[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 350

10. KITAB RUJUK – 10.02. BAB LI’AN 01

Istilah li’an diambil dari kata la’n (berarti: laknat atau kutukan), karena suami pada sumpah yang kelima mengucapkan, “Laknat Allah ditimpakan kepadanya jika dia termasuk pendusta.” Kata ini juga disebut dengan li’an, ilti’an dan mula’anah.Terdapat silang pendapat mengenai hukum wajibnya li’an bagi suami. Maka, dalam kitab Asy-Sifaa’ dikatakan kepada Amir Al-Husain, “Hukumnya wajib jika ternyata ada benih anak (pada isteri), sedangkan suaminya mengetahui bahwasanya dia tidak pernah menggaulinya.”

Dalam kitab Al-Muhadzdzab dan Al-Intishar dikatakan, “Jika di dasari oleh dugaan kuat atau bukti tentang adanya perselingkuhan si isteri, hukumnya boleh dan tidak wajib, sedang jika tanpa ada dugaan, hukumnya haram.”

1016

عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: «سَأَلَ فُلَانٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْت أَنْ لَوْ وَجَدَ أَحَدُنَا امْرَأَتَهُ عَلَى فَاحِشَةٍ، كَيْفَ يَصْنَعُ؟ إنْ تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، وَإِنْ سَكَتَ سَكَتَ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ، فَلَمْ يُجِبْهُ، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ أَتَاهُ، فَقَالَ: إنَّ الَّذِي سَأَلْتُك عَنْهُ قَدْ اُبْتُلِيت بِهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ الْآيَاتِ فِي سُورَةِ النُّورِ، فَتَلَاهُنَّ عَلَيْهِ وَوَعَظَهُ وَذَكَّرَهُ وَأَخْبَرَهُ أَنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ. قَالَ: لَا، وَاَلَّذِي بَعَثَك بِالْحَقِّ مَا كَذَبْت عَلَيْهَا، ثُمَّ دَعَاهَا، فَوَعَظَهَا كَذَلِكَ، قَالَتْ: لَا، وَاَلَّذِي بَعَثَك بِالْحَقِّ إنَّهُ لَكَاذِبٌ، فَبَدَأَ بِالرَّجُلِ، فَشَهِدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاَللَّهِ، ثُمَّ ثَنَّى بِالْمَرْأَةِ، ثُمَّ فَرَّقَ بَيْنَهُمَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

1016. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Si fulan bertanya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau jikalau (ada) seorang dari kami mendapati isterinya berbuat zina, apa yang mesti diperbuat? Jika dia berbicara, maka dia telah membicarakan kasus besar. Jika dia diam saja, maka dia mendiamkan masalah seperti itu. Beliau pun tidak langsung menjawabnya. Setelah itu, ketika dia menghadap lagi, beliau berkata, “Sesungguhnya apa yang telah kamu tanyakan itu telah diujikan kepadaku. Lalu, Allah menurunkan ayat-ayat dalam surat An-Nur. Maka, beliau membacakan ayat-ayat itu kepadanya, menasihatinya, mengingatkannya dan mengabarinya bahwasanya azab di dunia itu lebih ringan daripada azab di akhirat. Dia menimpali, “Tidak, demi dzat yang telah mengutusmu dengan hak, aku tidak berdusta tentangnya (isterinya).” Kemudian beliau memanggil isterinya lalu menasihatinya dengan kalimat yang sama. Dia pun menimpali, “Tidak, demi dzat yang telah mengutusmu dengan hak, sesungguhnya dia itu pendusta.” Lalu, beliau memulai dengan suami. Dia pun bersyahadat dengan menyebut nama Allah sebanyak empat kali. Kemudian beliau berpindah kepada isteri. Kemudian, beliau menceraikan di antara mereka.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 1493]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Si fulan (bernama Uwaimir Al-‘Ajlani, seperti yang disebutkan dalam kebany akan riwayat) bertanya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau jikalau seorang dari kami mendapati isterinya berbuat zina, bagaimana yang mesti diperbuatnya? Jika dia berbicara, maka dia telah membicarakan kasus besar. Jika dia diam saja, maka dia mendiamkan masalah seperti itu (yakni, kasus besar). Beliau pun tidak langsung menjawabnya. Setelah itu, ketika dia menghadap lagi, beliau berkata, “Sesungguhnya apa yang telah kamu tanyakan itu telah diujikan kepadaku. Lalu, Allah menurunkan ayat-ayat dalam surat An-Nur (dan yang sering disebut-sebut dalam sejumlah riwayat, bahwa sebab turunnya ayat-ayat ini adalah kisah Hilal bin Umayyah beserta isterinya, dan itu mendahului kisah Uwaimir. Hanya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan kepadanya, karena hukumnya berlaku umum bagi umat). Maka, beliau membacakan ayat-ayat itu kepadanya, menasihatinya, mengingatkannya (sebagai athaf tafsir atau kata sambung yang menafsirkan kata sebelumnya, mengingat nasihat sendiri itu adalah mengingatkan) dan mengabarinya bahwasanya azab di dunia itu lebih ringan daripada azab di akhirat (seperti yang diancamkan dalam firman Allah,

{لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ}

“Mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” (QS. An-Nur: 23)

Dia menimpali, “Tidak, demi dzat yang telah mengutusmu dengan hak, aku tidak berdusta tentang (isteri)nya. Kemudian beliau memanggil isterinya lalu menasihatinya dengan kalimat yang sama. Dia pun menimpali, “Tidak, demi dzat yang telah mengutusmu dengan hak, sesungguhnya dia itu pendusta.” Lalu, beliau memulai dengan suami. Dia pun bersyahadat dengan menyebut nama Allah sebanyak empat kali. Kemudian beliau berpindah kepada isteri. Kemudian, beliau menceraikan di antara mereka.”

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini ada beberapa masalah:

Pertama, ucapannya (Ibnu Umar), “beliau pun tidak menjawabnya.” Terdapat pada riwayat Abu Dawud, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membenci pertanyaan-pertanyaan dan mencelanya.” [Shahih: Abi Dawud (2245)]

Al-Khithabi berkata, “Maksudnya, pertanyaan perihal sesuatu yang bukan menjadi hajat (dibutuhkan) si penanya.” Asy-Syafi’i berkata, “Pertanyaan-pertanyaan mengenai suatu hal yang tidak diwahyukan hukumnya pada masa turunnya wahyu itu dilarang, agar tidak turun ayat tentangnya yang dapat menghadapkan mereka kepada kesulitan dan kepenatan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

“Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.” (QS. Al-Maidah: 101)

Sedang dalam hadits shahih disebutkan,

«أَعْظَمُ النَّاسِ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ»

“Manusia yang paling besar dosa (kejahatan)nya, adalah orang yang bertanya perihal sesuatu yang tidak diharamkan, lalu sesuatu itu pun diharamkan karena pertanyaannya itu.” [shahih, Al-Bukhari (7289) dan Muslim (2358)]

Al-Khithabi berkata, “Sungguh, kami mendapati pertanyaan dalam kitab Allah itu ada dua bentuk: Pertama, pertanyaan untuk minta penjelasan dan pengajaran tentang urusan agama yang mesti dibutuhkan. Kedua, pertanyaan yang bertujuan memberatkan dan menyusahkan. Maka, Allah Ta’ala membolehkan pertanyaan model yang pertama dan bahkan memerintahkannya. Dia menjawabnya seraya berfirman,

{فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ}

“Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” (QS. Yunus: 94)

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43),

Dalam sejumlah ayat, Allah Ta’ala menjawab,

{يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ}

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.” (QS. Al-Baqarah: 189), dan juga,

{وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ}

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid.” (QS. Al-Baqarah: 222), dan lain sebagainya.

Sedang menyikapi pertanyaan model yang kedua, Dia berfirman,

{وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي}

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Rabb-ku.” (QS. Al-Israa: 85)

{يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا} {فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا}

“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya).” (QS. An-Nazi’at: 42, 43)

Maka, semua pertanyaan model seperti ini hukumnya makruh. Jika didiamkan (tidak dijawab), maka sebenarnya itu sebagai larangan bagi si penanya. Kalaulah dijawab, maka itu lebih sebagai hukuman dan pemberatan.

Kedua, dalam ucapannya (Ibnu Umar), “Lalu, beliau mulai dengan suami”. Di sini menunjukkan bahwasanya beliau mulai dengan suami dulu, dan ini merupakan qiyas (parameter) hukum syar’i. Karena, suami yang menuduh, maka dia pula yang didahulukan. Dan, dalam ayat di atas juga dimulai dengan suami. Sudah menjadi ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa mendahulukan suami (untuk bersumpah) itu hukumnya sunnah. Yang diperselisihkan adalah, apakah memulai dengan suami di sini hukumnya wajib atau tidak? Jumhur ulama berpendapat hal itu hukumnya wajib, mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Hilal,

«الْبَيِّنَةُ وَإِلَّا حَدٌّ فِي ظَهْرِك»

“(Tunjukkan) buktinya. Jika tidak, maka had (dera) ditimpakan kepadamu.” [Shahih: Al Bukhari 2671]

Maka, dimulainya sumpah li’an dengan suami ini untuk mencegah dijatuhkannya had (sanksi) terhadap suami. Jikalau sumpah li’an itu dimulai dengan isteri, maka suami menjadi pembela perkara (kasus) yang tidak jelas. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwasanya sah-sah saja sumpah tersebut dimulai dengan isteri lebih dulu. Karena, ayat di atas tidak menunjukkan keharusan memulai sumpah li’an dengan suami, mengingat ‘athaf (kata sambung) di situ dengan huruf ‘wawu’ dan dia tidak menuntut adanya pengurutan.

Pendapat ini dibantah, bahwasanya jika itu tidak menuntut adanya pengurutan (tertib), maka sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memulai, kecuali dengan sesuatu yang paling berhak didahulukan dan paling dulu diperhatikan. Dan, perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjelaskan hal itu. Seperti ucapan beliau, “Kami memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.” yaitu, tentang kewajiban memulai Sa’i dengan bukit Shafa.

Ketiga, ucapannya (Ibnu Umar), “Kemudian, beliau menceraikan di antara keduanya.”, itu sebagai dalil bahwa perpisahan (perceraian) itu tidak akan terjadi di antara mereka, kecuali karena diceraikan oleh hakim, bukan oleh li’an itu sendiri. Pendapat ini dikemukakan oleh banyak ulama dengan berdalil pada lafazh dalam hadits bab di atas, dan bahwa telah tersebut dalam hadits shahih, bahwasanya seorang suami mentalak tiga kepada isterinya setelah selesai mengucap sumpah li’an, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap mengesahkan hal tersebut. Jikalau perceraian tersebut terjadi dikarenakan li’an itu sendiri, niscaya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa talaknya itu tidaklah pada tempatnya.

Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat, “Bahkan, perceraian itu terjadi oleh li’an itu sendiri.” Hanya, mereka berselisih pendapat tentang apakah perceraian itu terjadi cukup dengan sumpah li’an suami saja, dan sekalipun si isteri tidak mengucap sumpah li’an? Asy-Syafi’i berpendapat, “(Perceraian tersebut) terjadi cukup dengan itu.” Ahmad berpendapat, “Perceraian itu tidak terjadi, kecuali setelah masing-masing mengucapkan sumpah li’an.” Dan, pendapat inilah yang masyhur menurut Malikiyah dan juga telah dikemukakan oleh Zhahiriyah. Mereka berdalil dengan apa yang ada dalam Shahih Muslim, dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Itulah perceraian di antara masing-masing pihakyang mengucapkan sumpah li’an.”

Ibnul Arabi berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengabarkan dengan sabdanya, “dzaalikum (itulah)” dari sabdanya, “Tiada jalan lagi bagimu atasnya (isterimu).”Ibnul Arabi berkata, “Demikian pula, hukum masing-masing pihak yang mengucapkan sumpah li’an. Jika perceraian itu tidak terjadi selain oleh putusan hakim, maka sungguh hukumnya sudah terealisasi dari hakim yang paling agung (Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) melalui sabdanya, “Itulah perceraian di antara masing-masing pihak yang mengucapkan sumpah li’an.”

Menurut pendapat mereka, “Ucapannya (Ibnu Arabi), “Nabi menceraikan di antara keduanya”, maknanya adalah Nabi menunjukkan permasalahan itu dan menjelaskan hukum syariat yang berkenaan dengannya, bukan memunculkan hukum perceraian di antara keduanya. Mereka berkata, “Adapun talak suami pada isterinya itu bukan atas perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan larangan yang terjadi karena li’an hanyalah untuk menguatkan. Maka, dia tidak butuh adanya pengingkarannya. Dan kalaupun tidak terjadi perceraian selain dengan talak, pastilah boleh bagi mantan suami ini untuk menikahinya lagi setelah si isteri menikah dengan lelaki lain.

Abu Dawud telah meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas yang dalam redaksinya dikatakan, ‘‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan bahwa si isteri tidak berhak mendapat rumah darinya dan tidak pula makan (nafkah), karena mereka bercerai bukan melalui proses talak dan bukan karena ditinggal mati suaminya.”

Abu Dawud juga meriwayatkan dari hadits Sahl bin Sa’d mengenai suami-isteri yang mengucapkan sumpah li’an, dia berkata, “Sudah ada sunnahnya tentang suami-isteri yang mengucapkan sumpah li’an, yaitu agar keduanya diceraikan, lalu mereka pun tidak boleh kumpul lagi untuk selamanya.”

Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini dengan redaksi, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menceraikan keduanya dan bersabda, “Kalian tidak boleh berkumpul lagi untuk selamanya.” Sedangkan dari Ali dan Ibnu Mas’ud, mereka berkata, “Sunnah yang berlaku di antara suami-isteri yang saling mengucapkan sumpah li’an, adalah agar keduanya tidak boleh berkumpul lagi selamanya.” Sementara menurut Umar, “Keduanya diceraikan dan tidak boleh berkumpul lagi untuk selamanya.”

Keempat, Ulama berbeda pendapat tentang perceraian karena li’an ini, apakah itu merupakan fasakh atau talak ba’in? Menurut pendapat ulama Al-Hadawiyah, Imam Syafi’i, Ahmad dan selain mereka, bahwa perceraian karena li’an itu termasuk fasakh dengan berdalil bahwa li’an itu mengakibatkan pengharaman untuk selamanya (tahrim mu’abbad). Maka, dia pun lebih sebagai fasakh laiknya perceraian karena hubungan persusuan, karena keduanya tidak boleh berkumpul untuk selamanya. Juga, mengingat bahwa li’an itu nyata-nyata bukan talak dan tidak ada kinayah di dalamnya. Sedangkan menurut pendapat Abu Hanifah, bahwa perceraian karena li’an itu merupakan talak ba’in berdasarkan argumentasi bahwasanya perceraian karena li’an ini tidak terjadi selain dari pihak isteri. Maka, dia termasuk kategori hukum-hukum nikah yang khusus. Jadi, dia adalah talak, karena termasuk kategori hukum-hukum nikah yang khusus. Berbeda dengan fasakh, karena fasakh terkadang termasuk hukum-hukum selain nikah seperti fasakh karena cacat. Pendapat ini dibantah, bahwa dari kekhususan li’an dengan nikah ini, tidak mesti dia merupakan talak, sebagaimana tidak wajib di situ ada nafkah dan lain-lainnya.”

Kelima, adalah merupakan cabang dari masalah keempat, yaitu ulama berbeda pendapat jikalau suami mendustakan dirinya setelah mengucap sumpah li’an. Apakah isterinya itu masih halal baginya? Abu Hanifah berpendapat, “Istrinya halal baginya karena sudah hilang penghalang yang mengharamkannya.” Dan, ini juga pendapat Sa’id bin Al-Musayyib, karena dia berkata, “Jika suami itu mendustakan dirinya, maka dia termasuk satu dari sejumlah peminang.” Ibnu Jubair berkata, “Si isteri dikembalikan kepadanya selama dia masih dalam masa iddah. Sedangkan Imam Syaf’i dan Ahmad berpendapat, “Si isteri tetap tidak halal baginya untuk selamanya, mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tiada jalan lagi bagi kamu atasnya (isterimu).” Menurut saya, “Pendapat ini bisa saja dibantah dengan argumen bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengatakan hal itu kepada orang yang mengucapkan sumpah li’an, dan dia tidak mau mendustakan dirinya.”

Keenam, Dalam hadits tentang li’annya Hilal bin Umayyah disebutkan, bahwa dia menuduh isterinya selingkuh dengan Syuraik bin Sahma di depan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan hadits ini ada pada Abu Dawud dan selainnya.

Al-Khathabi berkata, “Di sini dipahami bahwasanya suami apabila menuduh isterinya selingkuh dengan laki-laki lain karena melihatnya sendiri, kemudian mereka selling mengucapkan sumpah li’an, maka sesungguhnya li’an tersebut dapat menggugurkan had (sanksi) terhadapnya. Sehingga, -dalam ketentuannya— jadilah penyebutan lelaki selingkuhan olehnya itu sebagai embel-embel (yang mengikuti), dan hukumnya tidaklah dianggap. Dan, itu mengingat bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata kepada Hilal bin Umayyah, “(Tunjukkan) bukti atau had (sanksi) ditimpakan kepadamu” Ketika keduanya sama-sama mengucap sumpah li’an, maka beliau pun tidak mengenakan had (sanksi) kepada Hilal, dan pula tidak diriwayatkan dalam satu pun hadits bahwasanya Syuraik bin Sahma’ dimaafkan. Maka, diketahui bahwa had yang seharusnya diterimanya karena menuduh zina itu telah gugur darinya akibat sumpah li’an tersebut. Hal itu, karena dia terpaksa menyebut nama laki-laki selingkuhan isterinya itu untuk menghilangkan mudharat dari dirinya. Sehingga, dia pun tidak membebani diri dengan qadzaf (menuduh zina) dan menimpakan mudharat pada dirinya atas maksudnya ini.

Menurut saya, “Tidak samar lagi bahwa tidak ada madharat dalam menyatakan nama lelaki selingkuhan isteri.” Imam Syafi’i berkata, “Had tersebut hanya dapat gugur darinya apabila dia menyebut lelaki selingkuhan isteri itu dan menyatakan namanya dalam sumpah li’annya. Jika dia tidak berbuat demikian, maka dia dijatuhi had.” Sedang Abu Hanifah berpendapat, “Had wajib dijatuhkan kepadanya, dan lelaki tertuduh itu berhak menuntutnya dengan itu.” Imam Malik berpendapat, “Suami dijatuhi had, sedang isteri cukup dili’an.”

Menurut saya, di dalam hadits Hilal ini tidak ada dalil yang menunjukkan gugurnya had terhadap qadzaf (tuduhan zina), karena itu merupakan hak orang yang tertuduh. Dan, tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa si tertuduh itu telahmenuntutnya dengan had tersebut hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Had itu gugur dengan sumpah li’an, atau dengan dijatuhkannya had kepada si penuduh, sehingga jelaslah hukumnya, sedang hukum dasarnya adalah ditetapkan had kepada si penuduh. Dan, li’an tidak lain disyariatkan untuk menangkal had tersebut terhadap suami dan isteri.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *