaimir. Dan, kasus li’an tidak pernah terjadi selain dari keduanya pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Adapun kasus li’an terhadap isteri yang hamil, maka itu telah ditegaskan dalam sejumlah hadits. Dan, Malik meriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam me-li’an di antara seorang suami dan isterinya, mengingkari terhadap anaknya lalu menceraikan di antara mereka dan mengikutkan si anak pada si isteri. Dan, dalam hadits Sahl dikatakan, “Sedangkan si isteri hamil, lalu suami pun mengingkari kehamilannya dan menuturkan bahwa dia ingkar terhadap anaknya.” Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan disyaratkannya pengingkaran terhadap anak. Karena, hal itu dilakukan suami atas kemauannya sendiri. Abu Hanifah berpendapat, “Tidak sah pengingkaran terhadap anak dan melakukan li’an atas dasar itu. Jika suami me-li’an-nya sewaktu hamil, lalu dia melahirkan anak, maka wajib anak itu baginya dan sama sekali tidak dibenarkan untuk mengingkarinya. Karena, li’an tidak akan ada selain di antara suami- isteri dan wanita ini sudah tertalak ba’in akibat tindakan li’an mereka berdua pada waktu kehamilannya.”

Pendapat ini terjawab oleh bantahan bahwa pendapat ini bertentangan dengan dalil kuat (shahih) yang ada dalam hadits bab di atas, dan juga dalam hadits Ibnu Umar ini, meskipun Al-Bukhari telah menjelaskan bahwa ucapannya yang memuat kalimat, “sedang isteri hamil” itu berasal dari Az-Zuhri, namun kedudukan hadits bab ini nyata-nyata shahih.

Hadits ini juga merupakan dalil pemberlakuan cara penelusuran nasab (semacam test DNA, pent). Dan, hasilnya adalah menisbatkan anak kepada suami, jika ternyata isteri melahirkannya sesuai sifatnya, karena suamilah yang tidur seranjang dengannya. Akan tetapi, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga menjelaskan ganjalan dari hukum dengan cara penelusuran nasab ini sebagai sarana pengingkaran dan penetapan dengan sabdanya, “Kalaulah bukan karena sumpah, niscaya bagiku dan baginya ada ganjalan.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *