[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 349

10. KITAB RUJUK – 10.01. BAB ILA’, ZHIHAR DAN KAFFARAT 04

1015

وَعَنْ «سَلَمَةَ بْنِ صَخْرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: دَخَلَ رَمَضَانُ فَخِفْت أَنْ أُصِيبَ امْرَأَتِي، فَظَاهَرْت مِنْهَا فَانْكَشَفَ لِي شَيْءٌ مِنْهَا لَيْلَةً فَوَقَعْت عَلَيْهَا، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: حَرِّرْ رَقَبَةً فَقُلْت: مَا أَمْلِكُ إلَّا رَقَبَتِي. قَالَ: فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قُلْت: وَهَلْ أَصَبْت الَّذِي أَصَبْت إلَّا مِنْ الصِّيَامِ؟ قَالَ: أَطْعِمْ فَرَقًا مِنْ تَمْرٍ سِتِّينَ مِسْكِينًا» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَابْنُ الْجَارُودِ

1015 Dan, dari Salamah bin Shakhr dia berkata, “Telah datang bulan suci Ramadhan lalu aku cemas bila sampai berhubungan intim dengan isteriku, maka aku pun menzhiharnya. Ternyata, pada suatu malam tersingkap bagian (tubuh)nya olehku, sehingga aku melakukan jima’ dengannya. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Bebaskan budak.” Lalu kukatakan, “Aku tidak punya selain hanya budakku.” Beliau berkata lagi, “Kalau begitu, berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Kukatakan lagi, “Tidakkah aku melanggar apa yang telah kulanggar melainkan dari puasa?” Beliau berkata lagi, “Santunilah 60 orang miskin sekeranjang kurma.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah selain An-Nasa’i, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul Jarud)

[hasan, Abi Dawud (2213)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Salamah bin Shakhr adalah seorang kalangan Anshar yang bersuku Khazraj. Dia adalah termasuk daftar shahabat yang gemar (sering) menangis. Sulaiman bin Yassar dan Ibnul Musayyib telah meriwayatkan hadits darinya. Al-Bukhari berkata, “Haditsnya tidaklah shahih.” Yaitu, haditsnya tentang masalah zhihar ini.

Penjelasan Kalimat

“Telah datang bulan suci Ramadhan lalu aku cemas bila sampai berhubungan intim dengan isteriku, (sedang dalam kitab Al-Irsyad, dikatakan, “Aku adalah lelaki yang pernah berhubungan seks dengan isteri yang tidak dilakukan oleh orang selainku) maka aku pun menzhiharnya. Ternyata, pada suatu malam tersingkap bagian (tubuh)nya olehku, sehingga aku melakukan kontak seks dengannya. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Bebaskan budak.” Lalu, kukatakan, “Aku tidak punya selain hanya budakku.” Beliau berkata lagi, “Kalau begitu, berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Kukatakan lagi, “Tidaklah aku melanggar apa yang telah kulanggar melainkan dari puasa?” Beliau berkata lagi, “Santunilah 60 orang miskin sekeranjang kurma.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah selain An-Nasa’i, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul Jarud). Dan, Abdul Haq menganggap hadits ini cacat karena adanya keterputusan sanad di antara Sulaiman bin Yassar dan Salamah. Karena, Sulaiman tidak pernah berjumpa dengan Salamah. Hal itu telah diungkapkan oleh At-Tirmidzi dari Al-Bukhari.

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini terdapat beberapa masalah, antara lain:

Pertama, bahwasanya hadits ini menunjukkan apa yang telah disinyalir oleh ayat di atas, berupa: urutan kaffarat. Dan, urutan ini merupakan bentuk ijma’ (konsensus) di antara para ulama.

Kedua, bahwasanya kata ‘budak’ di-mutlaq-kan dalam ayat tersebut dan begitu pula dalam hadits ini, dan dia tidak di-taqyid dengan kata ‘iman’, sebagaimana kata ‘budak’ ini telah di-taqyid dengan kata ‘iman’ dalam ayat pembunuhan. Maka, di sini, para ulama pun berselisih pendapat. Zaid bin Ali, Abu Hanifah dan ulama selain mereka berpendapat tidak ada taqyid (pengikatan) dalam masalah ini, dan bahwa hal itu cukup dengan budak dari kafir dzimmi. Mereka berargumen tidak di-taqyid-nya budak di sini seperti halnya pada ayat pembunuhan, itu lebih dikarenakan adanya perbedaan sebab. Az-Zamakhsyari telah menunjuk tidak adanya parameter qiyas di sini disebabkan karena tidak adanya keserupaan ‘illat. Karena, konteks dalam ayat pembunuhan itu adalah, bahwa ketika dia mengeluarkan ‘budak mukmin’ dari sifat ‘hidup’ kepada sifat ‘mati’, itu kaffaratnya adalah memasukkan budak mukmin dalam kehidupan (alam) bebas dan mengentaskannya dari kematian budak. Mengingat, perbudakan itu menuntut adanya perampasan hak dari budak. Sehingga, itu lebih menyerupai kematian yang menuntut adanya perampasan hak dari orang mati. Maka, dalam pembebasannya itu terdapat penetapan hak. Sehingga, itu lebih menyerupai penghidupan yang menuntut adanya penetapan hak bagi orang hidup. Sedangkan Al-Hadawiyah, Malik dan Syafi’i berpendapat, bahwasanya tidak cukup (tidak sah) dengan membebaskan budak kafir. Mereka berargumen, “Ayat zhihar ini di-taqyid seperti halnya ayat pembunuhan, sekalipun sebabnya berbeda” Mereka juga berkata, “Dan, ayat tersebut telah di-taqyid oleh sunnah. Karena, pada saat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam didatangi seorang penanya yang meminta fatwanya tentang pembebasan budak yang diwajibkan kepadanya, beliau pun bertanya kepada seorang budak wanita,

أَيْنَ اللَّهُ، فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ، فَقَالَ مَنْ أَنَا، فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ فَأَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Dimanakah Allah (berada)?” Budak wanita itu menjawab, “Di langit.” Lalu, beliau bertanya lagi, “Siapakah gerangan aku ini?” maka, budak wanita itu menjawab, “Engkau adalah utusan Allah.” Maka, beliau pun berkata, “Bebaskan budak ini, karena dia seorang budak yang beriman.” (HR. Al-Bukhari dan yang lainnya) [shahih, Muslim (537)]

Dikatakan, “Pertanyaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada budak wanita itu tentang iman, dan (sebaliknya) beliau tidak bertanya tentang sifat kaffarat beserta sebabnya, itu menunjukkan tentang adanya syarat ‘iman’ pada setiap budak yang akan dibebaskan karena suatu sebab. Karena, sudah menjadi ketetapan bahwa tidak adanya perincian dengan disertai adanya kemungkinan-kemungkinan, itu berarti umum dalam konteks ucapan. Seperti yang telah berulangkali disampaikan sebelumnya.

Saya katakan, “Asy-Syafi’i berpendapat dengan kaidah ini. Jika ulama dari kelompok yang berseberangan yang ada di pihaknya berpendapat dengan kaidah ini, maka dalil terhadap qaid (pengikat)nya, adalah sunnah, bukan Al-Qur’an. Karena, dalam ushul fikih, mereka telah menetapkan bahwa sesuatu yang bersifat mutlaq itu tidak bisa diarahkan kepada sesuatu yang bersifat muqayyad kecuali disertai dengan kesamaan sebab. Akan tetapi, nyata dalam hadits Abu Hurairah yang ada pada Abu Dawud yang redaksinya,

فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّ عَلَيَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً. الْحَدِيثَ إلَى آخِرِهِ

“Maka, dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya wajib bagiku budak mukmin….. dan seterusnya.” [Dha’if: Abi Dawud (3284)]

Izzuddin Adz-Dzahabi berkata, “Ini adalah hadits shahih”. Dan, bersamaan dengan itu, maka tidak ada di dalam hadits ini dalil (petunjuk) tentang apa yang tersebut itu. Karena, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah bertanya kepada budak wanita itu tentang iman, selain karena si penanya berkata, “Wajib baginya budak mukmin.”

Ketiga, para ulama berselisih pendapat tentang budak yang ternoda oleh adanya cacat. Maka, Al-Hadawiyah dan Dawud berpendapat, “Cukup (dengan) budak yang cacat karena dia juga menyandang nama budak. Sedangkan ulama lain berpendapat tidak sah budak yang cacat berdasarkan qiyas (analogi) kepada hadiah dan binatang kurban, dengan unsur penyeragam sama-sama ibadah kepada Allah Ta’ala. Sementara Imam Syafi’i merinci hukumnya. Dia pun berkata, “Jika budak itu bermanfaat seratus persen, seperti picak (bermata sebelah), maka ia dianggap cukup (sah). Namun, jika manfaatnya berkurang, maka ia dianggap tidak cukup. Ini pun apabila cacat tersebut nyata-nyata dapat mengurangi manfaatnya seperti pincang dan buta. Mengingat, esensi pembebasan itu adalah kepemilikan manfaat, dan itu telah berkurang.” Sedangkan Hanafiyah punya beberapa rincian mengenai cacat ini yang terlalu panjang untuk dihitung. Dan, rasanya cukup kuat dalil-dalil tentang hal ini.

Keempat, bahwasanya perkataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “(Kalau begitu) berpuasalah selama dua bulan berturut-turut,” itu menunjukkan tentang kewajiban (puasa) secara berturut-turut, dan ini pun telah ditunjukkan oleh ayat di atas. Tapi, disyaratkan di situ agar (ditunaikan) sebelum hubungan seks. Jika ternyata dia sudah melakukan hubungan seks dalam masa dua bulan tersebut, maka dia harus mulai dari awal, dan itu merupakan ijma’ ulama jika dia menyetubuhinya di waktu siang hari dengan sengaja. Demikian pula, pada malam hari menurut pendapat Al-Hadawiyah, Abu Hanifah dan ulama lainnya, meskipun dia melakukan itu karena lupa, mengingat ayat di atas. Asy-Syafi’i dan Abu Yusuf berpendapat bahwa itu tidaklah berpengaruh (membatalkan) dan sah-sah saja. Karena, ‘illat (sebab) dari larangan di sini, adalah membatalkan puasa, dan tidaklah ada dasar pembatalan puasa karena hubungan badan (jima’) di malam hari. Pendapat ini disanggah dengan bantahan, bahwa ayat tersebut bersifat umum. Dan, mereka pun berselisih pendapat apabila dia melakukan hubungan badan pada siang hari karena kelupaan. Maka, itu menurut pendapat Syafi’i dan Abu Yusuf tidak berpengaruh apa-apa. Karena, hal itu (lupa) tidak dapat membatalkan puasa. Sedangkan Al-Hadawiyah dan Abu Hanifah berpendapat, “Bahkan, dia harus mulai puasa dari awal lagi. Seperti, apabila dia melakukan hubungan badan dengan sengaja mengingat umumnya ayat tersebut.” Mereka berdalih, “Dan, bukanlah ‘illat-nya adalah membatalkan puasa, tetapi umumnya dalil menunjukkan kepada semua ihwal bahwasanya tidak lengkap kaffarat-nya, kecuali dengan membayarnya sebelum melakukan hubungan badan.”

Kelima, mereka juga berselisih pendapat tentang apabila ada udzur mencemaskan yang dihadapinya di tengah-tengah puasany a, lalu udzur itu pun sirna. Apakah dia tetap melanjutkan puasanya ataukah mulai puasa dari awal lagi? Al-Hadawiyah, Malik dan Ahmad berpendapat, bahwasanya dia tetap melanjutkan puasanya. Karena, di sini dia memisahkannya bukan karena kehendaknya. Sedangkan Abu Hanifah -dan ini merupakan satu dari dua pendapat Syafi’i- berpendapat, “Dia harus mulai berpuasa dari awal lagi karena dia memilih pemisahan tersebut.” Pendapat ini pun dibantah dengan argumen bahwa udzur itu membuatnya seperti orang yang tidak punya pilihan. Adapun jika udzur itu memang diharapkan, maka di sini ada yang berpendapat dia boleh juga melanjutkan puasanya, dan ada yang berpendapat tidak boleh melanjutkannya, karena mengharap hilangnya udzur itu membuatnya seperti orang yang bisa memilih. Akan tetapi, pendapat ini dibantah bahwasanya dia dengan adanya udzur itu tidak punya pilihan lagi.

Keenam, bahwa urutan perkataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Kalau begitu, berpuasalah!” atas ucapan (keberatan) si penanya, “Saya tidak punya selain budakku.”, itu menetapkan apa yang telah diputuskan ayat di atas, bahwasanya itu tidak akan beralih kepada puasa selain karena tidak didapatinya budak. Kalaulah dia menemukan budak, tapi dia butuh tenaganya untuk melayaninya karena kondisi naif, maka tetap tidak sah puasanya. Maka, jika dikatakan sah bertayamum bagi orang yang menjumpai air pada situasi dia butuh air, maka tidakkah Anda mengqiyaskan kasus di sini ini kepadanya saja? Saya katakan, “Ada pendapat, tidak boleh diqiyaskan karena tayamum memang disyariatkan karena ada udzur (halangan). Maka, kebutuhan kepada air itu ibarat udzur itu sendiri. Jika dikatakan, “Lalu, apakah birahi untuk berhubungan seks itu menjadikan udzur yang ada padanya mempunyai pengganti (alternatif) berupa memberi makan, dan orang yang nafsu birahinya besar itu dianggap tidak mampu berpuasa?” Saya katakan, “Zhahir hadits Salamah dan ucapannya ketika merasa udzur membayar kaffarat dengan puasa, “Tidakkah aku melanggar apa yang telah kulanggar itu melainkan dari puasa?”, juga persetujuan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap udzurnya itu dan ucapan beliau, “Berilah makan!”, itu menunjukkan bahwa itu adalah udzur yang dapat diganti dengan memberi makan.

Ketujuh, bahwasanya dalil Al-Qur’an dan Hadits jelas-jelas menyatakan tentang memberi makan 60 orang miskin, seakan-akan dibuat untuk setiap harinya selama dua bulan tersebut seperti memberi makan satu orang miskin. Dan, para ulama berselisih pendapat, apakah mesti memberi makan 60 orang miskin ataukah cukup dengan memberi makan satu orang miskin saja selama 60 hari?

Maka, Al-Hadawiyah, Malik, Ahmad dan Syafi’i memilih pendapat yang pertama (yakni, harus memberi makan 60 orang miskin) mengingat zhahir ayat di atas. Sedangkan kalangan Hanafiyah -dan ini merupakan satu dari dua pendapat Zaid bin Ali dan An-Nashir—bahwasanya cukup dengan memberi makan satu orang miskin selama 60 hari atau memberi lebih dari satu orang dengan kadar seperti memberi makan 60 orang miskin. Mereka berdalih, “Karena dia pada hari kedua juga berhak (mendapatkan santunan) seperti keadaannya sebelum diberikannya santunan itu kepadanya. Pendapat ini dibantah dengan argumen, bahwa zhahir ayat tersebut menyatakan diversifikasi dzat orang miskin tersebut. Dan, ada tiga pendapat diriwayatkan dari Ahmad yang sama dengan dua pendapat di muka, sedangkan pendapat ketiga adalah, jika dia mendapati bukan orang miskin, maka pemberiannya kepada orang tersebut tidak sah, dan jika tidak, maka boleh mengulangi pemberian itu kepadanya.

Kedelapan, terjadi perbedaan pendapat tentang kadar pemberian makanan bagi masing-masing orang miskin itu. Kalangan Al-Hadawiyah dan Hanafiyah berpendapat, bahwa yang wajib adalah 60 sha’ kurma, jagung atau gandum, atau separuhnya terdiri dari gandum. Sedangkan Syafi’i berpendapat bahwa yang wajib bagi setiap orang miskin itu adalah satu mud. Dan, satu mud itu sama dengan 1/4 sha’. Dia berdalil dengan ucapan Nabi dalam hadits bab di atas, “Berilah makan 60 orang miskin satu ‘araq (sekeranjang) kurma.” Dan, ‘araq di sini adalah keranjang yang menampung berat 15 atau 16 sha’, juga karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membantu bagi orang yang berhubungan badan pada bulan Ramadhan ini dengan satu ‘araq atau 15 sha’ kurma. Juga, karena itu merupakan riwayat yang paling banyak dalam hadits Salamah ini.

Sedangkan madzhab pertama (kalangan Al-Hadawiyah dan Hanafiyah) berdalil bahwasanya terdapat di dalam riwayat Abdur-razzaq hadits, “Pergilah kepada pemberi sedekah Bani Zuraiq, Lalu katakan kepadanya, agar dia memberikannya kepadamu, lalu berilah makan 60 orang miskin satu wasaq kurma dari sedekah itu.” Mereka berdalih, bahwa satu wasaq sama dengan 60 sha’. Dan, dalam riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dikatakan, “Maka, berilah makan 60 orang miskin satu wasaq kurma.” Dan, mengenai penjelasan ‘araq ada riwayat mengatakan bahwasanya satu ‘araq sama dengan 60 sha’. Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan, bahwasanya ‘araq adalah keranjang yang berisi 30 sha’. Abu Dawud berkata, “Dan, ini merupakan yang paling shahih dari dua hadits.” Dan, mengingat ada perbedaan pendapat tentang penjelasan ‘araq kepada tiga pendapat, juga tidak kuatnya riwayat-riwayat tentangnya, maka Syafi’i lebih condong untuk mentarjih dengan riwayat yang terbanyak. Dan, riwayat yang paling banyak dalam hal ini adalah 15 sha’.

Al-Khithabi dalam kitab Ma’alim As-Sunan berkata, “‘Araq adalah anyaman yang terbuat dari daun kurma, lalu dibuat keranjang-keranjang darinya.” Dia menambahkan, “Ada yang menjelaskan bahwa itu (‘araq) sama dengan 60 sha’.”sedang dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “ia menampung 30 sha’.” Sementara dalam riwayat Salamah, “ia menampung 15 sha’.” Maka, ini sebagai dalil bahwa ‘araq ini masih diperselisihkan dalam hal luas dan sempitnya. Dia juga menambahkan, “Maka, Syafi’i memilih riwayat 15 sha’.” Saya katakan, “Pendapatnya itu dikuatkan bahwa dasar hukumnya adalah bebas tanggungan terhadap tambahan (kelebihan) tersebut, dan itulah sebagai bentuk tarjihnya.

Kesembilan, dalam hadits ini terdapat dalil bahwa kaffarat itu tidak akan gugur seluruh jenisnya dengan alasan udzur (tidak mampu). Di sini ada silang pendapat. Syafi’i -dan juga merupakan satu dari dua riwayat dari Ahmad- berpendapat tidak gugurnya kaffarat tersebut dengan alasan tidak mampu, mengingat dalil yang ada dalam hadits Abu Dawud dari Khaulah bind Malik bin Tsa’labah, dia berkata, “Suamiku, Aus bin Ash-Shamit telah men-zhihar-ku…. sampai perkataan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya, “Dia (harus) membebaskan budak.” Dia (Khaulah) pun berkata, “Dia (Aus) tidak mendapatinya.” Nabi berkata, “Dia (harus) berpuasa selama dua bulan berturut-turut.” Dia kembali berkata, “Sesungguhnya dia (Aus) adalah lelaki yang tua renta tidak sanggup berpuasa.” Nabi berkata lagi, “Dia (harus) memberi makan 60 orang miskin.” Dia lagi-lagi berkata, “Dia tidak punya sesuatu yang dapat disedekahkan.” Nabi kembali berkata, “Sesungguhnya aku akan membantunya sekeranjang kurma…. dan seterusnya”. Jikalau kaffarat itu gugur darinya karena alasan udzur (tidak mampu), pastilah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyatakan hal itu, dan tidak sampai membantunya dari apa yang beliau punya. Sedangkan Ahmad -dalam suatu riwayat-. juga kelompok ulama lain berpendapat gugurnya kaffarat itu karena alasan tidak mampu, sebagaimana kewajiban-kewajiban itu gugur karena tidak mampu melakukannya dan karena ada alternatif-alternatifnya.

Ada yang berpendapat, bahwa kaffarat hubungan badan (jima’) pada bulan Ramadhan ini dapat gugur karena tidak mampu melakukannya, tapi ini tidak berlaku untuk kaffarat-kaffarat lainnya. Mereka berdalih, “Karena, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh orang yang berhubungan badan di siang hari pada bulan Ramadhan itu agar memakan kaffarat itu, yakni dia beserta keluarganya. Dan, lelaki itu pun tidak membagikan kaffaratnya. Kelompok pertama berhujah, “Bahwa itu halal baginya karena apabila dia tidak mampu (membayar kaffarat), lalu ada orang lain mau menanggung kaffaratnya itu, maka boleh baginya untuk menikmatinya, dan ini merupakan madzhab Ahmad dalam masalah kaffarat hubungan badan (jima’) pada bulan Ramadhan, sedangkan berkaitan dengan kaffarat kasus lain, dia mempunyai dua pendapat, yaitu seperti apa yang dikemukakan oleh Al-Hadawiyah, bahwasanya boleh bagi imam apabila menerima zakat dari seseorang untuk memberikan kembali zakat itu kepada orang tersebut.

Kesepuluh, Al-Khithabi berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwasanya zhihar yang bersifat muqayyad itu sama saja dengan zhihar yang masih mutlaq. Yaitu, jika suami menzhihar isterinya sampai batas waktu tertentu, lalu terbukti dia berhubungan badan dengannya sebelum habis masa tersebut. Dan, para ulama berselisih pendapat di sini apabila dia berbuat baik dan tidak membatalkan zhiharnya. Maka, Malik dan Ibnu Abi Laila berkata, “Apabila dia mengucap kepada isterinya, “Kamu di mataku seperti punggung ibuku sampai malam hari”, maka wajib baginya membayar kaffarat sekalipun dia tidak mendekati isterinya.” Sedangkan kebanyakan ulama berpendapat, tidak ada kewajiban apa pun baginya selama dia tidak mendekatinya.” Dan, dalam kasus zhihar yang bersifat temporal ini, Syafi’i mengemukakan dua pendapat, salah satunya adalah bahwasanya itu bukan termasuk zhihar.

Faedah

Bisa saja muncul dugaan bahwasanya sebab turunnya ayat zhihar di atas, adalah adanya hadits Salamah ini, mengingat kesamaan dua hukum di dalam ayat dan hadits tersebut. Dan, pada hakikatnya, tidaklah demikian. Melainkan, sebab turunnya ayat itu, adalah adanya kisah Aus bin Ash-Shamit yang telah dituturkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Irsyad dari hadits Khuwailah binti Tsa’labah dia berkata, “Demi Allah, karena aku dan Aus, Allah menurunkan surat Al-Mujadilah.” Dia menambahkan, “Dulu, aku ini isterinya dan dia adalah seorang tua renta yang buruk perilaku (akhlak)nya dan dia sangat gelisah.” Dia menambahkan lagi, “Maka, pada suatu hari, dia menyetubuhiku tapi aku mau merujuknya dengan syarat sesuatu, lalu dia pun marah seraya mengucap, “Kamu di mataku ibarat punggung ibuku.” Dia menambahkan lagi, “Kemudian, Aus keluar dan duduk di kerumunan kaumnya untuk waktu sesaat, lalu masuk menemuiku. Ternyata, dia menginginkan tubuhku.” Dia bertutur lagi, “Maka, kukatakan, “Tidak, demi Dzat yang jiwa Khuwailah ada di tangan-Nya, kamu tidak boleh menyentuh (tubuh)ku, sedang kamu telah mengucapkan apa yang kamu ucapkan itu. Maka, Allah dan Rasul-Nya pun menetapkan hukumnya…. dan seterusnya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud, sedang isnad-nya cukup masyhur) [hasan, Abi Dawud (2214, 2215)]

Dari sini, bisa disimpulkan bahwasanya jika dia meniatkan talak dengan lafazh zhihar itu, maka talaknya tidak jatuh, tapi hal itu menjadi zhihar. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Ahmad, Syafi’i dan ulama selain mereka. Syafi’i berkata, “Jikalau dia menzhihar dengan niat talak, maka hukumnya tetap zhihar, dan jikalau dia mentalak dengan niat zhihar, maka hukumnya tetap talak.” Sedangkan Ahmad berkata, “Apabila dia mengucap, “kamu di mataku ibarat punggung ibuku.”, dan meniatkan talak dengan lafazh tersebut, maka hukumnya tetap zhihar dan isterinya itu pun tidak tertalak. Sementara Ibnul Qayyim memberikan alasannya, bahwa zhihar pada masa Jahiliyah adalah nama lain dari talak, lalu istilah ini dinasakh. Maka, tidak boleh lagi dikembalikan kepada istilah yang sudah berstatus mansukh. (terhapus). Juga, bahwasanya Aus sendiri sebenarnya meniatkan talak dengan lafazh itu mengingat dia hidup pada masa itu (Jahiliyah), tetapi nyatanya diberlakukan kepadanya hukum zhihar, bukan talak. Juga, bahwasanya itu jelas-jelas menyatakan hukum zhihar. Maka, tidak boleh menjadikannya sebagai kinayah bagi hukum yang syariatnya (kelegalan)-nya sudah dibatalkan oleh Allah Ta’ala, sedang ketetapan Allah itu lebih benar dan hukum Allah itu jauh lebih wajib.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *