[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 35

01.10. BAB HAIDH 02

0132

132 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ شَكَتْ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الدَّمَ، فَقَالَ: اُمْكُثِي قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُك حَيْضَتُك، ثُمَّ اغْتَسِلِي فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلَاةٍ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

– وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: ” وَتَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ “، وَهِيَ لِأَبِي دَاوُد وَغَيْرِهِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ

132. Dari Aisyah RA, bahwasanya Ummu Habibah binti Jahsy pernah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang darah, beliau bersabda, “Berhentilah (dari shalat) selama haidh menghalangimu, kemudian mandilah.” Maka dia pun mandi setiap akan melaksanakan shalat.” (HR. Muslim)

[Muslim 334]

dalam riwayat Al Bukhari, “Dan berwudhulah pada setiap shalat.”

[Al Bukhari 228]

Riwayat ini disebutkan oleh Abu Daud dan yang lainnya dengan sanad yang berbeda.

[Shahih: Abu Daud 298]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ummu Habibah pernah menjadi istri Abdurrahman bin Auf. Anak perempuan Jahsy ada tiga orang, yaitu: Zainab Ummul Mukminin, Hamnah dan Ummu Habibah, dikatakan bahwa ketiganya biasa istihadhah. Al-Bukhari menyebutkan bahwa sebagian dari Ummahat Al-Mukminin ada yang keluar darah istihadhah, jika benar perkataan Al-Bukhari itu, maka di antara tiga orang itu adalah Zainab. Para ulama telah menghitung perempuan yang biasa keluar darah istihadhah pada masa hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallatn jumlahnya ada sepuluh orang.

Penjelasan Kalimat

“Pernah mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang darah, maka beliau bersabda, “Berhentilah (dari shalat) selama haidh menghalangimu (yaitu sebelum mengalirnya darah terus menerus) kemudian mandilah (yaitu mandi sehabis masa haidh) maka diapun mandi setiap akan melaksanakan shalat (yaitu tanpa ada perintah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berbuat demikian).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain milik Al-Bukhari, “Dan berwudhulah pada setiap shalat.” Riwayat ini adalah milik Abu Dawud dan yang lainnya dari jalur lain.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan bahwa perempuan yang keluar darah istihadhahnya dikembalikan kepada salah satu ciri-cirinya, yakni kebiasaan haidhnya. Ciri-ciri itu diketahui dan dapat dikenal lewat kebiasaan haidhnya sebelum keluar darah istihadhah, atau sifat darah yang berwarna hitam yang sudah dikenal, atau kebiasaan lamanya haidh bagi perempuan lainnya baik enam atau tujuh hari, atau mulai datang dan berakhirnya haidh. Semuanya telah jelas dalam hadits yang menjelaskan tentang darah istihadhah, bahwa jika hal itu terjadi berarti haidh telah mulai. Maksudnya, bisa dikenal berdasarkan dugaan kuat, bukan berdasarkan keyakinan pasti, baik dia memiliki kebiasaan atau tidak, sebagaimana yang dipahami dari hadits-hadits – yang menyebutkannya secara mudak, tidaklah yang dimaksudkan kecuali yang menimbulkan dugaan bahwa itu adalah haidh. Seandainya tanda-tanda itu banyak, maka akan semakin kuatlah dugaan itu.

Kemudian ketika timbul dugaan kuat akan habisnya masa haidh, maka wajib baginya mandi, kemudian berwudhu untuk setiap kali akan shalat, atau menjamak shalat dengan jamak shuri dengan sekali mandi. Sekarang timbul pertanyaan, apakah boleh melaksanakan jamak shuri dengan sekali wudhu? Masalah ini tidak ada nash-nya, hanya saja, cara semacam itu sudah maklum akan kebolehannya pada setiap orang.

Adapun masalah; apakah perempuan yang keluar darah istihadhahnya boleh melakukan shalat sunnah dengan wudhu shalat fardhu? Masalah ini juga juga didiamkan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini semua.

0133

133 – وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَتْ: «كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُد، وَاللَّفْظُ لَهُ.

133. Dari Ummu Athiyah RA, ia berkata, “Kami tidak menganggap sesuatu yang keruh dan berwarna kuning itu setelah suci sebagai haidh.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud dan lafazh hadits menurut Abu Daud)

[Al Bukhari 326, Abu Daud 307]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ummi Athiyah, namanya adalah Nusaibah binti Ka’b. Ada yang mengatakan binti Al-Harits, beliau dari golongan Anshar. Ia ikut dalam bai’at Aqabah dan termasuk shahabiyah yang terkemuka. Ia turut serta bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam peperangan, bertugas merawat yang sakit dan mengobati yang terluka.

Penjelasan Kalimat

“Kami tidak menganggap sesuatu yang keruh (yakni, yang membuat warna air keruh dan kotor) dan berwarna kuning (yaitu, air yang dilihat oleh perempuan kuning seperti nanah) setelah suci (yakni, setelah melihat gumpalan putih dan kering) sedikitpun (yakni, kami tidak menganggapnya haidh).”

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Abu Dawud dan lafazh tersebut miliknya.

Ucapan Ummu Athiyah “Kami pernah”, menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan sama dengan hadits yang bersambung sanadnya hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena yang dimaksudkan adalah, kami pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dengan sepengetahuannya, maka menjadi taqrir (pengakuan) beliau. Ini menurut pendapat Al-Bukhari dan ulama hadits lainnya, karenanya ia bisa dijadikan hujjah.

Hadits tersebut menjadi dalil tidak adanya hukum pada darah yang tidak kental dan berwarna hitam yang sudah dikenal, maka tidak dianggap haidh setelah dia melihat gumpalan itu. Ada yang mengatakan, ia seperti benang putih yang keluar dari rahim setelah berhentinya darah haidh atau setelah keringnya, yaitu keluar apa yang menempel pada dinding rahim dalam keadaan kering.

Adapun yang dapat dipahami dari ucapannya, “Setelah suci”, yakni, dengan salah satu dari dua perkara, bahwa sebelumnya yang kotor dan keruh itu dianggap sebagai sesuatu (haidh), mengenai masalah ini terdapat perbedaan di antara para ulama yang sangat terkenal dalam masalah-masalah furu’iyah.

0134

134 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، «أَنَّ الْيَهُودَ كَانَتْ إذَا حَاضَتْ الْمَرْأَةُ فِيهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إلَّا النِّكَاحَ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

134. Dari Anas RA, “bahwasanya orang-orang Yahudi apabila perempuan haidh, maka mereka tidak mau makan bersamanya, maka beliau SAW bersabda, “Lakukanlah segalanya kecuali nikah (bersetubuh).” (HR. Muslim)

[Muslim: 302]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Syarah Hadits

Hadits tersebut menjelaskan maksud ayat,

{قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ}

“Katakanlah, “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh.” (QS. Al-Baqarah: 222), bahwa yang diperintahkan untuk menjauhi wanita-wanita (yang sedang haidh) dan larangan mendekatmya adalah larangan mencampurinya. Yakni, jauhkan dirimu dari mencampurinya dan jangan mendekatinya untuk mencampurinya. Sedangkan perbuatan lainnya seperti makan bersama, duduk bersama, berbaring bersama, semuanya itu boleh.

Biasanya orang-orang Yahudi tidak mau tinggal serumah dengan istrinya yang sedang haidh, tidak mau bergaul dengannya dan tidak mau makan bersamanya, sebagaimana dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Adapun bersenang-senang dengan mereka, telah dibolehkan oleh hadits di atas dan hadits berikut ini:

0135

135- وَعَنْ «عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ، فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

135. Dari Aisyah RA berkata, Rasulullah SAW menyuruhku mengikat kain, lalu beliau merapat denganku sedangkan aku sedang haidh. (Muttafaq alaih)

[Al Bukhari 300, Muslim 293]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Yaitu beliau menempelkan kulitnya ke kulitku di bagian tubuh di balik kain, hadits tersebut tidak secara tegas menjelaskan bahwa beliau bersenang-senang dengannya, melainkan hanya menempelkan kulit dengan kulit.

Bersenang-senang dengan yang terdapat di antara lutut dan pusar dibolehkan oleh sebagian ulama, alasannya adalah sabda beliau, “Lakukanlah segalanya kecuali nikah (bercampur)”, itu yang dapat dipahami dari hadits ini. Sedangkan yang lainnya mengatakan makruh, dan yang lainnya mengatakan haram, dan pendapat pertamalah yang lebih tepat berdasarkan hadits tersebut.

Adapun jika seseorang mencampuri istrinya ketika sedang haidh, sesunggguhnya ia telah berbuat dosa, tetapi tidak wajib baginya hukuman apa pun. Ada yang mengatakan wajib baginya bersedekah berdasarkan hadits beikut ini:

0136

136 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ – قَالَ: يَتَصَدَّقُ بِدِينَارٍ، أَوْ بِنِصْفِ دِينَارٍ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ وَابْنُ الْقَطَّانِ، وَرَجَّحَ غَيْرُهُمَا وَقْفُهُ.

136. Dari Ibnu Abbas tentang orang yang mencampuri istrinya yang sedang haidh, beliau SAW bersabda, “Dia harus bersedekah satu dinar atau setengah dinar.” (HR. Khamsah) Al Hakim dan Ibnu Al Qaththan menilai haditsnya shahih, sedangkan yang lainnya menilai mauquf pada Ibnu Abbas.

[Shahih: Abu Daud 264]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits tentang masalah ini ada beberapa riwayat, dan ini salah satu di antaranya. Perawi-perawinya terdapat dalam Ash-Shahih, di samping itu riwayatnya mudhtharib (hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan yang kontradiksi). Asy-Syafi’i berkata, “Kalau hadits ini benar, niscaya akan aku jadikan sebagai hujjah.” Penulis mengatakan, “Idhthirab (kegoncangan) dalam hadits tersebut baik sanad maupun matannya banyak sekali.”

Orang yang mengatakan wajib bersedekah adalah Al-Hasan dan Sa’id, tetapi mereka mengatakan bahwa orang tersebut mesti memerdekakan budak berdasarkan analogi pada orang yang mencampuri istrinya pada siang hari Ramadhan. Yang lainnya mengatakan, dia mesti bersedekah satu dinar atau setengah dinar. Al-Khaththabi berkata, “Mayoritas ahli ilmu mengatakan tidak ada sesuatu pun baginya”, karena mereka mengira bahwa hadits ini mursal atau mauquf.

Sedangkan Ibnu Abdi Al-Barr mengatakan, “Alasan orang yang mengatakan tidak wajib adalah karena idhthirab-nya. hadits ini, sedangkan hukum asal adalah terlepas dari kewajiban, karena itu tidak boleh dikatakan wajib bersedekah kepada orang yang miskin dan yang lainnya, kecuali dengan dalil yang tidak bisa dibantah dan tidak cacat, sedangkan dalam masalah ini tidak ada dalilnya.”

Saya katakan, “Orang yang menyatakan shahih, seperti Ibnu Al-Qaththan, sesungguhnya ia telah memperhatikan betul dalam mentashhihkannya, dan ia membantah adanya cacat pada hadits itu, pendapat ini diakui oleh Ibnu Daqiq Al-‘Id dan diperkuatnya dalam kitab Al-Iimam, maka tidak ada halangan untuk mengamalkan hadits itu.

Sedangkan orang yang menganggapnya tidak shahih, seperti Asy-Syafi’i dan Ibnu Abd Al-Barr, mereka beralasan bahwa pada asalnya lepas dari tanggungan, maka tidak ada hujjah yang dapat menghilangkannya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *